Skip to main content

Jangan terpancing oleh umpan!

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 18 Agustus 2016

Aslinya diterbitkan di edisi 30 Mei 2016 majalah Christian Science Sentinel


Di tahun pertamanya di perguruan tinggi, putra kami yang tinggal jauh dari rumah menelpon bahwa ia dalam kesulitan. Dia terdengar seperti terlalu banyak bekerja, stres, dan tidak bahagia. Sangat berbeda dengan putra yang telah kami tinggalkan di sekolah beberapa bulan sebelumnya—yang bahagia, santai, dan selalu dikelilingi oleh teman-teman. Sebagai orang tua, akan sulit untuk tidak merasa khawatir ketika mendapat telpon seperti ini dari anak yang tinggal jauh dari rumah. Tentu saja, saya mendengarkan dan berbagi kata-kata penghiburan dengannya. Ketika kemudian saya menceritakan pembicaraan telpon itu kepada suami saya, jawabannya yang tegas adalah: "Jangan terpancing oleh umpan itu!"

Saya tahu suami saya tidak mencoba bersikap tidak peduli atau tidak berperasaan, dan saya menangkap maksudnya. Dia mengatakan kepada saya untuk tidak percaya, bahwa gambar menyedihkan yang diceritakan anak kami benar-benar sejati. Kami tidak perlu diselimuti kekhawatiran atau drama, tetapi kami dapat tetap tenang dalam kerohanian dan dengan demikian lebih membantu anak kami.

Ketika umpan dilemparkan kepada ikan, mungkin kelihatannya sangat menggoda, tetapi mencoba untuk makan umpan itu akan menyebabkan ikan tersebut terjebak, dan sulit melepaskan diri. Kami tahu bahwa pada dasarnya anak kami bahagia, penuh semangat, dan memiliki kemampuan. Memahami bahwa dalam kenyataannya ia sepenuhnya bersifat rohaniah—diciptakan, dikasihi, dan dipelihara Allah, yang adalah Ibu-Bapanya yang selalu hadir—bagaimana mungkin kami mempercayai gambaran yang lain, yang mencoba memikat pikiran kami? Adalah penting untuk tidak terpancing oleh "umpan" itu sehingga kami tidak terjebak pada kail yang sama, yang seakan menghalangi anak kami "berenang" dengan bebas untuk maju.

Situasi ini tidak bersifat unik atau hanya dialami oleh saya dan suami saya saja, tetapi merupakan suatu kisah lama yang sudah basi tentang manusia, yang mengatakan bahwa perasaan sedih, putus asa, penyakit, atau kekurangan dapat mencoba menggagalkan keselarasan dan kemajuan manusia.

Di berbagai peristiwa di seluruh Alkitab kita melihat orang dihadapkan pada "umpan," atau digoda ke arah yang salah, atau untuk mempercayai kebohongan tentang hidup. Namun, Alkitab mengingatkan kita untuk waspada terhadap kebohongan ini dan membimbing kita untuk menolak setiap pikiran yang bisa menjebak kita dan mencegah kita untuk menyadari kesehatan serta keselarasan yang dikaruniakan Tuhan kepada kita.

Salah satu kisah yang paling dikenal ada dalam bab ketiga Kitab Kejadian—suatu bagian dari alegori tentang Adam dan Hawa di Taman Eden. Dalam kisah ini, Hawa tampaknya merasa puas di taman itu, di mana Allah telah menyediakan semua yang ia butuhkan, ketika datang ular yang berbicara. Mendesiskan kisah tentang ketidakpuasan, ular itu mencoba meyakinkan Hawa bahwa hidupnya tidak lengkap, dan menebarkan keraguan dan ketidakpuasan dalam pikiran Hawa.

Hawa terpancing oleh umpan itu dan makan buah "pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat" (2:17), mencari kepuasan dalam pengetahuan yang disangkanya dia perlukan dan tidak dia miliki. Adam mengikutinya dan mengambil pandangan yang sama. Maka, dari satu benih kecil akan ketidakpuasan yang ditaburkan ular ini, Adam dan Hawa segera memandang diri mereka terkutuk dan cacat dan ditakdirkan untuk hidup dalam kesedihan sepanjang sisa hidup mereka.

