Skip to main content Skip to search Skip to header Skip to footer

Suatu permintaan yang tidak dapat saya tolak

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 26 April 2021

Aslinya diterbitkan di edisi 12 Mei 2008 majalah Christian Science Sentinel


Doa, yang termotivasi dan diilhami oleh Kasih ilahi, tak dapat tiada pasti memberkati dan menyembuhkan. Saya menyaksikan hal ini bertahun-tahun yang lalu ketika tinggal di Kenya. 

Pada suatu Senin siang, seorang satpam menyampaikan suatu pesan dari teman saya sesama anggota gereja Ilmupengetahuan Kristen di Nairobi, yang berkebangsaan India. Pesan itu ditulis di secarik kertas kecil. Bunyi pesan itu adalah: “Pamela, putera teman saya sedang sekarat. Tolong datanglah, dan sembuhkan dia malam ini. Saya akan menjemputmu jam 6 sore ini.”

Mula-mula saya berpikir, “Saya tidak siap untuk ini. Saya tidak bisa melakukan hal ini.” Tapi di sisi lain, bagaimana saya dapat menolak permintaan yang mendesak dan penuh permohonan seperti itu? Dan pengharapan yang ditunjukkan teman saya itu sangat membesarkan hati. Dia tidak ragu bahwa anak laki-laki itu dapat sembuh melalui doa—melalui kuasa penyembuhan Kasih ilahi.

Saya juga berpikir tentang ilham yang besar yang saya peroleh selama akhir pekan yang lalu. Selama dua hari itu, saya menghabiskan seluruh waktu untuk pembelajaran rohaniah yang mendalam. Salah satu Kebenaran yang telah saya renungkan adalah suatu pernyataan di buku Ilmupengetahuan dan Kesehatan yang dengan jelas mendefinisikan wujud Allah. Pernyataan itu berbunyi, “Wujud Allah adalah ketidakberhinggaan, kebebasan, keselarasan, dan kebahagiaan yang tidak berbatas” (hlm. 481). Di tempat lain di buku itu Ny. Eddy menulis, “Manusia adalah pernyataan wujud Allah” (hlm. 470). Jadi saya berpikir, kalau wujud Allah adalah kebebasan dan keselarasan, maka manusia juga harus menyatakan kebebasan dan keselarasan yang sama. Inilah keadaan manusia yang diciptakan dalam gambar Allah, yang dibentuk oleh Roh.

Saya juga berpikir tentang suatu teks ceramah Ilmupengetahuan Kristen yang telah saya baca dan gunakan untuk berdoa selama akhir pekan itu, yang berjudul “Hal-hal yang menakjubkan sedang terjadi,” oleh Dorothy Rieke. Pokok pemikiran rohaniah dari ceramah itu adalah bahwa sesungguhnya kita dapat menolak untuk merasa was-was, khawatir, atau takut, tentang apa pun yang timbul dalam pengalaman kita yang kelihatannya sangat sulit, bahkan menyebabkan bencana, karena sebetulnya—yakni dalam kesejatian rohaniah yang diciptakan dan dipelihara Allah—hal-hal yang menakjubkan sedang terjadi. Mengapa? Karena Allah, kebaikan yang mahatinggi, selalu menyatakan diriNya secara aktif, dan kita adalah hasil dari pernyataan itu sendiri, kebaikan yang mahatinggi tersebut.

Lalu saya tertawa. Saya menyadari bahwa kesempatan ini datang kepada saya karena saya sudah siap. Saya mempunyai perasaan yang segar dan penuh suka cita bahwa tidak sesuatu pun dapat memisahkan manusia dari Allah, dan tidak sesuatu pun dapat menghalangi siapa pun untuk mencerminkan Allah secara aktif dan menyatakan kasihNya kepada semua yang diciptakanNya. 

Teman saya menjemput saya sesuai janjinya dan membawa saya berkendara ke daerah di Nairobi yang asing bagi saya. Dalam perjalanan dia juga bercerita bahwa para dokter yang menangani anak laki-laki tersebut mengatakan bahwa mereka sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Mobil kami diparkir, dan teman saya membimbing saya melalui halaman dan lorong yang diterangi dengan redup menuju suatu apartemen kecil. Di dalam apartemen itu dia memperkenalkan saya kepada ayah dan ibu anak itu. Saya segera tahu dari pakaian mereka bahwa mereka orang Muslim, dan hal ini kemudian dibenarkan oleh teman saya. Di wajah mereka tergambar ketakutan dan kecemasan.

Saya menyapa mereka dan bertanya, “Anda percaya kepada Tuhan, bukan?” “Ya,” jawab mereka, “Tentu saja.” “Nah,” saya melanjutkan, “Allah yang anda kasihi dan sembah adalah sumber dari hidup putera anda, dan Allah adalah pemelihara hidup. Jangan takut.” Kemudian saya berkata kepada mereka bahwa saya ingin pergi ke kamar tidur mereka dan berdoa sendiri dengan putera mereka. Mereka setuju.

