Skip to main content

Kerendahan hati — “lensa dan prisma”

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 1 Juni 2010

Diterjemahkan dari The Christian Science Journal, edisi Mei 2000


Dalam Pelajaran Kursus Ilmupengetahuan Kristen,  saya belajar mengenal Allah melalui ciri-ciriNya,  kualitas-kualitas yang menyatakan sifatNya. Hal itu sangat membantu saya dalam memahami diri saya yang sesungguhnya sebagai gambar Allah.  Tapi ada suatu sifat yang luput dari pemahaman saya: kerendahan hati.  Saya sadar bahwa saya tidak memilikinya dan bahwa  sifat tersebut sangat penting bagi saya agar mampu menyembuhkan orang lain melalui doa.

Maka saya bertekad menemukannya. Ny. Eddy  menulis: “Kerendahan hati adalah batu loncatan kepada pemahaman yang lebih luhur akan Ketuhanan. Pemahaman yang naik lebih tinggi mendapatkan bentuk-bentuk yang segar dan semangat yang luar biasa  dari abu keakuan yang sedang melebur, dan meninggalkan dunia. Kerendahan hati meningkatkan ciri-ciri  kebakaan hanya dengan menghapus debu yang memburamkannya” (Miscellaneous Writings 1883-1896, hlm. 1). Selama dua tahun saya mendambakan dan berjuang untuk memperoleh kerendahan hati, tanpa pernah merasa bahwa saya memahaminya.  Kadang-kadang saya menangis dalam perjuangan saya untuk mendapatkan kebajikan yang sangat berharga ini. Pada saat itu saya tidak menyadari, namun dalam kilas balik saya dapat melihat, bahwa upaya saya yang tulus tersebut adalah suatu bentuk doa, dan bahwa selama itu, Allah memurnikan kesadaran saya. Melalui keselaluhadiran kuasa Kristus yang menyelamatkan, Dia menolong saya untuk melepaskan keakuan dari pengalaman saya dan dengan demikian memperoleh kerendahan hati.  “Pemahaman yang naik lebih tinggi mendapatkan bentuk-bentuk yang segar dan semangat yang luar biasa  dari abu keakuan yang sedang melebur, ….”  Hal itulah yang terjadi pada diri saya.

Kebalikan  kerendahan hati adalah tinggi hati dan merasa diri penting.  Ini adalah ciri-ciri dasar  pemikiran yang fana dan kebendaan. Keduanya  merupakan hambatan besar bagi pertumbuhan rohaniah. Keduanya  adalah produk pendapat pribadi bahwa keakuan terpisah dari Allah, suatu kepercayaan bahwa kita berhasil berkat kecerdasan kita sendiri. Suatu pandangan fana tentang diri kita, yang tidak memahami bahwa kita lengkap-sempurna dan mulia di hadirat Allah, akan merasa malu jika tidak memiliki suatu keberhasilan duniawi yang dapat dibanggakannya. Pandangan seperti itu  memperjuangkan suatu ego yang kecil dengan  kesukaan maupun ketidaksukaannya. Biasanya pandangan ini mempunyai suatu rencanan yang ingin dipaksakannya. Pandangan ini menginginkan caranya sendiri, dan membela pendapatnya sendiri.

Kristus Yesus sama sekali bebas dari diri.  Ia berkata, “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar” (Yohanes 5:30). Ia memahami sepenuhnya  bahwa kita bukan pencipta dan tidak dapat berbuat apa-apa bila terpisah dari Sang Pencipta. Sang Guru mengajarkan dan membuktikan pergantungan mutlak ini kepada Allah, Asas ilahi kehidupan. Ia mendengarkan  bimbingan Roh, dan karena mendengarkan, dia mendengar;  dan mendengarkan Bapa, ia dapat membedakan kebenaran dari kesesatan. Ia membuktikan pencerminan yang hakiki—identitas kita sebagai gambar Allah. Melakukan hal tersebut adalah menyatakan kerendahan hati. Menjawab pertanyaan “Apakah manusia itu ?” Ny. Eddy menulis, “. . . yang tidak mempunyai hidup, kecerdasan, ataupun daya cipta sendiri, melainkan mencerminkan secara rohaniah semua yang dimiliki Khaliknya” (Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci, hlm. 475).