Tentu saja ular yang berbicara itu bukanlah wujud harfiah yang diciptakan Allah, tetapi kiasan atau metafora untuk kejahatan dan kekacauan. Kita bisa melihat ular bukan sebagai ciptaan Allah, tetapi sebagai lambang dari pengaruh kejahatan yang bersifat khayal dan sesat pada pemikiran kita, yang hendak menjauhkan kita dari Allah dan kebaikan, dan menjerumuskan kita ke dalam gangguan serta ketidak-selarasan kepercayaan kebendaan.

Jadi dari mana datangnya saran yang sesat dan kacau ini? Ketika kita tumbuh dalam pemahaman rohaniah, kita semakin belajar bahwa hal itu tidak lain hanyalah sebuah khayalan, atau pernyataan palsu, karena tidak berasal dari Allah. Di buku Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci, Mary Baker Eddy menulis, “Kesaksian ular menandakan khayalan kesesatan, menandakan pernyataan-pernyataan palsu yang memberi suatu gambaran salah tentang Allah, kebaikan" (hlm. 538).

Dalam bab pertama Kitab Kejadian, yakni kisah yang benar mengenai penciptaan alam semesta, tidak disebutkan tentang kejahatan, atau kesedihan, dosa, penyakit, atau maut. Mempelajari bab ini membantu kita melihat bahwa hal-hal tersebut bukanlah bagian dari ciptaan Allah dan karena itu tidak pernah memiliki tempat di dalam manusia atau alam semesta.

Di bab pertama Kitab Kejadian, Allah menyatakan bahwa semua laki-laki dan perempuan, dan, sesungguhnya, semua makhluk Allah, murni bersifat rohaniah. Di bab ini dijelaskan dengan sangat rinci bagaimana Allah "memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: ‘Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu’" (ayat 28).

Setelah memberkati laki-laki dan perempuan sebagai cerminan rohaniahNya, Allah menunjukkan bahwa mereka diciptakan di atas dasar yang kuat, dan memiliki kuasa "atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi" (ayat 28). Kitab Kejadian kemudian menunjukkan bahwa Allah memelihara setiap makhluk (lihat ayat 29, 30) dan mengakhiri dengan pernyataan yang kuat dan kekal mengenai betapa berharganya, atau baiknya, "segala yang dijadikan-Nya itu" (ayat 31). 

Kisah Adam dan Hawa, yang dimulai di Kitab Kejadian bab dua, menggambarkan bagaimana sebuah pandangan yang sebaliknya tentang laki-laki dan perempuan, sebagai manusia fana yang hancur, bersifat kebendaan, dan tidak lengkap, membuat kita tersesat ke dalam kesedihan dan ketidakpuasan. Tidak seperti Hawa, laki-laki dan perempuan yang bersifat rohaniah, yang diciptakan Allah, mengetahui bahwa mereka sepenuhnya bersifat baik. Mereka tidak memiliki kesadaran lain selain kebaikan, dan di dalam kerajaan Allah tidak ada kebohongan untuk menggoda mereka.

Peristiwa penting lainnya yang menunjukkan agar kita "tidak terpancing oleh umpan" diceritakan di Alkitab, Perjanjian Baru, tetapi dengan hasil yang sama sekali berbeda dari apa yang terjadi di Kitab Kejadian bab 3. Dalam Injil Matius, bab empat, Yesus Kristus, Penunjuk-jalan kita,  menunjukkan bagaimana kita dapat secara efektif membebaskan diri dari saran palsu yang hendak mencoba menggagalkan kehidupan dan kemajuan kita.

Dalam cerita ini, yang ditemukan di tiga dari empat Kitab Injil tentang kehidupan Yesus, Yesus dihadapkan pada tiga godaan, yang datang kepadanya dari "setan" atau "Iblis." Bab empat dari Injil Matius menceritakan saat Yesus sendirian di padang gurun. Setelah ia menghabiskan empat puluh hari dan empat puluh malam berdoa dan mempersiapkan pelayanannya, "datanglah si pencoba itu” (Mat. 4:3). Dua dari saran si pencoba, seperti kebohongan awal yang dikemukakan ular kepada Adam dan Hawa, dimaksudkan untuk meyakinkan Yesus bahwa Allah tidak mencukupi kebutuhannya dan bahwa ia akan dijaga, diperkaya, dan memperoleh keberhasilan dengan mengikuti janji-janji palsu iblis alih-alih menyembah Allah. 

Yesus dengan cepat dan tanpa ragu-ragu, menolak setiap kebohongan yang datang kepadanya. Dan kemudian untuk memastikan bahwa kepercayaan yang merusak itu tidak akan lagi menempati pikirannya, ia dengan tegas mengusir hal itu, dan berkata, "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!" (Mat. 4:10). 

