Skip to main content

Suplai yang disediakan Allah bagi kita tidak pernah habis

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 28 Juni 2018

Aslinya diterbitkan di edisi 28 Mei 2018 majalah Christian Science Sentinel


Kegelapan pekat ada di hadapan saya tatkala saya berkendara mendekati jembatan di jalan desa. Seakan saya telah berkendara ke dalam lorong hitam tak berujung. Di bawah sinar lampu mobil saya, tidak sesuatu pun terpantul di depan saya—tidak sesuatu pun terlihat yang menunjukkan bahwa jalan itu tetap ada setelah saya menyeberangi  jembatan. Saya hanya tahu bahwa jalan itu ada di sana.

Tidak dapat disangkal, saya merasa perjalanan melewati jembatan ini bagaikan suatu perumpamaan tentang hidup saya saat itu. Saya berkendara menuju suatu tempat di mana saya tahu bahwa saya diperbolehkan menginap selama beberapa minggu. Keadaan yang kurang menguntungkan telah meninggalkan saya tanpa uang, tanpa pekerjaan, tanpa tempat tinggal—hanya mobil yang saya kendarai dan beberapa barang yang saya miliki. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Tetapi, sama pastinya seperti saya tahu bahwa jalan itu terus berlanjut di seberang jembatan, saya pun tahu bahwa Allah menyediakan jalan yang sempurna bagi kehidupan saya selanjutnya. Dengan tenang dan penuh kepercayaan saya letakkan tangan saya dalam genggamanNya.

Di dalam Alkitab terdapat begitu banyak kisah tentang suplai yang disediakan Allah saat kelihatannya ada kekurangan yang tidak dapat diatasi. Salah satunya kisah tentang Musa membimbing bani Israel keluar dari Mesir (lihat Keluaran 12:37—17:7). Ketika tiba di Laut Teberau, kelihatannya tidak ada cara bagi mereka untuk meneruskan perjalanan. Tetapi Allah membelah laut itu bagi mereka. Ketika tidak ada makanan, manna jatuh dari langit. Ketika tidak ada air, Allah memerintahkan Musa untuk memukul bukit batu, yang menyemburkan banyak air. 

Meskipun demikian, bahkan dengan semua yang disediakan Allah itu—semua tanda bahwa Allah memang menjaga umatNya—bani Israel rupanya cepat melupakan hal tersebut saat menghadapi lagi apa yang mereka anggap sebagai suatu rintangan yang tidak dapat dilewati. Setelah air keluar dari bukit batu di Rafidim, mereka masih mengeluh dengan getir karena tidak ada air saat mereka berada di padang gurun Zin (lihat Bilangan 20:1-11). Maka Allah sekali lagi memerintahkan Musa untuk memukul bukit batu; dan Allah terus memelihara mereka dan membimbing mereka.

Mary Baker Eddy menggunakan kisah Alkitab dari Keluaran ini untuk menggambarkan perjalanan mental yang kita lakukan dari kekhawatiran dan kekurangan menuju suatu pemahaman yang lebih luhur tentang penjagaan Allah yang tidak habis-habisnya. Di buku Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci ia menulis, “Sebagai bani Israel dibimbing dengan jaya menempuh Laut Teberau, air pasang dan surut ketakutan insani yang gelap — sebagai mereka itu dipimpin melalui padang gurun, dan berjalan dengan letih lelahnya melalui padang gurun luas pengharapan insani sambil menantikan suka cita yang dijanjikan — demikian jugalah ide rohaniah akan membimbing semua keinginan yang benar dalam perjalanannya dari pancaindera kepada Jiwa, dari suatu paham yang kebendaan tentang kehidupan kepada paham yang rohaniah, selalu naik lebih tinggi lagi sampai kepada kemuliaan yang disediakan bagi orang yang mengasihi Allah” (hlm. 566). Jika kita mengasihi Allah dan ingin mematuhiNya, kita akan mendapati bahwa penanggapan rohaniah kita tentang kehidupan benar-benar bertambah untuk menggantikan penanggapan kebendaan palsu yang pernah kita pergantungi tentang kesejatian—dan perubahan ini menyatakan diri secara praktis dalam hidup kita.  

Selama beberapa tahun sebelum kejadian di jembatan malam itu, setiap bulan saat memeriksa keuangan saya, saya harus menghadapi setumpuk tagihan dengan cek-cek gaji yang saya terima, yang kelihatannya sangat tidak mencukupi untuk membayar tagihan-tagihan tersebut. Dengan sangat khawatir saya akan meninggalkan meja kerja saya, berjalan mondar-mandir, dan berdoa—seringkali sampai larut malam. Saya akan menegaskan bahwa Allah kita yang pengasih sudah memenuhi setiap keperluan anak-anakNya, dan saya akan memohon kepadaNya untuk membantu saya melihat kebenaran ini dengan cara yang dapat saya pahami. Setelah berdoa seperti itu, saya akan merasa tenang dan kembali ke meja kerja saya untuk memutuskan mana pembayaran yang dapat ditunda dan mana yang tidak dapat ditunda.