Seorang manusia fana harus menanggalkan banyak hal. Itulah yang terjadi pada diri saya ketika saya belajar,  merenung dan berdoa. Saya menanggalkan pemikiran bahwa segala sesuatu memiliki  dasar kebendaan tetapi dilapisi kerohanian. Sekarang saya mulai memahami kesemestaan dan keesaan Allah, Roh. Saya melihat bahwa segala yang benar-benar ada adalah milikNya—bahwa semua adalah Allah, kebaikan, dan penyataanNya. Kini saya memahami bahwa ciptaan adalah bukti nyata bahwa Allah ada.

Saya membuka buku Retrospection and Introspection  dan membaca pengalaman Ny. Eddy tentang kerendahan hati.  Ia membahas tentang “dosa yang tak kelihatan” dalam mengandalkan hal-hal yang kebendaan.  Kemudian ditulisnya: “Saya memandang ke dalam sifat buruk budi fana yang kebendaan, dan merasa malu. Keangkuhan pudar. Hati saya sujud di hadapan kemahakuasaan Roh dan sepercik kerendahan hati, lembut bak sinar rembulan, menyelimuti bumi” (hlm. 31). Dua hal menarik perhatian saya: Ny. Eddy melihat keburukan kejahatan, dan menyadari kemahakuasaan Bapa. Dua hal ini diperlukan untuk memperoleh kerendahan hati dalam arti yang sedalam-dalamnya  dan saya menyadari bahwa saya maju dalam pengertian ini.

Kerendahan hati menunjukkan kepada kita bahwa kita bukanlah manusia fana yang perlu memaksakan pendapat kita kepada orang lain dan merasa bangga dan benar akan hal itu. Kerendahan hati menunjukkan kepada kita bahwa  kita adalah manusia baka, tunduk sepenuhnya kepada Roh. Menumbuhkan pengertian ini adalah tujuan yang penting jika kita ingin menjadi penyembuh yang Kristiani. Kita harus secara progresif melepaskan kepercayaan salah bahwa kita adalah manusia fana, yang memiliki budi dan keinginannya sendiri, memiliki suatu kehidupan yang terpisah dari Hidup ilahi yang esa. Ini dapat dicapai dengan berdoa dan berjuang untuk hidup bersesuaian dengan Allah, untuk mencerminkan keilahian dalam segala yang kita lakukan.

Yesus dan murid-muridnya adalah orang-orang yang rendah hati. Mereka hanya memiliki sedikit pengetahuan intelektual, namun hamba-hamba Allah ini menyelam ke dalam kesejatian hidup kepada hal-hal Roh, dan tidak menghakimi berdasarkan apa yang kelihatan. Mereka menyatakan rasa hormat yang tinggi, yang juga merupakan syarat untuk kerendahan hati.

Berdoa dan dambakanlah kerendahan hati. Kita melakukan hal ini dengan bersemangat, praktis dan berani  menegaskan kesatuan kita dengan Allah. Kerendahan hati akan menyelamatkan kita dari direndahkan. Kita tidak dapat gagal  jika kita mempraktekkannya. Kerendahan hati menyelaraskan kita dengan Kebenaran, yang menyatakan dan membuktikan dirinya sendiri dengan kuasanya yang dinamis.

