Skip to main content

Disiplin rohaniah—mendatangkan suka cita, kebebasan, dan kesembuhan

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 24 Juni 2016

Aslinya diterbitkan di edisi 28 Maret 2016 majalah Christian Science Sentinel


Ketika saya masih kuliah, seorang badut berkebangsaan Perancis yang luar biasa, Marcel Marceau, datang untuk berbicara di kampus. Satu pernyataan yang dibuatnya sangat berkesan bagi saya selama bertahun-tahun. Ketika menjelaskan mengapa ia belajar main anggar dan menari setiap hari ketika melakukan perjalanan, ia berkata, “Disiplin adalah kunci kebebasan.” Ia menganggap latihan setiap hari tersebut sangat penting.

Saya menganggap ide ini juga bermanfaat jika diterapkan untuk mendisiplinkan pikiran secara rohaniah.

Terkadang kita menghindari disiplin karena menganggap hal itu hanya kerja keras. Kata-kata seperti membosankan dan kekakuan seringkali dihubungkan dengan disiplin. Tetapi kata-kata bahasa Inggris disciple (murid) dan discipline berasal dari kata Latin yang sama, discipulus, dan dalam upaya saya untuk menjadi murid yang setia, saya menemukan bahwa menerapkan disiplin dalam doa saya sangat penting.

Saya menganggap disiplin rohaniah berarti secara konsisten menundukkan pikiran saya kepada Allah. Ketika hal itu terjadi, kita secara sadar mengetahui yang ilahi, dan tuntutan kefanaan mulai menghilang. Menundukkan pikiran kita kepada Allah membuka pintu kepada kehadiran Kristus, yang menjadikan kita benar-benar merasakan roh yang membawa ilham seta kesembuhan. Disiplin yang kudus semacam ini merupakan unsur kunci dalam  penyembuhan karena hal itu membantu kita untuk lebih sering melihat hal-hal yang benar secara rohaniah di sekitar kita, dan hal-hal yang tidak benar. Pikiran kita diterangi dengan sifat kita yang sejati sebagai anak yang sangat dikasihi, dilindungi, dan utuh dari Allah Ibu-Bapa yang pengasih.

Sebaliknya, kadang-kadang kita merasa diserang bertubi-tubi dengan laporan tentang penyakit, masalah yang dihadapi komunitas kita serta dunia. Teman-teman dan sanak saudara mungkin bercerita kepada kita masalah mereka. Dan kita mungkin juga menghadapi masalah kita sendiri. Ketika laporan-laporan ini datang, kita harus memutuskan bagaimana menanggapinya. Apakah kita memahami bahwa Allah adalah Kasih ilahi, Budi yang maha-cerdas, atau kita percaya bahwa Allah tidak hadir dan bahwa laporan-laporan tersebut benar?

Mary Baker Eddy memberikan bimbingan berikut di buku Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci: “Berjagalah di pintu pikiran. Jika kita hanya membiarkan masuk kesimpulan-kesimpulan yang ingin kita lihat diwujudkan dalam tubuh, maka kita akan menguasai diri kita sendiri dengan selaras” (hlm. 392). Ini menunjukkan bahwa kita tidak perlu berkecil hati atau takut, bahkan untuk sementara saja. Dan sudah pasti kita tidak perlu merasa menjadi korban dari apa yang datang ke pikiran kita.

Manakala kita bersedia untuk mempercayai Allah alih-alih tenggelam dalam kekhawatiran mengenai laporan akan kesulitan, maka kita akan mendapatkan pandangan yang sama sekali berbeda mengenai keadaan kita. Kita sadar bahwa kita benar-benar mempunyai pilihan mengenai bagaimana kita menanggapinya, dan kita dapat mempraktekkan disiplin rohaniah untuk mempercayai Allah dengan penuh pengertian alih-alih percaya kepada kejahatan. Ini adalah bentuk doa yang efektif, dan hal itu membawa serta ilham Roh serta pengharapan akan hasil yang pasti dan menyembuhkan.

