Skip to main content Skip to search Skip to header Skip to footer

Terang Kristus tidak bisa disembunyikan

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 2 Desember 2019

Aslinya diterbitkan di edisi Desember 2019 majalah The Christian Science Journal


Pada tanggal 25 Desember 1945, sekelompok Ahli Ilmupengetahuan Kristen yang berbakti berkumpul untuk merayakan pesta Natal di rumah Miyo Matsukata dan keluarganya di Kamakura, Jepang. Selesainya Perang Dunia II menandai berhentinya praktek “di bawah tanah” Ilmupengetahuan Kristen, yang telah dibawa ke Jepang hanya sekitar dua dasawarsa sebelumnya. Natal tersebut merupakan saat yang sangat menggembirakan untuk setiap orang yang hadir, termasuk para rohaniwan militer, para anggota tentara pendudukan, para wartawan Christian Science Monitor, dan para pekerja sukarela. Alih-alih pohon cemara, mereka merayakannya di bawah pohon bambu yang dihias dan menikmati sajian tradisional kalkun yang dibawa oleh tamu-tamu berkebangsaan Amerika. Benar-benar suatu paduan antara hati dan budaya.

Banyak di antara kita akan diundang menghadiri pesta Natal musim ini, meskipun mungkin tidak menandai peristiwa bersejarah seperti itu. Untuk sebagian besar waktu, para pelajar Ilmupengetahuan Kristen di seluruh dunia memiliki hak istimewa untuk mempraktekkan Ilmupengetahuan Kristen “di atas tanah” dan secara terbuka selama bertahun-tahun. Sungguh suatu karunia yang besar!

Selama perang berlangsung, ketika Ilmupengetahuan Kristen masih merupakan gerakan baru di Jepang, Sidang Jemaat di Tokyo dibubarkan, dan para pengikutnya terpaksa menyembunyikan praktek mereka dari peraturan pemerintah. Matsukaya bahkan mengadakan kebaktian rahasia di rumahnya sampai Tokyo dibom pada bulan April 1942. (Lihat blog The Mary Baker Eddy Library “Woman of History: Miyo Matsukaya”—Perempuan dalam Sejarah: Miyo Matsukaya—dan A Precious Legacy: Christian Science Comes to Japan—Suatu Warisan yang Berharga: Ilmupengetahuan Kristen datang ke Jepang—oleh Emi Abiko.)

Penganiayaan terhadap ide-Kristus telah terjadi di setiap zaman dalam salah satu bentuk yang berupa kritik dan bahkan kebencian yang nyata dalam apa yang oleh Rasul Paulus disebut sebagai “keinginan daging” dalam suratnya kepada jemaat di Roma: “Keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya” (Roma 8:7).

Maria dan Yusuf menghadapi perseteruan ini sesudah kelahiran Yesus. Dengan bijak mereka menyembunyikan bayi mereka yang baru lahir dari kemarahan raja yang haus kekuasaan, Herodes yang Agung, dan berhasil lepas dari perintahnya agar semua anak laki-laki yang berumur dua tahun ke bawah di Betlehem dan sekitarnya, dibunuh. Namun demikian Yesus tetap dikejar penganiayaan selama pelayanan penyembuhannya, dan dia membuktikan melalui ajaran serta kebangkitannya dari kubur bahwa kejahatan tidak berkuasa. 

Yesus memperingatkan murid-muridnya terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes (lihat Markus 8:15). Dengan perkataan lain, dia memperingatkan untuk tidak membiarkan kejahatan dan kemunafikan diam-diam mengakar di dalam pikiran mereka dengan maksud menghancurkan ide-Kristus dari dalam. Yesus tahu bahwa apa yang dihargai dalam kesadaran insani menentukan pengalaman insani. Dia juga menggambarkan, melalui perumpamaannya tentang perempuan yang mengadukkan ragi dalam tiga sukat tepung terigu (lihat Lukas 13:20, 21), bagaimana kerajaan Allah—pemerintahan mutlak Kebenaran ilahi—bekerja dalam kesadaran insani.

