Skip to main content

Buka topeng prasangka rasial yang seperti ‘ular’—suatu seruan untuk bertindak

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 22 November 2016

Aslinya diterbitkan di edisi Oktober 2016 majalah The Christian Science Journal


Dalam suratnya kepada Jemaat di Galatia 3:28, Rasul Paulus mengingatkan bahwa kita semua satu dalam Kristus, dengan demikian mengakui bahwa identitas manusia bersifat rohaniah. 

Saya mempunyai pengalaman yang sangat penting beberapa tahun yang lalu ketika bekerja sebagai perawat di fasilitas perawatan Ilmupengetahuan Kristen di Amerika Serikat. Kejadian itu merupakan saat pembelajaran yang sangat berarti bagi saya, karena saya belajar betapa dekat Allah mendampingi setiap orang di antara kita ketika pikiran kita berusaha bergerak menuju Roh.

Ketika berkendara menuju tempat kerja dan melakukan kebiasaan saya untuk berdoa sebagai persiapan menjalani giliran tugas, saya heran pada apa yang saya terima dari Budi ilahi. Biasanya doa saya mendatangkan rasa damai dan kemampuan yang lebih luas untuk menyatakan kasih sayang. Tetapi khusus pada saat itu, pikiran saya bagaikan yang ada di pikiran prajurit Kristen yang maju ke medan perang, seakan masalah sedang berkecamuk. Tentu saja tidak bisa terjadi masalah di dalam kerajaan Allah, tetapi rasanya saya didorong untuk berdoa mengenai perlindungan. Saya ingat bertanya-tanya dengan keras, “Apa yang sedang terjadi?”

Tidak lama kemudian, ketika memenuhi panggilan pasien saya yang pertama sore itu, ia menyebut saya dengan kata “n” (sebutan yang merendahkan bagi orang kulit hitam) dan menyuruh saya keluar dari kamarnya.

Saya segera pergi, sambil memohon kepada Allah secara mental untuk menghapuskan kejadian yang tidak menyenangkan itu dari kesadaran saya. Saya khawatir tidak memiliki kemampuan untuk memaafkan, tetapi dengan segera datang pikiran ini, “Jangan tersinggung.” Dari waktu ke waktu saya telah berdoa dengan konsep yang terdapat dalam artikel  “Taking offence (Tersinggung),” yang terdapat dalam kumpulan karya tulis Mary Baker Eddy yang berjudul Miscellaneous Writings 1883—1896 (hlm. 223-224), dan saya bersyukur untuk kelegaan yang serta merta yang didatangkan pikiran tersebut di saat yang sulit itu.

Saya memberitahu perawat-perawat Ilmupengetahuan Kristen lainnya yang sore itu juga bertugas, agar keperluan pasien tersebut segera dilayani. Lalu saya menelepon penyembuh Ilmupengetahuan Kristen yang menangani pasien itu untuk membantu menenangkan pasiennya. Penyembuh itu bersedia untuk berdoa dan meminta saya untuk menelponnya kembali setelah saya selesai bertugas. Pada waktu saya menelponnya sore itu, penyembuh tersebut berdiam beberapa waktu sebelum berbicara. Saya merasa bahwa ia sedang merenungkan apakah pernyataan yang akan disampaikannya akan mengena bagi saya. Wawasan yang didapat dari doanya adalah, “Ini adalah serangan terhadap Ilmupengetahuan Kristen.”

Kata-katanya sungguh mengena! Saya sering menyayangkan bahwa dalam komunitas Ilmupengetahuan Kristen kelihatannya tidak ada kebhinekaan, oleh karena itu ketika menerima wawasan yang sangat membantu dari penyembuh itu, saya dibangunkan oleh pikiran berikut, “Usaha yang baik, iblis, tapi anda terlambat; saya sudah terlanjur ‘jatuh cinta,’ “ artinya saya terlanjur ‘jatuh cinta’ mempraktekkan Ilmupengetahuan Kristen; saya sudah secara mendalam berkomitmen dan dengan segenap hati mencurahkan perhatian kepada ajarannya dan juga tahu bahwa saya hidup di dalam Kasih ilahi, di mana kejahatan tidak berkuasa atau berpengaruh atas diri saya.

