Skip to main content Skip to search Skip to header Skip to footer

Kegiatan Kristus yang membaharui

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 1 Januari 2011

Diterjemahkan dari The Christian Science Journal, edisi Januari 2006


Awal yang baru memiliki daya tarik tersendiri. Awal baru bukan hanya memberi harapan akan masa depan yang lebih baik, tetapi juga memberi kesempatan untuk menyingkirkan yang tidak lagi kita inginkan di dalam hidup kita.

Baik itu berupa kenangan yang buruk, pandangan negatif tentang diri kita sendiri, atau kecanduan yang ingin kita atasi, bebas dari masa lalu dapat merupakan alasan kuat untuk bersukacita.

Awal baru dapat datang dengan cara yang berbeda-beda sebagaimana masalah yang dihilangkannya pun berbeda-beda.  Meskipun demikian, saat kita mencari bimbingan rohaniah, mendekatkan diri kepada Allah selalu merupakan bagian dari awal baru yang berhasil. Hal ini mencakup berdoa dengan rendah hati agar hidup kita dipersatukan dengan Allah Ibu-Bapa kita, berdoa untuk menemukan lebih banyak sifat kita yang hakiki sebagai gambar dan keserupaan Pencipta surgawi, dan untuk mengikuti ajaran serta teladan Kristus Yesus secara lebih cermat. 

Suatu awal baru yang mengalir dari wawasan kita yang tajam tentang kesejatian rohaniah, tidak hanya meningkatkan kehidupan kita sendiri, tetapi berdampak pada seluruh umat manusia. Hal itu menjadikan ciptaan abadi Allah semakin nyata, dengan cara menyingkapkan kerajaan surga di bumi. Ini adalah kegiatan Kristus yang membaharui dan menyembuhkan umat manusia.

Alkitab menjanjikan,  “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2Kor 5:17). Dan dalam bab Daftar Istilah dengan Keterangannya, di buku Ilmupengetahuaan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci, Mary Baker Eddy mendefinisikan  Kristus sebagai “Penyataan ilahi Allah, yang datang kepada daging untuk memusnahkan kesesatan yang berwujud daging” (hlm. 583).

Kristus ini, atau Kebenaran ini, datang ke tempat di mana seakan kesesatan ada dan membuktikan bahwa kesesatan itu—baik itu luka masa lalu atau kesulitan saat ini—tidak memiliki kuasa yang sebenarnya. Dalam hal ini, Kristus menyingkapkan apa yang benar, dan menunjukkan bahwa yang seakan suatu bukti baru akan kebaikan sebenarnya sudah tersedia sejak lama.

Kegiatan Kristus yang membaharui ini sepenuhnya bersifat rohaniah. Suatu perubahan yang perlu bukan terjadi  semata-mata sebagai akibat keputusan insani untuk menanggalkan yang lama, tetapi karena  kita tunduk kepada Yang Ilahi. Hanyalah Kristus, penyataan ilahi Allah, yang menjanjikan awal baru yang sesungguhnya.  

Saya mulai memahami pelajaran yang penting ini ketika bebas dari kecanduan rokok. Saya terperangkap oleh kebiasaan ini waktu masih kuliah, saat sebuah pabrik rokok memberikan sampel dengan cuma-cuma.  Meskipun demikian, saya baru ingin berhenti merokok setelah beberapa tahun. Saya membuang rokok berpak-pak dan dalam beberapa hari membeli lagi. Saya terus-menerus merasa bersalah, karena waktu itu diajarkan bahwa wanita tidak sepatutnya merokok.

Kemudian, ketika suami saya dan saya mulai mempelajari Ilmupengetahuan Kristen, saya mendapat harapan baru untuk bebas dari kecanduan itu. Segera saya memperoleh pemahaman yang lebih murni mengenai identitas saya yang rohaniah, dan tidak lagi merasa bersalah.

Saya juga sedang berdoa bersama seorang penyembuh saat saya makin memperdalam Ilmupengetahuan Kristen, tetapi kelihatannya penyembuh itu tidak peduli saya merokok atau tidak. Suatu kali, ketika saya berbicara mengenai kebiasaan itu, dia menjawab bahwa ada hal-hal yang lebih penting yang harus saya pikirkan, dan sekarang saya sadar, bahwa maksud penyembuh itu adalah, banyak yang harus saya pelajari mengenai cara membuktikan Ilmupengetahuan Kristen.

Dengan perkataan lain, penyembuhan menyangkut lebih daripada hanya membetulkan masalah yang kelihatan saja. Bagaimanapun juga saya memutuskan untuk berhenti merokok dan merasa yakin kali ini akan berhasil. Sekali lagi, saya gagal.

Tetapi mengapa demikian, sedangkan keinginan saya jauh lebih murni daripada sebelumnya? “Sifat manusia  mengalir melawan arus yang benar …” tulis Mary Baker Eddy, penemu Ilmupengetahuan Kristen (Mis., hlm.  212).  Dalam kasus saya, jelaslah bahwa saya terdorong secara insani untuk sekali lagi menggunakan kuasa kemauan dalam berusaha menghentikan kebiasaan tersebut.

