Skip to main content

Kebenaran bahwa manusia bersifat rohaniah...

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 18 Maret 2015

Aslinya diterbitkan di edisi Maret 1918 majalah The Christian Science Journal

Adding Bookmark

Bookmark Saved



Bookmarks Loading
Bookmarks Loading

Kebenaran bahwa manusia bersifat rohaniah, bukan kebendaan, datang kepada saya melalui pengalaman dalam Ilmupengetahuan Kristen. Saya menjadi invalid selama tiga atau empat tahun, setelah menjalani beberapa operasi. Pada operasi terakhir, dokter menganggap perlu mengambil gendang dan tulang telinga kiri saya, dan karena kedua bagian tubuh tersebut dianggap sebagai sarana pendengaran, maka saya tidak dapat mendengar melalui telinga kiri saya. Di musim semi tahun 1916, saya jatuh sakit, dan dokter yang menangani mengatakan bahwa saya sakit tbc. Begitu sekolah libur, saya pergi ke sanatorium, berharap bisa mendapatkan kesehatan serta kekuatan yang sangat dibutuhkan dalam pekerjaan saya, tetapi alih-alih menjadi lebih baik, keadaan saya makin memburuk. Mata saya, yang memang lemah (saya memakai kacamata sudah sepuluh tahun), menjadi semakin lemah, dan saya mulai mengkhawatirkan penglihatan saya. Saya telah lama menanggung penderitaan ini, tetapi saya tidak kuat lagi melakukannya, dan berada di ambang kehancuran mental.   

Itulah keadaan saya ketika uang saya habis dan saya harus kembali bekerja, meskipun dokter mengatakan bahwa jika saya bekerja lagi, saya tidak akan hidup lebih dari enam bulan. Ketika kembaIi ke kota tempat tinggal saya, seorang teman menawarkan untuk tinggal di rumahnya, tetapi karena tahu bahwa teman saya itu tertarik kepada Ilmuengetahuan Kristen, saya menolak tawarannya. Saya tahu bahwa saya sakit, dan saya tidak ingin ada orang yang mengatakan bahwa saya tidak sakit; karena saat itu saya mengira penganut Ilmupengetahuan Kristen menganggap penyakit hanya khayalan belaka. Meskipun begitu saya merasa tidak puas dengan ajaran lama yang mengatakan bahwa Allah mengirimkan penyakit dan kita harus berdoa kepadaNya untuk menyingkirkan penyakit dari diri kita. Meskipun tidak mau mengakuinya, saya memerlukan kasih, dan juga tempat untuk beristirahat tanpa merasa khawatir, jadi akhirnya saya menerima tawaran teman saya, tetapi hanya setelah ia berjanji untuk tidak membicarakan Ilmupengetahuan Kristen dengan saya. Ketika tiba di rumahnya, teman saya itu harus membantu saya ke tempat tidur, karena saya terlalu lemah untuk berdiri dan mengalami demam tinggi. Sebelum meninggalkan saya, dia memberi saya buku Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci dan mengatakan agar saya membacanya jika tidak bisa tidur.  

Saya sungguh bersyukur atas kearifan teman saya untuk tidak mengatakan apa-apa dan membiarkan kebenaran membuktikan dirinya sendiri. Karena saya hanya sendiri, saya mulai berpikir, dan bertanya-tanya mungkinkah Ilmupengetahuan Kristen telah mendatangkan perubahan yang saya lihat pada teman saya. Setelah beberapa saat, saya sampai kepada kesimpulan, bahwa tidak sesuatu pun yang lain telah mendatangkan perubahan itu, dan setelah itu saya memutuskan bahwa pasti ada kebenaran dalam ajaran yang tidak saya ketahui itu, dan saya akan menyelidikinya. Dalam mencari kebenaran itu saya lupa akan penyakit saya, dan sama sekali tidak berpikir bahwa Ilmupengetahuan Kristen menyembuhkan kesulitan jasmani.

