Skip to main content

KESATUAN MEMBERI KUASA ILAHI

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 22 November 2016

Aslinya diterbitkan di edisi 3 Mei 1958 majalah Christian Science Sentinel


Setiap pelajar Ilmupengetahuan Kristen memiliki tanggung jawab yang kudus dan hak istimewa untuk menunjukkan keampuhan Kristus, Kebenaran, yang menyembuhkan dalam pengalaman insani. Tidak ada aktivitas yang lebih menyenangkan, lebih memuaskan, atau lebih berharga daripada berjalan dengan Allah hari demi hari.

Memahami bahwa manusia, saat ini juga bersifat rohaniah sebagai cerminan Allah, mendatangkan kesadaran akan bersatunya, atau kesatuan, manusia dengan Allah, Hidup ilahi. Pelajar Ilmupengetahuan Kristen harus mempertahankan kesadaran akan kesatuan dengan Allah ini jika ia ingin berbicara dengan kuasa kepada segudang khayalan budi kedagingan yang disebut dosa, penyakit, dan maut.

Menyadari ke-satu-an kita dengan Allah, kita tidak pernah melihat kepada tapi selalu melihat dari kesempurnaan Hidup. Dari sudut pandang yang menguntungkan ini, yang bebas dari semua hal yang kebendaan, pandangan kita tentang manusia jelas, dan kita melihat manusia dalam keadaannya yang sesungguhnya, berdaya hidup, kuat, sehat, bahagia, dan cemerlang. Ketika seorang pelajar Ilmupengetahuan Kristen melihat manusia seperti itu, ia tahu bahwa Kristus, Kebenaran, hadir, dan penyembuhan tidak bisa dihindari.

Karena Yesus senantiasa berjalan dengan Allah, membuktikan kesatuannya dengan Sang Bapa, ia menyatakan kuasa ilahi, dan penyembuhannya cepat dan konsisten. Memahami bahwa dirinya adalah cerminan Hidup Yang Mahakuasa itu sendiri, Yesus memiliki keberanian untuk mengatakan kepada Lazarus di hadapan banyak orang (Yohanes 11:43) "Lazarus , marilah ke luar"; kepada penderita kusta (Lukas 5:13), "Jadilah engkau tahir"; kepada pria yang tangan kanannya mati (Lukas 6:10), "Ulurkanlah tanganmu." 

Kadang-kadang, meskipun kita ingin bersikap berani seperti Yesus, karena takut gagal kita tidak berani melakukannya. Tetapi jika kita menyadari diri kita yang sebenarnya, cerminan Allah, Asas yang sempurna, wakil dari Hidup yang tidak berbatas, satu dengan Budi yang mahatahu sebagai idenya, kita juga bisa menjadi semakin berani dalam pekerjaan penyembuhan kita, karena kita mengetahui bahwa kebenaran, bukan kesesatan, yang ada.

Pikiran yang bersatu dengan Kasih ilahi merangkul si penderita dengan lembut dan penuh kasih. Mempertahankan rasa kesatuan kita dengan Kasih, kita menyatakan Kasih Ibu-Bapa yang suci dan dengan demikian membawa penghiburan, kepastian, dukungan, dan harapan untuk diri kita sendiri dan orang lain. Kasih yang dicerminkan ini membuktikan bahwa kebenaran, "firman Allah," adalah "hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun" sebagai yang dijelaskan penulis surat kepada orang Ibrani (4:12). 

Menyadari sifat sejati Allah dan manusia sebagai Budi dan ide, sebagai Jiwa dan cerminan, sebagai Hidup dan pernyataan, tak dapat tiada kita melihat bahwa manusia itu sempurna, dan melihat dengan benar itu menyembuhkan. Mary Baker Eddy secara sederhana dan indah menggambarkan metode penyembuhan Kristus, Kebenaran ini, di buku "Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci." Dia menulis pada halaman 476 dan 477: "Dalam  Ilmupengetahuan Yesus memandang manusia yang sempurna, yang nampak baginya, tempat manusia fana melihat seorang yang berdosa dan fana. Pada manusia yang sempurna ini Juruselamat melihat keserupaan Allah sendiri, dan pandangan yang betul akan manusia itulah yang menyembuhkan orang sakit."