Saya bersyukur tidak dapat dibujuk oleh pikiran-pikiran yang menggoda seperti: “Pelajar Ilmupengetahuan Kristen sama saja seperti orang lain, suka berprasangka!” dan, “Mengapa bergaul dengan orang-orang ini?” Saran-saran tersebut saya singkirkan karena pikiran yang mendamaikan yang datang di tengah-tengah kejadian itu adalah, “Ilmupengetahuan Kristen adalah kebenaran, dan saya akan terus memegangnya dan percaya bahwa Allah Ibu-Bapa akan  menyembuhkan gangguan terhadap umat manusia ini.”

Saya belajar bahwa pada peristiwa itu musuh, atau yang disebut oleh Rasul Paulus sebagai keinginan daging (lihat Roma 8:7), atau mentalitas yang melawan Allah dan tidak bersifat perorangan, telah mencoba memunculkan perasaan sakit hati yang bersifat pribadi, untuk menjauhkan saya dari kebenaran bahwa ciptaan Allah selaras dan merupakan satu kesatuan. Puji Tuhan saya mampu berpegang pada pikiran malaikat yang datang dari Allah itu dan dibimbing kepada  kesadaran yang lebih luhur.

Dalam Ilmupengetahuan Kristen kita belajar, bahwa “Identitas adalah cerminan Roh, cerminan Asas yang hidup, yakni Kasih, dalam bentuk yang beraneka ragam” (Mary Baker Eddy, Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci, hlm. 477). Oleh karena itu, identitas benar-benar bukan ditentukan oleh ras, golongan etnik, atau bersifat kebendaan. Ketika pikiran manusia fana masuk ke dalam terang ini, saya berharap pengertian yang bersifat Kristen dan ilmiah akan menjadikan umat manusia semakin saling melihat identitas  rohaniah masing-masing, yang melampaui ras, dan kebenaran akan memerdekakan kita semua. Identitas rohaniah tidak memungkinkan adanya “keakuan” yang lain.

Dalam suatu Ketetapan yang berjudul “Suatu Aturan untuk Motif dan Perbuatan” di Buku Pedoman Gereja Induk karangan Ny. Eddy, kita baca, “Dalam Ilmupengetahuan, hanyalah Kasih ilahi yang menguasai manusia; dan seorang Ahli Ilmupengetahuan Kristen mencerminkan keramah-tamahan Kasih yang mesra dalam menegur dosa, dalam persaudaraan, kemurahan hati, dan sifat maaf-memaafkan yang benar.” (hlm. 40). 

Demikian juga, di buku ajar Ilmupengetahuan Kristen, Ilmupengetahuan dan Kesehatan, halaman 583, kita baca, “Gereja adalah lembaga yang memberi bukti tentang gunanya dan ternyata meluhurkan umat manusia — membangunkan pengertian yang sedang tidur sehingga ditinggalkannya kepercayaan kebendaan dan dicapainya pengertian tentang ide-ide rohaniah serta pembuktian akan Ilmupengetahuan ilahi, dengan demikian membuangkan setan, atau kesesatan, dan menyembuhkan orang sakit.” Ini adalah konsep-konsep rohaniah yang sangat berkuasa yang dapat kita gunakan untuk berdoa tentang kesatuan anak-anak Allah.

Peristiwa tersebut di atas bukanlah satu-satunya kejadian yang bersifat rasialis yang saya alami saat saya bekerja sebagai perawat Ilmupengetahuan Kristen. Tetapi kasih karunia Allah sering kali menyediakan jembatan, suatu hubungan batin antara pasien dengan saya, dan saya menyaksikan banyak kesembuhan serta perubahan pikiran dalam peristiwa-peristiwa tersebut. Jiwa membimbing percakapan saya dalam kejadian-kejadian tersebut, dan masing-masing datang dengan berkatnya sendiri.

Sangat disayangkan bahwa saat ini “ular” dalam bentuk prasangka rasialis yang laten (mirip sekali dengan kisah ular yang berbohong, culas, di Kejadian bab 3) kadang-kadang bekerja dalam pikiran manusia tanpa disadari. Dunia secara agresif menggoda kita untuk menerima prasangka rasial sebagai tidak terelakkan dan sebagai kekuasaan yang memerintah, tetapi kita tidak perlu berkecil hati, atau menerima keputusan ini, karena Ilmupengetahuan Kristen menyatakan bahwa hal itu tidak lebih dari bentuk lain kepercayaan kedagingan. Dan kita dapat dan harus berupaya menyembuhkannya. Ny. Eddy di buku Miscellaneous Writings menyatakan demikian: “Kiranya Kasih ilahi begitu meresapi kasih sayang semua yang telah menyebut nama Kristus dalam arti yang sepenuh-penuhnya, sehingga tidak ada pengaruh yang berlawanan yang dapat menghalangi pertumbuhan mereka atau menodai teladan mereka” (hlm. 223).