Hasilnya? Tidak ada bukti lagi di dalam Injil bahwa Yesus menghadapi godaan yang sama dari "setan," atau kejahatan.

Seperti apakah wujud ular masa kini? Untuk setiap orang di antara kita, mungkin wujud ular ini berbeda. Mungkin ular datang dalam bentuk kecemasan, stres, kekhawatiran, atau ketakutan, seperti saran-saran yang menggoda untuk dipercayai anak kami yang sedang kuliah di perguruan tinggi. "Ular" mungkin mencoba untuk menghadapkan di depan pikiran kita tipuan tentang harga diri atau keselamatan atau kesehatan kita. Itu bisa tampak seperti pemikiran kita sendiri atau beberapa ketakutan yang diutarakan anggota keluarga atau teman yang bermaksud baik. Setiap pikiran atau ketakutan yang datang kepada kita dan tidak sejalan dengan kebenaran yang ditegaskan dalam bab pertama Kitab Kejadian dan dalam ajaran Kristus Yesus harus dibuang.

Belajar dari teladan Yesus Kristus, saya telah menemukan bahwa ada dua cara penting untuk memastikan agar kita tidak akan terpancing oleh umpan dan mempercayai kebohongan tentang kesehatan dan keselarasan kita.

  • Belajar untuk mengenali "desis" ular yang berbicara dengan bersuara atau diam-diam kepada pikiran kita dalam wujudnya yang sesungguhnya—saran bahwa Allah tidak memenuhi kebutuhan kita.
  • Sangat mengenal dan yakin akan kebenaran yang kita pelajari dalam Ilmupengetahuan Kristen tentang kepastian akan kebaikan manusia sebagai anak Allah, sehingga setiap ketakutan yang menyatakan sebaliknya akan gagal untuk menguasai pemikiran kita dan akan hilang.

Inilah yang disadari suami saya dan saya ketika malam itu kami berdoa dan mengambil sikap yang tegas untuk berpihak kepada kebenaran tentang anak kami. Menolak untuk terpancing oleh umpan, dan membuang kebohongan yang menggoda anak kami dan kami, kami mengalami malam yang damai dan tahu bahwa semuanya baik-baik saja. Hari berikutnya kami mendapati, seperti harapan kami, bahwa kabut pemikiran yang suram telah benar-benar lenyap. Ketika kami berbicara dengan anak kami, seakan percakapan malam sebelumnya tidak pernah terjadi. Sebagaimana Mary Baker Eddy meyakinkan kita, "Kebenaran yang abadi memusnahkan segala yang rupanya telah diajarkan kepada manusia fana oleh kesesatan, dan kehidupan sejati manusia sebagai anak Allah menjadi nyata" (Ilmupengetahuan dan Kesehatan, hlm. 288-289).

Selama satu setengah tahun terakhir, meskipun kadang-kadang masih tergoda oleh rasa takut atau kekhawatiran, kami selalu bisa mengenali "umpan" dan mempertahankan pemahaman yang jelas tentang keselarasan serta kebaikan yang bersifat permanen dari anak kami. Dan anak kami terus berkembang dan maju di sekolah.

Adalah penting untuk mengetahui diri kita sendiri serta orang yang kita kasihi seperti Allah mengetahui diri kita dan sangat meyakini kebaikan serta keselarasan yang tetap dan tak dapat dipisahkan dari diri kita, sehingga kita tidak dapat ditarik atau terperangkap oleh ketakutan palsu tentang hidup dan manusia, yang berputar-putar di sekitar kabut pemikiran kebendaan.

Mengambil pendirian pada kekuasaan serta kebaikan manusia yang kokoh, kita bisa menolak untuk terpancing oleh umpan. Kemudian kebohongan memudar dari pandangan, dan kita "berenang maju" dengan bebas.

The Mission of the Herald

In 1903, Mary Baker Eddy established The Herald of Christian Science. Its purpose: "to proclaim the universal activity and availability of Truth." The definition of "herald" as given in a dictionary, "forerunner—a messenger sent before to give notice of the approach of what is to follow," gives a special significance to the name Herald and moreover points to our obligation, the obligation of each one of us, to see that our Heralds fulfill their trust, a trust inseparable from the Christ and first announced by Jesus (Mark 16:15), "Go ye into all the world, and preach the gospel to every creature."

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, July 7, 1956

Learn more about the Herald and its Mission.