Skip to main content Skip to search Skip to header Skip to footer

Apa hubungan kasih dengan mengakhiri suatu pandemi?

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 3 September 2020

Aslinya diterbitkan di edisi 13 Juli 2020 majalah Christian Science Sentinel


Hari itu, ketika tiba di apartemen saya, satu-satunya yang dapat saya lakukan adalah menjatuhkan diri di tempat tidur. Saya menderita berbagai gejala flu dan sangat ingin untuk tidur. Tetapi sebelum melakukan hal tersebut, saya menelpon ibu saya dan memintanya berdoa untuk saya. 

Ini terjadi hampir 25 tahun yang lalu, dan saya tidak ingat semua detil percakapan kami. Tetapi saya ingat, betapa saya merasa terhibur ketika ibu memastikan kepada saya bahwa saya diciptakan dalam gambar dan keserupaan Allah (lihat Kitab Kejadian 1:26, 27); bahwa Allah, Roh ilahi, adalah sumber maupun substansi wujud saya; bahwa Allah mengasihi saya. 

Tidak lama setelah meletakkan gagang telpon, saya tertidur. Ketika bangun keesokan harinya, saya sembuh sama sekali dan sesudah itu tidak pernah lagi menderita fiu. 

Melihat pengalaman ini dalam konteks pandemi yang sedang terjadi saat ini, saya bertanya kepada diri sendiri apakah bukan hanya kasih kita kepada Allah serta suatu apresiasi yang lebih dalam akan kasihNya kepada kita, tetapi juga suatu komitmen yang lebih konsisten untuk saling mengasihi—yakni, memastikan bahwa pikiran kita tentang sesama mencerminkan kasih Allah kepada kita—yang merupakan kunci untuk membebaskan dunia dari penyakit ini. Yesus bersabda: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22:37-39).

Apa yang dituntut dari kita ialah melihat bahwa sesama kita dan diri kita sendiri adalah pernyataan hakiki Kasih, yang secara wajar dan tidak terelakkan cenderung untuk mengasihi. 

Komitmen untuk mengasihi sesama saat ini dapat terlihat dalam sifat tidak mementingkan diri sendiri yang ditunjukkan para pekerja di garda terdepan dengan memberikan layanan yang sangat penting kepada komunitas mereka dan dalam kebaikan hati yang terlihat dimana orang yang bertetangga saling membantu. Tetapi sesering apakah kita berpikir bahwa sikap tersebut serta begitu banyak pernyataan lain akan kasih mengisyaratkan sesuatu yang bahkan lebih berkuasa—cukup berkuasa untuk mendatangkan kesembuhan jasmaniah? Yesus dengan jelas membuktikan berkali-kali melalui penyembuhannya bagi sesama bahwa ada kasih yang lebih luhur bahkan dari kasih insani yang paling tidak mementingkan diri sendiri, suatu kasih yang mencerminkan kasih Allah kepada kita—kasih yang murni, tetap, dan tanpa syarat.  Mary Baker Eddy, Penemu dan Pendiri Ilmupengetahuan Kristen, juga mengetahui hal ini, dan menulis di bukunya Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci, “Doa yang membaharui orang berdosa dan menyembuhkan orang sakit adalah suatu iman yang mutlak, bahwa segala sesuatu mungkin bagi  Allah — suatu pengertian rohaniah tentang Dia, suatu kasih yang bebas dari diri” (hlm. 1).

Tentu saya, kearifan konvensional hendak berdalih bahwa diperlukan jauh lebih banyak dari hanya merangkul seluruh dunia dalam suatu pelukan, betapa pun tulusnya, untuk membebaskan kita dari sesuatu yang sangat menantang seperti suatu pandemi. Saya setuju. Tetapi kearifan konvensional juga enggan untuk melihat bahwa penyakit bersifat mental—mengakui betapa pentingnya pembuktian praktis yang dilakukan Yesus dan penjelasan Ny. Eddy tentang kasih yang bersifat Kristus itu, yang berusaha untuk melihat hanya hal-hal baik yang dilihat Allah, kebaikan. Bagaimanapun juga, jika “kasih yang bebas dari diri” menyembuhkan penyakit, maka wajarlah jika keadaan pikiran apa pun yang berlawanan, seperti ketakutan, kemarahan, permusuhan, dan sebagainya, cenderung menimbulkan penyakit—atau dengan perkataan lain, menyatakan diri secara jasmani sebagai penyakit, seperti yang diajarkan Ilmupengetahuan Kristen. Kearifan konvensional juga menolak mentah-mentah untuk mengakui kuasa Allah, Kasih ilahi, untuk menyembuhkan penyakit.

