Skip to main content

Masalah tulang belakang sembuh

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 22 April 2014

Aslinya diterbitkan di edisi Januari 2014 majalah The Christian Science Journal


Banyak orang mendapati bahwa doa tidak hanya mendatangkan penghiburan dan rasa damai di tengah penderitaan, tetapi juga membawa kesembuhan. Tetapi bagaimana jika kita berdoa namun sepertinya tidak membawa hasil?

Bertahun-tahun yang lalu, saya menghadapi tantangan berat dalam menjalani suatu hubungan. Suatu hari saya tiba-tiba terjatuh di lantai dengan rasa sakit yang amat hebat. Saya merasa seperti ada suatu bagian di tulang belakang saya yang tergeser, dan bagian atas serta bagian bawah tubuh saya tidak lagi terhubung! Keadaan itu sangat menakutkan dan menyakitkan.

Anak perempuan saya, yang saat itu bersama saya, menelepon seorang penyembuh Ilmupengetahuan Kristen dan menempelkan telepon tersebut ke telinga saya. Kata-kata penyembuh, yang meyakinkan saya akan kasih Allah kepada saya serta penjagaanNya yang tetap, sangatlah menghibur. Begitu ketakutan saya hilang, punggung saya kembali normal, rasa sakit itu hilang, dan saya dapat berdiri lagi.

Tetapi, keesokan harinya, hal yang sama terulang kembali. Meskipun keadaan itu dapat segera saya atasi melalui doa, kejadian tersebut mulai muncul dengan lebih sering. Saya telah mengalami berbagai kesembuhan yang cepat melalui doa, tetapi seakan doa tidak mempan untuk mengatasi keadaan ini. Bahkan keadaannya semakin memburuk—sampai-sampai saya tidak bisa berdiri atau berjalan, dan terlentang di atas tempat tidur, dirawat oleh ibu saya di rumahnya. Doa saya sepenuhnya terfokus agar saya dapat menahan rasa sakit manakala gambaran mengenai pergeseran tulang belakang muncul.

Oleh karena itu, alih-alih berdoa mengenai keadaan punggung saya, saya sadar harus memahami dengan lebih baik apa yang ada di dalam pikiran saya yang “yang tidak menyerupai ‘yang diurapi’”—atau tidak menyerupai Kristus, pesan-pesan malaikat Allah yang datang kepada kita setiap saat (Mary Baker Eddy, Miscellaneous Writings 1883–1896, hlm. 355). Kristus Yesus menyembuhkan berbagai masalah fisik yang dihadapi orang saat ini—baik yang mendadak maupun yang menahun, yang bersifat bawaan, menurun, yang menular maupun yang sudah berlangsung lama. Dan dia mengatakan bahwa setiap orang yang mengikuti ajarannya akan dapat menyembuhkan seperti yang dilakukannya (lihat Yoh. 14:12).

Sementara saya mendengarkan suara Kristus yang kecil dan halus, saya mulai menyadari bahwa selama ini saya percaya bahwa kebahagiaan, keberhasilan, dan harga diri saya dapat dikendalikan atau diremehkan oleh orang lain. Saya sangat membenci dan merasa terbebani oleh gambaran tersebut. Tetapi Kristus Yesus mengajarkan bahwa Allah, Roh sajalah yang merupakan sumber kebaikan dan bahwa Allah adalah mahakuasa. Oleh karena itu kita tidak pernah dapat kehilangan kebaikan. Suplai kita, kesempatan kita, dan harga diri kita semuanya datang dari Allah, dan karena itu tidak dapat diremehkan, hilang, dirampas, atau bersifat terbatas.

