Skip to main content Skip to search Skip to header Skip to footer

Mengenali dan memperbaiki ‘berita palsu’

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 27 April 2020

Diterbitkan di jejaring The Christian Science Journal edisi 2 November 2015 

Aslinya ditulis dalam bahasa Jerman, mula-mula diterbitkan di edisi Oktober 2015 majalah The Herald of Christian Science, dalam bahasa Portugis, Spanyol,  Perancis, dan Jerman.


Menurut Wikipedia bahasa Jerman, “Suatu laporan palsu, yang dikenal juga sebagai ‘canard,’ adalah berita yang tidak akurat. Canard dihasilkan dari riset yang cacat dan sembarangan oleh wartawan, atau sengaja dipublikasikan oleh wartawan, lembaga resmi, politikus, perusahaan, perorangan, atau informan lainnya.” Canard dimaksudkan untuk menyesatkan pikiran. Kode etik bagi media mencakup, antara lain, menghormati kebenaran, dan juga bersifat saksama dan membetulkan.

Terkadang, kita cepat mempercayai kebenaran suatu berita, baik sesuatu yang kita baca atau dengar di media, atau sesuatu yang disampaikan teman kepada kita. Mungkin kita merasa bahwa “kita sudah selalu mengetahuinya.” Tetapi tidak jarang suatu berita ternyata tidak benar karena berasal dari sumber yang tidak terpercaya. Tetapi jika suatu berita menguatkan atau mendukung anggapan kita sebelumnya serta pendapat kita yang sudah terpatri dalam pikiran, kita cenderung mempercayainya, dengan senang hati dan tidak kritis. Agar tidak salah dalam membuat asumsi dan membuat kesimpulan palsu karena tergesa-gesa, ada baiknya untuk selalu memeriksa secara berhati-hati dan obyektif berita yang disampaikan, dan bertanya kepada diri sendiri: “Apakah ini benar?”

Ada jenis berita lain yang perlu kita waspadai—kesaksian pancaindera kebendaan. Mary Baker Eddy, Penemu dan Pendiri Ilmupengetahuan Kristen, mengajarkan kepada orang yang membaca karya tulisnya yang utama, Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci, untuk dengan saksama melihat lebih dalam penampakan kebendaan dari berbagai hal, untuk memahami kesejatian rohaniahnya. Mary Baker Eddy merumuskan kesejatian rohaniah dalam pernyataan yang sangat penting yang disebut “pernyataan ilmiah tentang wujud”: “Tidak ada hidup, kebenaran, kecerdasan, atau substansi dalam zat. Segala-galanya ialah Budi yang tidak berhingga dengan penyataannya yang tidak berhingga, karena Allah adalah Semua-dalam-semua. Roh adalah Kebenaran yang baka; zat ialah kesesatan yang fana. Roh adalah yang sejati dan abadi; zat ialah yang tidak sejati dan bersifat sementara. Roh adalah Allah, dan manusia ialah gambar dan keserupaanNya. Oleh karena itu manusia tidak bersifat kebendaan; ia bersifat rohaniah” (hlm. 468).

Suatu pernyataan yang revolusioner! Pernyataan itu menyangkal kepercayaan-kepercayaan umum bahwa alam semesta dan manusia bersifat kebendaan, bahwa zat bersifat sejati dan bersubstansi, dan hal itu membetulkan kesaksian pancaindera.

Ilmupengetahuan Kristen mengajarkan bahwa ciptaan sepenuhnya bersifat rohaniah karena Allah, Roh yang tidak berhingga, adalah satu-satunya pencipta. Hanya dapat ada satu sebab dari semua wujud, bukan dua atau banyak sebab, yang saling bertentangan, dan sebab yang satu-satunya ini bersifat universal, tidak dapat dimusnahkan, abadi, dan cerdas. Sebab akbar dari segala kehidupan ini tidak bisa bersifat terbatas dan kebendaan; sebab itu harus tidak bersifat kebendaan, harus bersifat rohaniah. Jika semua sebab bersifat rohaniah, maka seperti apakah akibatnya? Persis seperti pohon apel menghasilkan buah apel, bukan buah frambus; seperti jerapah melahirkan bayi jerapah, bukan belalang, suatu jenis mengadakan jenis itu juga—karena itu, akibat dari suatu sebab yang bersifat rohaniah tidak bisa bersifat kebendaan; hal itu haruslah bersifat rohaniah. Mary Baker Eddy menulis: “Kita harus dalam-dalam menyelidiki kesejatian dan tidak hanya menerima paham lahiriah akan segala hal. Dapatkah kita memetik buah persik dari pohon cemara atau belajar mengetahui harmoni wujud dari bunyi yang sumbang?” (Ilmupengetahuan dan Kesehatan, hlm. 129).

