Kitab Kisah Para Rasul mencatat bahwa setelah Stefanus (salah satu orang Kristen awal) dirajam, terjadi penganiayaan besar terhadap gereja Kristen muda di Yerusalem. Sebagian besar orang percaya tersebar ke seluruh wilayah, melarikan diri demi menyelamatkan nyawa mereka (lihat Kisah Para Rasul 8:1).
Meskipun terjadi krisis ini, kitab Kisah Para Rasul tetap melanjutkan dengan kisah para pengikut Yesus Kristus yang membagikan iman baru mereka, menjadikan murid-murid baru, dan menanam benih gereja-gereja baru di mana pun mereka berada. Apa yang mungkin terasa sebagai situasi yang menakutkan — meninggalkan hal yang dikenal dan menuju ketidakpastian — ternyata adalah langkah menuju ekspansi luar biasa gereja, yang memberikan pijakan bagi Kekristenan di seluruh Kekaisaran Romawi.
Apa yang dapat kita pelajari hari ini dari orang-orang Kristen awal ini? Dapatkah tantangan modern terhadap cabang-cabang gereja Ilmupengetahuan Kristen menjadi mempercepat untuk ekspansi?
Selama enam tahun saya bekerja di Departemen Kegiatan Gereja di Gereja Induk, saya berbicara dengan banyak anggota gereja cabang yang menghadapi tantangan dari bentuk lain yang bergerak lebih lambat namun sama pentingnya — yaitu, menyusutnya jumlah keanggotaan. Tantangannya termasuk jumlah anggota yang sedikit dengan tanggung jawab yang besar, kesulitan memenuhi persyaratan dalam Buku Pedoman Gereja Induk untuk menjadi sebuah gereja atau sidang jemaat, dan dalam banyak kasus, gedung yang terlalu besar untuk jumlah jemaat dan terlalu mahal perawatannya.
Tidak ada waktu, tempat, atau budaya di mana lembaga Gereja ini tidak dapat melayani kebutuhan-kebutuhan rohaniah dan sementara yang bersinggungan dengannya.
Percakapan ini menjadi kesempatan untuk merenung bersama mengenai bagaimana Gereja, sebagai ide spiritual yang kekal, dapat diwujudkan secara nyata melalui kesinambungan lembaga manusia — sebuah lembaga yang, jika dipahami dengan benar, tidak bisa mengalami kemunduran sebagaimana ide rohaniah yang menghidupnya.
Ide rohaniah tentang Gereja ini sebagian didefinisikan dalam buku Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci karya Mary Baker Eddy sebagai: “Bangunan Kebenaran dan Kasih” (hlm. 583). Ide ini diwujudkan dalam organisasi gereja yang aktivitasnya dipenuhi oleh Kebenaran dan Kasih, dan menunjukkan manfaatnya dengan meluhurkan, membangunkan, dan menyembuhkan anggotanya serta masyarakat. Ide rohaniah ini bersifat tak terbatas, sehingga tidak ada waktu, tempat, atau budaya di mana lembaga ini tidak dapat melayani kebutuhan rohaniah dan sementara yang bersinggungan dengannya. Kapasitas untuk beradaptasi ini berasal dari Kasih ilahi, karena ide Gereja, seperti halnya Kasih ilahi itu sendiri, adalah “tidak berat sebelah dan universil dalam penyesuaianNya dan pemberian karuniaNya” (Ilmupengetahuan dan Kesahatan, hlm. 13).
Kitab Suci memberikan banyak contoh tentang kuasa penyesuaian dan anugerah dari Kasih untuk melindungi dan membimbing lembaga gereja (dalam berbagai bentuk) di masa-masa sulit. Bangsa Israel, yang dikejar oleh tentara Mesir, menemukan Laut Merah terbelah di hadapan mereka; Elia, yang bersembunyi di gua dan merasa bahwa ia pengikut Allah yang terakhir, mendengar suara Allah yang membimbingnya kepada ribuan lainnya; Yesus, yang menghadapi perlawanan terhadap karya penyembuhannya, menang melalui kasih yang tidak mementingkan diri terhadap kebencian yang ia hadapi; Petrus dibebaskan dari penjara melalui doa para anggota gereja; dan Paulus, yang mendirikan gereja di seluruh Kekaisaran Romawi, memberikan panduan praktis dalam surat-suratnya untuk membantu setiap gereja menghadapi tantangan yang unik.
Kisah-kisah ini menunjukkan sesuatu tentang kisah ganda dari ide Gereja dan lembaga gereja, dan menunjukkan bagaimana sifat ide ilahi yang lengkap, tak terganggu, dan kekal melindungi setiap ekspresi rohaniah dari lembaga tersebut, membimbing penyesuaian agar tetap menjadi kekuatan penyembuhan yang aktif di masyarakat dan melindunginya dari kekuatan yang menentangnya.
