Skip to main content

Hidup penuh rasa syukur

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 1 Desember 2010

Diterjemahkan dari spirituality.com


“Selalu, selalu, selalu ada sesuatu untuk disyukuri,” tertulis di papan itu. Saya tertawa kecil membaca ketiga kata “selalu” itu. Lalu saya berpikir, ya, kadang-kadang saya membutuhkan dorongan tambahan untuk mengingat hal itu.

Seringkali saya menunda untuk bersyukur dan berkata kepada diri sendiri: Saya akan bersyukur jika diterima di perguruan tinggi pilihan saya, saya akan bersyukur jika saya menemukan jodoh saya, saya akan bersyukur jika kami dapat membangun rumah baru atau jika berat badan saya berkurang. Saya telah dibodohi karena percaya bahwa dibutuhkan suatu kejadian tertentu untuk dapat merasa bersyukur.

Dalam setiap pelajaran hidup ini, doa-doa saya telah mengajarkan bahwa saat bershyukur  dapat mendatangkan perubahan pandangan secara radikal yang menyingkapkan aktivitas dan kehadiran Allah di sekitar saya. Pelajaran-pelajaran ini mengingatkan saya pada kata-kata Mary Baker Eddy, “Sungguh-sungguh bersyukurkah kita untuk kebaikan yang sudah kita terima? Maka kita akan mempergunakan berkat yang kita miliki dan dengan demikian menjadi layak untuk menerima lebih banyak lagi” (Ilmupengetahuan dan Kesehatan, hlm. 3).

Setiap tahun menjelang Natal, saya teringat suatu musim liburan ketika untuk pertama kalinya saya belajar, bahwa rasa syukur dapat merubah pandangan saya, dan sebagai akibatnya, juga merubah pengalaman saya. Saat itu saya masih kecil, hidup berpindah-pindah dengan ibu setelah perceraiannya. Kami tunawisma dan hanya memiliki uang sedikit  saat berkelana dari satu kota ke kota lain. Meskipun demikian, kehilangan sebagian besar milik  kami bukanlah akhir dunia bagi kami. Setiap hari kami berdoa dan menyatakan rasa syukur, dan hal ini memberi kami sukacita dan harapan.

Meskipun itu merupakan masa yang sulit, beberapa kenangan yang paling saya sukai terjadi pada masa liburan tersebut. Saya merasa saat itu sangat istimewa karena rasa syukur yang saling kami berikan. Dalam segala yang kami lakukan, dalam setiap waktu yang kami habiskan bersama, kami bersyukur. Kami bersyukur atas saat yang kami jalani, dan kami bersyukur untuk apapun yang akan terjadi esok hari. Ini termasuk bersyukur memiliki pohon Natal—meskipun itu pohon Natal terkecil yang pernah saya lihat—bersyukur dapat menghabiskan waktu bersama selama berjam-jam membuat dekorasi dan memasak manisan favorit kami.

Kami juga bersyukur ibu dapat menemukan pekerjaan di mana pun kami tinggal, meskipun kadang hanya berlangsung selama beberapa minggu atau beberapa hari. Menghitung atau mengingat berkat-berkat kami, tidak kami lakukan hanya sebelum tidur atau ketika kami sedang mempelajari pelajaran Alkitab. Rasa syukur membantu kami melihat apa yang benar dan baik di dalam hidup kami di mana pun kami berada. Rasa syukur memperkuat pemahaman saya tentang kebaikan Allah, dan mengilhami ibu saya dengan pandangan yang baru dan menjanjikan tentang masa depan kami.

Salah satu nyanyian favorit saya di Buku Nyanyian Ilmupengetahuan Kristen menyatakan bahwa hidup bersyukur adalah memiliki hati yang bersyukur. Dalam tiga bait, hati yang bersyukur digambarkan sebagai sebuah taman, sebuah benteng, dan sebuah bait suci. Sepanjang hidup, saya telah menemukan bahwa hal ini benar adanya. Hati yang bersyukur adalah sebuah taman yang terdiri dari rasa nyaman dan damai yang menghalau kecemasan dan ketakutan. Hati yang bersyukur adalah benteng kepastian dan harapan yang mengalahkan perasaan tidak berdaya dan kelemahan. Hati yang bersyukur juga merupakan sebuah bait suci bagi kekuatan dan keberanian yang mendatangkan pengharapan akan kemajuan, pertumbuhan, dan kesembuhan—bahkan awal hidup yang baru.

Hidup dalam rasa syukur telah berulang kali memungkinkan saya mengalami kegiatan hukum Allah tepat pada saat saya membutuhkannya. "Pialaku penuh melimpah" kata Pemazmur (Mzm 23:5). Bukankah ini yang terjadi ketika kita memulai segala sesuatu dengan rasa syukur? Kebaikan yang telah selamanya hadir menjadi terlihat lebih jelas.

Saya memperhatikan bahwa ketika hati saya dipenuhi rasa syukur, saya merasakan kehadiran Allah. Saya dipenuhi dengan bukti akan kasih Allah. Menjalani hidup dari sudut pandang ini membimbing  kepada harta karun yang terdiri dari kesempatan serta kemajuan yang tidak terbatas, hari ini dan esok hari. Itulah janji yang patut disyukuri.


Annette Bridges tinggal di Tioga, Texas, Amerika Serikat. 

The Mission of the Herald

In 1903, Mary Baker Eddy established The Herald of Christian Science. Its purpose: "to proclaim the universal activity and availability of Truth." The definition of "herald" as given in a dictionary, "forerunner—a messenger sent before to give notice of the approach of what is to follow," gives a special significance to the name Herald and moreover points to our obligation, the obligation of each one of us, to see that our Heralds fulfill their trust, a trust inseparable from the Christ and first announced by Jesus (Mark 16:15), "Go ye into all the world, and preach the gospel to every creature."

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, July 7, 1956

Learn more about the Herald and its Mission.