Ini bukanlah kegiatan yang didorong oleh kemauan budi insani yang terbatas, melainkan akibat yang wajar secara ilahi dan sangat berkuasa dari membiarkan “Budi itu pun ada di dalam kita yang sudah ada di dalam Kristus Yesus” (Ilmupengetahuan dan Kesehatan, hlm. 497), yang merupakan suatu tujuan yang dapat dicapai, dan yang seharusnya kita berjanji untuk menepatinya. Doa seperti itu, berarti terus-menerus secara sadar berpaling dengan hati yang tulus kapada Budi ilahi untuk membimbing dan memerintahi pikiran kita. Ini adalah jauh melebihi kegiatan olah-mental. Hal itu adalah suatu penegasan yang penuh keyakinan bahwa Kasih ilahi adalah penolong yang senantiasa hadir dan bahwa tidak sesuatu pun dapat merampas kebaikan serta pemeliharaan Kasih dari diri kita. Hal itu adalah mengetahui dengan sadar apa yang baik dan sejati secara rohaniah, dan ini menghasilkan penyembuhan. Kita menjadi saksi akan Imanuel; kita merasakan kehadiran Allah bersama kita.

Kadang-kadang, ketika menghadapi ketidaknyamanan yang membandel atau dorongan untuk melakukan sesuatu yang kita tahu adalah salah, kita mungkin mendapati diri kita dinina-bobokan untuk membiarkan masalah itu terus berlangsung tanpa perlawanan, alih-alih mengambil pendekatan yang penuh disiplin untuk berdoa memecahkan masalah tersebut.

Suatu pengalaman saya merupakan contoh yang baik bahwa godaan seperti itu dapat diatasi. Beberapa tahun yang lalu saya jatuh, dan punggung saya terus-menerus terasa sakit. Hal itu tidak membuat saya tidak berdaya, jadi saya membiarkannya selama beberapa minggu, kadang-kadang dan secara acak memikirkan beberapa kebenaran mengenai hal itu, tetapi tidak pernah menanganinya secara serius dengan doa.

Akhirnya saya bangkit menyadari bahwa saya hanya “mengelola” keadaan itu. Alih-alih berdoa secara teratur dan gigih, saya hanya membiarkan diri saya “menenggang” masalah itu. Misalnya, saya mendapati diri saya berpikir: “Saya masih bisa melakukan berbagai hal, jadi apa artinya sedikit ketidaknyamanan?” “Saya sibuk sekali, dan ini bukanlah prioritas utama, jadi saya berdoa mengenai masalah ini nanti saja.” Dan ini yang paling payah, “Mungkin dengan berjalannya waktu masalah ini akan membaik sendiri.”

Mempraktekkan Ilmupengetahuan Kristen dengan setia bukanlah menenggang kesesatan apa pun, bukan menenggang segala yang tidak berasal dari Allah, sekecil apa pun. Kita dapat menghadapi tuntutan yang tidak menyerupai Allah dengan kebenaran tentang wujud kita—bahwa kita adalah ciptaan Allah yang menakjubkan dan karena itu memiliki karunia untuk berkuasa atas setiap pernyataan bahwa dapat ada sesuatu yang tidak baik di dalam kesemestaan Allah.

Seperti kita baca dalam kitab Kejadian, Allah memberi manusia kuasa “atas segala binatang melata yang merayap di bumi” (1:26). Saya memahami bahwa hal ini mencakup pemikiran kebendaan yang halus, dan seringkali tidak kita perhatikan. Adalah “binatang melata yang merayap di bumi”—kepercayaan sesat yang merayap ke dalam pikiran yang tidak dijaga—yang seringkali paling memerlukan pemikiran kita yang didisiplinkan.

