Skip to main content

Jurang pemisah yang mempersatukan

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 1 Februari 2020

Aslinya diterbitkan di edisi 13 Januari 2020 majalah Christian Science Sentinel


Jurang pemisah telah selalu merintangi kemajuan umat manusia. Sekarang pun masih demikian. Perubahan iklim, imigrasi, dan rasisme adalah beberapa di antara masalah besar yang memerlukan kesatuan dalam pikiran serta tindakan. Tetapi sesungguhnya, ada jurang pemisah yang dapat mempersatukan manusia dalam jalan kemajuan yang tanpa rintangan. 

Perbedaan pendapat dan persaingan di antara manusia disebabkan oleh unsur-unsur yang bertentangan di dalam budi insani. Tetapi Budi ilahi yang tidak berhingga—satu-satunya Budi sejati dari setiap orang—tidak memiliki unsur-unsur yang bersaing atau bertentang-tentangan. Budi ilahi mencakup dan memancarkan hanya ide-ide rohaniahnya yang baik secara universal dan mempersatukan. Oleh karena itu ketika kita berpaling kepada Budi ilahi kita, Allah, dalam doa dan dengan rendah hati mendengarkan bimbinganNya, kita mulai melihat dengan jelas dalam pikiran kita, jurang pemisah antara pikiran-pikiran kita yang secara rohaniah sejati serta berasal dari Allah dan unsur-unsur yang tidak sejati dari budi insani. Lalu kita dapat membuang unsur-unsur yang tidak sejati itu dan hanya memikirkan sifat-sifat serta ide-ide yang menyelaraskan yang berasal dari kecerdasan ilahi, yang membawa kita kepada kemajuan tanpa rintangan. 

Mengikuti bimbingan Budi ilahi dengan cara inilah yang menyanggupkan Musa membawa bani Israel keluar dari perbudakan orang Mesir. Dia membimbing mereka untuk mengikuti Allah yang esa, kecerdasan yang diatas segala-galanya yang membimbing budi insani kepada kebebasan. Ketika Laut Merah—yang mewakili unsur-unsur pemikiran kebendaan yang saling bertentangan dan memperbudak—menghalangi pelarian mereka, Musa, atas perintah Allah, mengangkat tongkatnya dan memerintahkan air laut agar terbelah, dan menghasilkan tempat kering sebagai jalan untuk maju. Kemudian dia memerintahkan bani Israel untuk berjalan maju, dengan kepercayaan penuh kepada Allah (lihat Keluaran 14:15–27).

Ya, kuasa Allah, yang juga adalah Kasih ilahi, dapat tepat membelah lautan kusut kemauan serta pendapat insani yang menyebabkan perpecahan yang menyayat hati di antara manusia. Dalam pengalaman saya, ketika saya membiarkan kasih Allah yang tidak berat sebelah diam di dalam hati saya dan menjernihkan pikiran saya, hal ini dirasakan oleh orang yang berinteraksi dengan saya; hal ini mempersatukan hati dan budi insani dalam ikatan saling menghormati dan saling mengasihi yang menyanggupkan orang untuk bekerja sama secara selaras menuju kemajuan yang memuaskan. Dan tahukah anda? Kita semua dapat belajar bagaimana membiarkan Allah bekerja di dalam diri kita guna mendatangkan kemajuan ini—di dalam keluarga kita, sekolah kita, tempat kerja kita, dan komunitas setempat maupun internasional.

Hal ini terjadi ketika kita dengan tenang membuka diri kepada Firman Allah—yang menjadikan jelas kepada hati dan budi insani kita yang mudah menerima, bahwa kehendak Allah yang baik bagi semuanya adalah sejati dan berkuasa dan tujuan insani yang salah serta mementingkan diri adalah tidak sejati dan tidak berkuasa. Pendekatan ini selama bertahun-tahun sangat berharga bagi saya dalam memulihkan kesatuan, ketika perpecahan menyatakan diri berkuasa.

Kitab Ibrani di Alkitab menyatakan bahwa Firman Allah adalah “lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum,” dan “sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita” (4:12)—atau seperti diuraikan dalam The Message: “FirmanNya yang berkuasa adalah setajam pisau ahli bedah, membelah segalanya, baik keraguan maupun pertahanan, membuka kita untuk mendengarkan dan menaati” (Eugene Peterson). 

