Skip to main content Skip to search Skip to header Skip to footer

Kesembuhan yang cepat—kisah seorang pengendara motor

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 24 Oktober 2018

Aslinya diterbitkan di edisi Mei 2011 majalah The Christian Science Journal


Setiap pengendara motor dengan cepat belajar bahwa bahaya terbesar datang dari para pengendara lain, meskipun mereka bermaksud berbuat yang terbaik. Merekalah orang, yang karena alasan apa pun, tidak memperhatikan anda dan seringkali tidak melihat anda. Jadi mereka belok kiri dari jalur kanan, atau pindah jalur tanpa memberi tanda, atau terlalu dekat ketika melintas di jalur anda. 

Banyak di antara kita berkendara dalam apa yang disebut “gelembung,” menjaga jarak aman dengan kendaraan lain di sekeliling kita, sementara tetap waspada terhadap kemungkinan bahaya di ujung gelembung itu. (Apakah pengendara yang dekat melihat kaca spionnya, dan mungkin hendak pindah jalur? Apakah seorang pengendara berbicara di telepon genggamnya dan tidak sadar akan keberadaan anda?) Gelembung saya pecah baru-baru ini. Dan saya sadar bahwa tidaklah cukup untuk mengisi gelembung dengan sikap hati-hati serta akal sehat. Kita harus mengisinya dengan Kristus, suatu pemahaman akan kehadiran Allah sebagai satu-satunya kuasa serta kekuatan yang mengelilingi kita, di mana “kita hidup, kita bergerak, kita ada” (Kisah 17:28). Pemahaman ini harus melibatkan penyangkalan yang aktif bahwa ada kuasa selain Allah.  

Saya telah mengendarai motor selama 45 tahun dan belum pernah mengalami kecelakaan. Saya menganggap diri saya pengendara teladan—aman, terampil, dan pandai membaca maksud pengendara lain. Pada suatu hari yang indah di bulan Juni yang lalu di kota New York, saya sedang mendekati suatu perempatan jalan dengan kecepatan 25 mil/jam dan melihat sebuah mobil SUV datang dari arah yang berlawanan menuju perempatan itu. Kelihatannya ia tidak akan berbelok; ia tidak memberi tanda bahwa ia akan berbelok; lalu ia berbelok—tepat ke arah saya, menabrak sisi kiri saya dengan bagian depan SUV itu, membuat saya terlempar dari motor saya, ke udara, lalu jatuh ke tanah.  

Saya belum pernah merasakan sakit separah itu, atau bahkan membayangkan bahwa hal itu mungkin. Rasanya lengan kiri saya patah, juga setidaknya satu tulang rusuk dan kaki kiri saya. Saya terlempar sekitar tiga meter dari motor saya dan tergeletak di tanah sambil mengaduh. Saya setengah sadar bahwa saya harus menggunakan Ilmupengetahuan Kristen, namun rasa sakit itu menuntut perhatian penuh saya. Tetapi, saya dapat mendengar beberapa orang di sekitar saya menelpon 911 dengan telpon genggam mereka, dan saya sadar saya juga dapat menelpon dengan telpon genggam saya, yang ada di kantung kanan celana panjang saya. Lengan kanan saya tidak cedera, jadi saya melepas helm, mengambil telpon saya, dan menelpon istri saya. Saya menceritakan apa yang terjadi dan memintanya menelpon seorang penyembuh Ilmupengetahuan Kristen.  

Saya tahu bahwa setiap doa penyembuhan Ilmupengetahuan Kristen menghasilkan kesembuhan, oleh karena itu saya mulai sedikit tenang mengetahui bahwa, pada akhirnya, saya akan baik-baik saja. Beberapa menit kemudian, sebuah ambulans datang; beberapa paramedik mengikat saya ke brankar dan ambulans melaju ke rumah sakit di dekat situ. Pikiran saya masih banyak tertuju pada rasa sakit itu, tetapi saya sadar bahwa saya harus tenang dan tanggap terhadap doa Ilmupengetahuan Kristen yang dipanjatkan penyembuh untuk saya. Saya mulai merenungkan ide bahwa perhubungan saya dengan Allah tidak dapat retak. “Manusia adalah pernyataan wujud Allah” (Ilmupengetahuan dan Kesehatan, hlm. 470)—sudah selamanya dan akan selamanya demikian—oleh karena itu saya tahu bahwa tidak ada tindakan kekerasan fisik secara acak, tidak ada kecelakaan, tidak peduli seberapa parah atau dramatis kelihatannya, yang dapat memisahkan saya dari keselarasan wujud Allah. Demikian pula tulang harus menyatakan keselarasan wujud mutlak yang sama, dan tidak dapat ada keretakan dalam pernyataan itu.   