Dalam kasus saya, pikiran-pikiran “merayap” secara efektif melumpuhkan saya untuk menerima cedera punggung sebagai sesuatu yang patut ditenggang dan oleh karena itu membiarkannya untuk tetap tidak disembuhkan. Ketika menyadari hal ini, saya dapat melihat bahwa saya perlu mendisiplinkan pikiran saya, dan menolak godaan untuk membiarkan keadaan itu dan mengelolanya; alih-alih demikian saya harus gigih menegaskan identitas rohaniah saya sebagai ciptaan Allah yang sempurna.

Saya terbantu oleh pernyataan Ny. Eddy; “Janganlah kita biarkan tuntutan dosa atau penyakit makin diterima dalam pikiran kita. Tolaklah tuntutan itu dengan keyakinan yang kuat, bahwa hal itu tidak sah, sebab kita mengetahui, bahwa Allah bukanlah pencipta penyakit seperti Ia bukan juga pencipta dosa’’ (Ilmupengetahuan dan Kesehatan, hlm. 390).

Saya mempersenjatai diri dengan satu kebenaran, yang kira-kira seperti ini: “Substansi saya bersifat rohaniah dan karena itu tidak bisa cedera.” Setiap kali saya merasa kesakitan, dengan segera saya berpegang pada kebenaran itu. Saya menyatakan disiplin rohaniah alih-alih membiarkan pikiran-pikiran acak menguasai pemikiran saya. Saya tekun menerapkan kebenaran ini secara konsisten, dan dalam 24 jam saya sama sekali terbebas dari rasa sakit yang telah mengganggu saya selama berminggu-minggu. Saya dipenuhi suka cita dan hati saya bernyanyi penuh rasa syukur atas kasih Allah yang menjadi nyata sebagai kesembuhan.

Ini bukanlah melakukan kehendak insani. Hal itu merupakan hasil dari keinginan yang dalam dan timbul dari hati yang tulus untuk melihat dan merasakan kehadiran Allah yang dinyatakan sebagai kebebasan, bukan hanya dari rasa sakit tetapi dari setiap kepercayaan bahwa Kasih ilahi tidak mampu memerintahi hidup saya dengan selaras.

Kebebasan adalah hak kita yang dikaruniakan Allah. Ketika kita menundukkan setiap pemikiran yang tidak berdisiplin kepada pengendalian maha-tinggi Budi, kita dapat mengalami kesembuhan, seperti yang saya alami.

Berkat lebih jauh datang dari pengalaman ini. Saya belajar mengetahui bahwa disiplin rohaniah merupakan suatu cara untuk berdoa secara konsisten. Dengan perkataan lain, bahkan jika kita “sedang berlari” dan tidak berada di tempat yang hening, kita dapat berdoa dengan efektif. Mungkin ini antara lain yang dimaksud Rasul Paulus ketika berkata “Tetaplah berdoa” (1 Tesalonika 5:17).

Meskipun sangat penting untuk secara teratur meluangkan waktu memasuki “bilik doa” dan dengan diam dan tulus membuka hati kita untuk lebih melihat dan mendengar kehadiran Allah, adalah mengembangkan dan mempraktekkan disiplin rohaniah ini yang akan membawa kita melalui saat-saat sibuk kita dengan keselarasan yang semakin besar. Ketika kesesatan yang menghadang kita secara konsisten kita lawan dengan kebenaran-kebenaran yang menyembuhkan, kita akan memberkati siapa saja yang berhubungan dengan kita. Kita akan menemukan bahwa disiplin rohaniah benar-benar memberikan kunci untuk penyembuhan dan kemerdekaan.

The Mission of the Herald

In 1903, Mary Baker Eddy established The Herald of Christian Science. Its purpose: "to proclaim the universal activity and availability of Truth." The definition of "herald" as given in a dictionary, "forerunner—a messenger sent before to give notice of the approach of what is to follow," gives a special significance to the name Herald and moreover points to our obligation, the obligation of each one of us, to see that our Heralds fulfill their trust, a trust inseparable from the Christ and first announced by Jesus (Mark 16:15), "Go ye into all the world, and preach the gospel to every creature."

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, July 7, 1956

Learn more about the Herald and its Mission.