Skip to main content Skip to search Skip to header Skip to footer

Apa yang kita pikirkan itu penting

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 26 April 2021

Aslinya diterbitkan di edisi 20 Juli 2020 majalah Christian Science Sentinel


Beberapa tahun yang lalu, saya berjalan-jalan di hutan dengan saudara perempuan dan ipar perempuan saya. Kami suka saling bercerita tentang kehidupan kami. Pada suatu saat saudara perempuan saya mengatakan bahwa apa yang kita pikirkan tidaklah penting—menyiratkan bahwa hanya tindakan kitalah yang penting. Komentarnya mengherankan saya, karena saya telah mendapati bahwa apa yang kita pikirkan, sesungguhnya sangatlah penting.

Mempraktekkan aturan-aturan penyembuhan Kristen sebagai yang dipraktekkan Yesus Kristus dan dijelaskan serta dipraktekkan Mary Baker Eddy sebagai Penemu dan Pendiri Ilmupengetahuan Kristen, kita belajar bahwa melihat (atau berpikir) tentang diri kita dan orang lain dengan benar menyembuhkan berbagai ketidakselarasan dan penyakit. Pemikiran yang benar ini adalah melihat diri kita sendiri serta orang lain sebagai anak-anak Allah, Roh—sebagai gambar dan keserupaan rohaniah Pencipta kita. 

Untuk melakukan hal ini, kita perlu terus-menerus memantau pikiran kita. Dalam karya utamanya, Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci, Ny. Eddy menjelaskan: “Berjagalah di pintu pikiran. Jika kita hanya membiarkan masuk kesimpulan-kesimpulan yang ingin kita lihat diwujudkan dalam tubuh, maka kita akan menguasai diri kita sendiri dengan selaras. Kalau kita berhadapan dengan suatu keadaan yang  kita katakan menyebabkan penyakit, entah hal itu keadaan udara, suatu usaha jasmaniah, hal turun-temurun, penularan, atau suatu kecelakaan, maka lakukanlah tugas kita sebagai penjaga pintu dan tutuplah pintu terhadap pikiran serta ketakutan yang tidak sehat itu” (hlm. 392).

Yesus mengidentifikasi manusia individuil sebagai ciptaan rohaniah Allah yang sempurna, dan sebagai akibatnya, yang kelihatan nyata sebagai masalah-masalah mereka pun lenyap. Misalnya, orang yang buta sejak lahir memperoleh penglihatannya. Seorang wanita yang sudah lama menderita “pendarahan” sembuh. Seorang yang lumpuh yang diturunkan ke hadapan Yesus di atas tempat tidurnya melalui atap berjalan pulang. Orang-orang kusta disembuhkan. Lima ribu orang yang lapar diberi makan, dan masih ada makanan yang tersisa, sedangkan yang tersedia hanya dua ikan dan lima roti. Lazarus dibangkitkan dari maut, bahkan setelah empat hari dikubur. 

Ketika muncul pikiran-pikiran yang mengganggu, kita dapat menutup pintu terhadap semua itu dan menggantinya dengan fakta-fakta rohaniah. 

Yesus Kristus tidak menerima apa yang dinyatakan pancaindera. Dengan wajar dia berjaga di pintu pikirannya, menolak kesaksian kebendaan, dan sebagai gantinya menerima pandangan Allah. Dia tahu bahwa Allah tidak pernah, bahkan untuk sekejap pun, berhenti menjaga dan memelihara anak-anakNya, yang diciptakanNya dalam gambar dan keserupaanNya yang bersifat rohaniah. Yesus bersabda: “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yoh. 5:30). 

Sekarang, kalau kita memantau pikiran kita dan mencari kehendak Bapa, yang selalu baik, kita pun dapat membantu menyembuhkan orang-orang dan bahkan dunia. Ketika pikiran-pikiran yang mengganggu atau buruk muncul, kita dapat menutup pintu terhadap semua itu dan menggantinya dengan fakta-fakta rohaniah. Ilmupengetahuan dan Kesehatan menjelaskan, “Sifat mementingkan diri sendiri dan sifat berhawa nafsu dipupuk dalam budi fana kalau pikiran senantiasa ditujukan kepada diri sendiri, kalau kita selalu membicarakan tentang tubuh, dan kalau kita mengira, bahwa tubuh terus-menerus mendatangkan kenikmatan atau kesakitan kepada kita;...