Setiap bulan, dengan berjalannya waktu, selalu ada cara untuk membayar tagihan yang tersisa. Saya selalu bersyukur. Tetapi bulan berikutnya saya harus melakukan hal yang sama. Seperti bani Israel terkesan oleh kekurangan dan lupa akan penjagaan Allah yang tidak pernah gagal, saya juga terkesan oleh cek-cek gaji yang bernilai kecil itu, dan membiarkan hal tersebut menggantikan kepercayaan saya kepada apa yang disediakan Kasih ilahi. Demikianlah, setiap bulan saya harus berdoa lagi untuk mengatasi rasa khawatir akan kekurangan. 

Cepat atau lambat, kita harus menerima bahwa tidaklah mungkin bagi Allah yang tidak berhingga untuk kehabisan sesuatu; dan karena itu tidaklah mungkin bagi penyataanNya yang tidak berhingga, manusia—anakNya—untuk kekurangan sesuatu yang diperlukan. Suplai bersifat tidak berhingga dan hanya datang dari Allah—tidak pernah datang dari zat atau konsep apa pun yang didasarkan pada zat. Kita mengalami kekurangan hanya jika kita percaya bahwa suplai datang dari sumber yang kebendaan. Kebenaran rohaniah akan suplai yang tidak berhingga ini selalu ada di dalam pikiran saya saat berdoa untuk mengatasi rasa kekurangan yang kelihatannya diakibatkan oleh cek-cek gaji bernilai kecil tersebut. Kebenaran ini, bersama dengan kisah-kisah Alkitab mengenai kelimpahan yang dibuktikan secara rohaniah dan pembuktian saya setiap bulan akan suplai, merupakan hal-hal yang mempersiapkan saya untuk menyadari selama-lamanya apa yang dikaruniakan dengan melimpah di dalam hidup saya—suatu wahyu yang datang saat saya sepenuhnya menyerahkan kepercayaan saya kepada Allah di jembatan yang gelap itu.

Hanya setelah beberapa tahun berlalu saya menengok ke belakang dan menyadari, bahwa malam itu (sudah lebih dari 20 tahun yang lalu) menandai hilangnya kebiasaan saya untuk mengkhawatirkan suplai. Saat itu, dengan penuh kerendahan hati saya meletakkan kepercayaan saya di dalam Allah sehingga saya tidak menyadari betapa besar atau apa arti semua itu. Dengan tidak lagi menerima cek gaji dan dengan hilangnya bantuan yang didasarkan pada hal-hal kebendaan dari pengalaman saya, saya tidak lagi tergoda untuk merasa bahwa kesejahteraan atau suplai saya bergantung kepada orang atau sesuatu selain Allah. Malam itu, ketika saya meletakkan tangan saya dalam genggaman Sang Bapa, kekhawatiran akan kekurangan hilang untuk selamanya. Kepercayaan saya bahwa Allah memenuhi setiap kebutuhan saya menjadi jauh lebih konsisten. Suatu perasaan yang semakin kuat akan kelimpahan mulai mengisi pikiran dan hidup saya.

Pada awalnya, saya masih tetap tidak memiliki apa-apa selain yang saya bawa dalam perjalanan itu. Tetapi, setiap kali saya memerlukan sesuatu, saya mendapatkannya. Saya tidak pernah meragukan bahwa hal itu akan terjadi. Saya dibimbing untuk mengikuti jalan yang tidak pernah saya bayangkan, menuju pembuktian yang semakin besar akan kelimpahan di dalam hidup saya. Saya kembali bersekolah kemudian meniti suatu karir baru, saya menjalani suatu kehidupan berkeluarga yang diperbaharui dan diperluas, tempat tinggal yang penuh kasih, kesempatan untuk melayani sesama. Memang, pada akhirnya saya menerima cek gaji lagi—dengan jumlah yang menggembirakan. Tetapi saya tidak lagi menganggap hal itu sebagai sumber suplai saya. Alih-alih demikian, hal itu adalah bukti akan kelimpahan rohaniah yang tidak terbatas yang saya tahu akan selalu saya miliki dari Allah, Bapa saya terkasih, yang selalu memenuhi kebutuhan semua.

Saya telah belajar bahwa saat kita menghadapi kekurangan dalam hidup kita, kelimpahan Allah sudah tersedia untuk dinyatakan kepada kita manakala kita siap melihatnya dan mengambilnya. Doa yang teguh, menerapkan ajaran Ilmupengetahuan Kristen dengan setia, dan kepercayaan penuh kepada Ibu-Bapa surgawi kita yang menakjubkan, akan membimbing kita untuk melihat kebaikan dan penjagaan Allah yang selalu tersedia dan tidak terbatas—menghasilkan suatu perasaan bahagia akan kelimpahan yang dengan nyata memberkati hidup kita.

Misi Bentara

Pada tahun 1903, Mary Baker Eddy mendirikan Bentara Ilmupengetahuan Kristen. Tujuannya: “untuk memberitakan kegiatan serta ketersediaan universal dari Kebenaran.” Definisi “bentara” dalam sebuah kamus adalah “pendahulu—utusan yang dikirim terlebih dahulu untuk memberitakan hal yang akan segera mengikutinya,” memberikan makna khusus pada nama Bentara dan selain itu menunjuk kepada kewajiban kita, kewajiban setiap orang, untuk memastikan bahwa Bentara memenuhi tugasnya, suatu tugas yang tidak dapat dipisahkan dari Kristus dan yang pertama kali disampaikan oleh Yesus (Markus 16:15), “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, 7 Juli 1956

Belajar lebih lanjut tentang Bentara dan Misinya.