Skip to main content Skip to search Skip to header Skip to footer

Pentingnya berjaga dan waspada menyadari kasih Allah

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 24 Juli 2020

Aslinya diterbitkan di edisi 6 Juli 2020 majalah Christian Science Sentinel


Bertahun-tahun yang lalu, ketika saya bekerja sebagai penjaga pantai, kami diajari untuk mencermati pantai sehingga gerakan apa pun yang tidak biasa dapat terdeteksi. Alih-alih mengawasi orang satu-persatu, kami harus mengamati seluruh pantai untuk dapat mendeteksi sesuatu yang tidak terduga atau tidak biasa. Untuk melakukan hal tersebut diperlukan kesadaran yang tajam serta kewaspadaan setiap saat. Perlu latihan untuk tidak memusatkan perhatian pada setiap bagian dari pemandangan itu, tetapi mengambil pandangan yang lebih luas. Dengan berjaga seperti ini, kami mampu melihat jika ada sesuatu yang tidak pada tempatnya, sehingga kami dapat menanggapi masalah apapun dengan cepat dan menjaga keamanan setiap orang. 

Kita dapat membandingkan ini dengan berjaga secara rohaniah. Semakin kita menujukan pandangan kita kepada kebenaran serta kesejatian Allah, semakin kita menyadari jika terjadi penyimpangan dalam pikiran yang hendak menarik kita kepada ketakutan serta hal-hal yang negatif, sehingga kita dapat segera menanggapinya dengan menyadari kehadiran kebaikan yang tidak berhingga, Allah, dan mengalami kesembuhan. 

Selama ada anjuran pemerintah akhir-akhir ini untuk tinggal di rumah karena pandemi dan kebingungan yang ditimbulkan konperensi pers, grafik kurva, dan prediksi ekonomi, saya  telah menemukan saat-saat yang memerlukan pandangan yang lebih luas akan kehadiran ilahi yang tidak berhingga. Upaya yang tidak mementingkan diri sendiri serta keberanian dari orang-orang yang berada di garda terdepan serta penghargaan masyarakat bagi mereka, adalah pernyataan akan kebaikan yang sangat berlawanan dengan suasana tidak sehat yang timbul dari ketidakpastian yang seringkali menguasai pikiran masyarakat. 

Tetapi, agar tetap waspada kita perlu berjaga, dan membangunkan pikiran kepada kesejatian akan kasih Allah bagi ciptaanNya dimulai dengan memahami sifat Allah.  Pendiri Ilmupengetahuan Kristen, Mary Baker Eddy, memulai bab “Doa” di buku Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci dengan kalimat ini: “Doa yang membaharui orang berdosa dan menyembuhkan orang sakit adalah suatu iman yang mutlak, bahwa segala sesuatu mungkin bagi Allah—suatu pengertian rohaniah tentang Dia, suatu kasih yang bebas dari diri” (hlm. 1). Doa  yang membangunkan kita kepada pandangan yang lebih luas tentang Allah, kebaikan, didasarkan pada pencarian yang bebas dari diri akan kebenaran dan suatu pengertian bahwa Allah mengasihi semua, dan ini tidak hanya bermanfaat bagi kita atau bahkan bagi satu orang yang memerlukan saja—meskipun hal itu penting—tetapi bagi sesama kita, komunitas kita, dan dunia.

Tujuan doa dalam Ilmupengetahuan Kristen adalah agar kesadaran insani bangun menyadari dan tetap berfokus kepada pandangan yang lebih luas bahwa kesejatian Allah serta kasih Allah adalah mahakuasa dan selalu hadir. Tujuannya adalah agar kita mengenal Allah sebagai kebaikan yang nyata dan tidak berhingga. Belajar lebih banyak mengetahui kesejatian bahwa Allah adalah kebaikan ilahi, menjadikan kita mampu menolak apa pun yang tidak menyerupai Allah. Dengan bijaksana mengakui bahwa pada akhirnya masalah perorangan dan masalah sosial adalah tidak sejati dan tidak berkuasa, mendatangkan kesembuhan bagi kita dan dunia. Ketika kita mengetahui sifat Allah dengan lebih baik, perhatian kita tidak terpecah. Ketika kita secara rohaniah tetap berjaga dan waspada untuk menyadari kasih Allah, kita tidak mudah terhipnotis oleh ketidakpastian zaman. Dan Allah, melalui kegiatan Kristus—pesan ilahi akan kasih yang datang kepada kesadaran insani—mendorong pikiran untuk menyerah kepada kebaikan ilahi

Ketika secara rohaniah kita tetap berjaga dan waspada untuk menyadari kasih Allah, kita tidak mudah terhipnotis oleh ketidakpastian zaman. 

