Skip to main content

Kecerdasan Mengalahkan Inflasi

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 22 November 2016

Aslinya diterbitkan di edisi 5 Desember 1970 majalah Christian Science Sentinel


Inflasi merupakan sumber kekhawatiran bagi kebanyakan orang yang tinggal di negara-negara Barat. Orang dihadapkan pada harga-harga yang tinggi, yang seringkali disertai pajak yang tinggi. Walaupun begitu masalah perorangan yang timbul karena inflasi dapat diatasi dengan suatu pemahaman yang diterangi mengenai suplai.

Meskipun ditulis berabad-abad silam, kata-kata nabi Hagai dapat diterapkan pada inflasi yang berlangsung sekarang ini: “Oleh sebab itu, beginilah firman TUHAN semesta alam: Perhatikanlah keadaanmu! Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang!” (Hagai 1:5, 6). Yang diperlukan saat ini adalah tidak hanya untuk memperoleh pendapatan lebih besar tetapi juga menghindari cepat habisnya milik kita.

Kita dapat memenuhi setiap tuntutan melalui kecerdasan. Tuntutan inflasi, sebagaimana tuntutan sesat lainnya, dapat diatasi di dalam pikiran kita sendiri. Tuntutan-tuntutan itu tidak akan diatasi dengan mengeluhkan harga-harga, mengomel tentang tingginya pajak, atau terhipnotis oleh apa yang terjadi di sekeliling kita. Tuntutan-tuntutan itu dapat dipenuhi melalui pemahaman yang lebih baik tentang substansi dan pemanfaatan yang bijaksana akan ide-ide yang disediakan Budi ilahi bagi kita.

Mary Baker Eddy, Penemu dan Pendiri Ilmupengetahuan Kristen, memberikan definisi yang mengilhami ini tentang “kecerdasan” di buku Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci: "Substansi; Budi, yang ada oleh karena diriNya sendiri dan abadi; itulah yang tidak pernah tidak sadar ataupun berbatas" (hlm. 588). Budi fana menyatakan dengan keliru bahwa menggunakan substansi kita akan menguranginya. Mengapa? Karena budi fana percaya bahwa kecerdasan dan substansi bersifat kebendaan. Ilmupengetahuan Kristen mengatakan bahwa kedua hal itu bersifat rohaniah dan kita tidak pernah bisa menggunakan hal itu terlalu banyak. Demikian juga kita tidak bisa menghabiskannya, karena kedua hal itu bersifat ilahi dan karena itu tidak dapat habis.

Kita harus ingat, bahwa karena kita mencerminkan Budi yang tidak berhingga, kecerdasan kita tidak pernah berbatas dan penggunaan pemahaman ini memperkaya kita! Bukan inflasi melainkan secara tidak bijaksana menerima konsep-konsep yang salah, itulah yang cenderung memiskinkan kita. Yesus Kristus menyatakan: “Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya"  (Matius 13:12). Orang yang memahami sifat kecerdasan yang sesungguhnya akan mendapati substansinya bertambah, tetapi orang yang memiliki konsep yang keliru mengenai substansi akan dituntut untuk melepaskan konsep yang keliru itu. Kita tidak pernah dituntut untuk membuang hal yang bersifat rohaniah dan baik, hanya yang bersifat kebendaan dan terbatas.

Budi fana, yang percaya kepada keterbatasan, mengikuti petunjuk-petunjuk yang salah dalam mencari suplai. Misalnya budi fana membuat orang mengatakan, “Gajiku adalah suplaiku,” lalu berpaling kepada gajinya untuk melihat apa yang bisa dilakukannya. Hal ini dapat menghipnotisnya untuk berpikir bahwa hanya gajinya sajalah yang menentukan apa yang bisa dilakukannya atau dibelinya. Pemikiran yang menghipnotis ini tidak mengatasi melainkan memperdalam keterbatasan.

Maka timbul pertanyaan, “Jika diatur oleh penghasilan saya itu salah, ke mana saya harus berpaling?” Jawabannya adalah, “Kedudukan anda tidak memberi anda suplai. Anda yang memberi suplai kepada kedudukan anda—artinya, sesungguhnya anda membawa suplai, kecerdasan, dan kemampuan kepada kedudukan anda. Hal ini berlaku untuk praktek penyembuhan anda, bisnis anda, atau pekerjaan anda. Setiap orang berpaling kepada Allah guna mendapatkan ide-ide yang cerdas untuk diberikan kepada kegiatannya serta memperkayanya.”

Bagaimana kita dapat melakukan hal ini? Dengan memahami bahwa suplai terdapat dalam kesadaran yang hakiki untuk dikenali, bukan sesuatu yang ada di luar manusia yang sejati, untuk diperoleh. Suplai kita tidak bergantung kepada kedudukan, lokasi, atau masa lalu kita tetapi pada pemikiran kita, pemahaman kita akan kesatuan kita dengan Allah. Sesungguhnya, manusia ciptaan Allah mencakup suplainya karena ia mencakup semua ide yang benar. Saat kita memahaminya, maka hal ini akan terjelma secara insani. Janji bapa kepada anak sulungnya dalam perumpamaan Sang Guru mengenai si anak hilang adalah benar: “Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu" (Lukas 15:31).