“Palingkanlah pandangan dari tubuh kepada Kebenaran dan Kasih, Asas semua kebahagiaan, keselarasan, dan kebakaan. Tujukanlah pikiran dengan tetap kepada yang kekal, yang baik, dan yang hakiki, maka makin dipenuhi pikiran kita dengan hal itu, makin banyak  kita akan mengalaminya dalam kehidupan kita” (hlm. 260, 261).

Pikiran-pikiran yang mengganggu, terganggu, atau berhawa nafsu tidak berasal dari Allah. Semua itu bersifat kebendaan, fana, dengan demikian pada dasarnya palsu. Dengan menolak dan mengganti semua itu dengan yang sejati, kita menjadikan kuasa yang seakan-akan dimilikinya tidak berkuasa. 

Berikut ini satu contoh dari pengalaman saya sendiri. Kira-kira lima tahun yang lalu, saya pergi ke dokter gigi untuk membersihkan gigi secara rutin. Dokter gigi itu mengatakan bahwa ada gigi, yang jika tidak dirawat, akan segera menyebabkan bahaya bagi saya. Selama beberapa minggu berikutnya, pikiran-pikiran yang menakutkan tentang sakit gigi muncul di benak saya. 

Saya menelpon seorang penyembuh Ilmupengetahuan Kristen untuk berdoa bersama saya tentang kekhawatiran ini. Penyembuh itu minta saya untuk mempelajari semua yang telah ditulis Mary Baker Eddy tentang substansi. Sebuah gigi, katanya, karena keras sekali, seakan-akan bersubstansi. Tetapi manusia (termasuk setiap orang di antara kita) sesungguhnya bersifat rohaniah, sama sekali tidak bersifat kebendaan. Dalam Surat Paulus kepada orang Ibrani kita baca: “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat....  Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak kita lihat” (11:1, 3). Karena itu, setiap aspek dari wujud kita tidak dijadikan dari zat, melainkan bersifat rohaniah, karena setiap orang di antara kita diciptakan dalam gambar dan keserupaan Allah, Roh yang tidak berhingga, satu-satunya substansi yang sejati.  

Setiap kali kita memilih kebenaran rohaniah di atas saran-saran mental yang palsu, kita berkontribusi pada kesembuhan.

Terdapat banyak rujukan tentang substansi dalam karya tulis Ny. Eddy. Salah satu yang khususnya saya anggap sangat bermanfaat adalah ketika dia menulis: “Substansi adalah yang bersifat abadi dan yang tidak dapat menjadi tidak selaras atau hancur. Kebenaran, Hidup, dan Kasih adalah substansi .... Alam semesta yang rohaniah, termasuk manusia individuil juga, adalah suatu paduan ide, yang mencerminkan substansi ilahi Roh” (Ilmupengetahuan dan Kesehatan, hal. 468). Setiap kali terlintas pikiran yang menyarankan adanya bahaya dengan gigi saya, saya menolaknya dan mengingat bahwa substansi yang sebenarnya adalah Allah, dan bahwa saya, sepenuh-penuhnya, mencerminkan substansi ilahi Roh, yang tidak bisa menjadi tidak selaras atau hancur. Sebagai hasilnya, gigi itu baik-baik saja. Apa yang kita pikirkan dan pegang dalam pikiran itu benar-benar penting. 

