Skip to main content Skip to search Skip to header Skip to footer

Saya berjalan keluar sudah sembuh

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 19 Februari 2015

Aslinya diterbitkan di edisi 5 Agustus 2002 majalah Christian Science Sentinel


Saya memutuskan untuk menjalani kehidupan seperti seorang rahib. Saya menerima fakta bahwa mungkin hidup saya akan berakhir tidak lama lagi. Sehari-hari saya melakukan meditasi rohaniah sebagai suatu ibadah. Ini membuat saya kuat, dan memberi rasa damai yang semakin dalam—meskipun keadaan fisik saya sangat memprihatinkan.

Sebelumnya saya bekerja sebagai instruktur olah raga ski dan pengusaha yang sukses. Saya memiliki dua perusahaan kecil, yang menyediakan jasa wisata ski dan sekolah musim panas. Sungguh sangat berbeda dengan keadaan saya yang terdaftar sebagai penyandang cacat. Saya menganggap kasus saya tidak memiliki harapan.

Saat masih kanak-kanak, saya menderita penyakit tulang. Sebagai akibatnya, kaki saya lebih pendek sebelah, dan tulang punggung saya bengkok. Tetapi hal tersebut tidak mengalangi saya berolah raga secara aktif. Saya bermain sepak bola dan tennis, berselancar dan bersepeda sebagai olah raga saya. Setelah tamat sekolah, saya tetap berolahraga secara aktif.

Lalu, di tahun 1995 tiba-tiba berat badan saya mulai turun. Para dokter tidak bisa menjelaskan penyebabnya. Selama berbulan-bulan saya menjalani pemeriksaan dan pengobatan. Akhirnya para dokter mengatakan bahwa saya menderita sindroma perut ringkih. Saya tidak tahan terhadap beberapa makanan. Selain itu saya juga menderita sindroma kelelahan yang kronis. Otot punggung dan leher saya menyusut dan kelemahan pada leher saya yang disebabkan oleh tulang belakang yang bengkok, tidak terlindungi. Di akhir tahun 1997 berat badan saya hanya 52,5 kg. Saya tidak tahan terhadap makanan jenis apa pun, kecuali beras merah yang direbus dan sayur mentah yang diparut. Tulang leher saya sering mengalami pergeseran, dan saya harus terus berbaring di tempat tidur.

Lalu, di musim semi tahun 2002 saya melihat  poster tentang suatu ceramah di daerah saya. Ceramah itu membahas seorang perempuan yang belum pernah saya dengar namanya—Mary Baker Eddy. Saya tidak tahu mengapa hal itu terus ada di dalam pikiran saya. Saya tidak ada hubungan dengan perempuan itu dan tidak tertarik pada kisahnya. Saya juga tidak berminat  mengetahui lebih banyak tentangnya. Selain itu, mengingat keadaan saya, sulit bagi saya untuk datang ke tempat ceramah tersebut. Tetapi pemikiran tentang ceramah tersebut tidak hilang juga. Terus saja ada dalam pikiran saya. Jadi akhirnya saya memutuskan untuk menghadiri ceramah tersebut.

Dengan perlahan, kesakitan, dan kesabaran, saya dapat tiba di ruang ceramah. Saya merasa sangat lelah dan kesakitan.

Apa yang saya dengar menjadikan saya tidak nyaman. Saya mendengar kata Kitab Suci disebut-sebut. Saat masih muda, saya merasa sangat tidak nyaman bergaul dengan orang-orang yang tertarik kepada “Kitab Suci.” Saya juga mendengar kata penyembuhan berkali-kali. Saya telah menghabiskan banyak uang untuk berbagai jenis pengobatan alternatif atau tradisional, dari akupunktur sampai terapi zona, dan berbagai cara penyembuhan lainnya. Saya menghadiri ceramah itu bukan untuk mendapatkan kesembuhan. Dengan cepat saya kehilangan minat.

Penceramah mengutip kata-kata dari buku Ilmupengetahuan dan Kesehatan ini: “Allah itu adalah baik pusat maupun keliling segala wujud” (hlm. 203-204). Saat itulah penceramah tersebut berhasil mendapatkan perhatian saya!  Dengan segera saya berpikir, “Bagaimana mungkin Allah adalah baik pusat maupun keliling dari wujud ini? Wujud yang sarat dengan penyakit, rasa sakit, dan tulang-tulang yang tidak sempurna bentuknya ini.”  

Saya juga ingat mendengar bahwa Allah berarti “baik” dan memenuhi segala ruang setiap saat. Mendengar pernyataan tersebut, saya mulai merasa marah. Apa yang “baik” dengan penderitaan yang saya alami selama bertahun-tahun ini? Apa yang baik dengan tercatat sebagai penyandang cacat pada umur 35 tahun? Saya geram! Pikiran saya penuh dengan kemarahan.

