Skip to main content

Mengetahui kebenaran—suatu kewajiban Kristiani

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 18 Agustus 2016

Aslinya diterbitkan di edisi 26 Oktober 2015 majalah Christian Science Sentinel


Mengetahui kebenaran tentang apa saja menjadikan kita tidak bisa dibohongi serta dimanipulasi oleh dusta. Jadi, sangatlah penting untuk mengetahui apa yang benar.

Kebenaran yang paling penting yang dapat diketahui seseorang adalah sifat yang sesungguhnya dari Allah dan ciptaanNya. Ini adalah kebenaran yang diajarkan Yesus Kristus. Hal itu memerdekakan umat manusia dari belenggu dosa, penyakit, dan maut. Yesus membuktikan kuasa kebenaran yang memerdekakan, dan ia menjanjikan bahwa orang lain pun dapat melakukannya, dengan mengatakan, “kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”  Tetapi Yesus mengawali janjinya itu dengan berkata, “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku” (Yohanes 8:31, 32), dengan demikian menunjukkan bahwa untuk mengetahui kebenaran yang memerdekakan kita harus terus-menerus belajar dari ajarannya dan mempraktekkan ajaran itu.

Kebenaran yang mendasari ajaran Yesus sama sekali bersifat rohaniah dan hanya dapat dilihat dan dipahami melalui penanggapan rohaniah, bukan penanggapan kebendaan. Tetapi itu adalah kabar baik, karena kita semua memiliki penanggapan rohaniah—kemampuan untuk memahami konsep-konsep rohaniah seperti kemurnian, sifat tidak bersalah, keadilan, kemurahan hati, dan sebagainya. Melalui penanggapan rohaniah kita dapat memahami kebenaran bahwa Allah adalah Roh, dan bahwa ciptaanNya sama sekali bersifat rohaniah. Inilah kebenaran ilahi, kebenaran Allah. Hal itu tidak dapat dipahami dengan penanggapan kebendaan karena penanggapan kebendaan menyatakan manusia dan alam semesta sebagai bersifat kebendaan, fana, terbatas, dan tidak selaras—sama sekali tidak menyerupai Allah, satu-satunya pencipta.

Penanggapan kebendaan adalah bapa segala dusta. Ketika dusta-dusta ini dipercayai—dan  dusta-dusta itu hanya dapat terlihat sejati dan dipercayai melalui penanggapan kebendaan—maka hal itu terlihat sebagai keadaan kebendaan akan kehidupan yang tidak bermoral, akan penderitaan, dan akan kematian. Tetapi sebanding kita, melalui penanggapan rohaniah, mengetahui kebenaran tentang Allah dan manusia, dusta-dusta dan yang disangkakan sebagai “keadaannya” menghilang dari kesadaran dan pengalaman insani. Itulah yang terjadi dalam penyembuhan Ilmupengetahuan Kristen.

Ketika kita menggunakan penanggapan rohaniah dalam mempelajari Alkitab dan buku ajar Ilmupengetahuan Kristen, Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci karangan Mary Baker Eddy dengan tekun, dan belajar sesuatu tentang sifat yang sesungguhnya dan rohaniah dari Allah dan ciptaanNya—dan mengetahui bahwa yang kita pelajari itu benar—kita mulai mengalami perubahan watak, kesembuhan fisik, dan banyak lagi. Mengetahui kebenaran rohaniah menjadikan kita mampu melihat dusta-dusta penanggapan kebendaan dan menggantinya dengan kebenaran kesejatian rohaniah. Mengetahui kebenaran tepat di mana dusta berargumentasi agar dianggap sejati, menjadikan kita mampu untuk tidak terkecoh dan dimanipulasi oleh dusta itu. Hal itu menjadikan kita tetap bebas, atau memerdekakan kita sesuai kebutuhan kita. 

Namun demikian, agar kita tetap mengalami kuasa yang memerdekakan dari Kebenaran ilahi, mengetahui kebenaran haruslah menjadi cara hidup kita. Kita harus terus belajar tentang kebenaran rohaniah melalui pembelajaran serta doa setiap hari, dan melakukan kegiatan sehari-hari dengan kesiapan untuk mengetahui kebenaran tentang apa pun yang dikemukakan penanggapan kebendaan. Ini adalah pekerjaan penuh-waktu. Dan sesungguhnya, ini adalah kewajiban Kristiani, karena kalau kita tahu apa yang benar, tetapi gagal mengetahuinya pada waktu menghadapi dusta penanggapan kebendaan yang membelenggu umat manusia, kita gagal mengasihi seperti Yesus mengasihi; kita gagal mengetahui kebenaran yang memerdekakan manusia.