Sifat adaptif dari pengembangan ganda ini menjadi nyata bagi saya melalui cahaya yang diberikan Ilmupengetahuan dan Kesehatan atas kisah para murid Yesus yang melihat-Nya setelah kebangkitan, dan setelah semalaman menangkap ikan tanpa hasil, tiba-tiba menemukan jala mereka penuh ikan (lihat Yohanes 21:1–14). Ilmupengetahuan dan Kesehatan menjelaskan: “Ketika melihat Kembali Kristus, Kebenaran, di pantai waktu, mereka itu disanggupkan berbangkit sedikit dari penangapan pancaindera yang fana, atau keadaan budi yang dikuburkan dalam zat, mencapai kebaharuan hidup sebagai Roh” (hlm. 35).
Saya sudah akrab dengan kisah Alkitab tentang tangkapan ikan yang luar biasa dan kutipan dari Ilmupengetahuan dan Kesehatan itu. Namun, saat saya membaca ini tidak lama setelah memulai pekerjaan saya di Departemen Kegiatan Gereja, kata-kata benar-benar menarik perhatian saya. Saat saya merenungkan pengalaman para murid, saya melihat bahwa pengenalan baru terhadap ide rohaniah akan selalu mengangkat kesadaran manusia, dan dari sudut pandang baru itu, tampak pandangan baru tentang penyesuaian dan anugerah Kasih dalam pengalaman manusia.
Terbuka terhadap kebaruan semacam itu adalah pola pikir yang umumnya saya temukan di antara para anggota gereja cabang yang berhasil melawan klaim kemunduran. Mereka menjangkau dan menemukan pandangan baru tentang ide rohaniah Gereja; dan pada saat yang sama, seperti para murid di perahu mereka, ilham yang mereka rasakan mengungkapkan sesuatu yang baru tentang bagaimana melanjutkan pekerjaan mereka.
Bagaimana hal ini terwujud berbeda-beda untuk setiap gereja cabang dan sidang jemaat, tetapi hampir dalam setiap kasus, hal ini bermula dari anggota yang berdoa dengan bentuk pertanyaan seperti: Apa yang Tuhan ingin gereja kita lakukan dan menjadi hari ini?
Karena struktur Gereja adalah Kasih, para anggota dapat memeriksa bagaimana mereka mewujudkan kasih.
Pertanyaan ini menuntut doa dan menghentikan kecenderungan manusia untuk fokus pada masa lalu atau masa depan. Ini mengalihkan upaya dari fokus pada hasil menjadi terlebih dahulu mencari persekutuan dalam doa dengan Tuhan. Ini melibatkan pendekatan rendah hati kepada Tuhan, menyingkirkan rasa takut dan perencanaan manusiawi, dan dengan saksama mendengarkan bimbingan-Nya.
Mencapai keadaan mudah menerima dan ketaatan ini biasanya memerlukan pemeriksaan diri secara sadar pada bagian para anggota. Karena struktur Gereja adalah Kebenaran, anggota gereja cabang dapat memeriksa bagaimana mereka mewujudkan kejujuran. Apakah anggaran dasar dan urusan proses organisasi sesuai dengan jumlah anggota saat ini, dan bukan warisan dari puluhan tahun yang lalu? Apakah para anggota setia terhadap rotasi jabatan, proses demokratis yang jujur, laporan keuangan yang transparan, dan diskusi gereja yang menerima pandangan setiap individu?
Karena struktur Gereja juga adalah Kasih, para anggota dapat menguji bagaimana mereka mewujudkan kasih. Apakah kesan dan kebutuhan pengunjung diutamakan di atas kebiasaan dan kenyamanan anggota, sehingga pengunjung tidak merasa bahwa gereja hanya untuk orang dalam? Salah satu cara untuk mendekati hal ini adalah dengan memikirkan pengalaman pengunjung dari awal hingga akhir. Ketika pengunjung pertama kali mempertimbangkan untuk hadir, apakah mereka dapat dengan mudah menemukan informasi yang diperlukan secara online atau di media lokal? Saat tiba, apakah jelas di mana tempat parkir dan pintu masuk? Selama kebaktian, apakah ada panduan yang cukup agar pengunjung tahu apa yang sedang terjadi dan apa yang akan datang selanjutnya? Setelah kebaktian, jika pengunjung ingin berbicara lebih lanjut, apakah anggota bersedia menyesuaikan rencana mereka dan pergi makan bersama?
Bekerja dengan pertanyaan-pertanyaan ini dan terbuka terhadap hal-hal baru menciptakan ruang bagi “penyesuaian dan anugerah” dari Kasih. Kegiatan gereja mungkin akan tampak berbeda dari sebelumnya, tetapi ini sesuai dengan pengalaman dalam Alkitab dan merupakan hasil alami dari “melihat kembali Kristus di pantai waktu” — menunjukkan kepada dunia relevansi gereja kita saat ini dan tidak memberi ruang bagi kesan kemunduran.
