Skip to main content Skip to search Skip to header Skip to footer

Pembaharuan rohaniah membawa kesembuhan jasmani

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 1 Januari 2021

Aslinya diterbitkan di edisi Desember 2020 majalah The Christian Science Journal.


Selama bertahun-tahun, di antara berbagai berkat yang saya peroleh dari mempelajari serta mempraktekkan Ilmupengetahuan Kristen terdapat kesembuhan jasmani. Saya harap suatu kesembuhan khusus yang saya sampaikan ini akan mendatangkan penghiburan dan ilham bagi orang lain. 

Sekitar enam tahun yang lalu, ketika tinggal di negara bagian yang lain, saudara perempuan saya, temannya, dan saya bertemu untuk makan malam. Dengan berjalannya waktu, saya mulai merasa sangat letih, dan sampai di rumah saya memutuskan untuk beristirahat sebentar. Tetapi saya bangun dua jam kemudian dan badan saya terasa sakit sekali dan saya sulit berdiri. 

Saya segera berdoa untuk diri sendiri, berpegang kepada fakta bahwa “Allah adalah kasih” (1 Yohanes 4:8). Suatu saat saya melihat memar di bagian tubuh saya yang lunak, dan kelihatannya menakutkan. Saya tahu bahwa saya harus  mengikuti anjuran “Palingkanlah pandangan dari tubuh” (Mary Baker Eddy, Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci, hlm. 261), karena penanggapan pancaindera tidak dapat memberi kesaksian yang benar tentang keadaan kesehatan kita. Saya tujukan pikiran saya kepada Allah—Kebenaran dan Kasih—dan apa yang diberitahukan Allah kepada saya tentang kesempurnaan saya sebagai cerminan Allah.

Selama beberapa minggu berikutnya saya tidak bisa bekerja di toko roti tempat saya bekerja, dan saya bersyukur untuk dukungan yang penuh kasih dari seorang penyembuh Ilmupengetahuan Kristen yang telah saya telpon untuk memberi doa penyembuhan Ilmupengetahuan Kristen. Keadaan saya begitu parah sehingga saya tidak bisa berdiri, berjalan, duduk, atau berbaring untuk waktu yang lama.

Suatu ketika saya merasa perlu sekali untuk pergi ke sebuah fasilitas perawatan Ilmupengetahuan Kristen sebagai tamu guna beristirahat dan belajar, agar mendapatkan pergantian suasana dan kalau perlu, perawatan. 

Ketika menelpon fasilitas itu  ternyata tidak ada kamar yang tersedia. Dalam keputusasaan, saya berpaling kepada Allah, dan datanglah pesan malaikat untuk mempercayai kasih Allah dan bersyukur. Pikiran saya segera dipenuhi rasa syukur untuk semua yang terlibat dan kebaikan yang dikaruniakan Allah kepada kita semua. Dalam satu jam saya menerima kabar bahwa ada kamar yang kosong. 

Saya juga sangat bersyukur untuk seorang teman yang bersedia mengantar saya dengan mobil ke fasilitas yang jaraknya tidak dekat itu, dan juga untuk ketenangan serta kedamaian yang mulai saya rasakan, dan untuk dukungan penuh kasih dari semua orang di fasilitas tersebut.   

Siang malam saya membaca, belajar, dan berdoa, kadang-kadang sambil berjalan di kamar saya. Dan saya menyanyi dari Buku Nyanyian Ilmupengetahuan Kristen. Khususnya syair dari Nyanyian no. 278 ini selalu menemani saya: 

Musafir, surgamu di dalam hati;    
   Pewaris abad dan anak zaman.
S’lalu dijaga serta diberkati,
   Tiap langkahmu dibimbing aman. 
(Peter Maurice, adapt., © CSBD) 

Dua minggu setelah tiba di fasilitas itu, saya menyadari bahwa sebentar lagi Asosiasi Ilmupengetahuan Kristen saya akan mengadakan pertemuan. Keinginan yang dalam untuk hadir dan doa yang teguh mendatangkan kekuatan yang diperlukan untuk melakukan perjalanan itu. Pada sore hari sebelum tanggal pertemuan saya meminta penyembuh Ilmupengetahuan Kristen yang lain untuk mengambil alih kasus saya, dan selama pertemuan saya merasakan kehadiran Kristus, roh Kebenaran dan Kasih, meluhurkan pikiran saya serta menguatkan pengertian rohaniah saya. 

Meskipun demikian, setelah kembali ke fasilitas perawatan Ilmupengetahuan Kristen untuk beristirahat dan belajar, kelihatannya saya tidak bisa memusatkan pikiran saat membaca buku Ilmupengetahuan dan Kesehatan. Penyembuh yang berdoa bagi saya mengingatkan saya bahwa pekerjaan penyembuhan itu bukan masalah kuantitas melainkan kualitas, dan menganjurkan agar saya mempelajari satu kalimat atau pernyataan dan tetap merenungkannya sampai kebenaran mulai timbul dalam pikiran saya. 

