Skip to main content

Pengasuhan Allah

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 24 Oktober 2017

Aslinya diterbitkan di edisi Agustus 2017 majalah The Christian Science Journal.


Dari semua yang dekat dan sangat berharga di hati, anak-anak kita adalah yang terdekat dan paling berharga. Dari mereka kita sering melihat sekilas bahwa identitas serta kebaikan bersifat rohaniah. Kita melihat betapa cepatnya seorang anak kecil memaafkan kesalahan, mengharapkan kasih sayang, keadilan, kasih. Kita sungguh diberkati dengan keberadaan anak kita serta pelajaran-pelajaran tentang keadilan serta kasih sayang ilahi yang mereka datangkan.

Bagaimana kita berdoa untuk seorang anak? Hal ini menyangkut lebih dari permohonan yang paling tulus sekali pun, lebih dari maksud serta cita-cita yang baik. Langkah pertama dari upaya seperti itu menyangkut penyerahan diri yang sepenuh hati kepada Allah sebagai Ibu-Bapa kita semua, suatu kesadaran bahwa kita bukanlah pencipta atau pemelihara anak-anak kita, melainkan bahwa Allah adalah dan sudah selalu merupakan satu-satunya sumber dan pemelihara kebaikan di dalam hidup kita. Pemahaman ini membimbing langkah kita dalam mengasuh anak-anak kita.

Ketika mereka tumbuh, dan menghadapi tantangan yang mereka temui, kita menginginkan yang terbaik bagi mereka, tetapi seringkali kita memiliki pendapat mengenai apa yang terbaik bagi mereka. Kita ingin mereka tahu bahwa mereka adalah anak-anak Allah, tetapi mungkin sulit bagi kita untuk berhenti melihat mereka sebagai cerminan kita sendiri. Kita ingin agar mereka tanggap terhadap Roh, tetapi kita berusaha mencari cara agar ide-ide kita diterima oleh pikiran mereka. Doa yang sesungguhnya tidak bisa dimulai sampai kita mengakui bahwa sebab dan akibatnya bersifat ilahi dan menyingkirkan pendapat pribadi mengenai apa artinya menjadi orangtua yang berhasil.

Ketika anak pertama saya masih bayi, kami dijenguk seorang pelajar Ilmupengetahuan Kristen yang masih muda yang memiliki semua sifat yang saya inginkan pada anak saya. Ia baik hati, tanpa rasa takut, memiliki acuan susila yang kuat yang secara konsisten membimbingnya melakukan hal yang benar dan menanggapi sesuatu dengan benar. Dia memahami kehadiran serta kuasa Allah. Suatu pagi dalam kunjungannya itu saya bertanya kepadanya, “Waktu anda kecil, dan terjadi masalah, apa yang dilakukan ibu anda?” Saya pikir jawabannya akan membimbing saya tentang cara berbicara kepada anak saya sendiri dan membantu anak saya menjadi wanita yang berjiwa utuh. 

“Oh, jika saya cedera,” katanya, “ibu akan mendudukkan saya di pangkuannya dan mendekap saya. Lalu di wajahnya terlihat suatu ekspresi, karena beliau berdoa. Lalu saya akan merasa lebih baik.”

Sungguh sesuatu yang mencerahkan. Jawaban bagi saya adalah bukan menemukan kata-kata yang tepat, atau cara yang paling efisien untuk mengasuh anak. Jawabannya adalah berdoa—berserah kepada Allah; berkomunikasi sepenuh hati dengan kebaikan ilahi; suatu pemahaman rohaniah tanpa kata-kata. Pemberian saya yang terbesar sebagai seorang ibu bukanlah nasehat metafisika atau pengajaran yang benar di saat-saat sulit, tetapi kesediaan saya untuk berpaling kepada Allah dan mendengarkan kebenaranNya.

Betapa pun baiknya maksud yang terkandung dalam keinginan pribadi kita, betapa pun benar hal itu kelihatannya bagi pemikiran konvensional, Allah adalah pencipta manusia, satu-satunya kecerdasan tertinggi yang harus kita akui dan taati; Ia bukanlah pelayan dari harapan serta impian insani kita. Seperti dikatakan Mary Baker Eddy, “Barang siapa sudah mendapat pelajaran dalam Ilmupengetahuan Kristen telah memperoleh pandangan yang mulia, bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta manusia” (Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci, hlm. 29).

Mary Baker Eddy memberi kita model terluhur tentang menjadi seorang ibu dalam penjelasannya mengenai ibu Yesus Kristus, Maria: “Ibu-dara menerima ide Allah ini dan memberi kepada idealnya nama Yesus — artinya Yosua, atau Juruselamat.