Pernyataan Ny. Eddy itu selanjutnya menyatakan,  “Hukum Kasih berkata, ‘bukan kehendakku, melainkan kehendakMu, yang jadi,’ dan Ilmupengetahuan Kristen membuktikan bahwa kemauan insani hilang di dalam yang ilahi ....”

Sejak itu, doa saya setiap saat adalah seperti doa Yesus “bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Lukas 22:42). Kata-kata Yesus itu senada dengan permohonannya dalam Doa Tuhan “Jadilah kehendakMu di bumi, seperti di surga” (Mat 6:10). Tafsiran rohaniah Ny. Eddy mengenai permohonan tersebut berbunyi, “Insafkanlah kami mengetahui, bahwa Allah — seperti di surga, demikian juga di bumi — mahakuasa, mahatinggi” (Ilmupengetahuan dan Kesehatan, hlm. 17).

Saya menyadari, bahwa sesungguhnya memang ada suatu kehendak, tetapi bersifat ilahi. Dan pemahaman rohaniah tentang Doa Tuhan ini menunjukkan bagaimana agar hidup kita—semua pikiran dan kegiatan kita—ada di bawah kendali kehendak ilahi ini.  Caranya ialah dengan memahami bahwa Allah, di sini, sekarang juga, mahakuasa dan mahatinggi, dan tidak mengakui pengaruh lain selain KristusNya.

Dengan wawasan rohaniah yang baru ini, saya bertekad tidak akan menggunakan kemauan insani untuk berhenti merokok. Sejak saat itu saya tidak pernah mengisap sebatang rokok pun; rasanya seakan saya tidak berhenti merokok, melainkan tidak pernah merokok.  Rokok masih tersedia pada saat itu karena suami saya baru kemudian bebas dari kebiasaan tersebut. Tetapi saya tidak pernah tergoda untuk merokok atau bahkan berpikir untuk merokok lagi.

Suatu kehidupan baru yang penuh kebebasan terpampang di hadapan saya. Yang lama benar-benar telah berlalu—seakan tidak pernah ada.  Rasanya seperti bangun dari mimpi, karena kecanduan itu hanya terasa sejati sampai saya sadar bahwa hal itu tidak pernah merupakan bagian dari diri saya.

Kebangkitan ini dinyatakan dengan indah dalam bait sebuah lagu gereja, yang memerintahkan:

 

Hai, bangunlah, tinggalkan mimpi khayal,
Bangkit dan nyanyilah, engkau bebas;
Kristus hidup, segala mimpi batal,
Rantai pengikat putus terlepas.
(Rosa M. Turner, Buku Nyanyian Ilmupengetahuan Kristen, No. 202)

Kita dapat bangun dari mimpi bahwa kita terbelenggu oleh kepercayaaan-kepercayaan lama mengenai diri kita, dan ini merupakan janji yang senantiasa diperbaharui. Penegasan Alkitab “kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya” (Kol 3:9) menunjukkan bahwa keakuan fana, dengan kesalahan-kesalahan serta kelemahan-kelemahannya bukanlah keadaan sejati siapa saja, sekarang dan selamanya.

“Manusia lama” yang ditanggalkan tidak pernah memiliki keakuan yang sejati. Hal itu merupakan khayalan semata-mata, suatu pernyataan yang salah akan keindividuilan yang sejati serta baka ciptaan Allah. Ayat berikutnya berbicara tentang mengenakan  “manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya.”

Mengenakan manusia baru bukan berarti mengganti manusia fana dengan model kebendaan yang lebih baik, melainkan mengenali kesempurnaan abadi ciptaan Allah—mengenali Kristus, identitas sejati setiap orang di antara kita.

Kristus Yesus dengan sebaik-baiknya mewakili manusia yang sejati, dan merupakan teladan bagi berjuta-juta orang selama berabad-abad. Sungguh menarik bahwa perayaan tahun baru diadakan hanya beberapa hari setelah kelahiran Yesus diperingati.  

Dan di sinilah, saya rasa, kita dapati pola untuk semua awal yang baru. Biarkanlah Kristus datang ke dalam hati kita dan menunjukkan kebenaran tentang ciptaan Allah, dengan demikian mengilhami kehidupan baru untuk menggantikan yang lama. Dan kehidupan yang baru ini pasti mengangkat orang lain juga.

Kita tidak kuasa menolak untuk  bersukacita di dalam kegiatan yang bersifat Kristus ini, yakni menanggalkan yang lama dan mengenakan yang baru yang dilambangkan oleh suatu tahun yang baru. Selamat Tahun Baru! 

Misi Bentara

Pada tahun 1903, Mary Baker Eddy mendirikan Bentara Ilmupengetahuan Kristen. Tujuannya: “untuk memberitakan kegiatan serta ketersediaan universal dari Kebenaran.” Definisi “bentara” dalam sebuah kamus adalah “pendahulu—utusan yang dikirim terlebih dahulu untuk memberitakan hal yang akan segera mengikutinya,” memberikan makna khusus pada nama Bentara dan selain itu menunjuk kepada kewajiban kita, kewajiban setiap orang, untuk memastikan bahwa Bentara memenuhi tugasnya, suatu tugas yang tidak dapat dipisahkan dari Kristus dan yang pertama kali disampaikan oleh Yesus (Markus 16:15), “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, 7 Juli 1956

Belajar lebih lanjut tentang Bentara dan Misinya.