Dalam bab “Ilmupengetahuan, Teologi, Ilmu Pengobatan,” di buku Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci, Mary Baker Eddy mengomentari pentingnya perumpamaan tentang perempuan dengan ragi ini. Dia menulis: “Bukankah perumpamaan itu mengandung suatu pelajaran susila dan suatu nubuat, yang meramalkan kedatangan yang kedua kali dalam daging akan Kristus, Kebenaran, tersembunyi dalam rahasia suci dari dunia yang kelihatan? 

“Abad-abad lalu, tetapi ragi Kebenaran ini senantiasa bekerja. Tugasnya ialah memusnahkan seluruh jumlah kesesatan, dan dengan demikian ragi Kebenaran ini akan dimuliakan untuk selama-lamanya dalam kebebasan rohaniah manusia” (hlm. 118).

Meskipun mungkin kadang-kadang bijaksana untuk menyembunyikan kebenaran guna melindunginya dari kejaran seperti yang dilakukan Herodes—yang berusaha menyangkal dan menghancurkan Kristus—kita masih tetap selalu bisa melihat bahwa Kristus, Kebenaran, tersedia dan bisa ditemukan, dipahami, dan dikenali dengan bebas oleh semua orang dalam kehidupan mereka. Kristus adalah karunia Allah yang dapat diterima oleh setiap orang di antara kita setiap hari, bukan hanya pada waktu Natal. Dan ragi itu, Ilmupengetahuan tentang Kristus, sedang bekerja di ketiga bidang pemikiran dunia yang paling memerlukannya: ilmupengetahuan, teologi, dan ilmu pengobatan.

Dalam pekerjaan saya sebagai Panitia Urusan Publikasi untuk negara bagian saya, saya berkesempatan melihat ragi Kebenaran ini bekerja ketika saya diberitahu bahwa kelas tentang Mary Baker Eddy, yang diperuntukkan bagi para alumni, saat itu sedang diselenggarakan di sebuah universitas setempat. Judul pelajaran itu saja sudah perlu tanggapan yang membetulkan! Saya tidak heran mengetahui bahwa bahan pelajaran untuk kelas itu berasal dari sumber yang sempit, yang kebanyakan diambil dari catatan yang tidak akurat dan dipalsukan tentang kehidupan serta ajaran Mary Baker Eddy. Tetapi saya juga belajar mengetahui bahwa tidak ada yang dapat menyembunyikan kebenaran dari para mahasiswa tersebut. 

Yang menarik adalah, tepat pada hari saya diberitahu tentang kelas ini, saya telah berdoa dengan sungguh-sungguh tentang pekerjaan saya sebagai Panitia Urusan Publikasi, mengetahui bahwa tidak ada yang dapat mencegah saya menunaikan tugas saya untuk “dengan cara Kristen membetulkan pernyataan-pernyataan yang tidak benar mengenai Ilmupengetahuan Kristen yang disajikan kepada masyarakat, dan ketidakadilan yang dilakukan terhadap Ny. Eddy atau anggota-anggota Gereja ini oleh surat-surat kabar harian, majalah-majalah atau bacaan jenis mana juapun yang diedarkan” (Mary Baker Eddy, Buku Pedoman Gereja Induk, hlm. 97). Sementara saya benar-benar bersedia melakukan pekerjaan ini, saja berdoa untuk mengetahui bahwa apa yang perlu dibetulkan di masyarakat tidak bisa menghindari kebenaran tentang hal itu. Terang Kristus akan secara wajar menyingkapkan dan dengan penuh kasih membetulkan setiap kesalahan. Dengan jelas saya melihat kesesuaian antara kesempatan untuk membetulkan ini dengan kesiapan mental saya, yang sekali lagi membuktikan kepada saya bahwa Kristuslah yang membawa kita kepada pekerjaan kita dan memberi keberanian serta keyakinan yang diperlukan untuk melakukannya dengan baik. 

