Skip to main content

Pergelangan kaki sembuh dan watak diperbaharui

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 1 Mei 2018

Aslinya diterbitkan di edisi 19 Februari 2018 majalah Christian Science Sentinel


Pada musim panas saat saya berada pada peralihan tingkat satu dan dua perguruan tinggi, saya perlu menyembuhkan perasaan terluka dan benci terhadap mantan pacar saya. Kebetulan, kami akan bekerja sama sebagai staf di suatu perkemahan musim panas bagi para siswa Sekolah Minggu Ilmupengetahuan Kristen, dan hal ini membuat saya lebih bertekad untuk mengatasi perasaan negatif tersebut. Saya sama sekali tidak menyangka, bahwa ketika berdoa mengenai masalah ini, selain sembuh dari perasaan terluka dan benci, saya juga terbebas dari rasa canggung dan kurang percaya diri yang telah lama ingin saya atasi.

Adalah hal yang wajar bagi saya untuk berpaling mohon bantuan kepada Allah, karena selama hidup, saya telah bergantung kepada Ilmupengetahuan Kristen untuk menangani keadaan yang tidak selaras—semua hal, dari masalah emosional serta penyakit sampai tantangan dalam pekerjaan serta sekolah. Saya berdoa untuk memahami bahwa pemuda ini dan saya adalah anak-anak Allah yang bersifat rohaniah yang hanya bisa saling berhubungan secara selaras. Meskipun demikian, setiap kali saya melihat orang itu atau memikirkannya, perasaan terluka dan marah yang tidak rasional datang dengan sangat agresif dan mengganggu.

Salah satu kegiatan pertama kami sebelum para pengikut perkemahan datang musim panas itu adalah melakukan perjalanan kaki selama tiga hari di pegunungan. Kami dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang akan berjalan sendiri-sendiri selama hampir seluruh kegiatan itu, dan saya bersyukur tidak berada dalam satu kelompok dengan mantan pacar saya. Awal perjalanan itu menyenangkan sekali, dan percakapan dengan teman-teman satu kelompok tentang bagaimana masing-masing sangat menghargai Ilmupengetahuan Kristen dalam kehidupan kami sehari-hari setahun itu, memberi saya semangat yang besar.

Ketika kelompok saya menapaki dasar sungai yang kering yang penuh bebatuan, malam pun tiba. Cahaya sempit dari senter kepala kami hanya dapat menerangi sebagian dari jalur itu, dan dengan ransel yang berat, sulit bagi kami untuk tidak jatuh. Ketika berjalan, saya kehilangan keseimbangan dan jatuh. Pergelangan kaki saya tidak dapat menopang saya, sakit sekali rasanya, dan saya tidak bisa menapakkan kaki itu ketika saya dibantu untuk berdiri. Melihat ketakutan saya dan keletihan para anggota kelompok karena perjalanan yang sulit itu, ketua kelompok kami membimbing kami menjauhi jalur yang berbatu itu agar kami dapat duduk dan bersama-sama membaca dengan bersuara Pelajaran Alkitab Ilmupengetahuan Kristen diterangi senter kepala kami.

Saya senang membaca Khotbah Pelajaran mingguan yang berisi kutipan-kutipan dari Alkitab dan buku Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci  karangan Mary Baker Eddy yang terdapat di Buku Triwulanan Ilmupengetahuan Kristen. Saya tidak ingat pokok Pelajaran minggu itu, tetapi setiap kutipan yang dibacakan para anggota membantu membuang ketakutan besar, kesakitan, dan ketidakberdayaan yang tengah saya rasakan.

Di Sekolah Minggu, selama bertahun-tahun saya belajar dan telah membuktikan untuk diri saya sendiri, bahwa Allah adalah Kasih, sumber segala kebaikan yang senantiasa tersedia. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari saya berjuang untuk merasa percaya diri, terutama ketika bersama kelompok teman sebaya. Orang lain jarang melihat kecanggungan ini—bahkan, orang sering mengatakan bahwa saya percaya diri dan suka berteman! Tetapi saya terbiasa berpikir bahwa saya harus mendapatkan kasih dan rasa hormat dengan menunjukkan kepintaran melucu atau kecerdasan atau bakat yang menonjol di sesuatu bidang. Saat itu saya tidak menyadarinya, tetapi secara perlahan saya melepaskan kepercayaan yang keliru itu. Bulan-bulan penuh doa yang tekun dan ilmiah untuk mengasihi sesama seperti diri saya sendiri dan memaafkan mantan pacar saya telah membantu saya tumbuh dalam kemampuan untuk mengasihi diri sendiri sehingga saya dapat mengasihi sesama!

