Skip to main content Skip to search Skip to header Skip to footer

Gerakan pundak dipulihkan

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 11 September 2018

Aslinya diterbitkan di edisi Juli 2018 majalah The Christian Science Journal


Pada suatu Minggu siang selagi saya bermain dengan putri saya dan melemparkannya ke udara, saya merasakan pundak saya tercabik. Saya tidak memikirkan hal itu dan terus bermain dengan putri saya. Tetapi, sore itu, saya mengalami kesulitan melakukan tugas-tugas yang sederhana. Sesaat kemudian saya sulit mengerjakan pekerjaan saya, lalu sulit bagi saya untuk membuka pintu, lalu hanya mengangkat tangan pun sulit. Ketika mendapati bahwa saya tidak bisa menggerakkan lengan saya tanpa kesakitan, saya mulai khawatir pundak saya cedera berat. Selama beberapa waktu saya membiarkan ketakutan dan frustasi menguasai pikiran saya.

Pekerjaan saya mengharuskan saya memiliki mobilitas, kekuatan, dan kemampuan penuh untuk bergerak, dan ketika menjadi jelas bahwa saya mempunyai keterbatasan, saya diharuskan menjalani pemeriksaan medis. Dalam pemeriksaan itu dokter mengatakan kepada saya bahwa ada masalah besar. Cedera itu akan sembuh atau menjadi lebih parah, tetapi karena cederanya rumit, dokter tersebut tidak bisa berbuat apa-apa untuk saya.

Saya adalah orang yang sangat aktif, dan masalah ini sangat membatasi saya. Saya merasa frustasi karena saya menginginkan suatu solusi. Untuk sementara saya lupa, bahwa saya mempunyai satu solusi—yakni kuasa penyembuhan Kebenaran dan Kasih ilahi!

Di buku Miscellaneous Writings 1883–1896, Mary Baker Eddy berkata tentang solusi medis: “Ilmu pengobatan berkata, ‘Saya tidak bisa melakukan lebih banyak. Saya telah melakukan semua yang bisa dilakukan. Tidak ada dasar untuk membangun. Tidak ada lagi alasan untuk berharap.' Lalu datanglah metafisika, dipersenjatai kuasa Roh, bukan zat, menangani kasus itu dengan penuh harapan dan membangun di atas batu yang telah ditolak oleh tukang-tukang bangunan, dan berhasil" (hlm. 5). 

Saya mulai berdoa, meskipun awalnya saya berdoa untuk memperbaiki bagian tubuh yang cedera. Ketika tidak ada kemajuan, saya sadar bahwa doa saya harus lebih dalam. Dari mempelajari Ilmupengetahuan Kristen, saya mengetahui bahwa penyakit atau disabilitas apa pun adalah suatu dusta tentang manusia—suatu kepercayaan palsu bahwa manusia bersifat kebendaan dan tunduk kepada cedera dan penyakit. Yang benar adalah manusia itu suatu ide Allah, sama bersifat rohaniah, utuh, dan tidak berhingga seperti Allah. 

Dalam Kisah 17:28 tertulis, “di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada.” Saya terutama menyukai ide tentang bergerak ini. Itu adalah pernyataan sempurna akan identitas rohaniah dan kebebasan bergerak dalam Allah. Selagi saya terus berdoa, saya berpikir tentang bergerak dalam kaitannya dengan kemajuan. Tiba-tiba saya sadar bahwa kemajuan rohaniah saya telah berhenti, dan tidak adanya pergerakan serta kemajuan rohaniah tersebut dinyatakan dalam keterbatasan fisik. Saya melihat adanya keperluan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih jelas tentang identitas rohaniah serta kemerdekaan saya yang sesungguhnya. 

Ny. Eddy menulis di buku Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci, "Alasan yang murni menjadikan pikiran bersayap, dan memberi kekuatan dan kebebasan kepada perkataan dan perbuatan” (hlm. 454). Saya berusaha memahami Kasih ilahi dengan lebih dalam sebagai hukum yang tertinggi dalam hidup saya, dan melepaskan ketakutan bahwa zat dapat membatasi kemampuan saya untuk menyatakan gerakan. 

Ilmupengetahuan dan Kesehatan juga menyatakan: “Budi mengadakan segala pekerjaan. Kalau pekerjaan berasal dari Kebenaran, dari Budi baka, maka ada keselarasan;…” (hlm. 419). Saya bernalar bahwa karena Allah, Budi ilahi, adalah tidak berhingga, pengendalianNya atas pekerjaan dan gerakan tidak pernah berhenti, dan juga tidak pernah bisa dibatasi. Oleh karena itu adalah hak dan tujuan saya sebagai ideNya untuk menyatakan keselarasan dan kegiatan yang tidak dibatasi. Ketika menyadari hal ini, saya sembuh dengan serta-merta. Saya bersyukur bahwa setelah kesembuhan itu, sudah selama setahun tidak ada masalah dengan pundak saya.

Nicolas De Wulf
Misawa, Japan

Misi Bentara

Pada tahun 1903, Mary Baker Eddy mendirikan Bentara Ilmupengetahuan Kristen. Tujuannya: “untuk memberitakan kegiatan serta ketersediaan universal dari Kebenaran.” Definisi “bentara” dalam sebuah kamus adalah “pendahulu—utusan yang dikirim terlebih dahulu untuk memberitakan hal yang akan segera mengikutinya,” memberikan makna khusus pada nama Bentara dan selain itu menunjuk kepada kewajiban kita, kewajiban setiap orang, untuk memastikan bahwa Bentara memenuhi tugasnya, suatu tugas yang tidak dapat dipisahkan dari Kristus dan yang pertama kali disampaikan oleh Yesus (Markus 16:15), “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, 7 Juli 1956

Belajar lebih lanjut tentang Bentara dan Misinya.