Saya menghubungi guru besar itu, dan dia segera membalas dengan hangat melalui email, mengundang saya untuk berbicara di kelasnya. Dia juga bertanya apakah saya dapat bertemu dengannya dan beberapa siswa serta pasangan mereka pada pertemuan kesaksian hari Rabu di Gereja induk seminggu sebelum saya berkunjung di kelasnya. Ini adalah pertama kali mereka mengunjungi gereja Ilmupengetahuan Kristen. Sesudah kebaktian, ketika para mahasiswa meninggalkan tempat duduk mereka dan berjalan melalui lorong antara deretan tempat duduk Gereja Induk, perubahan pikiran mereka terlihat jelas di wajah mereka, banyak di antara mereka berhenti di tempat duduk saya untuk menyatakan penghargaan akan apa yang telah mereka dengar. 

Ketika tiba saatnya saya mengunjungi kelas itu, guru besar itu memulai kelas dengan meminta para siswa untuk menyampaikan kesan mereka tentang kebaktian di Gereja Induk. Tanpa kecuali, mulai dari guru besar itu, semua yang memberi komentar menyatakan penghargaan yang tulus. Guru besar itu tidak menyangka begitu banyak orang muda yang hadir pada kebaktian itu dan kesaksian yang disampaikan menyatakan penyembuhan yang begitu berarti dan diterima dengan dukungan yang besar oleh jemaat. Para siswa berkomentar tentang gedung gereja yang begitu indah, dan berkata bahwa mereka tidak menyadari bahwa kebaktian kita terbuka bagi semua anggota masyarakat, tidak peduli agama mereka. Mereka juga memperhatikan penekanan pada Alkitab pada pembacaan dari mimbar.

Kelas dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit tetapi tulus, termasuk tentang praktek penyembuhan Ilmupengetahuan Kristen. Setelah kami berbicara sekitar hampir satu jam, salah seorang siswa mengacungkan tangannya dan berkata, “Saya merasa bahwa kami benar-benar tidak mengenal Ny. Eddy sama sekali, apalagi Ilmupengetahuan Kristen. Berapa sering anda berbicara kepada mereka yang berpandangan keliru tentang Ny. Eddy dan agama anda dan menyadari bahwa mereka keliru?” Wah, pertanyaan itu membuat saya tersenyum, karena dia telah menjelaskan pekerjaan Panitia Urusan Publikasi dengan baik sekali! Mengingat para siswa ini adalah suatu kelompok orang yang sangat terpelajar, saya menganjurkan mereka untuk bekenalan dengan Ny. Eddy melalui tulisan-tulisannya yang telah diterbitkan, dan menilai apakah yang mereka pelajari bersifat berat sebelah. Saya juga menekankan pentingnya untuk tidak menganggap remeh kehidupan seorang perempuan yang telah membuat sumbangan penting dalam sejarah keagamaan serta perkembangan perempuan di Amerika, di samping kepada berbagai kehidupan orang di seluruh dunia selama satu setengah abad. 

Tanpa bantuan kebaktian gereja dan anggota gereja yang memberitahu saya tentang kesempatan berbicara di kelas tersebut, kegiatan pembetulan yang penting ini tidak akan terjadi.

Budi yang kedagingan akan berusaha untuk mengecilkan, mengurangi, menghancurkan kegiatan Kristus dan keterlibatan kita di dalamnya. Ini semata-mata hanyalah suatu cara ketidaktahuan serta kejahatan mengalihkan pikiran serta perhatian dari pekerjaan kita yang utama. Kita dapat bijak dan gigih dalam melalui proses, dan jalan akan terbuka sehingga pekerjaan itu terlaksana. Bagaimanapun juga, itu adalah pekerjaan Allah, dan Dia membawa kita kepada pekerjaan itu. Seperti yang dikatakan Yesus Kristus ketika mengutus murid-muridnya untuk mengabarkan injil, “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” (Matius 10:16).

Ny. Eddy menulis: “Semangat permusuhan dari kejahatan masih tersebar; tetapi roh Kristus yang lebih besar juga tersebar, — bangkit dari kain kapan tradisi dan gua ketidaktahuan. Hendaklah para pengawal menara penjagaan Zion sekali lagi berseru, ‘Seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita.’

