Mazmur yang memberi harapan untuk masa kini

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 1 April 2010

Diterjemahkan dari The Christian Science Monitor edisi 1 Mei 2009

Adding Bookmark

Bookmark Saved

Bookmarks Loading
Bookmarks Loading

Ketika Penyair Mazmur menulis, “Jiwaku tertekan dalam diriku” (Mazmur 42:7), mungkin keadaan hidupnya sedang kurang baik. Mungkin musuh makin mendekat. Seperti  Penyair Mazmur yang mempercayai Allah di atas segala yang lain,  saat merasa tertekan, saya dapat mengatakan, “Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” (Mazmur 42:12). 

Doa kepada Allah yang mahakuasa dapat menghalau perasaan tertekan serta putus asa dengan cepat dan berhasil. Manakala kita merasa jauh dari Allah, atau fokus kita terhadap masalah-masalah yang kita hadapi menyelubungi  kita dengan kegelapan, maka doa kepada Allah, yang mengasihi setiap orang di antara kita sebagai anak-anakNya yang kinasih, dapat mendatangkan harapan serta semangat yang baru. Allah sama dekat kepada kita, seperti Ia dekat kepada Penyair Mazmur, untuk membantu kita mengatasi segala hambatan. Dan ayat-ayat mazmur bersifat universal, masih berlaku saat ini seperti beribu-ribu tahun yang lalu, untuk memenuhi kehausan umat manusia akan Allah yang memberi penghiburan.

Mazmur-mazmur tersebut sarat dengan saat-saat dukacita, keluh-kesah, dan bahkan ketiadaan harapan. Tetapi, seringkali tepat pada saat-saat itu – seperti dalam Mazmur 42 – langsung diadakan perayaan, pujian, serta penegasan yang penuh kepercayaan akan kuasa, kehadiran, kemampuan, serta kemahakuasaan Allah untuk mengatasi segala penderitaan. Mazmur-mazmur itu menyatakan, bahwa tidak seorang pun pernah terpisah dari kebaikan serta kasih Allah.

Dalam Mazmur 23 dinyatakan, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.”  Hubungan yang mendalam dengan Allah seperti ini – terutama di saat-saat yang mencemaskan – sekarang juga tersedia bagi setiap orang di antara kita, bila kita berpaling kepada Allah dengan rasa syukur dan hati yang terbuka.

Mary Baker Eddy, pendiri surat kabar The Christian Science Monitor, mengasihi Allah dan umat manusia secara mendalam, dan hal itu mendorongnya untuk menemukan penyelesaian rohaniah bagi penderitaan yang ada di dunia. Ia menulis buku yang ditujukan kepada semua orang yang mencari Allah, berjudul “Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci.” Dalam buku tersebut ia menulis, “Dalam Ilmupengetahuan ilahi, manusia adalah gambar Allah yang hakiki. Sifat yang ilahi dinyatakan sebaik-baiknya dalam Kristus Yesus, yang menyinarkan cerminan Allah yang lebih murni atas manusia fana dan mengangkat kehidupan mereka lebih tinggi daripada yang dimungkinkan oleh

gambar pikiran mereka sendiri yang buruk — pikiran yang melukiskan manusia sebagai jatuh, sakit, berdosa, dan sedang menunggu ajalnya” (hlm.259).

Sifat ilahi manusia – setiap orang, laki-laki, perempuan, dan anak-anak – adalah gambar dan keserupaan Allah. Sesungguhnya, inilah satu-satunya identitas yang kita miliki. Menyadari sifat ilahi ini menyanggupkan saya untuk melihat bahwa konsep fana yang bersifat terbatas, misalnya merasa bahwa hidup kita tertekan, sudah selalu dan sekarang pun merupakan suatu dusta, karena semua konsep itu tidak datang dari Allah. Konsep-konsep tersebut tidak  didukung kuasa Allah, dan tidak memiliki kekuatan  maupun kemampuan yang tetap untuk mengarahkan pikiran atau keputusan yang kita ambil.  

Ny.  Eddy menulis: "Kita semua adalah pemahat patung yang sedang mengerjakan pelbagai bentuk serta mengolah dan memahat pikiran. Model yang manakah yang menjadi contoh bagi budi fana? Ketidaksempurnaankah, suka cita, duka cita, dosa, derita? …. Kita harus membentuk model yang sempurna dalam pikiran kita dan terus-menerus memandangnya; kalau tidak, kita tidak pernah akan memahatnya dalam suatu kehidupan yang luhur dan mulia," (Ilmupengetahuan dan Kesehatan, hlm. 248). Model pikiran yang menjadikan kita tertekan atau berkecil hati tidaklah merupakan wujud kita. Karena sifat ilahi mencakup model yang rohaniah dan permanen akan keselarasan, suka cita, pengharapan, dan kelanggengan, maka model-pikiran yang buruk dapat lenyap. Secara terus-menerus berpaling kepada dan hidup dengan model pikiran yang rohaniah, memberi kita kuasa atas gelombang kehidupan yang naik turun.

Memandang model pikiran yang rohaniah bukan berarti tidak peduli terhadap keadaan insani atau berharap masalah akan hilang dengan sendirinya. Sesungguhnya hal itu merupakan sejenis doa yang membantu mengubah pandangan yang terpusat kepada diri sendiri menjadi kemauan untuk berpaling kepada kuasa Budi ilahi yang senantiasa hadir. Dengan demikian masalah yang kita hadapi tidak terlihat begitu besar dan berat. Mengharapkan  kebaikan dengan hati gembira menjadikan kebaikan itu makin sejati dan terasa dibandingkan dengan masalah yang kita hadapi.  Sesungguhnyalah, hati yang penuh harapan tahu bahwa kebaikan ada di sini, dan berharap untuk melihatnya.

Pandangan yang rohaniah ini menjadikan kita mampu “memahat” keadaan yang lebih maju. Jika masalah yang kita hadapi tidak langsung berubah, maka kesabaran yang semakin besar, keyakinan, dan penolakan untuk berkecil hati akan menerangi jalan kita dan mendatangkan penghiburan. 

Allah terus-menerus memberi kita model yang semakin baik dan rohaniah, yang semuanya didasarkan pada hubungan kita yang tidak dapat diputuskan denganNya. Model-model yang baik ini ditetapkan di dalam hubungan kita dengan Allah dan senantiasa tersedia.