Kita dihadapkan kepada hak istimewa yang mulia untuk memahami bahwa manusia, anak dari Budi yang maha mengetahui, mencakup di dalam keakuannya yang sejati semua ide yang cerdas dan kuasa dari Allah untuk menyatakan ide-ide itu. Ny. Eddy berkata tentang manusia, “Ia adalah paduan ide akan Allah, yang meliputi sekalian ide yang benar” (Ilmupengetahuan dan Kesehatan, hlm. 475). Ya, memang benar bahwa Allah hanya memiliki ide-ide rohaniah untuk diberikan kepada kita. Tetapi memahami dan memanfaatkan ide-ide tersebut memberi kita suplai secara insani.

Jika anda mempunyai pekerjaan, adalah benar untuk menyadari bahwa anda bekerja untuk Allah, Asas ilahi, yang adil, dan bahwa hukumNya adalah hukum pengembangan yang pasti akan kebaikan. Sangatlah membantu untuk mengetahui bahwa anda tidak dikuasai oleh kebijakan insani yang keliru atau persetujuan yang tidak adil dari manajemen, tetapi oleh Allah semata. Anda tidak perlu mengubah kebijakan organisasi di mana anda bekerja, tetapi di dalam pikiran anda sendiri anda harus mematahkan rintangan mental akan keterbatasan yang menghipnotis yang disuguhkan kepada anda, tentang organisasi anda. Yang sesungguhnya anda lakukan adalah membebaskan diri anda dari hipnotisme. Anda bukanlah manusia fana yang berada dalam situasi yang buruk, melainkan ide rohaniah, yang hidup pada titik pandang suplai yang tidak habis-habisnya—artinya, kecerdasan yang tidak berbatas.

Kita sering mendengar, “Saya tahu beberapa keperluan insani yang belum terpenuhi!” Sesungguhnya, hal itu tidak benar. Pemahaman tentang Kasih ilahi selalui menyediakan ide-ide yang cerdas unuk memenuhi apa yang kelihatannya sebagai keperluan insani atau keperluan akan hal-hal yang kebendaan. Keperluan yang sesungguhnya tidak pernah bersifat kebendaan. Keperluannya selalu untuk lebih cerdas, untuk iman yang penuh pengertian kepada Allah sebagai Budi yang esa dan mahatahu yang tidak menahan kebaikan bagi ciptaanNya.

Allah memiliki cara yang tidak terhitung banyaknya untuk memberkati, mempekerjakan, dan memperkaya kita. Kita harus memahami, bahwa sesungguhnya, Allah sudah memberikan semua kebaikan kepada ideNya, manusia. Yesus menjelaskan, “Apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu” (Markus 11:24). Goodspeed menerjemahkan ayat ini demikian, “Setiap kali anda berdoa atau memohon sesuatu, percayalah bahwa hal itu sudah dikabulkan, maka anda akan mendapatkannya.”

Harga-harga dan pajak yang tinggi tidak bisa membatasi pikiran kita. Kita sendirilah yang membatasi diri—tetapi hanya dalam kepercayaan—dengan menanggapi saran-saran di sekeliling kita. Gaji atau kedudukan kita tidak bisa membatasi atau mengatur penyerapan kita akan ide-ide yang benar. Hal itu tidak bisa menghalangi kita untuk diilhami. Allah tidak membatasi kecerdasan kita tetapi memberkati kita dalam setiap keadaan.

Sungguh mengilhami apa yang dirangkum Ny. Eddy mengenai kesejatian kebaikan dan sebagai akibatnya ketidaksejatian argumentasi tentang kekurangan, keterbatasan, atau inflasi, dalam kalimat pendek ini! "Ilmupengetahuan menyatakan, bahwa adalah mungkin untuk melakukan segala kebaikan, dan mempekerjakan manusia fana supaya menemukan yang telah dijadikan Allah" (Ilmupengetahuan dan Kesehatan, hlm. 260).

The Mission of the Herald

In 1903, Mary Baker Eddy established The Herald of Christian Science. Its purpose: "to proclaim the universal activity and availability of Truth." The definition of "herald" as given in a dictionary, "forerunner—a messenger sent before to give notice of the approach of what is to follow," gives a special significance to the name Herald and moreover points to our obligation, the obligation of each one of us, to see that our Heralds fulfill their trust, a trust inseparable from the Christ and first announced by Jesus (Mark 16:15), "Go ye into all the world, and preach the gospel to every creature."

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, July 7, 1956

Learn more about the Herald and its Mission.