Seseorang yang sedang berjuang untuk melihat menembus kabut kesesatan cenderung mengatakan, "Ini semua baik dan bagus, tetapi ketika kita lelah, sakit, putus asa, depresi, merasa kalah, bagaimana kita bisa merasa sadar akan kesatuan kita dengan Allah yang memberi kita kuasa?" Hal ini tidak sesulit seperti kelihatannya. Hanya satu hal yang perlu: kemauan yang tulus untuk benar-benar memalingkan pandangan dari gambar insani dengan keinginan yang sungguh-sungguh untuk dekat dengan Allah. Sikap ini selalu mendatangkan kesadaran akan kesatuan manusia dengan Allah, dan dengan kesadaran ini kita sekali lagi bisa berbicara dengan penuh kuasa.

Kita harus dengan kuat menolak saran bahwa kita terpisah dari Kebenaran yang tak berhingga dan dapat berbuat dosa, bahwa kita terpisah dari Asas ilahi dan bisa sakit, atau bahwa kita tersesat dari Hidup abadi dan bisa mati. Kita harus menegaskan bahwa kita terus-menerus satu dengan Allah—Hidup, Kebenaran, Asas, dan Kasih—berpegang teguh pada ide ini dan membuktikannya hari demi hari.

Jika penyembuhan tertunda, titik balik sering ditandai dengan kesadaran pasien akan kedekatannya dengan Allah. Seorang wanita yang diberitahu oleh dokter spesialis bahwa dia mengidap pertumbuhan yang tidak bisa disembuhkan dan karena letak pertumbuhannya, tidak mungkin dilakukan operasi, berpaling kepada Ilmupengetahuan Kristen dengan ketakutan dan ketidak-berdayaan, bukan untuk penyembuhan, tetapi untuk mendapatkan kepastian bahwa hidup itu abadi.

Namun, saat ia sungguh-sungguh belajar, ia sadar bahwa mungkin baginya untuk sembuh; saat itu juga ia meminta bantuan seorang penyembuh Ilmupengetahuan Kristen. Setelah berbulan-bulan, ketika tidak ada kemajuan yang jelas, ia menjadi lebih putus asa daripada sebelumnya.

Lalu pada suatu hari saat ia belajar, ia merasakan pemberontakan yang hebat terhadap apa pun yang mencoba merampas kegembiraan darinya dalam menemukan bahwa ia adalah anak Allah yang sangat dikasihiNya. Ia menyadari seperti belum pernah terjadi sebelumnya, kesatuan hidupnya dengan dan ketidakterpisahannya dari Hidup yang adalah Semua. Tiba-tiba ia merasa aman, dan kesadaran yang menakjubkan akan kemampuannya sendiri untuk menyaksikan kesempurnaan memenuhi dirinya.

Dengan ilham yang diperbaharui wanita itu menyangkal bukti kebendaan akan penyakit yang tampak begitu nyata baginya dan menegaskan fakta-fakta dasar yang dinamis yang diketahuinya adalah benar. Hampir serta merta, setelah mendapatkan doa penyembuhan selama hampir satu tahun dalam Ilmupengetahuan Kristen, beberapa gejala yang menakutkan lenyap, dan tak lama kemudian ia benar-benar sembuh.

Mungkin kita terlalu sering mencoba menyembuhkan dari sudut pandang kefanaan. Ketika kita benar-benar berhasil melihat pasien kita sebagai ide Allah, oleh karena itu bersifat rohaniah, maka tanpa tertunda pasien kita disembuhkan.

Kesatuan rohaniah manusia dengan Allah sebagai ideNya adalah sebuah fakta, tetapi masing-masing orang harus menyadari sendiri makna kesatuan ini. Dan ketika ia menjadi sadar akan kesatuannya dengan Hidup ilahi, ia mendapatkan kuasa atas zat yang tidak pernah perlu hilang darinya. Ny. Eddy mengatakan dalam buku Ilmupengetahuan dan Kesehatan (hlm. 14), “Hidup ilahi sama sekali terpisah dari kepercayaan serta mimpi akan kehidupan kebendaan — dan Hidup ilahi menyatakan pengertian rohaniah dan kesadaran akan kuasa manusia atas seluruh bumi."

The Mission of the Herald

In 1903, Mary Baker Eddy established The Herald of Christian Science. Its purpose: "to proclaim the universal activity and availability of Truth." The definition of "herald" as given in a dictionary, "forerunner—a messenger sent before to give notice of the approach of what is to follow," gives a special significance to the name Herald and moreover points to our obligation, the obligation of each one of us, to see that our Heralds fulfill their trust, a trust inseparable from the Christ and first announced by Jesus (Mark 16:15), "Go ye into all the world, and preach the gospel to every creature."

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, July 7, 1956

Learn more about the Herald and its Mission.