Tetapi, tiba-tiba, ada sesuatu yang berubah. Pikiran saya menjadi hening sekali. Saya merasakan rasa sakit saya berkurang. Mula-mula di perut saya, lalu di leher saya, kemudian di lutut saya. Saya merasa seakan tidak lagi terjebak dalam tubuh yang kekurangan gizi, tidak seimbang, dan kesakitan. Saya merasa sebagai pengamat yang terpisah dan merasakan kenyamanan yang semakin besar. Kenyamanan ini menggantikan rasa sakit serta penyakit yang  terus-menerus mendera. Ibarat es batu yang ada di tempat yang hangat, meleleh perlahan dan berubah bentuk, demikianlah yang saya alami. Rasa sakit dan kaku dengan lembut berubah bentuk dalam diri saya—melepaskan saya dari kekakuan yang telah membelenggu selama bertahun-tahun. Saya benar-benar tercengang. 

Ide-ide sederhana Kebenaran telah merubah tubuh saya yang kesakitan menjadi suatu kenyamanan yang hampir-hampir tidak berpenanggapan. Saya sangat terkejut dengan yang kemudian terjadi. Saya keluar dari ruang ceramah dengan langkah-langkah yang panjang dan wajar, kepala tegak, dada lapang, tanpa sakit, kelelahan, atau keterbatasan. Perjalanan pulang saya tempuh dengan berjalan kaki—sekitar satu mil jauhnya—dan saya tiba dengan suka cita serta ketakjuban yang besar atas apa yang terjadi pada diri saya.   

Malam itu saya tidur bagaikan seorang bayi, dan bangun keesokan harinya dengan pikiran betapa baik Allah itu. Allah benar-benar adalah “baik pusat maupun keliling” wujud saya. Saya ingat ide-ide lain yang saya dengar di ceramah malam sebelumnya. Antara lain pernyataan dari Kitab Kejadian ini: “Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya.” Dan ini: “Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.”

Ketika bangun dari tempat tidur saya mengalami kejutan berikutnya. Saya berdiri tegak sama sekali, alih-alih merasakan ketidakseimbangan yang biasa saya alami karena kaki saya yang tidak sama panjang. Saya berdiri dengan kaki telanjang, tegak, seimbang. Ketika berusaha mencerna hal ini dalam pikiran, saya mendengar kata-kata ini, “Kita harus secara radikal bersandar kepada Allah untuk kebaikan kita.” Rasanya saya tidak mendengar kata-kata tersebut selama menghadiri ceramah. Kata-kata itu terdengar penuh wibawa. Saya sama sekali tidak meragukan kebenarannya. Saat itu juga, saya terdorong untuk mengambil pengganjal dari semua sepatu kiri saya.  

Lalu saya sangat berhasrat membeli semua makanan untuk sarapan yang normal—seperti teh, gula, susu, sereal, roti, mentega, dan madu. Selama enam tahun saya tidak bisa makan makanan tersebut. Saya makan makanan “normal” yang lezat tanpa mengalami gejala yang tidak baik. Saya ingat berpikir bahwa itu bukanlah perubahan yang mengejutkan melainkan kembali kepada keadaan yang normal. Saya harus mengharapkan lebih banyak kejadian seperti itu.

Dua hari kemudian, saya berjalan untuk menghadiri kebaktian Ilmupengetahuan Kristen yang pertama bagi saya. Saya mulai mempelajari Ilmupengetahuan dan Kesehatan secara teratur melalui Pelajaran Alkitab mingguan yang ada di Buku Triwulanan Ilmupengetahuan Kristen.  

Dalam empat minggu berat badan saya naik 28 kg. Saya dapat makan dan mencerna makanan apa saja. Saya berjalan lebih dari dua mil setiap hari dan kembali beolahraga naik sepeda, jalan kaki, dan berenang. Saya benar-benar merasa dilahirkan kembali, dan diberi kehidupan yang baru. Saya menyadari bahwa hidup saya berasal dari Allah dan tidak pernah dapat dirampas dari diri saya. Hidup saya tidak bisa surut dengan cara apa pun atau bergantung kepada keadaan kebendaan apa pun.

Saya menghadiri ceramah Ilmupengetahuan Kristen tanpa mengharapkan sesuatu, dan meninggalkan ceramah itu tanpa keterbatasan. Saya terbebas untuk selama-lamanya.

Phillip Hockley
Farningham, Kent, Inggris

Misi Bentara

Pada tahun 1903, Mary Baker Eddy mendirikan Bentara Ilmupengetahuan Kristen. Tujuannya: “untuk memberitakan kegiatan serta ketersediaan universal dari Kebenaran.” Definisi “bentara” dalam sebuah kamus adalah “pendahulu—utusan yang dikirim terlebih dahulu untuk memberitakan hal yang akan segera mengikutinya,” memberikan makna khusus pada nama Bentara dan selain itu menunjuk kepada kewajiban kita, kewajiban setiap orang, untuk memastikan bahwa Bentara memenuhi tugasnya, suatu tugas yang tidak dapat dipisahkan dari Kristus dan yang pertama kali disampaikan oleh Yesus (Markus 16:15), “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, 7 Juli 1956

Belajar lebih lanjut tentang Bentara dan Misinya.