Dihadapkan pada kebenaran ini, rasa sakit itu mulai surut. Saat ambulans tiba di rumah sakit, saya ngobrol dan bercanda dengan para kru ambulans. Saya masih kesakitan, tetapi rasa sakit yang hebat, dan ketakutan yang hebat itu, sudah hilang.  

Para kru mendorong saya ke ruang gawat darurat lalu pergi untuk mendaftarkan saya. Waktu yang hening itu memberi saya kesempatan untuk menenangkan pikiran. Saya berdoa untuk mengetahui bahwa baik dokter maupun para kru ambulans tidak dapat mendiagnosa keadaan saya yang sebenarnya, dan baik pengendara lain maupun kecelakaan tidak dapat menentukan keadaan saya. Saya adalah pelajar Ilmupengetahuan Kristen, dan Ilmupengetahuan Kristen menentukan siapa kita sebenarnya dan di mana kita berada sepanjang waktu—yakni, anak-anak Allah yang lengkap, yang tidak pernah berada di luar penjagaanNya.

Mary Baker Eddy, Penemu Ilmupengetahuan Kristen, menulis: “Ahli Ilmupengetahuan Kristen, yang memahami secara ilmiah bahwa semua adalah Budi, bertolak dari pendirian bahwa sebab dan akibatnya bersifat mental — dari kebenaran akan wujud — untuk memusnahkan kesesatan” (Ilmupengetahuan dan Kesehatan, hlm. 423). Pernyataan ini menakjubkan dan revolusioner. Intinya di sini, adalah, bahwa ide-ide menentukan segalanya—secara harfiah, benar-benar segalanya. Selama berabad-abad kita mengetahui bahwa ide-ide sangat berpengaruh. Ide dapat memulai perang; ide dapat menghentikan perang. Mobil adalah suatu ide, Internet adalah suatu ide. 

Tetapi Ny. Eddy melangkah lebih jauh dengan pernyataannya bahwa ide-ide mengendalikan kondisi fisik. Ide-ide, pemikiran, menyembuhkan apa yang tampaknya sebagai cedera pada tubuh. Ia menulis, “Tulang hanya mempunyai substansi pikiran yang membentuknya” (Ilmupengetahuan dan Kesehatan, hlm. 423). Karena itu, pikiranlah yang membentuk tulang, dan pikiran yang benar membentuk tulang dengan benar.  

Oleh karena itu faktor yang menentukan adalah pemikiran rohaniah, yang menghapuskan setiap pernyataan akan rasa sakit atau keretakan.

Saya juga mendapati bahwa dalam situasi yang sulit, adalah penting untuk menyatakan bahwa saya seorang pelajar Ilmupengetahuan Kristen. Ny. Eddy, dalam pernyataannya di atas, secara khusus mengakui bahwa pelajar Ilmupengetahuan Kristen adalah mereka yang memahami bahwa Allah itu semua dan zat bukanlah sesuatu. Dan meskipun saya telah menjadi pelajar Ilmupengetahuan Kristen sepanjang hidup saya, kadang-kadang saya harus mengingatkan diri saya sendiri bahwa saya adalah seorang pelajar Ilmupengetahuan Kristen. Saya menyatakannya. Dan itu berarti saya bisa mendapatkan, dan menyatakan, pemikiran rohaniah ini di mana pun saya berada dan apa pun situasinya. Menyatakan status saya sebagai seorang pelajar Ilmupengetahuan Kristen juga menjadikan saya saksi terhadap bekerjanya Kristus, kuasa penyembuhan Allah, Roh, untuk memberi manfaat kepada umat manusia daIam segala hal dan segala segi kehidupan.  

“Pembetulan ini,” demikian Ilmupengetahuan dan Kesehatan mengajarkan, “mendatangkan perubahan, dan mencapai tiap-tiap bagian susunan tubuh insani. Menurut Kitab Suci, diselidikinya ‘sendi-sendi dan sumsum,’ dan dipulihkannya keselarasan manusia” (hlm. 423). Saya tahu bahwa pembetulan itu sedang bekerja di dalam diri saya, melalui doa penyembuh, juga doa saya dan istri saya.

