Skip to main content

Tempat perlindungan bagi bangsa Indonesia

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 1 November 2010

Diterjemahkan dari csmonitor.com, 3 November 2010


“Kasih adalah tempat perlindungan kita,” demikian  tulis Mary Baker Eddy, pendiri  surat kabar Monitor (“Poems,” hlm. 4). Dia berbicara tentang Allah sebagai Kasih ilahi, yang senantiasa hadir. Saat ini bangsa Indonesia perlu merasakan kehadiran yang menyembuhkan tempat perlindungan rohaniah ini, sewaktu mereka mencari tempat perlindungan insani untuk menyelamatkan diri dari apa yang seakan merupakan bencana alam yang semakin berkembang.

Merapi, gunung berapi yang paling aktif di Indonesia, telah meletus beberapa kali dan belum juga reda. Saat artikel ini ditulis, keadaan yang membahayakan ini telah menyebabkan 69.000 orang meninggalkan tempat tinggalnya dan 38 orang meninggal dunia. Awal minggu ini ada laporan bahwa 21 gunung berapi lain di Indonesia mulai menggeliat. Dan sehari sebelumnya,  kepulauan Mentawai dihantam tsunami, yang dipicu gempa bawah laut berkekuatan 7,7 SR. Enam belas ribu orang  harus mengungsi, dan 431 meninggal dunia, sementara lebih banyak lagi orang yang belum ditemukan.

Paling tidak satu pakar geofisika,  Pall Einarsson dari University of Iceland, percaya bahwa gunung-gunung berapi itu saling mempengaruhi. Pakar geologi, Brent McInnes, seorang guru besar di Curtin University Australia, berpendapat bahwa kegiatan yang meningkat ini dapat berarti saat ini sedang terjadi restrukturisasi yang besar pada lempengan bumi” (“Indonesia Volcano Shoots New Blast; 21 More Rumble, The New York Times, 1 November). Teori seperti itu memberi petunjuk bahwa kejadian-kejadian ini dapat memicu bahaya yang lebih luas dan tidak boleh diabaikan.

Meskipun kebanyakan pembaca artikel ini secara fisik tidak berada di dekat Indonesia, setiap orang dapat  mendekatkan hatinya kepada bangsa Indonesia. Pertama kita dapat merangkul mereka, baik yang terkena dampak tsunami maupun gunung berapi, dengan penuh kasih, terutama orang-orang yang penghidupannya telah diporakporandakan oleh bahaya yang mengancam. Banyak orang yang harus meninggalkan rumahnya, ternaknya, dan binatang piaraannya di dekat gunung berapi itu. Mereka yang kehilangan rumahnya karena tsunami juga perlu merasakan kehadiran serta bimbingan Kasih.

Di dalam doa, kita dapat memahami bahwa, di mana pun mereka berada, Kasih ilahi adalah tempat perlindungan yang sesungguhnya bagi mereka dan semua yang dekat di hati mereka—apakah itu ternak yang sangat mereka perlukan, rumah yang hancur, atau sanak saudara yang belum ditemukan. Kasih ilahi dapat menjaga mereka, memberi mereka ketenteraman di hati dan pikiran mereka, dan menjadikan mereka mampu bertindak dengan arif, khususnya dalam menghadapi gunung berapi yang masih aktif itu. Kasih ilahi tidak akan membiarkan mereka kehilangan harapan serta pandangan mereka untuk masa depan.  

Seorang penulis dalam Kitab Perjanjian Baru memberikan pernyataan khusus tentang Kasih ilahi, dengan mengatakan bahwa kita hidup di dalam Allah, di dalam Kasih, dan bahwa “kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan” (lihat 1Yoh 4:16, 18). Di dalam doa kita memohon kepada Kasih yang sama. Hanya Allah yang dapat memberikan kehadiran yang menyembuhkan yang akan membuangkan ketakutan dari hati manusia dan memelihara mereka, sampai damai dipulihkan di wilayah mereka. Seperti yang dinyanyikan Pemazmur, “Kasihanilah aku, ya Allah, kasihanilah aku, sebab kepada-Mulah jiwaku berlindung; dalam naungan sayap-Mu aku akan berlindung, sampai berlalu penghancuran itu.  … Kiranya Allah mengirim kasih setia dan kebenaran-Nya” (Mzm 57:2, 4).

Bahkan sekarang ini kasih setia Allah memberdayakan para penolong saat mereka berusaha membantu sesama di masa-masa yang sulit ini. Dan kebenaran Allah juga menunjukkan bahwa keadaan yang sulit tidak perlu mengalahkan kemampuan mereka untuk melihat dan melakukan kebaikan. Bahkan di waktu terjadi kekacauan yang besar, doa kita dapat membantu mendukung tata rohaniah yang akan memberi dasar yang mantap bagi kemajuan.

Doa juga merupakan pertahanan yang ampuh terhadap penyakit, yang berakar pada ketakutan. Dalam sebuah artikel berjudul “Penularan,”  Mary Baker Eddy menulis, “Suatu keadaan pikiran yang tenang dan bersifat Kristiani adalah pencegah yang lebih baik terhadap penularan daripada suatu obat, dan daripada setiap cara penyembuhan yang lain; dan “Kasih yang sempurna” yang “melenyapkan ketakutan” adalah suatu pertahanan yang pasti” (“Miscellaneous Writings 1883-1896,” hlm. 229).

Di bawah pemeliharaan Kasih, tidak seorang pun dapat dikalahkan oleh ketakutan atau keputusasaan. Kasih memberikan kearifan bagi semua yang terlibat dalam penanganan bencana ini. Hal ini akan menjadikan baik para penolong maupun orang lain, tidak terpengaruh oleh pemandangan yang mereka lihat atau menjadi tawar hati karena beratnya tugas untuk membangun kembali baik tempat tinggal maupun komunitas yang terkena bencana. Kearifan ilahi akan membimbing semua orang yang terlibat dalam bencana ini.

Kasih adalah tempat perlindungan mereka dan kita yang sesungguhnya. Badai atau tantangan apa pun yang dihadapi bangsa Indonesia di masa datang, Allah hadir tepat di sana untuk membimbing kita semua menuju tempat yang lebih baik. 

The Mission of the Herald

In 1903, Mary Baker Eddy established The Herald of Christian Science. Its purpose: "to proclaim the universal activity and availability of Truth." The definition of "herald" as given in a dictionary, "forerunner—a messenger sent before to give notice of the approach of what is to follow," gives a special significance to the name Herald and moreover points to our obligation, the obligation of each one of us, to see that our Heralds fulfill their trust, a trust inseparable from the Christ and first announced by Jesus (Mark 16:15), "Go ye into all the world, and preach the gospel to every creature."

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, July 7, 1956

Learn more about the Herald and its Mission.