Skip to main content

Bagaimana Sang Penghibur menolong kita

Yesus merujuk kepada Penghibur sebagai "Roh Kudus," yang akan mengajarkan kepada kita "segala sesuatu."

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 7 Agustus 2019

Aslinya diterbitkan di edisi Mei 1999 majalah The Christian Science Journal


Saya mempunyai seorang teman yang berprofesi sebagai juru kamera. Ia dan timnya sedang membuat film dokumenter tentang Milford Trek di Selandia Baru. Tetapi teman saya itu terpaksa menghentikan pekerjaannya karena sakit parah. Ia menderita demam tinggi dan sering mengigau. Tanpa disangka, badai yang dahsyat melanda pegunungan itu. Para anggota tim mengkhawatirkan jiwa teman saya. Mereka berpendapat teman saya harus segera dievakuasi turun dari gunung. Tetapi keadaan cuaca yang buruk tidak memungkinkan hal itu. Seorang penjaga hutan mengirimkan pesan radio ke hotel terdekat, di mana seseorang menelpon orang tua teman saya dan memberitahukan bahwa putranya minta agar mereka mencari bantuan seorang penyembuh Ilmupengetahuan Kristen yang telah membantu putranya pada kesempatan-kesempatan lain. 

Alkitab meyakinkan kita bahwa tidak ada tempat yang demikian terpencil, tidak ada samudra yang demikian luas, tidak ada gunung yang demikian tinggi, yang dapat memisahkan kita dari Allah yang hidup, yang adalah Hidup kita. Berdoa dari sudut pandang ini, kita dapat mendengar suara yang tenang di dalam kalbu kita, yang berasal dari Kristus—ide yang benar tentang Allah—yang di hadapannya ketakutan menyerah. 

Kristus, yang dibuktikan dengan begitu sempurna oleh Yesus, menunjukkan bahwa Allah dan anakNya selalu satu, tidak terpisahkan. Allah Ibu-Bapa, yang adalah Semua-dalam-semua, memberikan bukti akan kuasaNya, dan Ibu yang waspada tidak pernah gagal menjaga anak-anakNya, melainkan terus-menerus memelihara mereka. Kasih ilahi bersama kita, setiap saat, dan adalah penyembuh dalam setiap masalah. 

"Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku."1 Kata-kata Alkitab ini menyuarakan kepercayaan yang dalam kepada Allah, percaya bahwa Ia hadir di mana-mana dan percaya pada keunggulan kuasa rohaniah atas gelombang ketakutan dan semua kesulitan dalam pengalaman insani. 

Keberhasilan doa tersebut jelas sekali terlihat dalam kepercayaan kepada Allah yang dinyatakan keluarga teman saya dan juga para anggota tim, dan dalam kerjasama mereka yang hangat. Badai itu reda, demikian juga demam yang diderita teman saya.

Dalam satu minggu teman saya yang masih muda itu berada pada tugas berikutnya. Ia menyatakan rasa syukur yang dalam untuk kesembuhan yang cepat itu dan untuk Sang Penolong, yang oleh Yesus disebut sebagai “Roh Kebenaran,” yang akan “mengajarkan segala sesuatu kepada [kita]."2 Teman saya mengatakan bahwa dengan berserah pada kepercayaannya yang alami kepada Allah serta pemahamannya tentang Allah, ketakutan terhadap maut pun sirna. Hidup teman saya itu terus berkembang. 

Jadi, bagaimanakah Sang Penghibur menolong kita? Jawabannya terletak dalam pemahaman yang diberikannya kepada kita tentang Allah dan manusia, termasuk kesatuan manusia dengan Penciptanya. Buku Ilmupengetahuan dan Kesehatan karangan Mary Baker Eddy menyatakan Sang Penghibur sebagai Ilmupengetahuan Ilahi.3 Ilmupengetahuan ini memaklumkan keindahan dan kebaikan Allah, ketidakberhinggaanNya, kuasaNya yang tidak dapat dilawan, dan substansiNya yang sempurna. Ilmupengetahuan menunjukkan bahwa manusia adalah gambar Allah, seperti  tertulis dalam Alkitab.  