Ketika pembacaan Khotbah Pelajaran selesai, saya merasa tenang dan aman sepenuhnya. Suatu pemahaman yang kudus tentang persekutuan dalam Kristus menyelimuti kelompok kami ketika memasang tenda untuk malam itu, dan saya kagum melihat kasih serta dukungan yang dinyatakan setiap rekan sesama pembimbing. Setiap senyuman, dekapan, dan tindakan untuk membantu saya beristirahat dalam kantung tidur saya, dengan jelas mengkomunikasikan kasih Allah yang besar bagi saya dan setiap orang lain. Semua penghakiman terhadap diri sendiri serta ketakutan telah musnah, dan saya tertidur dengan sangat damai.

Ketika bangun keesokan harinya, saya bahkan tidak bisa menapakkan kaki di tanah tanpa rasa sakit yang hebat. Tetapi, saya tidak merasa takut. Kami bermil-mil jauhnya dari jalan dan sinyal hp, tetapi kepercayaan serta keyakinan saya bahwa Allah akan menjaga saya, lebih kuat daripada yang pernah saya miliki sebelumnya.

Ketika teman-teman dari grup kami mulai bangun, ketua kelompok dan seorang rekan pembimbing menggotong saya ke suatu tempat yang tenang, terpisah dari teman-teman yang lain agar saya dapat sendirian. Kami bertiga berdoa untuk mengetahui bagaimana kami dapat melanjutkan perjalanan mengingat saya tidak bisa berjalan. Saya mulai dengan bersukacita karena rasa canggung saya telah hilang, sadar bahwa 24 jam sebelumnya saya pasti akan merasa sangat dipermalukan karena memerlukan bantuan seperti itu. Saat mengakui bahwa penyembuhan atas keakuan telah terjadi terasa sebagai sambaran petir dalam kesadaran saya. Saya tertawa keras pada pernyataan palsu bahwa saya pernah menjadi manusia fana yang takut, canggung. Saya telah mendapat pemahaman yang lebih baik akan sifat rohaniah saya serta hubungan saya dengan Allah yang maha-baik.

Sejak saat itu penyembuhan pergelangan kaki saya terjadi dengan cepat. Dalam duapuluh menit saya dapat menapakkan kaki saya, dan siang itu saya berlari menuruni tebing dalam suatu permainan “Ikuti si pemimpin” yang menguras tenaga. Saya tidak pernah lagi mengalami ketidaknyamanan, meskipun melakukan perjalanan berat dengan sepatu tanpa penyangga pergelangan kaki selama dua hari sesudah cedera tersebut. Pergelangan kaki saya tidak pernah membengkak, dan hanya ada bekas cedera yang hampir tidak terlihat, yang segera hilang. Perasaan terluka serta kebencian yang seakan begitu membandel dalam pikiran saya juga hilang dalam sisa perjalanan itu. Mantan pacar saya dan saya menghabiskan waktu bersama pada sore pertama di perkemahan, berbicara dan bersenda-gurau di depan api unggun, persahabatan kami yang manis pulih sepenuhnya.

Meskipun berkat yang saya dapat sangat menakjubkan, yang paling saya syukuri adalah rasa percaya diri serta kebebasan baru yang saya rasakan saat bergaul dengan teman-teman sebaya. Saya merasakan kasih yang lebih dalam serta lebih rohaniah kepada Allah, kepada diri sendiri, serta kepada sesama, dan hal ini menghilangkan perasaan bahwa saya perlu mendapatkan kasih secara kebendaan. Saya berkenalan dengan teman-teman baru dan mencoba hal-hal yang baru dengan rasa tanpa takut yang belum pernah saya kenal sebelumnya. Beberapa orang berkomentar bahwa saya telah sangat berubah musim panas itu, dan saya merasa bukanlah suatu kebetulan bahwa tema perkemahan untuk bulan-bulan tersebut adalah ayat berikut dari Roma: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (12:2).

Sudah pasti saya diperbaharui oleh kesembuhan ini, yang menjadi batu ujian bagi saya dalam mempraktekkan Ilmupengetahuan Kristen.

Emily Reynolds Smith
Ballwin, Missouri, AS

The Mission of the Herald

In 1903, Mary Baker Eddy established The Herald of Christian Science. Its purpose: "to proclaim the universal activity and availability of Truth." The definition of "herald" as given in a dictionary, "forerunner—a messenger sent before to give notice of the approach of what is to follow," gives a special significance to the name Herald and moreover points to our obligation, the obligation of each one of us, to see that our Heralds fulfill their trust, a trust inseparable from the Christ and first announced by Jesus (Mark 16:15), "Go ye into all the world, and preach the gospel to every creature."

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, July 7, 1956

Learn more about the Herald and its Mission.