Skip to main content Skip to search Skip to header Skip to footer

Sumber yang sebenarnya dari pikiran kita

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 21 April 2015

Aslinya diterbitkan di edisi 9 Maret 2015 majalah Christian Science Sentinel


Pada suatu pagi tanpa terduga saya merasa khawatir untuk setiap tugas yang biasa saya hadapi. Ketakutan seakan menguasai saya, menjadikan sulit bagi saya untuk berpikir secara normal dan tenang agar dapat membuat keputusan yang cerdas. Dan saya tampaknya tak dapat menguasai perasaan tersebut.

Setelah beberapa menit, saya tahu bahwa saya harus berdoa mengenai keadaan itu. Saya berdoa untuk menegaskan dan mengetahui bahwa Allah, yang adalah Kasih ilahi, adalah sumber dari setiap pikiran saya dan memerintahi pikiran saya saat itu dan selamanya. Saya menyadari bahwa karena Kasih memerintahi diri saya, maka tidak sesuatu pun dapat membuat saya takut atau bingung.

Saya berdoa secara singkat, sampai saya merasakan ilham serta kedamaian dari kebenaran-kebenaran tersebut. Demikianlah, ketakutan yang mengerikan itu tiba-tiba berhenti. Saya tidak berusaha mengendalikan ketakutan tersebut—ketakutan itu berhenti begitu saja. Pikiran saya menjadi normal, dan saya bisa melakukan tugas saya hari itu dengan bebas dan penuh suka cita.

Mary Baker Eddy, Penemu dan Pendiri Ilmupengetahuan Kristen, memberikan pernyataan yang dapat membantu kita setiap hari: “Karena itu, ketahuilah, bahwa anda memiliki kuasa mutlak untuk berpikir dan bertindak dengan benar, dan bahwa tidak sesuatu pun dapat merampas warisan ini dari diri anda dan melakukan pelanggaran terhadap Kasih. Jika anda mempertahankan kedudukan ini, siapa atau apa yang dapat membuat anda melakukan dosa atau menderita?” (Pulpit and Press, p. 3).

Tampaknya banyak hal di dunia ini yang berusaha menjatuhkan pikiran kita. Dari arus negatif yang berputar-putar dalam suasana pikiran dunia, sampai dengan pengaruh pikiran orang-orang yang dekat dengan kita. Pengaruh-pengaruh, baik yang terlihat maupun tidak terlihat, yang kadang hendak memaksakan kepada kita keraguan, ketakutan, kebingungan, atau kesedihan, di mana seharusnya ada—dan dapat tercipta—kuasa dan kedamaian.

Sangatlah membantu dan menghibur untuk mengetahui bahwa sebenarnya kita tidak tunduk pada pengaruh-pengaruh negatif ini. Berpikir secara jernih merupakan hak ilahi kita. Pikiran-pikiran yang diwarnai sukacita, integritas, harapan, serta pengharapan akan kebaikan, adalah normal, karena dasarnya ada di dalam Allah. Karena setiap orang di antara kita tidak terpisahkan dari Allah, maka kita tidak dapat kehilangan kesadaran akan kuasa serta kebebasan yang dinyatakan Allah selamanya di dalam diri kita.

Alkitab menunjukkan dalam berbagai hal bahwa Allah adalah satu-satunya Budi yang tidak berhingga. “Hikmat itu, dari manakah datangnya?” demikianlah ditanyakan dalam Alkitab, “atau akal budi, di manakah tempatnya? ... Allah mengetahui jalan ke sana, Ia juga mengenal tempat kediamannya” (Ayub 28:20, 23).

Dan Pemazmur benar-benar bersukacita dalam ketidakberhinggaan pikiran-pikiran yang datang dari Allah: “Dan bagiku, betapa berharga pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya! Jika aku mau menghitungnya, itu lebih banyak dari pada pasir. Apabila aku bangun, masih saja aku bersama denganMu” (Mazmur 139:17, 18; menurut versi King James).

Ilmupengetahuan Kristen menunjukkan bahwa Budi ilahi, Budi yang sama yang “terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Filipi 2:5), adalah sumber dari segala pikiran yang sejati. Budi adalah baik, karena Allah adalah baik. Karena itu pikiran-pikiran yang datang dari Allah kepada kita adalah baik dan benar. Kesatuan kita dengan Budi ilahi selamanya tak terpisahkan, karena kita adalah keturunan Allah—gambar, atau penyataan, Budi. Karena kesatuan itu, dengan wajar kita menyatakan Budi ilahi dan pikiran-pikirannya, dan Kasih, Ibu-Bapa kita senantiasa memelihara sukacita, kesejahteraan, serta kemerdekaan kita.