Doa yang didasarkan pada pemahaman seperti ini menyingkapkan konsep-konsep yang keliru tentang hidup, dan kesulitan-kesulitan yang ditimbulkan semua itu, seperti apa adanya: bayangan yang tidak bersubstansi, ketidaksesuatuan kejahatan, sama sekali tidak berkuasa. Kalau kita membiarkan terang ilahi masuk melalui doa, maka pikiran yang kebendaan menyerah kepada pikiran yang rohaniah. Rasul Paulus mengatakan, “Sebab Allah yang telah berfirman: ‘Dari dalam gelap akan terbit terang!’, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus."4 

Sang Penghibur menunjukkan bahwa Asas manusia adalah Kasih—yang senantiasa memerintahi ciptaannya dalam keselarasan. Dengan mengetahui bahwa manusia tidak terpisahkan dari Kasih, kita mendapati bahwa ketakutan runtuh dan sebagai akibatnya datang kesembuhan. Kita melihat dengan lebih jelas anak ciptaan Allah, yang selamanya dipertahankan dalam pelukan pemeliharaan Kasih. Ilmupengetahuan dan Kesehatan menyatakan, “Bagi Kasih yang tidak berhingga dan selalu hadir, semua adalah Kasih, dan tidak ada kesesatan, tidak ada dosa, penyakit, atau pun maut."5 

Kalau kita secara konsisten bergantung kepada Sang Penghibur, maka pikiran kita diberdayakan dengan pemahaman tentang sifat Kasih yang tidak berubah; kita melihat Kasih dan pernyataan Kasih, manusia, sebagai senantiasa sempurna, dan menyadari bahwa ini adalah satu-satunya kesejatian akan wujud. Pemahaman yang diilhami Allah ini adalah hukum bagi keadaan apa pun yang sedang kita tangani melalui doa. Asas ilahi adalah sumber dari hukum yang tidak pernah salah. Asas ilahi meniadakan hukum-hukum yang palsu dan bersifat kebendaan serta akibat-akibatnya dalam bentuk penyakit dan dosa. Dalam kepatuhan kepada Asas, kita bisa mengatakan bahwa kita sehat saat ini juga, karena kita diciptakan dalam keserupaan Allah! 

Sang Penghibur hadir untuk mendukung kita setiap saat—dalam keadaan darurat maupun dalam keseharian kita yang normal—dengan tenang meyakinkan kita akan keselaluhadiran, kemahakuasaan, dan kemahatahuan dari Yang Esa dan tidak berhingga, dan dengan mantap membimbing kita kepada kebenaran. Bantuan Sang Penghibur tidak terbatas pada kesulitan fisik; tidak ada segi kehidupan kita yang berada di luar pemeliharaan Allah. Yang sangat penting adalah kuasa Kristus untuk merubah  serta memperbaharui pikiran insani dalam menyembuhkan dosa. 

 Melalui ajaran Ilmupengetahuan ilahi, kita belajar untuk berdoa secara meyakinkan, dengan perhatian yang tidak terbagi kepada Kristus, Kebenaran. Dengan perhatian penuh dalam komunikasi dengan Allah, kita mencerminkan sifat kasih dari Kasih, mencerminkan ilham Budi, dan mengalami secara lebih penuh kesatuan kita dengan Allah. Sebagai hasilnya, keadaan mental yang gelap, seperti kesombongan, amarah, dan kejahatan menyerah kepada Kebenaran. Dengan hilangnya kepercayaan-kepercayaan palsu, dan melalui pandangan yang lebih jelas tentang identitas rohaniah kita yang sesungguhnya sebagai anak Allah yang dikasihi dan disayangi, kita merasa semakin dekat dengan Kasih serta pemeliharaan Kasih yang spontan. Mendapatkan secercah penglihatan saja tentang keselaluhadiran Kasih mendatangkan berkat yang serta-merta dan bersifat menebus. Dengan perkataan lain, hal itu membuka pintu bagi penyembuhan Kristen yang membanjir. □

 

1 Mazmur 139: 9, 10  2 Lihat Yohanes 14: 17, 26  3 Lihat Ilmupengetahuan dan Kesehatan, hlm. 55  4 2 Korintus 4: 6  5 Ilmupengetahuan dan Kesehatan, hlm. 567  

The Mission of the Herald

In 1903, Mary Baker Eddy established The Herald of Christian Science. Its purpose: "to proclaim the universal activity and availability of Truth." The definition of "herald" as given in a dictionary, "forerunner—a messenger sent before to give notice of the approach of what is to follow," gives a special significance to the name Herald and moreover points to our obligation, the obligation of each one of us, to see that our Heralds fulfill their trust, a trust inseparable from the Christ and first announced by Jesus (Mark 16:15), "Go ye into all the world, and preach the gospel to every creature."

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, July 7, 1956

Learn more about the Herald and its Mission.