Menjadi pelajar Ilmupengetahuan Kristen sebetulnya banyak kemiripannya dengan menjadi pengendara motor—kita harus tetap waspada terhadap tindakan serta pemikiran kita sendiri, dan juga apa yang terjadi di sekitar kita.

Sementara saya berbaring terikat dan tidak dilayani di ruang gawat darurat selama sekitar sepuluh menit, saya memutuskan untuk melepaskan diri. Saya membebaskan lengan kanan saya dan membuka kedua gesper, lalu melepas plester yang menahan kepala saya. Seseorang dengan seragam rumah sakit lewat, dan saya bertanya apakah brankar saya bisa dirubah menjadi posisi duduk, dan mereka pun melakukannya. Sekitar sepuluh menit kemudian, perawat yang mendaftar saya datang, menunjuk kepada sisa plester, dan berkata, “Anda melakukan hal ini?” Saya mengiyakan, dan ia berkata, ”Oh, kalau begitu anda tidak memerlukannya, bukan?” Saya setuju dengannya.

Tidak lama kemudian, seorang dokter datang memeriksa. Kami berbicara sebentar tentang kecelakaan dan cedera yang terjadi. Lengan kiri saya terlihat buruk, dan dokter itu berpikir mungkin patah. Jadi ia mengirim saya untuk dirontgen, dan menurutnya hasilnya menegaskan bahwa tulang saya patah. Ia berkata tidak mengerti mengapa saya tidak merasa sangat kesakitan.  

Pada saat itu, istri saya, yang juga seorang pelajar Ilmupengetahuan Kristen, tiba di ruang gawat darurat dan ikut berdiskusi. Istri saya mengirim pesan singkat kepada penyembuh tentang diagnosa “patah tulang” itu. Penyembuh membalas: “Kita akan menyaksikan ‘kesejatian wujud ilmiah yang tidak terputus-putus.’” Pernyataan ini juga diambil dari Ilmupengetahuan dan Kesehatan. Kalimatnya yang lengkap berbunyi: “Apabila akal budi dipimpin dengan benar, maka berguna untuk membetulkan kesesatan penanggapan badaniah; tetapi dosa, penyakit, dan maut akan sejati rupanya…sampai Ilmupengetahuan tentang keselarasan abadi manusia melenyapkan khayalannya dengan kesejatian wujud ilmiah yang tidak terputus-putus.” (hlm. 494, penekanan ditambahkan).

Pernyataan yang kuat, bukan? Kita dapat memilih, setiap saat, bagaimana kita bernalar dalam setiap keadaan, dan apa yang terjadi sebagai akibatnya. Kalau kita mulai dengan manusia sebagai pernyataan Allah, satu-satunya kesimpulan yang mungkin adalah bahwa tidak sesuatu pun tentang manusia atau pengalamannya dapat dipatahkan. Kristus selalu sejati, selalu bersama kita, dan manusia selalu utuh. Melihat diri kita dalam terang ini, kita akan mendapati bahwa apa pun yang seakan menyangkal kebenaran-kebenaran ini dihancurkan.

Tidak seorang pun di antara kita adalah korban, tidak peduli apa pun yang dinyatakan keadaan yang terjadi. Kesaksian indera kedagingan dalam situasi ini adalah bahwa saya telah melakukan semua hal yang benar sebagai pengendara motor, dan kemudian datang pengendara lain dan menabrak saya. Itulah satu-satunya gelembung yang pecah—ide bahwa kita dapat melindungi diri kita dengan tindakan insani. Tentu saja kita harus cerdas dalam menjalani hidup kita, tetapi satu-satunya perlindungan yang benar datang saat kita berpaling kepada Allah.

Kebenaran—kesejatian yang tidak terputus-putus—adalah bahwa saya tidak pernah berhenti menjadi pernyataan Allah dan tidak pernah dapat mengalami keselarasan serta perlindungan yang kurang lengkap dan terputus, tidak peduli betapa meyakinkan kesaksian yang sebaliknya. Demikian juga dengan pengendara yang menabrak saya! Allah adalah Budi, dan pengendara yang lain itu menyatakannya terus-menerus. Perhatiannya tidak dapat dialihkan sedetik pun dari identitasnya yang sejati, dan identitas itu tidak bisa mencederai saya atau orang lain.   

