Skip to main content Skip to search Skip to header Skip to footer

‘Saya ingin melayani Allah’

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 7 Agustus 2018

Aslinya diterbitkan di edisi 14 Mei 2018 majalah Christian Science Sentinel


Saat itu awal tahun 1990-an dan saya tinggal di Paris. Selama bertahun-tahun saya telah berdoa untuk menemukan suatu agama yang akan membantu saya belajar tentang Allah. Saya ingin melayani Allah, tetapi Allah yang dapat saya kenal dan pahami.

Tetapi, baru setelah saya kembali ke Luanda, ibu kota negara asal saya Angola, saya menemukan Ilmupengetahuan Kristen. Saya tinggal di Angola beberapa lama di rumah seorang teman, dan teman saya itu mempunyai beberapa bacaan Ilmupengetahuan Kristen, termasuk majalah Bentara Ilmupengetahuan Kristen, yang diberikannya kepada saya. Saya sama sekali tidak tahu tentang Ilmupengetahuan Kristen, tetapi saya menyukai semua yang saya baca di majalah tersebut. Bahkan, selama kurang lebih enam bulan Bentara adalah satu-satunya yang saya baca setiap hari.

Sesudah itu, untuk tujuan bisnis saya pergi ke Uige, suatu propinsi di bagian Utara Angola, di mana saya bertemu dengan seorang pelajar Ilmupengetahuan Kristen yang juga memberi saya majalah Bentara. Saya terus meminta majalah itu lebih banyak, dan ia terus memberikannya kepada saya, sampai ia kehabisan majalah tersebut. Ide-ide rohaniah yang disampaikan para penulis di majalah tersebut memberi saya pandangan yang lebih positif tentang agama dan, secara berangsur-angsur, pemahaman yang saya cari tentang Allah. Menurut saya, pesan yang ada di Bentara dapat dibaca semua orang, apa pun latar belakang atau tingkat pendidikannya, dan majalah itu menyampaikan ajaran Ilmupengetahuan Kristen dengan sangat sederhana dan wajar sehingga saya merasa dapat menerapkan apa yang saya pelajari secara langsung.  

Teman baru saya di Uige juga menunjukkan kepada saya Alkitab; buku ajar Ilmupengetahuan Kristen, Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci karangan Mary Baker Eddy; dan Buku Triwulanan Ilmupengetahuan Kristen—yang saya pelajari selama beberapa waktu. Banyak artikel yang saya baca di Bentara ditulis oleh orang-orang yang telah disembuhkan dengan membaca Ilmupengetahuan dan Kesehatan. Saya merasa perlu mendapatkan buku itu, dan saya bertanya kepada teman saya apakah ia dapat memberikan atau menjual bukunya kepada saya. Ia mengatakan bahwa buku itu satu-satunya miliknya, dan sangat berharga baginya. Tetapi ia mempunyai seorang teman yang bisa memberi saya buku itu. Kita hanya perlu berjalan ke rumahnya. 

Saat itu sudah lewat jam 6 sore, dan pada waktu itu orang tidak boleh dengan bebas berada di jalan karena perang saudara sedang berkecamuk. Tetapi saya tidak bisa menunggu untuk mendapatkan buku tersebut, maka saya meyakinkan teman saya bahwa bagaimana pun juga kami harus pergi. 

Dalam perjalanan pulang yang panjang, saya harus melewati daerah yang padat ditumbuhi semak dan rumput yang tinggi, yang menjadikan perjalanan itu berbahaya. Tetapi saya tidak takut karena saya hanya ingin segera membaca buku saya yang baru. 

Setelah kembali dengan selamat, saya menyalakan lampu minyak saya (saat itu tidak ada listrik di desa itu) dan mulai membaca Ilmupengetahuan dan Kesehatan—dan saya tidak bisa berhenti membaca. Saya membaca sampai subuh, dan selama dua minggu tidak melakukan apa-apa selain membaca buku itu. Saya juga mulai membaca Alkitab dan Pelajaran Alkitab Ilmupengetahuan Kristen dari Buku Triwulanan.

Saya merasa diperbaharui dalam berbagai hal. Sedikit demi sedikit, saya mulai memahami bahwa manusia bersifat rohaniah. Saya mulai menyadari bahwa Allah bukanlah Allah yang jauh melainkan Kasih yang senantiasa hadir, dan bahwa perhubungan manusia dengan Allah tidak terpisahkan—ia satu dengan Allah. Dalam Ilmupengetahuan dan Kesehatan dikatakan, "Allah adalah baik pusat maupun keliling segala wujud” (hlm. 203–204). Saya belajar bahwa sifat-sifat seperti kasih dan kelembutan hati menyatu dengan diri saya sebagai cerminan Allah, dan saya melihat bahwa orang lain dengan sendirinya mencakup sifat-sifat itu juga, sebagai pernyataan Allah. Selain itu, ayat-ayat Alkitab yang sebelumnya telah saya baca berkali-kali sekarang menjadi jelas maknanya. Dan saya pun jadi menghargai Alkitab sebagai peta kehidupan kita.  

Terutama, apa yang saya pelajari tentang Yesus Kristus dan Kristus sangatlah berharga. Selama ini saya selalu menganggap Yesus sebagai orang biasa yang berjasa, tetapi sekarang saya mulai memahami bahwa lebih dari orang lain Yesus menyatakan Kristus, sifat ilahi, dan menunjukkan dengan contoh kesatuan manusia dengan Allah. Selain itu Yesus bersabda, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14:6), jadi kita mengenal Allah melalui Yesus dan ajarannya. Dan saya melihat bahwa Yesus dapat menyembuhkan dan melakukan apa yang diperbuatnya karena besarnya kasih yang dicerminkannya dari Kasih ilahi itu sendiri dan dinyatakannya kepada umat manusia. 

