Skip to main content

Menumpulkan ujung-ujung terorisme

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 20 September 2016

Aslinya diterbitkan di edisi Januari 1978 majalah The Christian Science Journal


Teror—baik terlihat sebagai sebab atau akibat—dapat dikurangi. Teror dapat dikendalikan dan dihapuskan karena teror sejatinya hanyalah stres yang dibuat, dibesar-besarkan, dan disebarluaskan oleh pikiran fana. Bahwa pikiran fana pada dasarnya tidak sejati adalah sesuatu yang dapat dibuktikan.

Teror dapat dihasilkan oleh yang kita sebut sebagai bencana alam atau kecelakaan yang besar. Teror dapat digunakan sebagai alat kebijakan oleh orang yang ingin menakut-nakuti suatu pemerintahan, misalnya, agar mengambil suatu tindakan tertentu. Kita dapat mengambil bagian dalam melemahkan serangan kesesatan. Sesungguhnya, setiap kali kita mengatasi kekhawatiran kita sendiri atas dasar yang bersifat rohaniah dan ilmiah—yakni, dengan menyadari fakta akan kesatuan manusia dengan Allah—kita menumpulkan ujung-ujung teror. Berabad-abad yang lalu Pemazmur melukiskan akibat yang dihasilkan dengan menerima kesatuan kita dengan Allah: “Engkau tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang" (Mzm. 91:5).

Ilmupengetahuan Kristen tidak semata dengan sederhana menyatakan bahwa semua sudut-sudut gelap pikiran fana akan dengan serta merta menyerah kapada terang rohaniah—secara permanen dan bagi seluruh umat manusia—begitu kita menyadari beberapa kebenaran yang umum tentang sifat Allah dan manusia serta kesatuan kita dengan Allah. Ada pekerjaan yang harus kita lakukan dengan bersungguh-sungguh. Mary Baker Eddy menyatakan hal ini dengan jelas: “Adalah ilmiah untuk tinggal dalam kesadaran akan keselarasan, dalam Kebenaran dan Kasih yang memberi kesehatan, dan tidak bisa mati. Untuk dapat melakukan hal ini, manusia fana terlebih dahulu harus membuka mata terhadap bentuk, cara kerja, serta seluk-beluk kesesatan yang bersifat khayal, agar khayalan itu, kesesatan, dapat dihancurkan; jika hal ini tidak dilakukan, maka manusia fana akan menjadi korban kesesatan” (Retrospection and Introspection, hlm. 64).

Memang suatu tuntutan yang berat. Tetapi kuasa, momentum, dan kemenangan atas kesesatan—termasuk teror—ada di pihak “Kebenaran dan Kasih yang tidak bisa mati.” Kebenaran dan Kasih sudah memerintah di seluruh alam semesta, memelihara damai serta kasih sepenuhnya. Penanggapan jasmaniah terus-menerus menentang hal ini. Dan bagi siapa saja yang hendak tumbuh dalam kerohaniannya serta pengertiannya dan dengan demikian membantu mengempiskan terorisme, ini merupakan salah satu hal pertama yang harus diketahuinya.

Kelihatannya, dengan berbagai cara kejahatan memperjuangkan kesejatiannya. Kejahatan hendak membujuk kita untuk percaya bahwa manusia bersifat fana. Hendak menegaskan bahwa manusia merupakan makhluk yang dikendalikan makhluk lain dan kadang-kadang diperintahi dengan sangat tidak adil. Dan sebagainya. Betapapun saran-saran tersebut terlihat masuk akal dan bertubi-tubi, kita harus terus menentangnya, bergulat dengannya, mengalahkannya, dan membuktikan kepalsuannya.

Kristus memberi penglihatan mengenai kesejatian rohaniah yang mutlak. Kesejatian ini bersifat sempurna, sama sekali baik. Kesejatian ini dihuni oleh ide-ide yang baka. Unsur serta hukumnya bersifat abadi. Kesejatian ini selalu dicirikan dengan keselarasan abadi.

Manakala pengertian ini meresap ke dalam pikiran kita dan mewarnai hidup kita sendiri, kita memperbaiki nasib seluruh umat manusia—setidaknya sampai taraf tertentu. Kita melakukan sesuatu untuk menciutkan dasar bagi frustasi, yang biasanya menjadi landasan bagi teror politik. Jawaban yang jitu bagi masalah-masalah yang dihadapi umat manusia, baik secara pribadi maupun secara kolektif, bukan terletak pada tersedianya lebih banyak barang untuk konsumen, pendistribusian kembali kekuasaan politik, atau wilayah yang lebih luas. Jawaban itu ada pada pemahaman serta pembuktian akan kebaikan rohaniah. Pada gilirannya, hal ini memenuhi keperluan manusia dengan cara yang praktis, dan memberkati secara universal.