Karena manusia rohaniah ciptaan Allah mencakup seluruh sifat Allah—seperti kepedulian, kedermawanan, dan tidak mementingkan diri sendiri, belum lagi kewaspadaan, kesadaran akan keadaan sekeliling kita, dan vitalitas—maka menyadari kebaikan adalah keadaan wajar dari wujud kita. Doa yang secara mental menegaskan hubungan yang tidak terputuskan antara Allah dengan manusia melibatkan kita dalam memecahkan masalah perorangan dan dunia.

Apa pun yang berlawanan dengan kebaikan yang dikaruniakan Allah harus terlihat jelas sebagai penyimpangan dari kesejatian Hidup, Allah. Ny. Eddy menjelaskan, “Jika kebaikan dan kerohanian adalah sejati, maka kejahatan dan hal yang kebendaan tidaklah sejati dan tidak dapat berasal dari Allah yang tidak berhingga, kebaikan” (Ilmupengetahuan dan Kesehatan, hlm. 277).

Kebaikan ini adalah kuasa yang tidak dapat dilawan dan meliputi segalanya yang menjadikan kita mampu mempertahankan pendirian kita lalu menyaksikan kasih Allah melenyapkan kejahatan dalam kesadaran serta pengalaman insani. Pengharapan dan keinginan insani tidak bisa menggantikan pengertian rohaniah yang melenyapkan ketakutan dan menyesuaikan pikiran dengan keselarasan rohaniah serta damai yang selalu tersedia.

Doa yang didasarkan pada penalaran rohaniah tidak mengabaikan kesulitan atau berpura-pura semuanya baik padahal secara insani kelihatannya tidak demikian. Dasarnya adalah ajaran Yesus Kristus. Kesadaran rohaniah Yesus yang diluhurkan tetap waspada serta sadar akan kasih, kebaikan, dan kuasa Allah, bahkan di tengah-tengah penyakit dan penderitaan yang seakan mengelilinginya. Memahami bahwa Allah senantiasa hadir menuntut kita untuk membiarkan ide Kristus menjadi sama sejati  dan hadir bagi kita seperti bagi Yesus. Dengan begitu penyakit dan ketidaknyamanan lenyap menjadi kesehatan dan keselarasan.

Sama seperti penjaga pantai mencermati cakrawala, siap menanggapi setiap keperluan, kita dapat mengamati keadaan dunia dan siap untuk menanggapinya dengan doa. Jika kita melakukan hal ini, Kristus mengilhami dan mendorong  kita agar waspada untuk menolak pandangan fana yang terbatas, tidak sempurna, yang menyangkal kebaikan Allah. Kewaspadaan ini akan mendatangkan kesembuhan dalam hidup kita dan sesama kita, dan kebaikan serta kasih Allah akan menjadi satu-satunya yang dapat  kita lihat.

“Banyak yang tidur ketika seharusnya mereka tetap terjaga dan membangunkan dunia. Pelaku-pelaku di bumi merubah pemandangan bumi; dan tirai kehidupan manusia harus dibuka kapada kesejatian, kepada hal-hal yang lebih berbobot daripada waktu; kepada tugas yang diselesaikan dan hidup yang disempurnakan, di mana sukacita adalah sejati dan tidak bisa luntur” (Mary Baker Eddy, Message to The Mother Church for 1902, hlm. 17).

Larissa Snorek
Editor Madya

Misi Bentara

Pada tahun 1903, Mary Baker Eddy mendirikan Bentara Ilmupengetahuan Kristen. Tujuannya: “untuk memberitakan kegiatan serta ketersediaan universal dari Kebenaran.” Definisi “bentara” dalam sebuah kamus adalah “pendahulu—utusan yang dikirim terlebih dahulu untuk memberitakan hal yang akan segera mengikutinya,” memberikan makna khusus pada nama Bentara dan selain itu menunjuk kepada kewajiban kita, kewajiban setiap orang, untuk memastikan bahwa Bentara memenuhi tugasnya, suatu tugas yang tidak dapat dipisahkan dari Kristus dan yang pertama kali disampaikan oleh Yesus (Markus 16:15), “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, 7 Juli 1956

Belajar lebih lanjut tentang Bentara dan Misinya.