Skip to main content Skip to search Skip to header Skip to footer

Penglihatan dipulihkan

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 29 November 2021

Aslinya diterbitkan di edisi Juni, 2021 majalah The Christian Science Journal


Saya sangat bersyukur memiliki Ilmupengetahuan Kristen di dalam hidup saya. Selama bertahun-tahun saya telah mengalami banyak kesembuhan, yang meliputi penyelesaian masalah perhubungan insani sampai penyembuhan tantangan jasmaniah, dan pelajaran rohaniah yang saya dapatkan telah berkali-kali menunjukkan kepada saya bahwa saya dapat mempercayakan tantangan apa pun, besar atau kecil, kepada Allah.

Kira-kira satu setengah tahun yang lalu, misalnya, salah satu mata saya bermasalah. Dalam waktu singkat mata tersebut sama sekali tidak bisa melihat. Di saat yang sama, saya merasa bertanggung jawab untuk menyelesaikan suatu masalah sulit yang berkaitan dengan pekerjaan saya, dan merasa sangat berkecil hati dan marah akan hal tersebut. Saya tahu bahwa memendam perasaan seperti itu tidaklah benar, dan sudah pasti tidak sesuai dengan ajaran Ilmupengetahuan Kristen.

Saya menghubungi seorang penyembuh Ilmupengetahuan Kristen untuk berdoa bagi saya, dan dia meyakinkan saya bahwa kesembuhan itu dapat terjadi. Penyembuh itu juga menunjukkan fokus yang benar untuk doa saya: Kita berdoa bukan untuk memperbaiki zat, tetapi untuk “melihat” dengan jelas. Dan yang perlu saya lihat adalah kesejatian rohaniah—bahwa “Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik” (Kejadian 1:31). Allah menciptakan saya dalam gambar dan keserupaanNya, rohaniah dan sempurna, dan tidak sesuatu pun dapat merubah hal tersebut.

Saya juga melihat bahwa perasaan kecil hati dan kemarahan yang saya pendam sesungguhnya tidak ada kaitannya dengan orang lain, meskipun kelihatannya demikian bagi saya, melainkan berkaitan dengan pemikiran saya mengenai hal tersebut. Saya sadar bahwa kepercayaan bahwa seseorang dapat bersifat tidak jujur dan suka memanipulasi adalah suatu pemahaman yang keliru tentang manusia ciptaan Allah, mengingat bahwa Allah menciptakan saya dan semua anak-anakNya dalam keserupaanNya. Kepercayaan ini tidak lain hanyalah saran palsu dari budi fana, suatu budi yang berlawanan dengan Allah yang menyatakan bahwa ada banyak budi yang dapat berseteru. Tetapi, seperti yang telah saya pahami dalam Ilmupengetahuan Kristen, hanya ada satu Allah, satu Budi, yang memerintahi manusia dengan selaras. Tidak ada “budi-budi kecil” yang memiliki kuasa sendiri untuk mengendalikan atau mengganggu. Saya berpegang kepada kebenaran-kebenaran ini dan membiarkan semua itu menguasai pikiran saya.

Ketika berdoa, saya menemukan banyak petikan di buku ajar Ilmupengetahuan Kristen, Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci, karangan Mary Baker Eddy, yang sangat membantu. Dan saya diingatkan bahwa dalam berdoa kita mulai dengan Allah, dengan menyadari kesempurnaan Allah dan manusia serta hubungan yang tidak terpisahkan antara Allah dan manusia. Saya melihat semakin jelas, bahwa kita tidak mempelajari Ilmupengetahuan Kristen untuk mencoba kembali kepada Allah. Kita sudah satu dengan Allah, diselimuti Kasih ilahi. Kita tidak berusaha merohanikan pikiran untuk memperbaiki tubuh, atau menghilangkan penghalang. Kalau kita membiarkan pikiran kita dirubah oleh Kebenaran ilahi, tubuh secara wajar menanggapi dengan menyatakan kesehatan yang normal.

Selain itu, dalam Ilmupengetahuan dan Kesehatan, Ny. Eddy menunjukkan bahwa ketika Yesus Kristus menyembuhkan, ia melihat kesesatan yang ada dalam pikiran yang perlu disembuhkan dan membuangkannya dengan melihat bahwa sesungguhnya manusia bersifat tidak berdosa dan sempurna. Yesus tidak memenuhi pikirannya dengan penyakit, atau berusaha mengetahui penyebabnya, dengan demikian memberi sejarah kepada penyakit. Ini menyadarkan saya untuk bangun dan tidak berkubang dalam masalah itu. Jangan tinggal dalam masalah itu—tandai masalah tersebut sebagai “tidak sejati” dan datanglah kepada kebenaran wujud. Dengan melakukan hal ini, kita menjadi saksi akan Kebenaran ilahi, yang merupakan hakikat doa.

Ketika penyembuh dan saya membicarakan perumpamaan Yesus agar tidak menyimpan anggur baru di botol yang lama, kami membahas bahwa ilham rohaniah selalu menghasilkan kebaharuan—dalam cara berpikir dan menjalani hidup yang kurang kebendaan. Kita benar-benar perlu menjalani hidup yang mencerminkan kebaharuan rohaniah ini, yang merupakan arti sesungguhnya dari “menanggalkan manusia lama” dan “mengenakan manusia baru” (lihat Efesus 4:22-24).

Ketika saya berusaha melakukan hal tersebut saya menjadi lebih bahagia dan bersyukur untuk kebaikan yang saya alami dalam hidup saya. Selain itu, saya bangun menyadari bahwa bagaimanapun juga saya tidak perlu menangani masalah yang berkaitan dengan pekerjaan saya itu; saya hanya perlu menyingkir dan menyerahkan semua itu kepada Allah. Saya merasa damai mengetahui bahwa Kebenaran dan Kasih ilahi menyelesaikan setiap persoalan dengan cara yang terbaik bagi setiap orang.

Dengan cepat penglihatan saya menjadi lebih baik. Dalam beberapa bulan penglihatan di mata yang bermasalah itu pulih, jelas seperti mata saya yang lain, dan tetap demikian.

Saya sangat bersyukur untuk pertumbuhan dalam pemahaman saya tentang Allah dan tentang diri saya sebagai ide Allah yang bersifat rohaniah dan sempurna. Saya benar-benar merasa diberkati oleh dukungan yang menakjubkan yang kita miliki dari Gereja Induk dan cabang-cabangnya, dari para penyembuh Ilmupengetahuan Kristen, dan dari kesaksian penyembuhan yang telah dibagikan oleh orang lain melalui majalah-majalah Ilmupengetahuan Kristen kita.

Cecil Cranston
Victoria, British Columbia, Kanada

Misi Bentara

Pada tahun 1903, Mary Baker Eddy mendirikan Bentara Ilmupengetahuan Kristen. Tujuannya: “untuk memberitakan kegiatan serta ketersediaan universal dari Kebenaran.” Definisi “bentara” dalam sebuah kamus adalah “pendahulu—utusan yang dikirim terlebih dahulu untuk memberitakan hal yang akan segera mengikutinya,” memberikan makna khusus pada nama Bentara dan selain itu menunjuk kepada kewajiban kita, kewajiban setiap orang, untuk memastikan bahwa Bentara memenuhi tugasnya, suatu tugas yang tidak dapat dipisahkan dari Kristus dan yang pertama kali disampaikan oleh Yesus (Markus 16:15), “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, 7 Juli 1956

Belajar lebih lanjut tentang Bentara dan Misinya.