Keputus-asaan serta frustasi yang timbul merupakan kebohongan tentang—atau kebalikan dari—spontanitas kehendak ilahi. Kehendak Allah adalah satu-satunya kehendak, dan tidak pernah ditentang. Kehendak Allah dinyatakan dalam hukum Allah. Dan tidak ada hukum, selain hukumNya yang memerintahi manusia, yang diciptakan dalam keserupaan Allah. Ini merupakan satu-satunya dasar yang pada akhirnya dapat memperbaiki keadaan yang buruk, seperti tidak adanya secara mencolok kesempatan yang sama, rasisme, pertikaian politik yang bersifat menghancurkan.

Kehendak ilahi tidak menghasilan sesuatu yang menakutkan atau membuat hati kita gentar. Tidak diciptakannya benih-benih rasa tidak suka yang tumbuh menjadi kebencian yang dalam, yang kemudian menyatakan diri dalam tindakan kekerasan yang kejam dan merusak.

Kesaksian pancaindera tentang sifat manusia mungkin menyatakan bahwa dosa terlalu membandel sehingga kita tidak bisa terlalu banyak berharap dalam waktu yang singkat umat manusia dapat diperbaiki. Ilmupengetahuan Kristen, berdasarkan pemahaman rohaniah tentang Allah dan manusia, jauh lebih memberikan harapan. Dasar dari Ilmupengetahuan Kristen adalah bahwa Allah dan manusia sempurna saat ini juga. Kebenaran ini, jika diakui, dapat dibuktikan. Itu merupakan sumber dari harapan yang besar.

Manusia yang sejati tidak mengalami proses perbaikan atau pembebasan dari zat. Saat ini juga manusia sepenuhnya bersifat sempurna. Pemahaman akan kebenaran seperti itulah yang akan membantu menyembuhkan terorisme atas dasar yang rohaniah serta ilmiah. Ny. Eddy memberitahu kita: “Anggapan, bahwa manusia harus jahat lebih dahulu sebelum dapat menjadi baik, bahwa ia harus mati sebelum menjadi baka, bersifat kebendaan sebelum dapat menjadi bersifat rohaniah, itulah kesesatan pancaindera; karena kebalikan kesesatan itu merupakan Ilmupengetahuan yang hakiki akan wujud.”

"Dalam Ilmupengetahuan, manusia sekarang juga sempurna dan baka, seperti tatkala ‘segala bintang fajar ramai-ramai menyanyi dan segala anak Allah pun bersorak-sorak’” (Kesatuan Kebaikan, hlm. 42).

Para teroris adalah korban pemikiran fana seperti halnya para korban terorisme. Kita dapat menolong keduanya dengan melihat melampaui topeng kepribadian insani kepada jati diri manusia yang sesungguhnya, yang bersifat abadi sebagai keserupaan Hidup yang tidak berubah-ubah. Kita dapat menghadapi terorisme baik yang ada saat ini maupun yang merupakan ancaman dengan keyakinan rohaniah akan kesejatian ilahi. Dalam hidup kita sendiri kita dapat merasa yakin bahwa kita tidak pernah disandera oleh ketakutan ataupun kebencian. Kita dapat membebaskan diri dari belenggu kebohongan pancaindera kebendaan. Kita dapat berpikir dan bertindak dengan mengetahui bahwa manusia serta alam semesta tidak pernah berada di luar kendali ilahi. Jika kita melakukan hal ini, kita melakukan sesuatu untuk menetralkan ketakutan serta kesalahan yang menyebabkan pembentukan gerilya perkotaan dan kelompok teroris lainnya.

Marilah kita, sesering mungkin menegaskan, bahwa segala yang benar-benar ada adalah Roh yang mahakuasa dan akibatnya—manusia dan alam semesta, yang senantiasa bersifat rohaniah dan baik. Hal ini akan menumpulkan ujung-ujung teror dan merintis jalan untuk menghilangkannya.

Geoffrey J. Barratt

The Mission of the Herald

In 1903, Mary Baker Eddy established The Herald of Christian Science. Its purpose: "to proclaim the universal activity and availability of Truth." The definition of "herald" as given in a dictionary, "forerunner—a messenger sent before to give notice of the approach of what is to follow," gives a special significance to the name Herald and moreover points to our obligation, the obligation of each one of us, to see that our Heralds fulfill their trust, a trust inseparable from the Christ and first announced by Jesus (Mark 16:15), "Go ye into all the world, and preach the gospel to every creature."

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, July 7, 1956

Learn more about the Herald and its Mission.