Skip to main content Skip to search Skip to header Skip to footer

Mengatasi kejahatan yang agresif

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 20 Desember 2021

Aslinya diterbitkan di edisi Januari 2021 majalah The Christian Science Journal


Saat ini kelihatannya tidak satu hari pun berlalu tanpa berita tentang kejahatan yang menyebar dalam bentuk seperti penularan, kebencian, korupsi, pelecehan, pembunuhan masal, atau terorisme, sehingga banyak orang merasa tidak berdaya. Meskipun demikian, di saat yang sama, kita melihat di seluruh dunia semakin banyak orang berdoa bersama untuk kesehatan, kedamaian, keadilan, dan kebebasan. Meskipun demikian seringkali gambaran yang kita dapatkan tidak terlalu memberi harapan.

Mungkin ini disebabkan adanya kecenderungan untuk memandang kejahatan berdasarkan apa yang kita lihat dan dengar, misalnya tayangan-tayangan TV tentang kekerasan atau laporan tentang penyakit, lalu kita mengkaitkan kejahatan dengan orang-orang tertentu, yang menyebabkan perpecahan ketika orang mulai saling menyalahkan. Tetapi musuh yang sebenarnya bukanlah siapa atau apa yang ditanggap pancaindera, melainkan apa yang ada dibelakangnya—keadaan mentalnya. Agar dapat menguasai akibat kejahatan dan membuktikannya tidak berkuasa untuk menghancurkan kebaikan, kita harus memahami sifat agresif yang menipu dari kejahatan.

Kejahatan adalah saran yang palsu bahwa kita masing-masing memiliki budi sendiri-sendiri, yang berakibat pada banyak budi dan kemauan, beberapa di antaranya jahat dan sanggup memanipulasi budi yang lain. Tetapi Allah, kebaikan yang tidak berhingga, adalah satu-satunya Budi yang memerintahi setiap orang di antara kita, dan ini adalah satu-satunya kuasa yang sesungguhnya.

Kejahatan mengambil kesejatian dalam pikiran kita dengan bertindak seperti pengganggu yang meneror—menyajikan gambar-gambar yang mengancam atau menggoda tentang orang, tempat, atau benda tertentu, secara berulang-ulang, sampai kita menyerah dan membiarkannya mengendalikan kita; saat itulah kejahatan seakan memiliki kuasa. Seringkali kelihatannya orang-orang terkenal atau perusahaan-perusahaan besar menggunakan gambar-gambar ini dengan cara-cara yang menipu dan jahat agar dapat mengendalikan atau mempertahankan kendali atas pikiran masyarakat.

Mary Baker Eddy menulis di buku ajarnya, Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci, “Tidak ada satu pun budi fana yang mempunyai kekuasaan atau hak atau kebijaksanaan untuk menciptakan atau memusnahkan sesuatu. Segala-galanya ada di bawah penguasaan Budi yang esa, yakni Allah” (hlm. 544).

Ini bukanlah suatu teori yang menguntungkan yang didukung Ny. Eddy, tetapi suatu kebenaran yang telah dibuktikannya berkali-kali, sejak dia masih kecil. Dia membuktikan ketidakberdayaan “pengganggu” yang disebut kejahatan ini ketika berumur sekitar delapan tahun dan menghadiri sekolah yang terdiri dari satu ruangan dengan anak-anak dari berbagai usia. Salah satu anak perempuan selalu mengganggu anak-anak lainnya, bahkan meneror anak-anak laki-laki. Pada suatu hari anak perempuan itu datang ke sekolah membawa mentimun yang dilubangi, yang diisi air kotor, dan menuntut anak-anak yang lain untuk meminumnya.

Mary kecil menghalangi pengganggu itu dan berkata, ”Kamu tidak boleh menyentuh seorang pun dari mereka.” Pengganggu itu membentaknya, “Menyingkirlah atau aku akan membantingmu.” Tetapi Mary tetap berdiri, melipat kedua lengannya di dada, dan menjawab, “Tidak, kamu tidak akan menyentuh aku atau mencederai mereka.” Ancaman si pengganggu telah gagal. Dia tidak biasa mendapat perlawanan, apalagi dari seorang gadis kecil! Pengganggu itu meletakkan mentimunnya dan berkata kepada Mary bahwa dia adalah anak yang pemberani, kemudian memeluknya.

