Skip to main content

Jari yang patah dipulihkan

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 28 Juni 2018

Aslinya diterbitkan di edisi Mei 2018 majalah The Christian Science Journal


Musim gugur di pegunungan Sierra Nevada, California, adalah masa persiapan—bersiap menghadapi turunnya salju tebal dan menyimpan suplai untuk melewati bulan-bulan yang dingin dimana matahari bersinar lebih singkat. Suatu hari, setelah bekerja seharian memotong, membelah, dan memindahkan batang pohon yang besar untuk kayu bakar, sebongkah kayu seberat 25 kilogram yang saya pindahkan dari trailer jatuh dari ketinggian sekitar satu setengah meter tepat menimpa jari kelingking tangan kiri saya. Ketika melepaskan sarung tangan saya yang terbuat dari kulit, terlihat jelas bahwa jari saya tidak hanya berwarna legam tetapi juga patah.

Saya segera memakai sarung tangan itu kembali dan duduk berdoa untuk melihat kebenaran mengenai kejadian tersebut. Setiap hari kita dihujani dengan beratus-ratus hal yang secara duniawi dianggap tak terhindarkan—penyakit, masalah keuangan dan keluarga, kecelakaan, kekejaman, dsb. Tetapi setelah mengikuti suatu ceramah Ilmupengetahuan Kristen di gereja kami beberapa hari sebelumnya, saya berdoa mengenai konsep tentang hal yang dianggap tak terhindarkan dan bagaimana hukum-hukum ilahi Allah menghapuskan yang disebutkan sebagai hukum-hukum alam.

Saya mempelajari kisah Alkitab yang menceritakan tentang Yesus membangkitkan Lazarus dari maut (lihat Yohanes 11:1-44). Kita baca bahwa Lazarus telah mati selama empat hari sebelum Yesus datang. Waktu itu kepercayaan Yahudi yang umum adalah bahwa roh manusia akan berada bersama atau di dekat jasadnya selama tiga hari. Dengan memulihkan dan membangkitkan Lazarus setelah empat hari berlalu, Yesus membuktikan bahwa hukum Allah benar-benar adalah satu-satunya hukum, yang tetap dan selalu berlaku.

Mary Baker Eddy, Penemu Ilmupengetahuan Kristen, menjelaskan di buku ajar Ilmupengetahuan Kristen: “Yesus berkata tentang Lazarus: ‘Lazarus, saudara kita, telah
tertidur, tetapi aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya.’ Yesus membangkitkan Lazarus dengan pengertian, bahwa Lazarus tidak pernah meninggal, dan bukan dengan pengakuan bahwa tubuhnya sudah mati dan kemudian hidup kembali. Seandainya Yesus percaya, bahwa Lazarus telah hidup atau mati dalam tubuhnya, maka tentulah Sang Guru ada pada tingkat kepercayaan yang sama seperti orang-orang yang telah menguburkan tubuh itu, dan tidak mungkin dihidupkannya tubuh itu kembali” (Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci, hlm. 75). Kristus dinyatakan melalui pemahaman serta pembuktian Yesus bahwa hukum-hukum “alam” dunia tidak lebih dari penanggapan yang salah tentang kesejatian dan bahwa hukum Allah adalah mahakuasa.

Dengan ide-ide ini di benak saya, maka terlintas dalam pikiran saya, bahwa jika Yesus dapat membangkitkan orang dari maut, maka jari yang patah juga bisa disembuhkan. Tidak seorang pun berada di luar kekuasaan hukum ilahi, yang membuangkan ketakutan, kegentaran, rasa sakit, dan penanggapan apa pun bahwa kejahatan tak terhindarkan.

Sedang saya duduk di pintu belakang trailer, berdoa tanpa bersuara menegaskan bahwa substansi yang sejati bersifat rohaniah, tidak didasarkan pada zat, saya menjadi sadar akan kepalsuan asumsi bahwa cedera patah yang dialami jari saya adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Kita murni bersifat rohaniah, pernyataan Bapa kita, dan tidak sesuatu pun dapat mencederai atau bahkan menyentuh kemurnian dan keutuhan Roh ilahi.

Beberapa menit setelah saya mulai berdoa, saya merasakan tulang jari saya bergerak kembali ke tempatnya, dan semua rasa sakit hilang. Saya melanjutkan bekerja mengangkat dan menurunkan beberapa ratus bongkah kayu lagi selama dua setengah jam berikutnya tanpa rasa sakit atau tidak nyaman sedikit pun. Kemudian, saat saya melepaskan sarung tangan saya, saya melihat jari saya utuh dan warnanya normal, hanya ada memar sedikit, yang segera hilang.

Meskipun kesembuhan itu terjadi dengan serta merta dan tuntas, dan merupakan suatu contoh yang menakjubkan akan perlindungan Allah yang tetap, hal tersebut bukanlah yang terpenting dari kejadian itu bagi saya. Pelajaran yang lebih dalam adalah bahwa keadaan tak terhindarkan bukanlah bagian dari kecelakaan atau cedera, melainkan dari hukum Kasih ilahi dan keamanan kita di dalam Allah, Roh, yang dapat dibuktikan melindungi kita setiap saat.

Saya sangat bersyukur untuk Ilmupengetahuan Kristen.

Fred Oakes
Auberry, California, AS

The Mission of the Herald

In 1903, Mary Baker Eddy established The Herald of Christian Science. Its purpose: "to proclaim the universal activity and availability of Truth." The definition of "herald" as given in a dictionary, "forerunner—a messenger sent before to give notice of the approach of what is to follow," gives a special significance to the name Herald and moreover points to our obligation, the obligation of each one of us, to see that our Heralds fulfill their trust, a trust inseparable from the Christ and first announced by Jesus (Mark 16:15), "Go ye into all the world, and preach the gospel to every creature."

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, July 7, 1956

Learn more about the Herald and its Mission.