Selama ini, terutama di malam hari, kadang-kadang saya merasa seperti akan pingsan. Saya tahu bahwa saya harus dengan kuat membangkitkan diri sendiri dari kepercayaan bahwa hidup ada di dalam zat, dan dengan tegas saya menyatakan bahwa Allah adalah Kasih dan bahwa Dia adalah hidup saya—bahwa saya adalah anakNya yang sangat dikasihiNya. Dengan teguh saya berpegang pada ayat Alkitab ini: “Aku tidak akan mati, tetapi hidup, dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan TUHAN” (Mazmur 118:17).

Suatu hari, saat membaca Pelajaran Alkitab, saya bangun menyadari bahwa saya perlu lebih mengasihi—melihat dan mengasihi diri saya sendiri seperti yang dilakukan Allah, dan menyatakan kasih Allah kepada sesama. Suatu kepastian yang semakin bertumbuh akan kelayakan saya sebagai anak Allah mulai mematahkan perasaan tidak layak yang menghipnotis. Dan dalam mengasihi diri sendiri saya mendapati bahwa saya bisa benar-benar mengasihi sesama. Seperti ditunjukkan Ilmupengetahuan dan Kesehatan, “ ‘Saling mengasihi’ (1 Yohanes 3:23), adalah nasihat yang amat sederhana dan dalam sekali artinya, yang diberikan penulis yang diilhami ini” (hlm. 572).

Saya mulai mendatangi gedung utama fasilitas perawatan Ilmupengetahuan Kristen itu, dan pada hari-hari kerja saya membacakan kepada, atau mengunjungi, beberapa pasien atau orang yang tinggal di situ.  Di waktu makan saya senang duduk dengan orang lain dan ikut dalam percakapan yang meluhurkan pikiran, dan saya membantu orang lain setiap ada kesempatan. Saya juga menghadiri kebaktian hari Minggu, pertemuan kesaksian, dan acara nyanyi bersama yang diselenggarakan oleh relawan di fasilitas tersebut, atau pergi ke kebaktian di gereja di dekat situ. Dan saya bergabung dengan kelompok kecil pria dan wanita seminggu sekali pada sore hari untuk berbagi makanan kecil dan mengadakan percakapan ringan. 

Dalam pembelajaran saya, saya menemukan beberapa petikan dari Alkitab tentang ketenangan dan kepercayaan yang sangat mengilhami doa saya bagi diri sendiri dan umat manusia. 

Saat itu gejala-gejala penyakit tersebut mulai menghilang, dan saya merasa cukup kuat untuk berjalan-jalan setiap hari. Tidak lama sesudah itu saya berjalan-jalan dua atau tiga kali setiap hari, dan suatu perasaan akan keselarasan yang lebih luas memenuhi kesadaran saya.

Pada suatu hari, ketika sedang menyanyi bersama, saya dipenuhi perasaan yang tidak saya pahami, bahwa segalanya normal. Lalu datanglah kesadaran itu. Untuk pertama kali sesudah bertahun-tahun, setelah kehilangan beberapa anggota keluarga dan menjual rumah, saya merasakan suatu ikatan keluarga yang menakjubkan—kasih dari nenek, kakek, ibu, ayah, saudara laki-laki, saudara perempuan. Dan saya merasakan bahwa kami dipersatukan melalui Kasih ilahi yang satu. 

Sesudah enam minggu saya pulang dan akhirnya bekerja lagi di toko roti, pekerjaan yang menuntut saya berdiri berjam-jam. Dan beberapa teman sekerja mengatakan bahwa mereka melihat perubahan di dalam diri saya.

Penyembuhan ini seperti suatu kebangkitan dalam arti bahwa saya mendapatkan suatu pemahaman baru tentang apa hidup itu, dan apa artinya mengasihi diri sendiri, sesama, dan Allah. 

Kathleen M. Mitchener
Madison, Wisconsin, AS

Misi Bentara

Pada tahun 1903, Mary Baker Eddy mendirikan Bentara Ilmupengetahuan Kristen. Tujuannya: “untuk memberitakan kegiatan serta ketersediaan universal dari Kebenaran.” Definisi “bentara” dalam sebuah kamus adalah “pendahulu—utusan yang dikirim terlebih dahulu untuk memberitakan hal yang akan segera mengikutinya,” memberikan makna khusus pada nama Bentara dan selain itu menunjuk kepada kewajiban kita, kewajiban setiap orang, untuk memastikan bahwa Bentara memenuhi tugasnya, suatu tugas yang tidak dapat dipisahkan dari Kristus dan yang pertama kali disampaikan oleh Yesus (Markus 16:15), “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, 7 Juli 1956

Belajar lebih lanjut tentang Bentara dan Misinya.