Pikiran-pikiran negatif tentang diri kita sendiri, orang lain, atau dunia—pikiran-pikiran yang tidak benar tentang Allah dan ciptaanNya—dapat ditolak, karena semua itu hendak berusaha mencemari Allah dan ciptaanNya yang sangat baik. Pikiran-pikiran ini adalah yang disebut Ny. Eddy “saran mental yang agresif” (Buku Pedoman Gereja, hal. 42). Kalau kita mengenal sifat Allah dengan jelas, pikiran-pikiran tersebut dapat kita kenali sebagai saran, bukan fakta rohaniah, dan dengan segera kita buang.

Fakta-fakta rohaniah didasarkan pada Allah dan alam semestaNya yang sempurna dan bersifat rohaniah, termasuk manusia, dan dipelihara dalam kesempurnaan oleh Allah setiap saat. Setiap kali kita memilih kebenaran rohaniah di atas saran kebendaan yang palsu, kita berkontribusi pada kesembuhan, bukan hanya bagi diri kita sendiri tetapi bagi seluruh umat manusia. Rasul Paulus menganjurkan jemaat di Filipi, “Semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu” (4:8)

Wilayah lain di mana kita dapat beroleh manfaat dari “menjaga pikiran kita” adalah ranah politik. Kekacauan di tubuh politik kita telah terlihat nyata selama beberapa tahun terakhir—sebagaimana hal itu telah dialami berkali-kali oleh bangsa-bangsa dalam sejarah manusia. Bagaimana kalau kita menolak setiap pikiran negatif tentang mereka yang pandangan politiknya berlawanan dengan kita? Bagaimana kalau kita menghormati setiap orang sebagai anak Allah yang sangat berharga dan sempurna yang diciptakan Allah? Singkatnya, bagaimana jika kita mengasihi “musuh-musuh” kita seperti yang dianjurkan Yesus? Tidakkah hal itu akan membantu mengurangi sifat-sifat serta tindakan-tindakan yang negatif?

Kita bahkan dapat menjadi “penjaga pintu” pikiran khususnya terhadap kepercayaan-kepercayaan tentang pandemi global yang terjadi akhir-akhir ini. Kalau kita berpegang teguh kepada kebenaran bahwa Allah adalah Roh yang tidak berhingga, Kasih yang tidak berhingga, dan selalu mempertahankan ciptaanNya, maka kita lihat bukti akan hal ini dalam pengalaman kita dan hal ini dirasakan orang lain juga. Setiap kali kita berjaga di pintu pikiran kita, dan hanya menerima ide-ide dari Allah, kita mempraktekkan Kekristenan Yesus Kristus, dan hukum-hukum Allah diberlakukan pada yang terlihat sebagai ketidakselarasan. Kita melihat dan membuktikan bahwa kerajaan Allah yang diajarkan Yesus kepada kita selalu tersedia. Kita mempercayai dan menghormati kabar baik yang diberitakan injil dan membiarkan masuk kebenaran yang menyembuhkan yang menghapuskan kegelapan. 

Apa yang kita pegang dalam pikiran sangatlah penting. Jika kita, dengan tekad yang teguh, hanya percaya kepada pikiran-pikiran yang menyerupai pikiran Tuhan, kita melihat keselaluhadiran Allah yang tidak berhingga, kebaikan. Dan kita membawa keselarasan yang semakin bertambah kepada kehidupan kita, kehidupan sesama kita dan kepada seluruh umat manusia. 

Misi Bentara

Pada tahun 1903, Mary Baker Eddy mendirikan Bentara Ilmupengetahuan Kristen. Tujuannya: “untuk memberitakan kegiatan serta ketersediaan universal dari Kebenaran.” Definisi “bentara” dalam sebuah kamus adalah “pendahulu—utusan yang dikirim terlebih dahulu untuk memberitakan hal yang akan segera mengikutinya,” memberikan makna khusus pada nama Bentara dan selain itu menunjuk kepada kewajiban kita, kewajiban setiap orang, untuk memastikan bahwa Bentara memenuhi tugasnya, suatu tugas yang tidak dapat dipisahkan dari Kristus dan yang pertama kali disampaikan oleh Yesus (Markus 16:15), “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, 7 Juli 1956

Belajar lebih lanjut tentang Bentara dan Misinya.