Skip to main content

Artritis—disembuhkan

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 1 September 2010

Diterjemahkan dari The Christian Science Journal, edisi Februari 2007


Kami tinggal di rumah bertingkat yang sempit di kota London, dan ketika saya makin merasa kesulitan naik turun tangga, saya tahu saya memerlukan bantuan.

Sudah berbulan-bulan salah satu lutut saya menjadi kaku, bengkak, dan terasa sakit, dan meskipun mula-mula saya  tidak banyak memikirkan hal tersebut, saat itu saya merasa sudah waktunya minta seorang penyembuh Ilmupengetahuan Kristen untuk membantu saya dengan doa. Selama beberapa bulan berikutnya, dari waktu ke waktu rasa sakit tersebut hilang lalu muncul lagi dan gerakan saya menjadi terbatas.

Suatu hari rasa sakit itu tidak tertahankan, dan saya menemui petugas medis di kantor saya. Apa yang dikatakan dokter malah  menjadikan saya lebih berkecil hati ketimbang rasa sakit yang saya derita. Dokter itu mengatakan, bahwa kelihatannya saya menderita atritis dan penyakit itu tidak akan “sembuh sendiri”—malah akan semakin parah, dan ia tidak dapat berbuat banyak mengenai hal itu.

Dengan penuh iba, dia memberi saya beberapa pil penghilang rasa sakit dan segelas air. Saya sangat kesakitan sehingga menelan obat tersebut.

Obat itu sama sekali tidak menolong, dan terus terang saya kecewa. Sore itu saya berharap rasa sakit saya berkurang, meskipun hanya sementara.

Dari pengalaman saya sendiri, saya tahu bahwa Ilmupengetahuan Kristen menyembuhkan, dan saya menyadari bahwa saya berpaling ke arah yang salah jika mencari solusi secara fisik. Oleh sebab itu, saat itu juga saya bertekad mencari kesembuhan yang permanen melalui Ilmupengetahuan Kristen.

Dengan sepenuh hati saya kembali berdoa dengan penyembuh, belajar lebih banyak mengenai kesempurnaan saya yang dikaruniakan Allah. Tetapi semua itu berjalan lambat. Saat itu saya berjalan dengan tongkat dan hampir tidak dapat melakukan hal-hal yang sederhana. Terutama saya sedih tidak dapat ikut berjalan-jalan di pinggiran kota dengan keluarga saya, yang merupakan salah satu kegiatan favorit saya.

Saat saya harus bertugas ke Skotlandia selama beberapa minggu untuk mengelola suatu kegiatan media yang rumit, saya tidak tahu bagaimana saya dapat melakukan tugas tersebut.

Saya ingat duduk di hotel di Glasgow, berbicara dengan penyembuh melalui telpon. Penyembuh menegaskan bahwa keuzuran sama sekali tidak sesuai dengan hukum Allah.

Ketika saya benar-benar merenungkan pernyataan tersebut dalam beberapa hari berikutnya sambil melakukan kunjungan setempat yang penuh tantangan fisik, saya terus berpegang pada fakta bahwa sebagai keserupaan Allah, saya adalah wujud rohaniah—cerminan Hidup yang tak kenal umur—bukan manusia fana yang ketakutan. Saya tahu bahwa kepercayaan mengenai keuzuran tidak pernah dapat merusakkan sukacita yang dikaruniakan Allah kepada saya atau memisahkan saya dari Allah, Kasih ilahi.

Sangatlah penting untuk melihat melampaui kesembuhan lutut saya, dan menghadapi kepercayaan akan bertambahnya usia serta keuzuran yang menyertainya.  Saya menjadi lebih waspada akan perlunya mengalahkan kesesatan dengan kebenaran dalam  “perbuatan dan perkataan kita sehari-hari” (Ilmupengetahuan dan Kesehatan, hlm. 21).

Kemudian saya dapat mengharapkan apa yang disebut Mary Baker Eddy sebagai “mengambil bagian dalam hal menjadi satu dengan Kebenaran dan Kasih” Saya bertekad untuk mengambil setiap langkah dengan rasa syukur atas kebaikan Allah.

Saya  sungguh bersukacita ketika beberapa hari kemudian sadar bahwa rasa sakit tersebut hilang. Saya merayakannya dengan melakukan jalan pagi di lereng bukit di Skotlandia dengan pemandangannya yang  indah. Tidak ada proses penyembuhan, tidak ada tanda-tanda mengenai apa yang saya derita sebelumnya—saya bebas begitu saja. Saya dapat menyelesaikan tugas saya di Skotlandia, dan saat pulang, kembali menjalankan kehidupan saya yang aktif.

Seharusnya itu merupakan akhir dari kesaksian ini, tetapi ternyata tidak. Beberapa bulan kemudian saya mulai mengalami pembengkaan yang menyakitkan—saat ini di lutut yang satunya. Hal ini membuat saya sadar, betapa konyolnya seluruh kepercayaan tersebut, dan saya bertekad untuk tidak diperdayai lagi.

Dengan berpaling kepada Allah, saya menolak untuk merasa kasihan pada diri sendiri dan berkecil hati. Saya tahu dari pengalaman sebelumnya, bahwa tidak ada yang dapat mengalangi saya melihat kebenaran mengenai diri saya sebagai ciptaan Allah yang sempurna.

Dalam beberapa hari, gangguan palsu dalam pikiran saya mengenai lutut saya ini hilang, dan saya bebas untuk selamanya. Kesembuhan itu sudah terjadi lebih dari setahun yang lalu, dan saya menikmati liburan sambil hiking yang penuh tantangan dengan keluarga dan berjalan kaki ke kantor selama satu jam dengan mobilitas penuh.

Dalam kilas balik, salah satu ide yang berkuasa yang disampaikan penyembuh kepada saya adalah bahwa “penyembuhan adalah pewahyuan.” Dulunya saya berpikir penyembuhan sebagai perbaikan—kita menjahit kembali kancing yang terlepas, maka selesailah tugas kita—sampai kancing yang lain terlepas. Tetapi saya menemukan bahwa penyembuhan yang sesungguhnya adalah pewahyuan akan apa yang sudah dan selalu benar—bahwa kita adalah cerminan Allah, Roh, yang terkasih.

Saya bersukacita bahwa keuzuran tidak pernah merupakan hukum bagi siapa saja, dan bahwa kesempurnaan, kebebasan, dan keselarasan merupakan hukum yang universal dan abadi untuk semua orang.

The Mission of the Herald

In 1903, Mary Baker Eddy established The Herald of Christian Science. Its purpose: "to proclaim the universal activity and availability of Truth." The definition of "herald" as given in a dictionary, "forerunner—a messenger sent before to give notice of the approach of what is to follow," gives a special significance to the name Herald and moreover points to our obligation, the obligation of each one of us, to see that our Heralds fulfill their trust, a trust inseparable from the Christ and first announced by Jesus (Mark 16:15), "Go ye into all the world, and preach the gospel to every creature."

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, July 7, 1956

Learn more about the Herald and its Mission.