Pemikiran seperti inilah yang disebut Ny. Eddy “berpikir secara benar”, dan kita dapat memperluasnya melampaui pengalaman pribadi kita. Demikian banyak orang seakan menjadi korban dari kekuatan-kekuatan di luar kendali mereka. Orang melakukan semua hal yang benar, menjalani hidup yang baik, tetapi kehilangan rumah dan pekerjaan karena tindakan—terkadang disengaja, terkadang tidak—orang lain. Semua ini juga merupakan kecelakaan, dan hendak menjadikan orang-orang yang tidak bersalah sebagai korban.  

Tetapi, di dalam Kebenaran, Allah, tidak dapat ada kecelakaan dan korban. Tidak dapat ada penyimpangan dalam kesejatian wujud yang selaras. Allah adalah satu-satunya kekuasaan, dan tidak ada kuasa yang disangkakan ada yang dapat mengacaukan kehidupan kita secara acak, jika kita tidak membiarkannya.   

Tidak pernah ada kata terlambat. Tidak peduli sudah sejauh mana kelihatannya masalah berlangsung, kita selalu dapat menyaksikan akibat pemikiran yang benar, pemikiran yang rohaniah. Seorang sahabat saya, yang juga seorang penyembuh Ilmupengetahuan Kristen, sering berpaling kepada petikan ini: “Tidak ada kesaksian di hadapan pancaindera kebendaan yang dapat menutup mata saya dari bukti yang ilmiah bahwa Allah, kebaikan, adalah mahakuasa” (Miscellaneous Writings 1883–1896, hlm. 277).

Inilah keadaan yang dihadapi istri saya dan saya di ruang gawat darurat itu. Kecelakaan telah terjadi; lengan saya sudah cedera, mungkin patah; tulang-tulang rusuk saya cedera, mungkin patah, dan secara umum saya terlihat cukup memprihatinkan. Tetapi kita selalu dapat memilih untuk tidak menerima gambar demikian. Semua itu adalah ide-ide yang palsu, seperti mimpi, dan kita dapat memilih untuk membuka mata kita setiap saat kepada fakta dan bukti bahwa Allah, dan hanya Allah, yang mahakuasa.  

Dokter yang pertama pergi, dan dokter lain datang. Ia melihat foto rontgen dan berkata bahwa lengan saya tidak patah. Tepat di situ, saat itu, di rumah sakit itu, kami menjadi saksi atas kesejatian wujud ilmiah yang tidak terputus-putus dan bukan yang seakan kesejatian wujud yang hancur. Lima belas menit kemudian, istri saya dan saya keluar dari rumah sakit, memanggil taksi, dan pulang. Selama beberapa waktu saya agak lemah, tetapi saya bekerja lagi setelah dua hari dan terbang ke Florida untuk menghabiskan akhir pekan yang panjang dengan keluarga dan teman-teman, empat hari kemudian.  

Motor saya, yang sangat saya sayangi, dinyatakan rusak total oleh perusahaan asuransi, tetapi tidak lama kemudian saya membeli motor lain (terlahir untuk berkendara, bro!), dan sekarang saya mengisi gelembung itu dengan doa setiap kali berkendara.   

Ny. Eddy sesungguhnya berbicara langsung kepada gelembung pengendara motor dalam suatu pernyataan yang ditulisnya pada akhir tahun 1880-an, jauh sebelum motor diciptakan. “Allah adalah baik pusat maupun keliling segala wujud” (Ilmupengetahuan dan Kesehatan, hlm. 203–204). Kasih mengisi wujud kita di pusat maupun pinggirnya, membenamkan kita dalam perlindungan penuh ke mana pun kita pergi, bagaimana pun kita pergi. Allah, kesejatian yang tidak terputus-putus, memerintahi semua kegiatan yang melintas di jalan kita.  

Lynde McCormick dan istrinya, Andrea, memiliki dua bisnis di New York City.

Misi Bentara

Pada tahun 1903, Mary Baker Eddy mendirikan Bentara Ilmupengetahuan Kristen. Tujuannya: “untuk memberitakan kegiatan serta ketersediaan universal dari Kebenaran.” Definisi “bentara” dalam sebuah kamus adalah “pendahulu—utusan yang dikirim terlebih dahulu untuk memberitakan hal yang akan segera mengikutinya,” memberikan makna khusus pada nama Bentara dan selain itu menunjuk kepada kewajiban kita, kewajiban setiap orang, untuk memastikan bahwa Bentara memenuhi tugasnya, suatu tugas yang tidak dapat dipisahkan dari Kristus dan yang pertama kali disampaikan oleh Yesus (Markus 16:15), “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, 7 Juli 1956

Belajar lebih lanjut tentang Bentara dan Misinya.