Saya juga menyadari bahwa kemampuan saya untuk berdiri dan bergerak secara bebas tidak dikendalikan oleh otot dan tulang, dan karena itu tidak dapat digerogoti oleh kepercayaan mengenai penyakit atau pertambahan umur. Dalam Kisah Para Rasul 17:28, Rasul Paulus mengingatkan kita bahwa “kita hidup, kita bergerak, kita ada” di dalam Roh saja, sehingga segala pergerakan haruslah bebas, tanpa rasa sakit, dan selaras. Ini adalah warisan yang dikaruniakan Allah bagi kita, yang tidak pernah dapat hilang. Sementara hal ini menjadi jelas bagi saya, kebencian, kemarahan, dan beban yang saya rasakan hilang begitu saja. Saya melihat bahwa kasih Allah yang lembut merangkul dan mendukung kami berdua.

Meskipun demikian, saya masih belum bisa duduk atau bergerak tanpa rasa sakit, dan gambaran yang menakutkan akan tulang belakang yang bergeser terus datang, terkadang disertai rasa sakit yang hebat, sehingga keadaan itulah yang memenuhi doa saya agar dapat bertahan.

Lalu, pada suatu hari, saya merenungkan makna pernyataan, “Allah, Roh, adalah Semua-dalam-semua” (Mary Baker Eddy, Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunciuntuk Kitab Suci, hlm. 275)—Dia adalah satu-satunya Budi, yang menyampaikan kebaikan saja kepada setiap orang di antara kita—saya sadar bahwa Allah tidak akan pernah menyampaikan rasa sakit atau fungsi yang tidak benar atau terganggu. Oleh karena itu gambaran tentang pergeseran dan rasa sakit itu hanyalah suatu bentuk hipnotisme semata. Saya tahu bahwa panca indera, pendapat insani, iklan obat-obatan, dan diagnosa medik seringkali menghipnotis kita dengan gambarannya yang menakutkan.

Tiba-tiba saya ingat ceritera tentang seorang penghipnotis yang dapat membuat orang percaya bahwa mereka digigit ular cobra atau ditusuk. Jika orang membiarkan pikirannya dikendalikan, maka dia akan benar-benar melihat, merasakan dan mengalami apa pun yang disarankan si penghipnotis, meskipun hal itu tidak terjadi. Ny. Eddy menjelaskan: “Budi fana melihat hal yang dipercayainya sama pastinya seperti dipercayainya hal yang dilihatnya. Dirasainya, didengarnya, dan dilihatnya pikirannya sendiri” (Ilmupengetahuan dan Kesehatan, hlm. 86). Selanjutnya Ny. Eddy menulis: “Penyakit selalu diakibatkan oleh suatu paham yang salah, yang diberi tumpangan di dalam pikiran dan tidak dimusnahkan. Penyakit adalah suatu gambar pikiran yang dinyatakan secara lahir. Keadaan mental itu disebut suatu keadaan kebendaan. Segala sesuatu yang ditaruh dalam budi fana sebagai keadaan jasmaniah, dilukiskan pada tubuh” (hlm. 411).

Seperti seorang penghipnotis, panca indera menghipnotis kita untuk percaya bahwa kita dikendalikan oleh zat. Tetapi si penghipnotis akan memberitahu kita bahwa dia tidak dapat mengendalikan kita tanpa persetujuan kita. Hal yang sama berlaku pada pemikiran fana.

Ny. Eddy mengingatkan kita: “Berjagalah di pintu pikiran. Jika kita hanya membiarkan masuk kesimpulan-kesimpulan yang ingin kita lihat diwujudkan dalam tubuh, maka kita akan menguasai diri kita sendiri dengan selaras. Kalau kita berhadapan dengan suatu keadaan yang kita katakan menyebabkan penyakit, entah hal itu keadaan udara, suatu usaha jasmaniah, hal turun-temurun, penularan, atau suatu kecelakaan, maka lakukanlah tugas kita sebagai penjaga pintu dan tutuplah pintu terhadap pikiran serta ketakutan yang tidak sehat itu. Tolaklah dari budi fana semua kesesatan

yang merugikan, maka tubuh tidak dapat menderita oleh karenanya. Keputusan tentang kesakitan atau kenikmatan harus datang kepada kita dengan jalan budi, dan seperti penjaga yang meninggalkan pos penjagaannya, kita membiarkan masuk kepercayaan yang mengganggu, dan lupa bahwa dengan pertolongan ilahi kita dapat melarang masuk kepercayaan itu” (Ilmupengetahuan dan Kesehatan, hlm. 392–393).

