Skip to main content Skip to search Skip to header Skip to footer

Kepada pikiran-pikiran apa persetujuan kita berikan?

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 8 Oktober 2019

Aslinya diterbitkan di edisi Oktober 2019 majalah The Christian Science Journal


Dalam situasi apa pun kita berada, cara kita memikirkan keadaan itu pada akhirnya menentukan kesudahannya. Saya tidak berbicara tentang menggunakan pikiran untuk mengusir masalah atau sesuatu bentuk pemikiran positif, melainkan berpegang teguh kepada apa yang pada dasarnya sejati untuk mendatangkan pemecahan masalah yang berguna.   

Baik kita siswa kelas satu SMP yang berusaha mengerjakan pekerjaan rumah tentang aljabar atau seorang ilmuwan roket yang sedang memecahkan persamaan termal yang rumit, berpegang pada apa yang benar, yang didasarkan asas matematika atau fisika, mendatangkan pemecahan atas masalah-masalah yang sederhana maupun yang rumit. Meskipun pada awalnya mungkin kita merasa masalah itu tidak bisa dipecahkan, dengan berpegang teguh kepada hukum-hukum suatu metodologi yang sudah terbukti memberikan solusi yang benar. 

Ide ini terlukis dalam sebuah surat yang ditulis oleh James Rome di tahun 1906 kepada Mary Baker Eddy, Penemu dan Pendiri Ilmupengetahuan Kristen, mengenai pembangunan Gedung Perluasan Gereja Induk di Boston. Karena berbagai rintangan dalam proyek ini, Tn. Rome merasa pasti bahwa tanggal penyelesaian yang diharapkan tidak mungkin dicapai dan keterlambatan tidak bisa dihindarkan. Namun demikian, dia menjelaskan yang terjadi sesudah berdoa kepada Kasih ilahi, yang adalah nama lain untuk Allah, “Saya menundukkan kepala saya di hadapan kuasa Kasih ilahi, dan saya tidak pernah lagi mempunyai keraguan apa pun.” Kemudian dia menambahkan, “Satu hal tentang pekerjaan itu menarik perhatian saya. Saya memperhatikan, bahwa begitu para pekerja mengakui bahwa pekerjaan itu dapat dilakukan, semuanya berjalan seakan digerakkan oleh sesuatu yang sakti; budi insani telah memberikan persetujuannya.” Alhasil, setiap rintangan yang besar dihadapi dan diatasi, dan proyek itu selesai pada waktunya (lihat The First Church of Christ, Scientist, and Miscellany, hlm. 60–62). 

Kata-kata yang digunakan Tn. Rome tentang budi insani “memberikan persetujuannya” sangat menyentuh hati saya. Saya sadar, bahwa alih-alih menerima kekalahan, Tn Rome bersandar kepada Allah, Asas ilahi segala wujud, yang membuka pikirannya kepada kemungkinan-kemungkinan baru, bimbingan yang benar, dan harapan akan kebaikan saja. Dalam berdoa, ketika kita memahami bahwa Allah sepenuhnya baik, memberikan persetujuan kepada Allah berarti menyetujui ide bahwa ciptaan Allah lengkap dan sempurna, sepenuhnya baik dan bersifat rohaniah—alih-alih bersifat kebendaan dan tunduk kepada berbagai keadaan yang membatasi.   

Selama tujuh tahun, dari segi keuangan kelihatannya tidak mungkin bagi kami untuk tetap mempertahankan keempat anak kami belajar di berbagai sekolah di waktu yang sama, namun demikian, memberikan persetujuan mental kami kepada apa yang terasa benar, dan karena nya mungkin, terbukti sebagai apa yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut.   

Kami mulai dengan mengakui bahwa setiap anak kami adalah milik Allah Ibu-Bapa yang mahakuasa dan pengasih. Dan masing-masing layak mendapatkan pendidikan yang baik. Suami saya dan saya, dan anak-anak, sepanjang perjalanan itu belajar bahwa upaya kami tidak bergantung kepada keadaan kebendaan kami, seperti dana yang terkumpul, tetapi kepada bagaimana kami dengan berdoa mendengarkan Allah dan mengikuti ide-ide yang disampaikan Allah kepada lami. Alih-alih terus-menerus merasa khawatir atau mempertanyakan apakah kami harus melanjutkan tujuan tersebut, kami percaya bahwa kami akan mendapatkan apa yang diperlukan untuk mencapainya.   

Pernah, ketika menyadari bahwa dana dengan jumlah yang agak besar perlu dikeluarkan setiap bulan, saya ingin tahu dan menghitung berapa dana yang harus dibayarkan setiap bulan dan membandingkannya dengan pendapatan bersih kami. Di atas kertas, apa yang kami lakukan setiap bulan kelihatannya tidak mungkin. Tetapi, dengan segera saya sadar, bahwa saya tidak boleh mencoba mengukur kebaikan, karena kebaikan, yang pada dasarnya bersifat rohaniah dan berasal dari Allah, yang tidak berhingga, bukanlah sesuatu yang dapat diukur. Selama itu kami dapat memenuhi komitmen kami dan selalu mendapatkan apa yang benar-benar diperlukan.   