Kita masing-masing dapat membuktikan ketidakkuasaan kejahatan dalam bentuk apa pun.

Mary tidak berhenti di situ. Dia terus melawan setiap kali gadis tersebut mengancam seorang anak, sampai akhirnya sifat agresifnya berubah sama sekali (lihat Irving C. Tomlinson, Twelve Years with Mary Baker Eddy, Amplified Edition, hlm. 4–5). 

Di kemudian hari Ny. Eddy menulis: “Kepercayaan yang diilhamkan oleh Ilmupengetahuan terletak dalam fakta, bahwa Kebenaran adalah sejati dan kesesatan tidak sejati. Kesesatan adalah pengecut di hadapan Kebenaran” (Ilmupengetahuan dan Kesehatan, hlm. 368).

Apakah yang membuat kejahatan tampak begitu sejati dan berkuasa? Gambar-gambar yang dikaitkan dengannya oleh budi yang kedagingan atau pancaindera jasmaniah. Gambar-gambar itu menyajikan pribadi-pribadi yang jahat, kekuatan alam yang menghancurkan, wilayah-wilayah yang mengalami penderitaan besar, atau statistik yang melukiskan penularan yang menyebar—dan tiba-tiba semua gambar ini menjadi hidup dalam pikiran kita. Tetapi Ny. Eddy menjelaskan: “Kejahatan tidak ada kesejatiannya. Kejahatan bukanlah seseorang, suatu tempat, ataupun suatu benda, melainkan suatu kepercayaan semata-mata, suatu khayalan penanggapan kebendaan” (Ilmupengetahuan dan Kesehatan, hlm. 71). Kejahatan kelihatannya memiliki kehadiran, kuasa, dan pengaruh hanya karena gambarnya tentang penderitaan atau maut berkesan di pikiran kita. Jika kita menerima gambar-gambar ini dan menganggap semua itu berkuasa, semua itu seakan-akan mengendalikan kita, melalui ketakutan. 

Dalam Alkitab, tiga gambar atau simbol terkenal yang digunakan untuk mewakili atau menjelaskan sifat kejahatan adalah ular, iblis, dan naga.

Di bagian awal Alkitab, ular bersifat cerdik, menipu, dan menghancurkan, meskipun sesungguhnya tidak memiliki kuasa untuk mencederai dua pribadi yang ada dalam alegori ini, Adam dan Hawa (lihat Kejadian 3). Apa yang dapat dilakukannya hanyalah menyarankan bahwa Allah telah berbohong ketika memperingatkan Adam untuk tidak mengambil bagian dalam ajaran sesat dualisme—pohon pengetahuan tentang kebaikan dan kejahatan. Ular mengatakan kepada Hawa bahwa alih-alih membawa kematian, ajaran yang bersifat dualistis itu sesungguhnya akan menjadikan mereka sangat arif dan berkuasa (seperti ilahi-ilah) jika mereka mau menerima zat dan kejahatan sebagai suatu kekuasaan. Tetapi itu adalah dusta! Alih-alih demikian, pengetahuan ini hanya membimbing kepada rasa malu, kehilangan, dan suatu kutukan yang menyebabkan mereka menderita seumur hidup.

Alegori tentang ular ini bertentangan langsung dengan kisah penciptaan di Kitab Kejadian bab 1, yang menyatakan bahwa hanya Roh sajalah yang mencipta, bahwa semua yang diciptakan Roh sangatlah baik, dan bahwa pekerjaan Tuhan sudah selesai, lengkap. Hanya ada satu Tuhan, oleh karena itu hanya dapat ada satu pencipta, dan satu ciptaan, yang sepenuhnya baik dan sempurna. 