Saya membuka buku ajar itu dan mulai membaca, tetapi mata saya begitu lemah sehingga setiap kali saya hanya dapat membaca satu kalimat. Setelah membaca satu kalimat, saya meletakkan buku itu dan merenungkannya, sambil berusaha menyimpulkan apakah saya dapat menerima kalimat itu sebagai kebenaran. Saya akan menelaah dan mengupas apa yang saya baca dari berbagai segi, karena saya ingin mengetahui kebenaran, tetapi tidak menerimanya hanya karena orang lain mengatakan bahwa itu adalah kebenaran. Tetapi, setiap kali saya sampai kepada kesimpulan, bahwa yang saya baca adalah kebenaran. Setelah membaca selama sekitar dua puluh menit pikiran saya dipenuhi dengan kebenaran yang menyembuhkan, saya sangat yakin akan kehadiran Allah Ibu-Bapa yang pengasih, sehingga tidak ada tempat lagi untuk ketidakselarasan apa pun.

Saya bangkit dari tempat tidur dan rasanya seseakan semua ketidakselarasan telah disingkirkan seperti  kita menyingkirkan pakaian yang kotor. Seketika itu juga saya sadar, bahwa mata saya yang beberapa menit sebelumnya tidak membiarkan saya membaca dengan  nyaman, dapat melihat jauh melampaui pemahaman saya akan penglihatan insani, dan saya menanggalkan kacamata saya seketika itu dan tidak pernah menggunakannya lagi. Syaraf saya, yang berusaha mengganggu kebahagiaan dan kemampuan saya berpikir, mendengar perintah, "Diam. Tenanglah!" dan mematuhinya. Penyakit tbc. dan kesulitan lainnya sirna dalam ketidaksesuatuan, yang merupakan keadaannya yang sesungguhnya. Semua itu saya sadari dengan serta merta, tetapi saya tidak berpikir tentang telinga saya, saya hanya tahu bahwa telinga saya tidak lagi terasa sakit. Tetapi malam itu, ketika ingin mengetahui apakah jam tangan saya berhenti, saya tidak sengaja meletakkannya di telinga kiri saya, dan saya sangat heran ketika mendengar detak jam itu untuk pertama kali melalui telinga kiri saya, yang seharusnya tidak bisa mendengar lagi. Gendang telinganya sudah tidak ada, dan lubang yang ditinggalkan ketika tulang telinga saya diambil masih ada, tetapi Allah tidak memerlukan keadaan kebendaan seperti itu untuk menjadikan anakNya sempurna. Sebagai seorang guru, saya memerlukan surat keterangan bahwa saya sehat, setelah dokter menyatakan saya menderita tbc, dan dalam dua minggu sesudah pengalaman yang saya ceriterakan sebelumnya, saya mendapat dua surat keterangan sehat dari dokter paling ternama di negara bagian itu, yang menyatakan bahwa kesehatan saya sempurna.  

Ini adalah awal pengalaman saya dalam Ilmupengetahuan Kristen. Sekarang ini sudah satu setengah tahun saya menemukan Allah, dan setiap hari berkat yang saya sadari dalam beberapa saat itu, terulang kembali. Saya berterima kasih untuk kesembuhan fisik yang saya alami, tetapi damai serta sukacita yang datang ke dalam hidup saya, dan yang saya rasakan setiap hari, membuat saya begitu bersyukur, begitu bahagia, sehingga sulit bagi saya untuk menyatakannya dengan kata-kata. Saya bersyukur kepada Ny. Eddy, yang cukup murni untuk menunjukkan jalan bagi kita, yang membuktikan kepada kita, bahwa Yesus Kristus bukan hanya teladan indah untuk dikasihi tanpa kita contoh, tetapi ajarannya bersifat praktis dan apa yang dilakukannya bisa kita lakukan juga. Saya bersyukur mengetahui, bahwa tidak sesuatu pun penting kecuali pengetahuan tentang Kebenaran, kecuali kasih Allah yang dicerminkan dalam seluruh umat manusia.

Nona Anna S. van Leeuwen, Washington, D. C., AS