Ketika kita belajar untuk “dalam-dalam menyelidiki kesejatian,” ketika kita menjadi lebih mengenal Allah dan kesejatian rohaniah, kita menjadi semakin sadar bahwa kesaksian pancaindera adalah suatu kesesatan, suatu “berita palsu,” karena tidak berasal dari sumber yang terpercaya (penanggapan rohaniah), dan karena itu tidak bisa dipercayai.

Meskipun demikian, kita tidak dapat memahami kebenaran-kebenaran ini melalui penanggapan kebendaan. Mary Baker Eddy menulis: “Yang kita istilahkan penanggapan kebendaan hanya dapat melaporkan suatu paham yang sementara dan fana tentang segala hal, sedangkan penanggapan rohaniah hanya dapat memberi kesaksian tentang Kebenaran” (Ilmupengetahuan dan Kesehatan, hlm. 298). Kita semua memiliki penanggapan rohaniah, dan kita dapat menggunakannya.

Orang yang secara konsisten menggunakan penanggapan rohaniahnya adalah Yesus Kristus. Sebagai Anak Allah, Yesus Kristus terus-menerus dan secara sadar berpaling kepada Allah, Roh, dan mampu melihat kebenaran rohaniah tentang setiap orang atau situasi yang ditemuinya. Perkataan dan perbuatannya adalah hasil dari mendengarkan Allah dan mengetahui kebenaran. Dengan demikian dia mampu menegur dosa, menyembuhkan orang sakit, dan membangkitkan orang mati.

Yesus berjanji: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yohanes 8:31, 32). Melalui pembelajaran kita yang berkelanjutan serta pembuktian kita akan Ilmupengetahuan Kristen, kita memupuk dan mengembangkan penanggapan rohaniah kita dan menumbuhkan pengertian kita tentang kebenaran. Dengan demikian kita akan semakin mampu “mengetahui kebenaran” dan mengenali serta membetulkan “berita palsu”—baik tentang suatu keadaan, tentang orang lain, atau tentang diri kita sendiri.

Salah satu cara untuk melakukan hal ini adalah dengan terus-menerus memperbaiki pandangan kita tentang orang lain. Alih-alih melihat seseorang menderita penyakit, atau cacat, atau menyebalkan, kita harus membetulkan laporan palsu ini, dan melihat orang itu sesuai cara Yesus Kristus melihat seseorang: utuh, murni, tidak jatuh, merdeka—sebagai putera dan puteri Allah yang terkasih. Alih-alih memusatkan pandangan kita kepada penampakan lahiriah, kita harus memandang lebih dalam dan melihat sifat-sifat seperti tidak mementingkan diri sendiri, kebaikan, integritas, kesabaran, pengertian. Praktek melihat dengan benar ini memberkati dan memacu kita untuk maju “dari pancaindera kepada Jiwa.”

Baru-baru ini, ketika mengajak anjing saya berjalan di hutan yang tidak jauh, saya terpelecok saat melangkah di tanah yang tidak rata dan kaki saya keseleo. Mata kaki saya terasa sakit sekali, tetapi dengan segera datang pikiran bahwa ini bukanlah kebenaran; itu hanyalah laporan palsu. Karena wujud saya yang sejati bersifat rohaniah, maka tidak ada bagian dari wujud sejati saya yang dapat bersifat kebendaan dan merasa sakit. Rasa sakit itu hilang dan tidak kembali.

Ilmupengetahuan Kristen menunjukkan bahwa setiap orang dapat mengikuti teladan Yesus: “Mengetahui kebenaran,” berpaling dari laporan palsu, melihat kesejatian, dan mengalami kuasa penyembuhan serta berkat dari kebenaran rohaniah!

Misi Bentara

Pada tahun 1903, Mary Baker Eddy mendirikan Bentara Ilmupengetahuan Kristen. Tujuannya: “untuk memberitakan kegiatan serta ketersediaan universal dari Kebenaran.” Definisi “bentara” dalam sebuah kamus adalah “pendahulu—utusan yang dikirim terlebih dahulu untuk memberitakan hal yang akan segera mengikutinya,” memberikan makna khusus pada nama Bentara dan selain itu menunjuk kepada kewajiban kita, kewajiban setiap orang, untuk memastikan bahwa Bentara memenuhi tugasnya, suatu tugas yang tidak dapat dipisahkan dari Kristus dan yang pertama kali disampaikan oleh Yesus (Markus 16:15), “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, 7 Juli 1956

Belajar lebih lanjut tentang Bentara dan Misinya.