Skip to main content Skip to search Skip to header Skip to footer

Memaafkan membawa keselarasan dan kesembuhan

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 1 Maret 2011

Diterjemahkan dari spirituality.com


Saya tinggal dan bekerja di kota besar jauh dari anak-anak dan teman-teman saya. Anak laki-laki saya baru saja selesai kuliah, dan anak perempuan saya tinggal di asrama SMU swasta bagi anak-anak pelajar Ilmupengetahuan Kristen. Suami saya dan saya sedang dalam proses perceraian. Hal ini mempengaruhi kami semua dengan cara yang berbeda. Timbul suatu jarak di antara anak perempuan saya dengan ayahnya, dan saya sangat berharap mereka akan menemukan jalan agar dapat rukun kembali.

Semuanya seakan berjalan lancar, sampai pada suatu malam anak perempuan saya menelpon sambil menangis sejadi-jadinya. Saat makan malam bersama, dia dan ayahnya bertengkar, sehingga dia merasa tidak dikasihi, bahkan diserang dengan kata-kata.  Saya tahu harus melihat keadaan tersebut dengan benar, oleh karena itu saya mulai berbicara tentang ayahnya seperti yang saya pikir akan dikatakan Yesus. Saya menegaskan fakta mengenai identitas dan sifat ayahnya yang sesungguhnya, seperti kebaikan, keramahan, keadilan, dan kasih. Anak saya berhenti menangis, dan saat saya meletakkan gagang telpon saya pikir semuanya sudah baik.

Dua minggu kemudian, pada suatu malam saya terbaring di tempat tidur dalam keadaan sakit parah sehingga rasanya untuk menelpon minta bantuan pun saya tidak sanggup. Saya merasa sendiri dan takut karena tiba-tiba tubuh saya kaku dan saya hampir tidak mungkin bernafas. Akhirnya saya menggapai Allah dalam doa. Saya ingat bertanya apa yang harus saya ketahui—apa yang harus saya lakukan? Dan jawaban yang saya terima adalah, “Maafkanlah.” Saya segera tahu maksudnya, dan jawaban  saya yang cepat adalah, “Tidak mungkin!” Saya tidak tahu bagaimana saya dapat memaafkan suami saya atas caranya memperlakukan anak kami. Saya pikir maaf hanya akan membenarkan tindakannya dan memungkinkannya mengulangi perbuatan itu.

Kemudian saya bertanya lagi, meskipun mungkin dengan lebih rendah hati, karena saat itu saya merasa makin sulit bernafas. Tidak mengherankan bahwa saya menerima jawaban yang sama.

Tiba-tiba saya sadar berada di dalam kegelapan, mengasihani diri sendiri dan mengingat-ingat kejadian-kejadian masa lalu saat saya merasa diperlakukan dengan tidak baik. Dan kejadian-kejadian tersebut bukan saja sangat jelas dalam ingatan saya, tetapi saya masih merasakan emosi yang dalam yang menyertai kejadian tersebut—kemarahan, kebencian, perasaan terluka, frustasi. Daftarnya panjang.

Hal yang paling mengejutkan adalah, bahwa saya benar-benar berpikir telah memaafkan sebagian besar kejadian tersebut. Jauh sebelum saya menjadi pelajar Ilmupengetahuan Kristen, saya tahu bahwa memaafkan merupakan suatu bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan Kristiani, suatu bagian penting dari cara hidup saya. Tetapi saya harus bertanya kepada diri sendiri, Kalau saya sudah benar-benar memaafkan, mengapa saya terbaring mengingat-ingat kejadian masa lalu yang menyakitkan dan menanggapinya dengan perasaan yang begitu terluka?

Lalu saya merasakan kehangatan Kasih ilahi mengelilingi saya, ketika menyadari bahwa upaya saya untuk memaafkan, meskipun tulus, lebih merupakan suatu cara insani untuk menghindari konfrontasi. Saya sadar, pasti ada cara yang lebih luhur—memaafkan seperti Yesus memaafkan, yang menjadikannya mampu memberkati bahkan orang-orang yang menganiayanya, seperti ketika dia berkata, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23:34).

Saat itulah dengan sepenuh hati saya mohon diberi kemampuan untuk memaafkan secara rohaniah—untuk benar-benar  “menembusi permukaan kebendaan semua hal” (Ilmupengetahuan dan Kesehatan, hlm. 313), dan menemukan sebab yang rohaniah.  Bagi saya ini berarti melepaskan penanggapan palsu tentang identitas dan menerima sifat kita yang sejati dan rohaniah sebagai keserupaan Allah, melihat setiap anak Allah sebagaimana Allah melihatnya. 

Seketika itu juga saya tahu bahwa saya bebas dari ketakutan, kebencian, dan rasa tanggungjawab yang palsu, terutama mengenai keadaan keluarga kami. Saya tidak lagi perlu melindungi anak perempuan saya karena tidak ada lagi bahaya yang mengancamnya. Saat itu saya tahu bahwa Kasih ilahi—Ibu-Bapa kita semua—akan menjaga, membimbing, dan melindungi kami masing-masing dengan rakhmat dan kasihNya.

Keesokan harinya saya bangun sama sekali bebas dari gejala-gejala yang membuat saya tidak berdaya dan ngeri malam itu. Tetapi yang lebih penting daripada kesembuhan jasmani itu adalah keselarasan yang dialami keluarga kami. Beberapa minggu kemudian saya ditawari pekerjaan di kota tempat anak-anak saya tinggal. Anak perempuan saya dan ayahnya tidak pernah lagi bertengkar. Proses perceraian kami berjalan mulus dan adil bagi semua pihak.

Setiap  hari saya melihat bukti akan kesembuhan ini bagi setiap anggota keluarga kami yang sekarang semakin besar, dan juga dalam kesempatan berharga saat saya diminta untuk mendoakan orang lain—saat kami bersama-sama menyaksikan kuasa penyembuhan kasih Allah. 

|

Saya membenarkan ceritera ibu saya. Ibu menelpon untuk menceriterakan kesembuhannya. Saya berdoa secara khusuk untuk menemukan kedamaian saya sendiri. Selama bertahun-tahun saya menemukan kedamaian seperti itu. Saya tidak memendam rasa permusuhan, dan kenangan saya tentang ayah selalu indah. Jika ibu tidak benar-benar memahami arti memaafkan, saya rasa saya tidak mampu menemukan kedamaian saya sendiri mengenai keadaan yang menyangkut kedua orang tua saya. Sekarang dalam kilas balik, saya merasa memiliki dasar yang kokoh untuk memahami arti menjadi orang tua. Saya tidak pernah melihat diri saya sebagai anak yang orang tuanya bercerai.

|

Misi Bentara

Pada tahun 1903, Mary Baker Eddy mendirikan Bentara Ilmupengetahuan Kristen. Tujuannya: “untuk memberitakan kegiatan serta ketersediaan universal dari Kebenaran.” Definisi “bentara” dalam sebuah kamus adalah “pendahulu—utusan yang dikirim terlebih dahulu untuk memberitakan hal yang akan segera mengikutinya,” memberikan makna khusus pada nama Bentara dan selain itu menunjuk kepada kewajiban kita, kewajiban setiap orang, untuk memastikan bahwa Bentara memenuhi tugasnya, suatu tugas yang tidak dapat dipisahkan dari Kristus dan yang pertama kali disampaikan oleh Yesus (Markus 16:15), “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, 7 Juli 1956

Belajar lebih lanjut tentang Bentara dan Misinya.