Di Perjanjian Baru, kita mendapati suatu lambang kejahatan lain, sebagai iblis, atau pengaruh negatif yang menggoda Yesus Kristus untuk menyembah keakuan,  atau zat, atau kejahatan sebagai kekuasaan yang dapat bermanfaat baginya (lihat Matius 4:1-11). Dalam satu skenario, iblis mencobainya untuk melompat dari bubungan bait Allah untuk membuktikan kuasa Allah yang melindungi. Jika iblis (kejahatan) memiliki kuasa pasti ia sudah mendorong Yesus; tetapi semua yang dapat dilakukannya hanyalah menyarankan agar Yesus melompat! Setiap kali Yesus dicobai, dia melawan penalaran iblis yang munafik itu dengan berpaling hanya kepada hukum Allah, kehendak Allah, dan pemerintahan Allah. Akhirnya dia membungkam si iblis dengan menyatakan secara tegas, “Enyahlah, Iblis,” dan ilham ilahi (pesan-pesan malaikat) membanjiri kesadarannya, menyanggupkannya untuk mulai membuktikan kuasa Allah, kebaikan, untuk memelihara dan menebus umat manusia.

Di kitab Wahyu kejahatan muncul lagi, kali ini dalam bentuk naga dengan tujuh kepala, tujuh mahkota, dan sepuluh tanduk, yang berusaha mengendalikan dan menghancurkan semua yang baik (lihat bab 12). Tetapi Kristus, Kebenaran, membuang naga itu keluar dan pada akhirnya menghancurkan setiap penjelmaan kejahatan. 

Ny. Eddy menjelaskan: “Kita mungkin menjadi bingung tentang ketakutan insani dan lebih-lebih lagi sangat terkejut akan kebencian, yang mengangkat kepala naganya dan memperlihatkan tanduknya dalam penemuan kejahatan yang banyak sekali. Tetapi mengapa kita ngeri terhadap ketidaksesuatuan? Naga merah padam yang besar melambangkan suatu dusta — yakni kepercayaan, bahwa substansi, hidup, dan kecerdasan dapat bersifat kebendaan. Naga itu menggambarkan kesesatan insani dalam keseluruhannya. Kesepuluh tanduk naga itu melambangkan kepercayaan, bahwa zat mempunyai kekuasaan dari dirinya sendiri dan bahwa dengan jalan suatu budi jahat di dalam zat Kesepuluh Firman dapat dilanggar.

“Penulis surat Wahyu mengangkat selubung dari perwujudan akan segala kejahatan itu, dan melihat wataknya yang menakutkan; tetapi dilihatnya juga ketidaksesuatuan kejahatan dan kesemestaan Allah” (Ilmupengetahuan dan Kesehatan, hlm. 563).

Kitab Wahyu diakhiri dengan penglihatan Yohanes akan langit yang baru dan bumi yang baru di mana tidak terdapat malam, tidak ada penderitaan, tidak ada kekurangan, tidak ada maut—tidak ada kejahatan. Semuanya adalah terang dan kebaikan, karena Yohanes melihat bahwa Allah, Roh, kebaikan yang tidak berhingga, adalah di atas segala-galanya, di sini dan sekarang juga.

Ny. Eddy berkali-kali membuktikan bahwa hal itu benar. Suatu kali seorang yang bersenjata datang ke rumahnya tetapi tidak sanggup melaksanakan niatnya untuk mencederai Ny. Eddy. Dan ketika lima puluh penganut spiritisme berdoa semalam suntuk agar Ny. Eddy meninggal, doa Ny. Eddy merupakan perlindungan penuh baginya (lihat We Knew Mary Baker Eddy, Expanded Edition, Vol. I, hlm. 48, 172). 

Ny. Eddy menulis: “Allah bukanlah pencipta suatu budi yang jahat. Sesungguhnyalah, kejahatan bukanlah Budi. Kita harus belajar mengetahui, bahwa kejahatan adalah penipuan yang mengerikan serta ketidaksejatian tentang kehidupan. Kejahatan tidaklah mahakuasa; kebaikan bukanlah tidak berdaya; demikian juga tidak benar bahwa yang kita sebutkan hukum-hukum zat adalah yang utama dan hukum Roh yang kurang penting. Kalau kita tidak belajar mengetahui hal ini, maka akan hilanglah dari pandangan kita Bapa yang sempurna, atau Asas ilahi manusia” (Ilmupengetahuan dan Kesehatan, hlm. 207).

Beberapa tahun yang lalu, ketika bekerja sebagai pengacara, saya mewakili seorang perempuan dalam kasus perceraian yang sengit. Ketika kasus itu berlarut-larut, perempuan itu memberitahu saya bahwa suaminya mempraktikkan ilmu sihir dan terus mengatakan bahwa dia akan mendatangkan kutukan kepada kami berdua. Saat itu saya hanya membuang pikiran tersebut dan berpikir bahwa sihir tidak memiliki kuasa; meskipun demikian, saya tidak menanganinya dalam doa untuk memahami mengapa hal itu tidak memiliki kuasa.