Maka, yang dituntut dari kita, adalah tidak hanya mengakui kesemestaan Kasih sebagai penangkal paling ampuh terhadap penyakit tetapi juga melihat bahwa sesama kita dan diri kita sendiri adalah pernyataan hakiki Kasih, yang secara wajar dan tak terelakkan cenderung untuk mengasihi. Seperti dikatakan dalam Alkitab, “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1 Yohanes 4: 19). 

Ini tidak berarti bahwa mengasihi sesama selalu mudah. Misalnya, ada kalanya kita tertipu oleh dusta iblis bahwa seseorang atau suatu keadaan—tetangga kita, rekan kerja kita, politikus kita, suatu pandemi—dengan salah satu cara telah berhasil merampas kebaikan Allah dari diri kita; bahwa ada alasan yang sah untuk menganggap kita tidak mampu menyatakan apa yang dikaruniakan Allah untuk kita nyatakan, menikmati segala yang dikaruniakan Allah untuk kita nikmati. Kalau hal ini terjadi, kita menghadapi pilihan yang sangat penting antara menerima atau menolak saran akan adanya kuasa yang menentang Allah.

Ironisnya, di saat-saat seperti inilah mungkin kita paling mudah menerima Kebenaran, suatu nama lain untuk Allah yang oleh Mary Baker Eddy dalam karya-karya tulisnya sering digabungkan dengan Kristus. Keselaluhadiran Kristus, “ide yang benar yang memaklumkan kebaikan, amanat ilahi dari Allah kepada manusia, yang berbicara kepada kesadaran insani,” seperti yang dijelaskan Ilmupengetahuan dan Kesehatan” (hlm. 332), inilah, yang menyatakan Allah, Kasih ilahi, sebagai satu-satunya kuasa yang sebenarnya. Kita terutama perlu mengetahui hal ini sehubungan dengan ketidak-kuasaan kebencian, suatu keadaan pikiran yang oleh Ny. Eddy dihubungkan dengan sifat menjangkit dari penyakit menular. Bukunya Miscellaneous Writings 1883–1896 secara tegas menyatakan, “… Jangan membenci siapa pun; karena kebencian adalah sarang penyakit yang menyebarkan virusnya dan pada akhirnya membunuh. Jika dibiarkan di dalam pikiran, hal itu menguasai kita; dan membawa penderitaan demi penderitaan kepada pemiliknya, sepanjang waktu dan setelah kematian” (hlm. 12).

Apakah kita merasa tergoda untuk membenci orang lain atau melihat kebencian pada orang lain, pernyataan akan adanya kuasa yang terpisah dari Allah ini perlu dihadapi secara langsung, dan Kristuslah yang mengilhami kita untuk melakukan hal itu: untuk membedakan antara apa yang benar dan tidak benar tentang Allah dan tentang kita semua sebagai cerminanNya; untuk mengasihi bukan mereka yang mengasihi kita saja, tetapi yang disebutkan sebagai musuh-musuh kita juga; untuk lebih menyadari kesemestaan Kasih ilahi yang menyembuhkan, dan sebagai akibatnya, untuk berdoa dan secara efektif menangani penderitaan dunia. 

Memikirkan kembali kesembuhan saya bertahun-tahun yang lalu, saya diingatkan bahwa keyakinan akan kasih Allah kepada kita seringkali merupakan motivasi kita untuk saling mengasihi. Dan sebaliknya, kasih kita kepada sesama membuka pintu lebih luas untuk merasakan kasih Allah kepada kita. Siklus Kasih yang tidak pernah berhenti ini—“Kasih dicerminkan dalam kasih,” seperti dinyatakan Ny. Eddy  (Ilmupengetahuan dan Kesehatan, hal. 17)—tak dapat tiada mengurangi ketakutan, melenyapkan kebencian, dan memungkinkan kita melakukan tugas kita dalam mengakhiri pandemi ini.

Eric D. Nelson
Penulis tamu untuk Editorial

Misi Bentara

Pada tahun 1903, Mary Baker Eddy mendirikan Bentara Ilmupengetahuan Kristen. Tujuannya: “untuk memberitakan kegiatan serta ketersediaan universal dari Kebenaran.” Definisi “bentara” dalam sebuah kamus adalah “pendahulu—utusan yang dikirim terlebih dahulu untuk memberitakan hal yang akan segera mengikutinya,” memberikan makna khusus pada nama Bentara dan selain itu menunjuk kepada kewajiban kita, kewajiban setiap orang, untuk memastikan bahwa Bentara memenuhi tugasnya, suatu tugas yang tidak dapat dipisahkan dari Kristus dan yang pertama kali disampaikan oleh Yesus (Markus 16:15), “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, 7 Juli 1956

Belajar lebih lanjut tentang Bentara dan Misinya.