Mereka yang telah menyatakan kerendahan hati yang makin besar dengan  berserah kepada pemerintahan Allah dan melihat kesejatian ciptaanNya, mungkin tidak sadar bahwa mereka telah melakukan hal itu. Mungkin mereka hanya merasa semakin yakin bahwa mereka tidak pernah meninggalkan Allah, sumber mereka. Mereka semakin menolak kesaksian palsu kekacauan, penyakit,  dosa,  dan ketakutan sebagai tidak sejati dan tidak benar,  tidak memiliki tempat,  bukan seseorang,  dan tidak memiliki substansi.  Mereka mengetahui  dengan semakin pasti bahwa Budi  ilahi  adalah Semua-dalam-semua. Mereka melihat dengan lebih jelas  diri mereka sebagai gambar Allah, ahli waris dari semua yang sejati dan baik. Mereka tahu bahwa mereka sempurna dalam segala aspek wujud mereka, dan bahwa mereka dapat membuktikan kebenaran ini di bumi seperti di surga.

Menyatakan kerendahan hati yang membimbing kita kepada pengertian yang lebih dalam akan Allah menyanggupkan kita  untuk mengetahui bahwa kerajaan Allah sudah datang, bahwa Budi yang murni memerintah sekarang dan selamanya, dan bahwa Budi ini adalah satu-satunya kuasa dan kehadiran. Kita memahami dengan semakin jelas bahwa kejahatan adalah suatu penyangkalan,  bukan suatu fakta yang ditunjang oleh Allah. Kita melihat sifatnya yang agresif, namun gambar-gambarnya yang negatif tidak menakutkan kita.  Dalam pengakuan yang rendah hati akan kesemestaan Allah, kita menyadari bahwa hanya kebaikanlah yang sejati, dan kebaikan sudah hadir dan dapat dibuktikan dengan nyata. Jika melihat yang nampaknya seperti orang sakit atau sekarat, kerendahan hati dapat meyakinkan secara mutlak kebenaran bahwa anak Allah adalah baik, sempurna, bersemangat, utuh, dan ada sekarang juga.  Kita tidak  menangani kejahatan dengan mengikuti khayalannya—dengan kata lain, dengan pikiran yang terfokus pada penyakit atau kecelakaan atau musibah lainnya. Sebaliknya, kita mengetahui bahwa adanya kejahatan adalah kabut pemikiran budi fana; bahwa bujukan ular dan ular itu sendiri, seperti dalam cerita di Alkitab (lihat Kejadian 3), adalah  tidak sejati dan sama sekali bersifat palsu. Cahaya terang Kebenaran yang kita terima dalam pikiran melenyapkan kabut itu, dan keselarasan yang selamanya benar, sekali lagi terbukti. Semua ini mungkin melalui kerendahan hati.

Bersedialah melepaskan konsep yang salah akan keakuan. Inilah kerendahan hati. Saya berusaha melakukan hal ini setiap hari dan kita semua dapat bekerja ke arah ini. Mengasihi Allah di atas segala-galanya menuntut suatu pengorbanan diri yang besar . Hal ini menuntut pemahaman yang semakin besar  bahwa, seperti yang dikatakan Ny. Eddy, “Ego-manusia adalah cerminan ego-Allah … (Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci, hlm. 281). Kita harus hidup sedemikian rupa sehingga Allah dipahami di mana kita berada.

Marilah kita mengikuti panggilan Kristiani untuk menyembuhkan dengan kuasa Allah, Budi ilahi, dan mengingat betapa pentingnya kerendahan hati dalam melakukan hal tersebut. “Kerendahan hati adalah lensa dan prisma untuk memahami penyembuhan dengan Budi …,” kata Ny. Eddy (Miscellaneous Writings,  hlm. 356). Kita dapat membuktikan kebenaran ini dan menikmati buah-buah pekerjaan penyembuhan kita.

The Mission of the Herald

In 1903, Mary Baker Eddy established The Herald of Christian Science. Its purpose: "to proclaim the universal activity and availability of Truth." The definition of "herald" as given in a dictionary, "forerunner—a messenger sent before to give notice of the approach of what is to follow," gives a special significance to the name Herald and moreover points to our obligation, the obligation of each one of us, to see that our Heralds fulfill their trust, a trust inseparable from the Christ and first announced by Jesus (Mark 16:15), "Go ye into all the world, and preach the gospel to every creature."

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, July 7, 1956

Learn more about the Herald and its Mission.