Ny. Eddy mengajarkan bahwa kita tidak boleh mengabaikan kejahatan tetapi harus 1) melihat apa yang coba dilakukannya; 2) mengetahui bahwa kejahatan tidak dapat melakukannya; 3) melihat bahwa kejahatan tidak melakukannya (lihat We Knew Mary Baker Eddy, Expanded Edition, Vol. I, hlm. 96).

Tidak lama sesudah klien saya membuat saya sadar akan ancaman tersebut, saya terbangun di tengah malam merasa seakan jantung saya ditusuk. Saya tidak bisa bernafas, dan rasa sakit itu sangat hebat. Saya menelpon seorang penyembuh Ilmupengetahuan Kristen. Dengan cepat sekali rasa sakit itu hilang, dan saya tidur lagi. Tetapi saya terbangun lagi, dan kali ini rasa sakit itu tidak tertahankan, seolah saya sedang sekarat. Dengan segera pikiran saya palingkan dari penanggapan kebendaan akan suatu tubuh yang menderita, dan mengangkatnya kepada Allah. Lalu datang pikiran untuk menangani kepercayaan akan ilmu sihir.

Saya segera ingat bahwa Allah, Roh, kebaikan yang tidak berhingga, adalah satu-satunya Budi, dan karena itu satu-satunya Budi yang memiliki kuasa untuk memerintahi setiap orang. Karena tidak ada banyak budi, maka tidak bisa ada pemindahan pikiran yang fana, penuh kebencian, atau merusak dari yang disebut budi ini kepada budi yang lain; saya tidak memiliki budi saya sendiri yang terpisah yang dapat dikendalikan budi yang lain. Kejahatan tidak pernah merupakan orang, tempat, atau benda, dan Allah hanya mengkomunikasikan hidup, kesehatan dan damai kepada manusia. Kejahatan tidak dapat memiliki kuasa, karena Allah, kebaikan, adalah Semua-dalam-semua; oleh sebab itu, setiap saat saya aman dalam penjagaan Kasih ilahi yang tidak dapat gagal.

Rasa sakit itu hilang, dan saya merasa nyaman kembali. Itulah akhir dari serangan tersebut. Kasus perceraian itu kemudian berjalan lancar dengan penyelesaian yang sangat selaras.

Saya sangat bersyukur untuk pemahaman yang diberikan Ilmupengetahuan Kristen kepada kita tentang keselaluhadiran dan kemahakuasaan Allah, kebaikan. Terang akan kebaikan ilahi ini mengisi semua ruang, menyingkirkan kegelapan kebencian, ketidakjujuran, penyakit, dan kehancuran; dan tidak ada tempat di mana terang kebaikan yang tidak berhingga tidak bisa dillihat dan dirasakan. Kita masing-masing dapat membuktikan ketidakkuasaan kejahatan dalam bentuk apa pun kalau kita sadar bahwa pemerintahan Allah atas seluruh ciptaan adalah di atas segala-galanya, mutlak, dan sepenuhnya baik dan selaras. Kalau kita berdiri teguh dalam pemahaman kita akan kebenaran ini dengan kasih yang bebas dari diri kepada Allah dan umat manusia, kesembuhan pasti terjadi.

Misi Bentara

Pada tahun 1903, Mary Baker Eddy mendirikan Bentara Ilmupengetahuan Kristen. Tujuannya: “untuk memberitakan kegiatan serta ketersediaan universal dari Kebenaran.” Definisi “bentara” dalam sebuah kamus adalah “pendahulu—utusan yang dikirim terlebih dahulu untuk memberitakan hal yang akan segera mengikutinya,” memberikan makna khusus pada nama Bentara dan selain itu menunjuk kepada kewajiban kita, kewajiban setiap orang, untuk memastikan bahwa Bentara memenuhi tugasnya, suatu tugas yang tidak dapat dipisahkan dari Kristus dan yang pertama kali disampaikan oleh Yesus (Markus 16:15), “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, 7 Juli 1956

Belajar lebih lanjut tentang Bentara dan Misinya.