“Dalam zaman yang berbeda ide ilahi menggunakan bentuk yang berbeda, tergantung keperluan umat manusia. Di zaman ini, hal itu menggunakan, lebih cerdas daripada sebelumnya, bentuk penyembuhan Kristen. Inilah bayi yang harus kita hargai. Inilah bayi yang merangkulkan lengannya yang penuh kasih di leher kemahakuasaan, dan mendatangkan penjagaan yang tidak berbatas dari hatiNya yang penuh kasih” (Miscellaneous Writings 1883–1896, hlm. 370).

Menghargai bayi penyembuhan Kristen menuntut para pelajar Ilmupengetahuan Kristen untuk membuka pikiran guna membagikannya secara cerdas dengan “berjuta-juta budi yang tidak berprasangka“ (Ilmupengetahuan dan Kesehatan, hlm. 570) yang benar-benar mencari kebenaran. Terang Gereja, yang dipraktekkan secara bersama, membuangkan kegelapan akan ketidaktahuan, kebencian,dan kesan yang keliru.

Yesus Kristus memberitahu kita, “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagi pula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga“ (Matius 5:14-16).

Dengan perkataan lain, sebagaimana ayat-ayat ini ditafsirkan Eugene Peterson dalam The Message: “Kamu di sini untuk menjadi terang, memunculkan warna-warna Allah di dunia. Allah bukanlah sesuatu untuk dirahasiakan. Kita sangat terbuka kepada masyarakat mengenai hal ini, seperti halnya kota di atas gunung. Jika aku membuat kamu menjadi pembawa terang, kamu tidak berpikir aku akan menyembunyikanmu di bawah gantang, bukan? Aku menempatkan kamu di atas kaki dian. Sekarang setelah aku menempatkanmu di atas gunung, di atas kaki dian—bersinarlah! Bukalah rumahmu; hendaklah engkau murah hati dengan hidupmu. Dengan membuka hati kepada sesama, engkau mendorong orang untuk membuka hati kepada Allah, Bapa di surga yang murah hati ini.”

Pada suatu malam Natal beberapa tahun yang lalu, keluarga kami memutuskan untuk menghadiri kebaktian di bawah cahaya lilin di gereja Pilgrim Congregational di dekat kami. Ini menjadi tradisi tahunan kami. Ada sesuatu yang sangat istimewa ketika duduk di gereja yang bersejarah itu dengan lampu dipadamkan dan lilin setiap orang dinyalakan oleh orang yang duduk di sebelahnya. Secara perlahan seluruh gereja diterangi oleh nyala api masing-masing orang. Setiap tahun pendetanya akan mengingatkan kita tentang pentingnya bersama-sama berbagi terang sampai terang itu bersinar di seluruh dunia.

Sama seperti para anggota yang menjadi perintis di Tokyo merayakan pernyataan terbuka mereka akan penyembuhan Kristus dalam kehidupan mereka dan tidak takut mempraktekkannya, kita pun dapat dengan penuh keyakinan menghargai karunia penyembuhan Kristus yang diberikan kepada kita dan secara terbuka membagikannya kepada sesama.

Misi Bentara

Pada tahun 1903, Mary Baker Eddy mendirikan Bentara Ilmupengetahuan Kristen. Tujuannya: “untuk memberitakan kegiatan serta ketersediaan universal dari Kebenaran.” Definisi “bentara” dalam sebuah kamus adalah “pendahulu—utusan yang dikirim terlebih dahulu untuk memberitakan hal yang akan segera mengikutinya,” memberikan makna khusus pada nama Bentara dan selain itu menunjuk kepada kewajiban kita, kewajiban setiap orang, untuk memastikan bahwa Bentara memenuhi tugasnya, suatu tugas yang tidak dapat dipisahkan dari Kristus dan yang pertama kali disampaikan oleh Yesus (Markus 16:15), “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, 7 Juli 1956

Belajar lebih lanjut tentang Bentara dan Misinya.