Bertahun-tahun yang lalu, saya mulai mengalami gejala pada kaki dan telapak kaki yang membuat saya sulit berjalan. Dalam mempelajari Ilmupengetahuan Kristen, saya belajar bahwa Tuhan adalah sumber sejati dari kemampuan kita, maka saya bersandar pada Tuhan agar saya dapat terus menjalankan tugas-tugas saya sebagai guru sekolah dan ibu dari anak-anak saya yang masih kecil.
Kata-kata Nabi Yesaya ini memberi saya kekuatan: “Sebab Aku, Tuhan, Allahmu, memegang tangan kananmu dan berkata kepadamu, Janganlah takut, Akulah yang menolong engkau.” (Yesaya 41:13).
Saya tahu bahwa penyembuhan sebenarnya adalah “proses dari dalam” yang membutuhkan keterbukaan untuk menerima ilham dan kemauan untuk mengangkat pikiran kepada kesadaran ilahi. Dengan bantuan seorang penyembuh Ilmupengetahuan Kristen, saya berdoa setiap hari untuk mengatasi rasa takut dengan memahami bahwa Tuhan adalah Semua dan “tidak ada yang lain kecuali Dia” (Ulangan 4:35).
Penyembuhan itu tidak datang dengan segera. Ada hari-hari yang lebih baik daripada hari-hari lainnya, tetapi saya tetap gigih, karena tahu bahwa tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan, penyembuhan pasti akan terjadi. Saya memandang tantangan ini sebagai kesempatan untuk bertumbuh secara rohaniah dan setiap aktivitas sebagai kesempatan untuk menunjukkan jawaban atas pertanyaan, “Adakah sesuatu yang mustahil bagi Tuhan?” (Kejadian 18:14). Setiap kali saya merasa frustrasi, saya tahu bahwa keputusasaan itu sebenarnya bukanlah pikiran saya, karena pikiran manusia adalah pernyataan Budi Ilahi dan selalu menegaskan kehadiran serta kuasa kebaikan yang tak berhingga.
Pada suatu saat, ketika saya mulai berpikir bahwa mungkin saya harus mengakhiri karier mengajar saya, saya memenangkan penghargaan mengajar tingkat negara bagian. Ini merupakan suatu kehormatan yang luar biasa, tetapi mengharuskan saya bekerja selama satu minggu di musim panas untuk Departemen Pendidikan Negara Bagian, merancang paket pembelajaran, dan memimpin berbagai lokakarya bagi guru-guru lain. Saya bertanya-tanya bagaimana saya bisa memenuhi semua persyaratan ini, termasuk berjalan ke atas panggung untuk menerima penghargaan saya. Merasa terjebak dan takut, saya berdoa dengan sungguh-sungguh untuk mengetahui apa yang harus saya lakukan selanjutnya.
Musim panas itu, dengan doa dan ketekunan, saya berhasil menyelesaikan persyaratan tersebut. Namun, beberapa anggota keluarga dan teman khawatir akan kesehatan saya dan mendesak saya untuk mencari diagnosis medis. Dengan enggan saya setuju, dan dokter yang memeriksa saya mendiagnosis kondisi tersebut sebagai sklerosis ganda. Beliau mengatakan tidak ada pengobatan untuk penyakit itu.
“Tetaplah berpegang pada agama Anda,” katanya, “karena pada saat bantuan medis tersedia, Anda akan sembuh.” Kemudian ia merujuk saya ke seorang ahli saraf, yang memeriksa saya lagi dan menyarankan saya untuk menjalani tes. Saya pergi ke tempat tes tersebut, tetapi setelah mempertimbangkannya lebih lanjut, saya memutuskan untuk tidak menjalani tes itu. Saya menyadari bahwa saya tidak ingin ada catatan tertulis yang memberi saya label sebagai penderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan, karena saya tahu dalam hati bahwa “bagi Allah segala sesuatu mungkin” (Matius 19:26).
Dalam perjalanan pulang, saya teringat akan penyembuhan putri Yairus, yang kepadanya Yesus Kristus berkata, “Jangan takut! Percaya saja dan anakmu akan diselamatkan” (Lukas 8:50). Saya menyadari bahwa Yesus tidak pernah menyebutnya sedang sekarat atau sudah mati; Ia berkata bahwa gadis itu sedang tidur. Hal ini membantu saya memahami poin penting bahwa masalahnya bukanlah pada tubuhnya—atau pada tubuh saya. Sebaliknya, yang perlu disadarkan secara rohani adalah pikiran, bahwa Budi ilahi memerintah kita masing-masing dan merupakan sumber kehidupan serta gerakan yang sesungguhnya.
Ketika saya tiba di rumah, saya menelepon penyembuh tersebut, yang berbicara kepada saya dengan penuh kasih dan keyakinan teguh bahwa saya akan disembuhkan. Saya ingat dia mengutip ayat ini dari Alkitab: “Allah Tuhanku itu kekuatanku. Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membuat aku mampu berjalan di tempat tinggi” (Habakuk 3:19).
Saat saya menyerahkan diri kepada Roh ilahi dengan kepercayaan penuh, pada saat itu juga saya menyadari identitas sejati saya sebagai cerminan Tuhan, yang sempurna dan utuh.
Itu adalah titik balik. Selama beberapa minggu berikutnya, kaki saya menjadi lebih kuat. Telapak kaki saya, yang sebelumnya mengarah ke dalam, mulai menjadi lurus. Bergerak menjadi lebih mudah, dan pada bulan September tahun itu semua gejala telah hilang. Saya bisa berjalan melintasi panggung untuk menerima penghargaan mengajar saya. Penyembuhan saya tuntas, dan saya terus mengajar di sekolah selama tiga dekade berikutnya.
Beverly Wood Coyle
Vienna, Virginia, AS
Saya menyaksikan penyembuhan ibu saya seperti yang ia ceritakan. Ada banyak pasang surut, tetapi mengetahui bahwa tidak ada pengobatan medis yang tersedia untuk MS (Multiple Sclerosis) justru semakin memperkuat keyakinan keluarga kami pada Ilmupengetahuan Kristen. Hal ini mendukung ibu saya, saat ia membalikkan vonis yang menghancurkan itu dengan berpaling sepenuh hati kepada Tuhan. Pada suatu saat, saya melihat ibu saya beralih dari merangkak menjadi berjalan berkat doa. Beberapa minggu kemudian, keluarga kami melakukan pendakian sejauh lima mil melintasi kota New York. Pengalamannya memang membuktikan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.
Caitlin Coyle Reidway
Waxhaw, North Carolina, AS