Rasul Paulus mengajukan suatu pertanyaan yang menarik kepada umat Kristiani di Galatia: “Dahulu kamu berlomba dengan baik. Siapakah yang menghalang-halangi kamu, sehingga kamu tidak menuruti kebenaran lagi?” (Galatia 5:7). Salah satu hal yang disangkakan sebagai halangan mungkin adalah saran bahwa mengetahui kebenaran sepanjang hari merupakan suatu tuntutan yang terlalu berat. Mari kita menjelaskan hal ini.

Mengetahui kebenaran sepanjang hari tidak berarti belajar dan berdoa di tempat yang sunyi, dan terpencil sepanjang hari. Hal itu berarti memperoleh dan memelihara pemahaman tentang kebenaran hakiki bahwa Allah itu semua dan Dia memerintahi manusia dan alam semesta dengan mutlak. Hal itu berarti mengetahui bahwa kebenaran rohaniah adalah benar, dan tidak membiarkan diri kita dibuat mempercayai hal yang sebaliknya. Itu berarti membiarkan kebenaran tertanam kokoh dalam pikiran kita kemudian mempraktekkan apa yang kita ketahui sesuai tuntutan keadaan. 

Hal lain yang menghalangi kita mematuhi perintah untuk mengetahui kebenaran mungkin adalah saran bahwa tidak benar untuk mengetahui kebenaran mengenai seseorang yang berdosa atau menderita jika orang itu tidak memintanya. Mari kita menjelaskan hal ini juga.

Mengetahui kebenaran mengenai seseorang adalah suatu kewajiban Kristiani; itu adalah Aturan Kencana. Tidakkah kita menginginkan orang lain untuk mengetahui kebenaran mengenai diri kita? Namun demikian, mengetahui kebenaran untuk seseorang, adalah sesuatu yang sangat berbeda. Mengetahui kebenaran untuk seseorang memerlukan undangan dari orang itu, karena itu berarti kita bekewajiban mengetahui kebenaran dengan maksud yang spesifik agar Kristus, Kebenaran, memperbaharui pikiran orang itu, bukan hanya pikiran kita. Tidak seorang pun menginginkan hal itu kecuali orang itu secara spesifik meminta doa seperti itu—yang adalah doa penyembuhan Ilmupengetahuan Kristen. Tetapi  kita dapat terus mengetahui kebenaran yang memerdekakan kita dari kekhawatiran tentang orang lain. Teruslah melihat orang lain sebagai cerminan sempurna Allah; kasihilah mereka seperti Allah mengasihi mereka. Anda sudah pasti akan menjadi lebih baik, dan tidak ada yang dapat merintangi orang lain merasakan pengaruh Kebenaran yang menyembuhkan.

Mengetahui kebenaran saat kita melakukan keseharian kita hanya berarti membiarkan Kebenaran ilahi yang memerdekakan bersinar lebih baik melalui diri kita (lihat Ilmupengetahuan dan Kesehatan, hlm. 295). Itu berarti menjadi hukum bagi diri sendiri, bukan bagi orang lain (lihat Mary Baker Eddy, Buku Pedoman Gereja Induk, hlm. 84). Dengan cara ini, kuasa penyembuhan Kebenaran yang memberi hidup dan memperbaharui tidak saja mendatangkan kebebasan bagi kita—hal itu akan bersinar melalui diri kita ke dalam suasana kehidupan manusia, dan kita akan memenuhi kewajiban Kristiani kita.

Barbara Vining

The Mission of the Herald

In 1903, Mary Baker Eddy established The Herald of Christian Science. Its purpose: "to proclaim the universal activity and availability of Truth." The definition of "herald" as given in a dictionary, "forerunner—a messenger sent before to give notice of the approach of what is to follow," gives a special significance to the name Herald and moreover points to our obligation, the obligation of each one of us, to see that our Heralds fulfill their trust, a trust inseparable from the Christ and first announced by Jesus (Mark 16:15), "Go ye into all the world, and preach the gospel to every creature."

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, July 7, 1956

Learn more about the Herald and its Mission.