“Penanggapan rohaniah Maria sangat diterangi, sehingga hukum kebendaan serta cara perbanyakan yang kebendaan didiamkan dan puteranya dilahirkan dengan pewahyuan Kebenaran; demikianlah dibuktikan, bahwa Allah adalah Bapa manusia. Roh Kudus, atau Roh ilahi, menaungi penanggapan murni Ibu-dara dengan pengakuan yang sempurna bahwa wujud ialah Roh” (Ilmupengetahuan dan Kesehatan, hlm. 29).

Suatu kesempatan khusus untuk mempraktekkan pelajaran yang saya peroleh dari kunjungan wanita itu selalu saya ingat. Bertahun-tahun kemudian, sebagai penyembuh Ilmupengetahuan Kristen saya berbicara di telepon dengan seorang pasien, ketika saya mendengar tangisan kesakitan anak perempuan saya di bagian lain rumah saya. Saya dapat mendengar ayahnya menghampirinya dan berusaha membantunya. Menyadari tuntutan yang jelas bahwa saya harus menyatakan penanggapan rohaniah—baik untuk pasien maupun anak saya—secara mental saya tegaskan pemeliharaan Allah bagi kami semua saat itu juga. 

Pembicaraan telepon berakhir, dan saya pergi menemui anak saya. Dia menggosok-gosok matanya, dan sambil tersedu mengatakan bahwa ada sesuatu di matanya. Saya membimbingnya ke sofa dan duduk di sebelahnya, mendekapnya dan mengingat kebenaran rohaniah yang baru saja saya sampaikan melalui telepon. Kata-kata dari puisi Ny. Eddy “Doa Ibu di Malam Hari” datang dengan lembut, dan saya meresapi setiap kata serta dunia kasih yang mencetuskan kata-kata tersebut. 

Di akhir nyanyian tersebut saya melihat ke anak saya dan mendapati bahwa ia telah berhenti menangis dan menjadi tenang. Ia juga melihat ke saya dan berkata, “Ibu, dapatkah kita pergi berbelanja?” Rasa sakit dan semua ingatan akan penderitaan yang dirasakannya telah hilang sepenuhnya dan kita melanjutkan kegiatan hari itu—hari, yang bagi saya, dipenuhi dengan rasa syukur yang meluap untuk keandalan serta kemahahadiran Kasih ilahi.

Kebaikan yang setinggi-tingginya yang dapat kita bayangkan atau usahakan secara insani menjadi tidak berarti di hadapan kebaikan ilahi. Apa pun yang seakan kita hadirkan atau ciptakan melalui pemahaman insani serta cita-cita pribadi untuk anak-anak kita akhirnya bersifat sementara dan terikat oleh batas-batas penanggapan kebendaan. Betapa pun enggannya pikiran fana bersandar kepada “yang tidak berhingga yang memelihara segala-galanya” (Ilmupengetahuan dan Kesehatan, hlm. vii), hal itu adalah satu-satunya jalan yang benar untuk menemukan identitas anak-anak kita, dan juga identitas kita, yang dipelihara Allah, serta semua kebaikan yang tercakup dalam Roh.

Di buku Ilmupengetahuan dan Kesehatan, Ny. Eddy menulis: “Ilmupengetahuan Kristen sedang menyingsing dalam suatu abad yang kebendaan. Fakta-fakta yang agung dan rohaniah akan wujud, laksana sinar terang, bercahaya dalam kegelapan, walaupun kegelapan, yang tidak memahami fakta itu, mungkin menyangkal kesejatiannya” (hlm. 546). Kita mungkin merasa bahwa wajarlah untuk bernalar berdasarkan apa yang kelihatan secara kebendaan ketika kita berusaha untuk melakukan yang terbaik bagi anak kita. Tetapi bahkan melalui kegelapan, kebingungan, dan penderitaan yang menyertai upaya seperti itu, ada terang yang bersinar memanggil kita kepada pemahaman yang lebih luhur, penanggapan rohaniah tentang hidup, yang mengangkat manusia kepada apa yang diketahui serta dipancarkan Budi, Allah, Kasih. 

The Mission of the Herald

In 1903, Mary Baker Eddy established The Herald of Christian Science. Its purpose: "to proclaim the universal activity and availability of Truth." The definition of "herald" as given in a dictionary, "forerunner—a messenger sent before to give notice of the approach of what is to follow," gives a special significance to the name Herald and moreover points to our obligation, the obligation of each one of us, to see that our Heralds fulfill their trust, a trust inseparable from the Christ and first announced by Jesus (Mark 16:15), "Go ye into all the world, and preach the gospel to every creature."

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, July 7, 1956

Learn more about the Herald and its Mission.