Saat itu juga saya memutuskan untuk tidak lagi memberi persetujuan satu detik pun kepada dusta bahwa saya terpisah dari Allah. Beberapa saat kemudian gambaran tentang pergeseran tulang belakang dan rasa sakti mulai menyerang, tetapi kali ini, saya mengangkat pikiran saya kepada pemahaman akan “Allah yang sempurna dan manusia yang sempurna” (Ilmupengetahuan dan Kesehatan, hlm. 259) dan diam-diam mengucapkan, “Terimakasih, Bapa! Engkau adalah satu-satunya Budi, dan Engkau melihat dan mengetahui hanya kebaikan saja, oleh karena itu, hanya kebaikanlah semua yang dapat saya ketahui dan alami.” Gambaran tentang tulang belakang yang bergeser dan rasa sakit yang menyertainya dengan segera hilang. Saya sangat bersyukur!

Tetapi saya sadar saya harus maju lebih jauh. Karena Allah sudah selalu merupakan Hidup saya, maka saya sudah selalu bebas, dan saya tidak perlu melalui masa pemulihan. Seluruh gambaran bahwa saya telah menderita selama berminggu-mingu ini juga merupakan hipnotisme semata. Hal itu tidak pernah terjadi, saya mengingatkan diri sendiri, karena Allah tidak pernah berhenti menjadi Hidup saya. Oleh karena itu saya memiliki kebebasan untuk berdiri dan berjalan sekarang juga.

Meskipun telah membuat pernyataan mengenai kebenaran seperti itu, ketakutan berusaha datang kembali. “Bagaimana jika jatuh lagi,” bisiknya, seakan pikiran saya sendiri. Saya menjawab, “Tidak mungkin! Saya hidup, saya bergerak, saya ada di dalam Roh saja. Terima kasih, Bapa.” Saya bangkit dan mulai berjalan di kamar, terus-menerus mengangkat pikiran saya kepada kesemestaan Allah, Roh, dan ketidaksesuatuan zat. Saya mulai membenahi barang-barang saya dan memasukannya ke kopor.

Keesokan harinya, saya mengangkat kopor saya ke mobil. Itulah akhir dari masalah tersebut! Saya pulang sembuh sama sekali. Dan kesembuhan itu bersifat permanen. Saat ini, saya masih bisa melakukan salto ke belakang dari papan loncat kolam renang.

Doa yang ilmiah, sebagaimana dibuktikan Kristus Yesus dan dijelaskan oleh Mary Baker Eddy, adalah efektif dan dapat diandalkan. Doa menyembuhkan apabila kita sadar bahwa kita tidak dapat dikendalikan oleh ketakutan atau hukum-hukum kebendaan yang palsu, karena hukum Allah akan keutuhan serta kesempurnaan adalah hukum wujud kita.

Christine Jenks Driessen
Jackson, Wyoming, dan Bay Shore, New York, AS

The Mission of the Herald

In 1903, Mary Baker Eddy established The Herald of Christian Science. Its purpose: "to proclaim the universal activity and availability of Truth." The definition of "herald" as given in a dictionary, "forerunner—a messenger sent before to give notice of the approach of what is to follow," gives a special significance to the name Herald and moreover points to our obligation, the obligation of each one of us, to see that our Heralds fulfill their trust, a trust inseparable from the Christ and first announced by Jesus (Mark 16:15), "Go ye into all the world, and preach the gospel to every creature."

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, July 7, 1956

Learn more about the Herald and its Mission.