Berikut contohnya. Setelah lima puluh tahun mengalami pertumbuhan, sebuah gereja cabang di Amerika Serikat mengalami dua dekade kemunduran yang tajam. Hanya sedikit orang yang bisa menjabat, dan sebagian besar kursi di auditorium besar gereja kosong selama kebaktian.
Kemudian seorang anggota baru gereja, yang bersyukur atas kesembuhan dari kecanduan dan penyakit yang membawanya kembali ke Ilmupengetahuan Kristen dan ke gereja, menghadiri rapat urusan gereja pertamanya. Terkejut oleh pertengkaran antaranggota, ia menunjukkan kontradiksi antara perilaku para angota dan ajaran Alkitab serta buku ajar Ilmupengetahuan Kristen.
Para anggota sepakat bahwa sesuatu perlu diubah, dan mereka memulainya dengan doa. Mereka mulai berdoa secara pribadi dan mengadakan pertemuan mingguan untuk berdoa bersama dan mendiskusikan apa yang singkapkan oleh doa-doa pribadi mereka. Melalui proses ini, para anggota mulai secara jujur membagikan apa yang tersingkap melalui doa mereka tentang pengalaman mereka di gereja — bagaimana mereka melihat beban, bukan sukacita; rutinitas, bukan inspirasi; dan bagaimana terkadang mereka bahkan tidak ingin hadir.
Ketika menjadi jelas bahwa pendekatan organisasi gereja mereka yang kaku adalah tiruan dari Gereja yang sejati, dua hal terjadi. Pertama, mereka sadar bahwa pendekatan mekanis terhadap gereja telah menyesatkan mereka dalam penggunaan waktu dan tenaga, dan telah merusak kesatuan serta keharmonisan mereka. Kedua, mereka menjadi bertekad untuk memulihkan pemahaman yang mengilhami tentang Gereja dan menemukan cara baru yang dibimbing secara ilahi agar gereja mereka dapat kembali memainkan peran vital di masyarakat.
Dengan berlandaskan pada pertemuan metafisika mereka, para anggota mulai mengambil langkah praktis untuk melakukan perubahan. Mereka menyesuaikan ukuran gedung dan struktur organisasi agar sesuai dengan jumlah anggota, menjual gedung besar mereka, beralih dari Gereja Cabang, Gereja Kristus, Ahli Ilmupengetahuan, menjadi sidang jemaat Ilmupengetahuan Kristen, dan merevisi anggaran dasar mereka agar mencerminkan jenis gereja yang mereka inginkan saat ini, bukan seperti tahun-tahun lalu saat anggaran dasar itu ditulis.
Mereka menyewa tempat di distrik komersial pusat kota dan menggunakan hasil penjualan gedung untuk mempekerjakan pustakawan Ruang Baca selama 40 jam per minggu. Kegiatan dan produk Ruang Baca disambut baik oleh masyarakat, bahkan wali kota hadir dalam upacara pemotongan pita.
Ketika pemilik gedung menjual properti beberapa tahun kemudian, para anggota mulai memikirkan Gereja permanen. Dengan doa dan kesabaran, mereka akhirnya membangun gereja sekaligus Ruang Baca di jalan utama kota yang ramai. Properti itu mencakup taman yang sudah digunakan masyarakat sebagai tempat doa dan refleksi. Kebaktian disesuaikan agar mencerminkan budaya lokal dengan gaya informal, namun tetap mengikuti tata cara kebaktian dalam Buku Pedoman Gereja. Para anggota mulai ikut serta dalam bazar jalanan utama dan acara tahunan masyarakat, yang membawa ratusan anak-anak dan orang dewasa ke dalam Ruang Baca dan gereja.
Selama sepuluh tahun terakhir, mereka terus waspada untuk menjaga komitmen terhadap kebaruan — selalu terbuka pada pertanyaan tentang seperti apa gereja mereka seharusnya hari ini, agar tetap segar dan mengikuti zaman, sehingga masyarakat dapat mengenalinya sebagai sumber yang menarik dan layak untuk diselidiki. “Kami siap berubah dan beradaptasi kapan saja,” kata seorang anggota. Melalui upaya ini, semangat kasih, komitmen, dan kesatuan meresapi aktivitas mereka. Para anggota mereka bertumbuh dan terus maju menjauhi klaim kemunduran.
Tidak semua contoh yang saya temui dalam enam tahun pekerjaan saya mengikuti peta yang sama. Tentu saja, pengalaman setiap cabang itu individual. Doa: “Apa yang Allah ingin gereja kita lakukan dan menjadi hari ini?” telah dijawab dengan berbagai cara. Namun, kesediaan yang tulus untuk “mengenali Kristus secara baru” dan meninggalkan yang lama demi yang baru — seperti para orang percaya yang melarikan diri dari Yerusalem berabad-abad lalu — selalu membuka pemikiran terhadap “penyesuaian dan anugerah” dari Kasih, yang mengungkap kesinambungan gereja yang tak terputus dan membuka jalan ke depan.
