Skip to main content

Saat sengatan-sengatan dalam hidup kita disembuhkan

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 1 Juni 2019

Aslinya diterbitkan di edisi 15 April 2019 majalah Christian Science Sentinel


Di dalam kehidupan sehari-hari, saya sering mendapat kejutan yang menyenangkan dengan cara-cara yang tidak terduga, ketika pengalaman kita dapat menjadi kesempatan untuk mempraktekkan apa yang kita ketahui tentang Allah, dan ini sudah pasti membantu kita belajar lebih banyak tentang Allah. Terutama tahun-tahun terakhir ini, saya belajar banyak tentang Allah dengan berpaling kepadaNya saat menghadapi berbagai keadaan—baik yang menyenangkan maupun yang menyengat.   

Saya ingin menceritakan suatu pengalaman yang sangat menarik dengan ubur-ubur. Berbagai jenis ubur-ubur hidup di samudra yang ada di dunia, dan saat scuba diving, saya sering kagum setiap kali bertemu dengan ubur-ubur. Dari tubuhnya menjulur banyak alat peraba yang memiliki banyak sel penyengat. Ketika makanan, seperti ikan atau udang kecil, bersinggungan dengan alat peraba itu maka panah-panah kecil dari sel-sel tersebut menusuk mangsanya, agar siap untuk dimakan. Sel-sel penyengat ini hanya dapat digunakan sekali, sesudah dipakai akan tumbuh yang baru.  

Pada suatu hari, saat berenang saya bersinggungan dengan alat peraba ubur-ubur yang indah, dan lengan bawah saya dari bagian atas sampai ke bawah terkena banyak sengatan. Rasanya cukup menyakitkan, dan saya melihat bekas-bekas sengatan yang jelas di lengan saya. Sambil mengakhiri penyelaman, saya melanjutkan menikmati bagian yang indah dari samudra itu, dan juga berdoa bagi diri saya. Diselimuti keindahan yang luar biasa, mudah bagi saya merasa dekat dengan Allah.

Ketika saya sampai ke permukaan dan menanggalkan baju selam saya, lengan saya terlihat lebih bengkak dan garis sengatan terlihat lebih jelas. Saya mengendarai mobil ketika pergi ke tempat itu dan saat berkendara pulang saya terus berdoa.

Seringkali ketika berdoa, saya suka hanya memusatkan perhatian untuk mengasihi Allah dan dalam hati menyadari kehadiran Allah yang nyata. Dalam kehadiran ini, Allah menyatakan ide-ide yang mengilhami yang mendatangkan pemahaman yang benar-benar baru tentang apa pun yang mungkin mengganggu saya. Ini adalah suatu kegiatan yang lembut dan penuh kasih, dan saya dapat merasakan kuasa Allah di balik itu semua.

Inilah yang terjadi hari itu, saat saya berkendara pulang sambil berdoa. Dengan kedua tangan saya pada roda kemudi, saya dapat melihat garis sengatan persis di depan saya. Saya dapat merasakannya juga. Ketika mulai belok ke kanan di suatu tikungan, saya berpikir tentang ubur-ubur itu. Binatang itu hanya sedang berenang sendiri, membentang di laut seperti biasanya. Lalu suatu ide datang kepada saya: Karena saya menyinggung alat perabanya, saya membuat ubur-ubur itu menggunakan banyak sekali sel-sel penyengatnya, yakni alat yang digunakan untuk mendapatkan makanan. Tiba-tiba—dan ini mungkin terdengar lucu—saya merasakan kasih yang besar kepada ubur-ubur itu dan menyesal telah tanpa sengaja mengganggunya. Perasaan kasih ini benar-benar dalam dan tulus, seperti yang saya rasakan terhadap seorang anak. Dari lubuk hati, saya tahu bahwa kasih ini hanyalah cerminan akan betapa dalamnya Allah mengasihi ciptaanNya.   

Lalu, sesudah melewati tikungan itu dan meluruskan kemudi, saya melihat bahwa lengan saya sudah sembuh sama sekali. Ini terjadi dengan sertamerta. Kulit lengan itu sama sekali mulus tanpa bekas sengatan, seperti lengan saya yang satu lagi. Dan sebagai catatan, sejak saat itu, setiap kali saya menyelam dan bersinggungan dengan alat peraba ubur-ubur atau koral api, saya tidak mengalami reaksi apa pun. Setiap kali saya mengalami kebebasan ini, saya merasakan kasih yang besar kepada Allah.  