Ketika saya memasuki kamarnya, anak laki-laki kecil itu terlihat sangat kurus dan hampir tidak bernyawa. Saya pegang tangannya dan berkata dengan lembut sekali, “Tahukah engkau, Allah sangat  mengasihimu, amat sangat mengasihimu. Dia memelukmu dengan sangat erat, dan Dia tidak akan pernah membiarkanmu pergi.” Lalu saya berkata kepadanya bahwa saya akan diam berdoa untuknya selama beberapa saat.

Saya duduk di tempat tidur di sebelahnya dan berpikir, “Baiklah Tuhan, Engkaulah yang berkuasa di sini, dan saya hanya akan menyaksikan apa yang sudah sejati tentang diriMu dan ciptaanMu. Engkau telah memberikan hidupMu kepada anak ini, dan Engkau selalu menyatakan diriMu secara aktif, dan tidak sesuatu pun dapat menghalangi pernyataan yang aktif akan Hidup ini—tidak ada diagnosa atau prognosa insani yang dapat menghalanginya.” Saya dengan jelas sekali memahami dan merasa pasti bahwa tidak sesuatu pun dapat mengoyak kesatuan sempurna antara Allah dengan pernyataan rohaniahNya, manusia.

Salah satu kebenaran yang datang dengan kuat kepada saya ketika berdoa itu adalah pernyataan dari buku Ilmupengetahuan dan Kesehatan, yang berbicara tentang kesatuan ini: “Sebagai setitik air satu dengan lautan, suatu sinar cahaya satu dengan matahari, demikian jugalah Allah dengan manusia, Bapa dengan anak, satu dalam wujud” (hlm. 361). Satu dalam wujud—anak kecil yang terkasih ini adalah “satu dalam wujud” dengan Allah, Ibu-Bapanya, dan tidak ada yang dapat mengubah fakta itu. Hidup adalah keadaannya dalam keabadian dan keadaannya sekarang.

Saya berdoa sampai saya benar-benar merasakan kedamaian dan ketenteraman, kira-kira selama 25 menit. Kemudian saya keluar dan berpamitan kepada orang tua anak itu dan dapat dengan yakin mengatakan kepada mereka, “Semua baik. Percayalah kepada Allah!”

Pesan itu ditulis di atas secarik kertas kecil. Bunyi pesan itu adalah: “Pamela, anak laki-laki teman saya sedang sekarat. Datanglah dan sembuhkan dia malam ini. Saya akan menjemputmu jam 6 sore ini.”

Saya tidak bertemu teman saya yang dari gereja itu sampai hari Minggu berikutnya, dan saya bertanya kepadanya, “Bagaimana keadaan teman kecil kita?” Dia kelihatannya agak heran mengapa saya bertanya, tetapi dia tersenyum lebar dan berkata, “Oh, dia sudah sembuh dan bermain dan makan dengan normal dan keadaannya baik!”

Saya merasa sangat diberkati telah menyaksikan kesembuhan ini, yang membuktikan dengan sangat jelas kuasa Kristus—Kebenaran Allah yang menyembuhkan, yang selalu tersedia untuk memulihkan kesehatan. Hal itu juga membuat saya merasa sangat rendah hati karena merupakan suatu contoh yang begitu jelas, tentang apa yang dikatakan Rasul Petrus kepada kita, “Allah tidak membedakan orang” (Kisah 10:34). Allah tidak mengetahui apakah kita berkulit hitam, putih, atau coklat; dari negara mana kita berasal; atau apakah kita orang Kristen, Buddha, Muslim, atau Yahudi. Allah adalah Kasih, Kasih ilahi yang universal, dan Kasih ini mengasihi dan mempertahankan identitas serta hidup dari setiap ciptaanNya dalam keadaan yang tidak bercela.

Misi Bentara

Pada tahun 1903, Mary Baker Eddy mendirikan Bentara Ilmupengetahuan Kristen. Tujuannya: “untuk memberitakan kegiatan serta ketersediaan universal dari Kebenaran.” Definisi “bentara” dalam sebuah kamus adalah “pendahulu—utusan yang dikirim terlebih dahulu untuk memberitakan hal yang akan segera mengikutinya,” memberikan makna khusus pada nama Bentara dan selain itu menunjuk kepada kewajiban kita, kewajiban setiap orang, untuk memastikan bahwa Bentara memenuhi tugasnya, suatu tugas yang tidak dapat dipisahkan dari Kristus dan yang pertama kali disampaikan oleh Yesus (Markus 16:15), “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, 7 Juli 1956

Belajar lebih lanjut tentang Bentara dan Misinya.