Firman Allah yang hidup—seperti ditunjukkan dalam Alkitab, dan dijelaskan dalam buku ajar Ilmupengetahuan Kristen, Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci karangan Mary Baker Eddy—membuka hati insani yang mudah menerima untuk memahami Allah sebagai Budi ilahi yang satu-satunya, dan identitas serta sifat kita yang sejati sebagai cerminan rohaniah dari Budi ini. Hal itu menunjukkan kepada kita bahwa sebagai ide Budi yang cerdas dan penuh kasih, kita sesungguhnya tidak terpisahkan dari Kebenaran dan Kasih ilahi, dan dari satu sama lain. Persepsi yang salah tentang diri kita dan orang lain sebagai bersifat kebendaan dan berhingga, dengan banyak budi yang terpisah, dan pendapat serta kemauan yang bertentang-tentangan, adalah tidak sejati—suatu penanggapan palsu tentang identitas serta sifat kita yang sejati. 

Ketika kita belajar bahwa identitas sejati kita dan orang lain adalah cerminan Allah, kita dapat mempraktekkannya. Kita bisa membiarkan Kebenaran dan Kasih ilahi aktif dalam kesadaran kita untuk melihat sifat-sifat yang menyerupai Allah yang menyusun identitas sejati kita dan orang lain—seperti kerendahan hati, perhatian, kearifan, dan sifat tidak mementingkan diri sendiri. Kita dapat melakukan hal ini bahkan ketika menghadapi kesalahpahaman dan kemajuan yang terhenti. Kasih Allah menyanggupkan kita melihat ketidaksejatian sifat-sifat yang negatif dan tidak menyerupai Allah, dan memisahkan serta membuangkannya dari pemahaman kita tentang identitas kita dan orang lain. Doa yang tidak diucapkan ini membangunkan kasih terhadap sesama di dalam hati kita, suatu kasih yang dapat dirasakan orang lain tepat saat diperlukan ketika kita mendengarkan dengan penuh hormat sudut pandang mereka. Mengetahui dan mengasihi apa yang sejati pada orang lain adalah cara Yesus Kristus menyembuhkan dan memperbaharui hati manusia, dan cara kita juga untuk menemukan kesatuan dengan sesama, dan kesembuhan serta kemajuan. 

Di buku Ilmupengetahuan dan Kesehatan, Ny. Eddy menulis: “Roh menyampaikan pengertian yang meluhurkan kesadaran dan membimbimg ke dalam semua kebenaran . . . Pengertian ialah garis pemisah di antara yang sejati dengan yang tidak sejati” (hlm. 505). Pengertian rohaniah tentang Allah dan diri kita sendiri ini meletakkan kita di “tempat kering”—suatu jalan yang jelas untuk bergerak maju dengan kasih, kerjasama, dan keselarasan guna memecahkan masalah insani yang membandel tanpa rintangan dari pendapat serta kemauan yang bertentangan. 

Ketika kita menundukkan alasan kita sendiri kepada pengaruh Allah yang memurnikan, maka kita akan lebih mudah melihat serta menghargai itikad baik orang lain, mengetahui bahwa tidak seorang pun dapat diperintahi dengan cara yang lain, dan melihat keselarasan berkembang di antara orang-orang yang sebelumnya berlawanan.   

Menaruh kepercayaan penuh kita kepada Allah—membiarkan Kebenaran ilahi yang diajarkan dan dipraktekkan Yesus Kristus bekerja di dalam pikiran kita untuk memisahkan kebenaran-kebenaran Allah dari kepercayaan-kepercayaan serta pendapat palsu budi insani—memerlukan pengabdian, doa, dan praktek. Tetapi kepercayaan kepada itikad baik Allah ini, disertai kasih yang universal, membangun rasa hormat dan kerjasama yang menguntungkan semua pihak. Dengan cara ini, kesatuan dan kemajuan di dorong ke dalam suatu cakupan yang semakin luas meliputi orang-orang yang dekat dan jauh melalui doa kita. Ini berlaku bagi siapa saja ketika mereka tumbuh dalam pemahaman serta praktek mereka akan Kebenaran ilahi yang memisahkan yang sejati dari yang tidak sejati di dalam kesadaran insani dan mempersatukan umat manusia. Pendekatan ini juga dapat menghasilkan kerjasama dalam memecahkan masalah yang lebih besar itu, yang menyangkut seluruh umat manusia. 

Barbara Vining
Editor

Misi Bentara

Pada tahun 1903, Mary Baker Eddy mendirikan Bentara Ilmupengetahuan Kristen. Tujuannya: “untuk memberitakan kegiatan serta ketersediaan universal dari Kebenaran.” Definisi “bentara” dalam sebuah kamus adalah “pendahulu—utusan yang dikirim terlebih dahulu untuk memberitakan hal yang akan segera mengikutinya,” memberikan makna khusus pada nama Bentara dan selain itu menunjuk kepada kewajiban kita, kewajiban setiap orang, untuk memastikan bahwa Bentara memenuhi tugasnya, suatu tugas yang tidak dapat dipisahkan dari Kristus dan yang pertama kali disampaikan oleh Yesus (Markus 16:15), “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, 7 Juli 1956

Belajar lebih lanjut tentang Bentara dan Misinya.