Seperti dapat anda bayangkan, ini adalah suatu pengalaman hidup yang membuat saya berpikir. Dari membaca Alkitab, saya tahu bahwa Allah adalah Kasih (lihat 1 Yohanes 4:16). Hari itu, kuasa dan kehadiran Kasih yang adalah Allah merubah sama sekali pandangan saya, dan hasilnya adalah kesembuhan. Di bukunya Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci, Mary Baker Eddy menjelaskan, “Kasih mengilhami, menerangi, serta menunjukkan  jalan, dan memimpin kita” (hlm. 454).

Kasih yang adalah Allah ini terus mengilhami dan memimpin saya kepada cara-cara berpikir yang baru. Saya telah mulai melihat dengan lebih jelas bahwa ketika kita disengat—bukan hanya oleh ubur-ubur, tetapi oleh tindakan orang, atau mungkin oleh peristiwa dalam hidup—kita dapat menganggap seluruh hal itu sebagai kesempatan untuk menanggapi dengan kuasa kasih Allah. Orang mungkin menyengat kita tanpa menyadarinya, atau mungkin dengan sengaja. Yang pasti, dalam masing-masing kasus tersebut tanggapan yang menyembuhkan adalah sama: dengan berdoa untuk melihat kasih Allah yang dalam dan memurnikan, bagi mereka dan bagi kita. Kalau kita menerimanya dengan jujur dan dengan rendah hati, kasih Allah membaharui kita dengan sepenuhnya. Tidak mengherankan Yesus menasehatkan, “Kasihilah musuhmu, berkatilah mereka yang mengutukmu, berbuatlah baik kepada mereka yang membencimu, dan berdoalah bagi mereka yang memanfaatkanmu dengan buruk, dan menganiaya kamu” (Matius 5: 44, menurut Alkitab Bahasa Inggris).

Berkaitan dengan anjuran Yesus itu, akan sangat menyenangkan jika saya dapat mengatakan bahwa sejak kesembuhan dari sengatan ubur-ubur itu, saya sudah dapat selalu menanggapi sengatan orang secara Kristen, dengan merasakan dan mengakui kasih Allah kepada mereka. Saya belum selalu bisa. Tetapi tahukah anda? Sesungguhnya saya sudah berkali-kali melakukan hal itu! Terkadang penting untuk tidak mengingat-ingat apa yang kita lakukan dengan tidak benar, tetapi alih-alih demikian, mengakui saat-saat kita melakukan hal yang benar. Setiap kali saya disengat, tetapi kemudian bersedia berpaling kepada kasih Allah yang menyembuhkan dan memurnikan, saya bersukacita. Rasanya saya harus sungguh-sungguh berbahagia, karena mengakui apa yang kita lakukan dengan benar sesungguhnya membantu mempercepat pertumbuhan kita.

Menjelaskan kuasa Allah, Kasih ilahi, untuk menyembuhkan, Ilmupengetahuan dan Kesehatan menyatakan, “Substansi semua ibadat adalah pencerminan dan pembuktian akan Kasih ilahi, yang menyembuhkan penyakit dan memusnahkan dosa” (hlm. 241). Pembaktian kita dalam menyatakan kasih Allah untuk perbuatan orang lain yang menyengat, tidak peduli sengatan itu disengaja atau tidak, menunjukkan sejauh mana kita mengikuti langkah Yesus. Melakukan hal ini secara teratur memungkinkan kita memiliki lebih banyak kuasa, sampai kita sadar bahwa sejak awal kita memang tidak mengalami reaksi sama sekali terhadap sengatan.

“Peliharalah dirimu… dalam kasih Allah,” demikian Alkitab menyatakan (Yudas 1: 21)Membenamkan pikiran dan tindakan kita dalam kasih Tuhan yang selalu hadir adalah suatu kekuatan yang dahsyat untuk kebaikan, dan benar-benar merangkum seluruh dunia. Hendaklah anda takjub setiap kali anda mengagumi dan menyatakan kasih Allah yang mahakuasa untuk semua orang, di dalam doa. Sudah pasti itulah yang membawa kesembuhan bagi kita, satu sengatan setiap kali. 

The Mission of the Herald

In 1903, Mary Baker Eddy established The Herald of Christian Science. Its purpose: "to proclaim the universal activity and availability of Truth." The definition of "herald" as given in a dictionary, "forerunner—a messenger sent before to give notice of the approach of what is to follow," gives a special significance to the name Herald and moreover points to our obligation, the obligation of each one of us, to see that our Heralds fulfill their trust, a trust inseparable from the Christ and first announced by Jesus (Mark 16:15), "Go ye into all the world, and preach the gospel to every creature."

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, July 7, 1956

Learn more about the Herald and its Mission.