Pengaruh-pengaruh yang ingin menjatuhkan kita secara mental, bertentangan dengan pemerintahan Allah yang penuh kasih. Karena tidak memiliki dasar di dalam Allah, maka sesungguhnya pengaruh-pengaruh tersebut tidak mungkin merupakan budi atau memiliki kuasa. Itulah yang disebut dalam Ilmupengetahuan Kristen sebagai magnetisme hewani. Mary Baker Eddy berkata tentang magnetisme hewani: “Itulah kepercayaan palsu, bahwa budi ada di dalam zat dan bahwa budi itu baik bersifat jahat maupun bersifat baik; bahwa kejahatan sejati benar seperti kebaikan dan lebih berkuasa. Kepercayaan itu tidak mempunyai satu pun sifat Kebenaran.” (Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci, hlm. 103).

Apa pun yang seakan menjadi sumber pengaruh tersebut, saran tentang magnetisme hewani tidak memiliki kesejatian, kewenangan, atau kemampuan untuk mencederai kita. Semua itu akan datang kepada kita seakan pikiran kita sendiri—sebagai dorongan yang salah, kesedihan, atau ketakutan, yang bertentangan dengan kecenderungan serta pengharapan kita yang sejati. Tetapi dengan mengetahui bahwa semua itu bukanlah sesuatu melainkan hanyalah kebohongan karena tidak berasal dari Allah, yang adalah Kebenaran, kita dapat dengan tegas menolaknya.

Ny. Eddy mengingatkan kita agar waspada terhadap magnetisme hewani, tetapi dia juga menunjukkan bahwa kita memiliki kuasa sepenuhnya atasnya manakala kita mengenalinya dan menyadari bahwa Kasih ilahi secara mutlak menjaga dan mengendalikan kita serta pikiran kita. Kita tidak pernah terpisah dari Kasih. Melalui doa, setiap hari kita bisa melihat kesia-siaan serta ketidaksesuatuan upaya kejahatan untuk mempengaruhi atau mencederai kita. Bagi para anggota Gereja Induk, hal ini merupakan tugas yang harus dilakukan setiap hari (lihat Buku Pedoman Gereja Induk karangan Ny. Eddy, hlm. 42). Kita tidak perlu dan seharusnya jangan, bersabar dengan pikiran jahat yang berusaha bersikap sebagai pikiran kita sendiri. Dan kita memiliki pertolongan Allah yang penuh kasih untuk menjamin keberhasilan kita dalam melakukan hal ini.

Jika kita sedang bergumul dengan pikiran-pikiran yang hendak menjatuhkan kita, maka janji dari Alkitab ini dapat memberi kita harapan dan keberanian: “Ketika aku berpikir: ‘Kakiku goyang,’ maka kasih setia-Mu, ya TUHAN, menyokong aku. Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku” (Mazmur 94:18, 19).

Dalam Ilmupengetahuan tentang wujud, tidak ada budi yang mendorong pikiran kita menuju kehancuran atau ketidakbahagiaan. Kasih, Ibu-Bapa kita, mencerminkan kesadaran ilahi akan kebaikan di dalam diri kita—dan tidak ada Budi lain yang memerintahi kita. Kearifan, kejernihan, sukacita, dan kebebasan adalah milik kita. Kemahakuasaan kebaikan menjamin fakta ini, sekarang dan selamanya.

Misi Bentara

Pada tahun 1903, Mary Baker Eddy mendirikan Bentara Ilmupengetahuan Kristen. Tujuannya: “untuk memberitakan kegiatan serta ketersediaan universal dari Kebenaran.” Definisi “bentara” dalam sebuah kamus adalah “pendahulu—utusan yang dikirim terlebih dahulu untuk memberitakan hal yang akan segera mengikutinya,” memberikan makna khusus pada nama Bentara dan selain itu menunjuk kepada kewajiban kita, kewajiban setiap orang, untuk memastikan bahwa Bentara memenuhi tugasnya, suatu tugas yang tidak dapat dipisahkan dari Kristus dan yang pertama kali disampaikan oleh Yesus (Markus 16:15), “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, 7 Juli 1956

Belajar lebih lanjut tentang Bentara dan Misinya.