Terkadang kami mendengar bahwa kami dapat mengajukan permohonan untuk mendapatkan bantuan dana, pinjaman, atau beasiswa yang baru tersedia. Di lain waktu, anak-anak dibimbing untuk mendapatkan pekerjaan yang menguntungkan selama musim panas atau di waktu-waktu libur mereka. Selangkah demi selangkah, dengan hanya memberikan persetujuan kepada kebaikan, kami mendapat ilham rohaniah dan keyakinan dan jalan pun terbuka untuk menemukan sumberdaya yang diperlukan setiap anak untuk menyelesaikan sekolah dan mendapatkan gelar mereka masing-masing.

Selain menangani kekurangan sumberdaya, saya tidak lagi secara pasif menanggapi tantangan jasmaniah, seperti penyakit atau cedera, dan doa saya bukan hanya mermohon untuk mendapatkan sarana guna menyembuhkan. Alih-alih demikian, saya menanggapinya dengan tanpa ragu memberikan persetujuan kepada kesejatian bahwa  Allah bersifat pengasih yang memberi anak-anakNya ide-ide yang benar yang mereka perlukan untuk mengatasi saran akan adanya kuasa yang lain—saran bahwa hal-hal buruk tidak dapat dicegah atau bahkan berasal dari Allah. Kita mengatasi pikiran-pikiran demikian dengan berhenti memusatkan perhatian kepada penanggapan jasmaniah dan alih-alih demikian menggunakan penanggapan rohaniah kita untuk memahami Roh. Ini membantu kita menyadari bahwa ciptaan rohaniah—yang teratur, sesuai hukum dan baik sepenuhnya—adalah satu-satunya kesejatian.   

Ketergantungan yang besar kepada hukum-hukum Allah untuk menyelesaikan masalah-masalah kita di simpulkan oleh Mary Baker Eddy: “ ... apa pun yang dipikirkan secara keliru akan hilang sebanding Ilmupengetahuan dipahami, dan kesejatian wujud—kebaikan dan keselarasan—dibuktikan” (Miscellaneous Writings 1883–1896, hlm. 367)

Sangat lah penting untuk menekankan bahwa memberi persetujuan mental tidak berarti memilih di antara dua kekuasaan yang setara. Sebaliknya, persetujuan hanya diberikan kepada satu kekuasaan, yang didasarkan kepada Firman yang Pertama, yang mengatakan bahwa hanya ada satu Allah. Inilah dasar rohaniah di mana kita dapat merasa pasti bahwa apa pun yang menyatakan diri melawan Allah tidak bisa memiliki dan memang tidak memiliki kuasa. 

Setuju dengan keterbatasan kesejatian kebendaan cenderung membawa kita ke proses pemikiran yang tidak produktif—yang memunculkan perasaan ingin menunda-nunda pekerjaan, perasaan tidak mampu, frustasi, atau keputusasaan; sementara memberikan persetujuan kepada kesejatian rohaniah akan ciptaan membuat semua saran yang tidak diinginkan, tidak cerdas, tidak bersifat ilahi menghilang ketika kita menolak untuk menyetujui persepsi yang salah ini tentang hidup. Alih-alih mengikuti apa yang mungkin digambarkan penanggapan jasmaniah sebagai jalan yang dianggap normal bagi keadaan insani, saya berpaling kepada Alkitab dan secara mental berserah kepada fakta ini: “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yoh. 1:3). 

Secara mental memberi persetujuan kepada kesejatian ilahi, kebaikan yang tidak berhingga, kita menolak untuk memberi persetujuan bahwa kejahatan adalah sejati; kita tidak menyetujui apa pun yang menentang Allah; kita tidak membiarkan diri kita berjalan bersama kebohongan. Alkitab menyatakannya demikian: “Ia tidak takut kepada kabar celaka, hatinya tetap, penuh kepercayaan kepada TUHAN” (Maz. 112:7). Berserah diri, dan bersandar kepada kebenaran yang dicurahkan Allah selalu membuka pikiran kepada pandangan yang baru dan memungkinkan kita melihat kesejatian ilahi dari kebaikan.

Misi Bentara

Pada tahun 1903, Mary Baker Eddy mendirikan Bentara Ilmupengetahuan Kristen. Tujuannya: “untuk memberitakan kegiatan serta ketersediaan universal dari Kebenaran.” Definisi “bentara” dalam sebuah kamus adalah “pendahulu—utusan yang dikirim terlebih dahulu untuk memberitakan hal yang akan segera mengikutinya,” memberikan makna khusus pada nama Bentara dan selain itu menunjuk kepada kewajiban kita, kewajiban setiap orang, untuk memastikan bahwa Bentara memenuhi tugasnya, suatu tugas yang tidak dapat dipisahkan dari Kristus dan yang pertama kali disampaikan oleh Yesus (Markus 16:15), “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, 7 Juli 1956

Belajar lebih lanjut tentang Bentara dan Misinya.