Ny. Eddy juga bisa menyembuhkan dengan menyatakan kasih Tuhan. Menyadari hal ini membuat saya menghargai karya dan misinya dalam menunjukkan kepada kita bahwa kita akan melakukan segala sesuatu yang dilakukan Yesus jika kita menyatakan kasih Kristus yang sama kepada sesama kita. 

Pada suatu hari saya pergi ke suatu desa lain di Uige, di mana orang dari luar daerah seperti saya, tidak disukai. Di sana ilmu sihir banyak dipraktekkan, dan orang luar seringkali jatuh sakit dan, kadang-kadang bahkan meninggal. Setelah beberapa hari di sana, saya jatuh sakit. Seorang teman menawarkan untuk membeli obat, tetapi tempat terdekat di mana obat bisa didapat berjarak 18 mil (29 km) dari situ. Saat itulah saya berpikir: "Tetapi agamamu yang baru dapat menyembuhkan." Dan saya memutuskan untuk membuktikannya.

Saya mulai membaca Ilmupengetahuan dan Kesehatan, dan mata saya tertuju pada Doa Tuhan dengan tafsiran rohaniahnya oleh Ny. Eddy. Saya merenungkan bagian ini dalam-dalam: 

Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga
mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
Dan Kasih dicerminkan dalam kasih;
(hlm. 17) 

Saya sadar bahwa orang-orang di desa itu hanya dapat menyatakan kasih Tuhan dan menjadi penerima Kasih ilahi ini. Mereka tidak bisa menyebabkan saya atau orang lain cedera, karena Kasih ilahi adalah satu-satunya yang ada—satu-satunya kuasa yang sesungguhnya.

Saya tertidur, dan keesokan harinya ketika bangun saya merasa sehat. Suatu ketika saya merasakan kembali gejala penyakit itu, tetapi saya melanjutkan berdoa, dan gejala-gajala itu hilang untuk selamanya. 

Keinginan saya untuk memahami ide-ide yang terkandung di buku Ilmupengetahuan dan Kesehatan semakin kuat. Saya tinggal di desa itu beberapa waktu, dan suatu hari seseorang berkata kepada saya bahwa ia tidak mengerti bagaimana saya, orang dari luar daerah, dapat begitu disukai di situ. Bahkan, saya mengembangkan bisnis yang baik di sana karena penduduk setempat percaya kepada saya. Saya melihat hal ini sebagai hasil pemahaman saya bahwa “Kasih dicerminkan dalam kasih.” Selama beberapa tahun berikutnya, saya menyaksikan banyak kejadian lain yang menakjubkan tentang perlindungan, bimbingan, serta penjagaan Allah bagi semua anakNya. Memahami bahwa Allah memenuhi segala keperluan insani dengan memberi kita suplai yang tidak terbatas akan ide yang benar, saya memiliki semua yang saya perlukan, dari makanan sampai uang. Dan saya mampu membantu orang lain mengatasi kesulitan, baik itu penyakit, atau kekurangan sumberdaya. 

Kemudian, ketika saya di Namibia, saya bertemu seorang penyembuh Ilmupengetahuan Kristen, dan mengutarakan kepadanya keinginan saya untuk kembali ke Paris agar bisa kembali bersama anggota-anggota keluarga yang saya tinggalkan di sana. Penyembuh itu mengatakan bahwa Afrika memerlukan pemikir-pemikir rohaniah seperti saya, dan menambahkan bahwa saya bisa berada di Paris atau di Luanda—atau di mana pun—tetapi sebenarnya kita hidup dengan aman di dalam Kasih ilahi, di dalam kerajaan Allah. Setelah merenungkan hal ini saya memutuskan untuk kembali ke Angola dan melayani gerakan Ilmupengetahuan Kristen di negeri saya.  

Sejak saat itu saya tinggal di Luanda. Sekarang ini, dengan suka cita saya mengajar Sekolah Minggu di perkumpulan Ilmupengetahuan Kristen (yang salah satu pendirinya adalah saya) di Samba, suatu distrik di Luanda, dan dengan setia saya melayani di berbagai tugas lainnya. 

Meskipun saya datang dari latar belakang yang sangat sederhana, sekarang saya memiliki berbagai bisnis di bidang-bidang yang berbeda, dan orang menganggap saya berhasil. Tetapi saya tidak bangga akan hal ini karena saya tahu bahwa saya tidak bisa berbuat apa-apa tanpa Allah dan saya hanya dapat bertindak dengan bimbinganNya. Saya adalah alat di tanganNya. Pekerjaan saya adalah menyatakan kasih Tuhan, melihat sesama sebagai cerminan Kasih ilahi, dan membawa harapan kepada hati yang lapar.  

Semua yang saya miliki adalah berkat Ilmupengetahuan Kristen. Pengertian tentang Allah yang diberikannya kepada saya adalah semua yang dapat saya inginkan.  

Misi Bentara

Pada tahun 1903, Mary Baker Eddy mendirikan Bentara Ilmupengetahuan Kristen. Tujuannya: “untuk memberitakan kegiatan serta ketersediaan universal dari Kebenaran.” Definisi “bentara” dalam sebuah kamus adalah “pendahulu—utusan yang dikirim terlebih dahulu untuk memberitakan hal yang akan segera mengikutinya,” memberikan makna khusus pada nama Bentara dan selain itu menunjuk kepada kewajiban kita, kewajiban setiap orang, untuk memastikan bahwa Bentara memenuhi tugasnya, suatu tugas yang tidak dapat dipisahkan dari Kristus dan yang pertama kali disampaikan oleh Yesus (Markus 16:15), “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, 7 Juli 1956

Belajar lebih lanjut tentang Bentara dan Misinya.