Kristus dapat menyembuhkan gangguan yang membandel ini. Penangkalnya yang ilmiah adalah tindakan rohaniah yang menangani dusta kehidupan fana dan menggantikannya dengan kebenaran tentang identitas rohaniah. Allah Ibu-Bapa berseru kepada kita untuk siap berperang, untuk menjadi prajurit Kristen, dan berdoa untuk mengatasi prasangka rasial dengan Kebenaran. Mengenai bagaimana kita harus mengikuti Yesus, buku Ilmupengetahuan dan Kesehatan menyatakan, “Jika semua orang yang berusaha memperingatinya dengan lambang kebendaan bersedia memikul salib, menyembuhkan orang sakit, membuangkan kejahatan, dan memberitakan Kristus, atau Kebenaran, kepada orang miskin—pikiran yang mudah menerima—maka mereka itu tentu akan memulakan kerajaan Allah yang seribu tahun.” (hlm. 34). Doa kita bersama yang konsisten diperlukan untuk mengatasi hal ini.

Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan oleh kita semua:

  • Memikul salib, berjaga setiap hari, menolak konsep bahwa identitas fana menentukan diri kita
  • Memberi komitmen di lingkungan gerakan Ilmupengetahuan Kristen untuk lebih menyadari pengertian rohaniah serta kasih yang diperlukan untuk menyembuhkan ketidakselarasan rasial.
  • Memperdalam kesadaran diri kita. Membangun kemampuan rohaniah yang telah diberikan kepada kita untuk mengenali, membuka topeng, menyangkal, serta menyembuhkan gangguan prasangka rasial di dalam diri kita dan di dunia.

Sekarang ini media menyiratkan perubahan dan sarat dengan pemberitaan tentang kesesatan yang terkadang penuh gejolak. Tetapi membeberkan ular yang tersembunyi tidaklah cukup, demikian juga gerakan sosial serta hak-hak sipil tidak sepadan untuk menghancurkan kejahatan ini sepenuhnya. Meskipun demikian dusta akan identitas manusia fana dapat dihadapi dan secara sistematis dihilangkan melalui pekerjaan yang tekun dari pelajar Ilmupengetahuan Kristen yang mempraktekkan pengetahuannya, dan yang mengakui identitas rohaniahnya sendiri serta membuktikan Kebenaran di jaman ini. 

Syair Ny. Eddy “Abad yang Baru (The New Century)” mendorong kita untuk memusatkan pikiran secara ilmiah. Bait terakhir berbunyi:

Tertulis di bumi, pada daun dan bunga:
Kasih punya satu ras, satu kerajaan, satu kuasa.
Tuhan! betapa besar dan baik Engkau adanya
Yang sembuhkan luka hati umat manusia;
Balsam dituang pada luka yang dibuka—

Kuat dan tenang, hidup menjadi sempurna.
Kerajaan gelap derita dan dosa
Menyerah—Kasih memasukinya,
Damai dicapai, kejahatan sirna:
Kebenaran memerintah, bukan darah sarananya.

(Poems, hlm. 22)

Marilah kita membuat komitmen sebagai penyembuh untuk bersama-sama menangani hal yang penting ini. Dunia tak dapat tiada akan merasakan hasil dari doa perorangan kita maupun doa kita bersama.

The Mission of the Herald

In 1903, Mary Baker Eddy established The Herald of Christian Science. Its purpose: "to proclaim the universal activity and availability of Truth." The definition of "herald" as given in a dictionary, "forerunner—a messenger sent before to give notice of the approach of what is to follow," gives a special significance to the name Herald and moreover points to our obligation, the obligation of each one of us, to see that our Heralds fulfill their trust, a trust inseparable from the Christ and first announced by Jesus (Mark 16:15), "Go ye into all the world, and preach the gospel to every creature."

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, July 7, 1956

Learn more about the Herald and its Mission.