Skip to main content

Persediaan dan permintaan—seimbang dengan sempurna

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 1 September 2010

Diterjemahkan dari spirituality.com edisi 9 Februari 2010


Pengeluaran yang tidak terduga di bulan itu—dan untuk bulan-bulan berikutnya—membebani anggaran rumah tangga kami. Sewaktu dengan penuh khawatir saya menghitung pemasukan dan pengeluaran, saya sadar tidak bisa lagi menjadi ibu rumah tangga yang tinggal di rumah saja. Saya membutuhkan pekerjaan sejak kemarin! Sebelum mempunyai anak, saya bekerja purna waktu sebagai seorang perancang grafis, tetapi kemudian saya berhenti bekerja untuk membina keluarga.

Saya harus mencari pekerjaan yang memerlukan keahlian saya dan juga sesuai dengan jadwal sekolah kedua anak saya yang masih kecil. Kebutuhan saya sangatlah spesifik dan saya tidak tahu di mana saya bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Reaksi pertama saya—merasa panik dan mulai berburu pekerjaan—akhirnya  dapat di kendalikan melalui ide untuk menenangkan pikiran dengan berdoa.

Langsung saja saya merasa dipenuhi  rasa syukur. Saya teringat waktu suami saya dan saya hanya memiliki uang sebesar $25 dalam rekening bank kami. Suami saya di-PHK dan saya sedang mengandung anak pertama kami. Ia sudah berusaha mencari pekerjaan baru selama berminggu-minggu akan tetapi tidak berhasil. Kami hanya mempunyai cukup uang untuk membeli beberapa belanjaan.

Dengan beberapa tagihan lain yang harus dibayar dan pengeluaran ekstra untuk kelahiran anak kami, keadaan terlihat suram.

Saat berdoa, kami berdua dapat melihat bahwa suami saya memiliki banyak ketrampilan dan etika kerja yang baik. Semua sifat yang baik tersebut berasal dari Allah, kebaikan. Allah tidak saja  memberikan kebaikan kepada manusia (pria dan wanita), tetapi melalui hukumNya, Dia juga membuka peluang untuk menyatakan kebaikan tersebut secara konstruktif.

Mary Baker Eddy menulis tentang hal tersebut dalam bukunya Ilmupengetahuan dan Kesehatan: “Roh Allah menghimpun pikiran yang belum berbentuk ke dalam jalannya yang sepatutnya dan mengembangkan pikiran itu, seperti Ia membuka kelopak suatu maksud kudus supaya maksud itu menjadi nyata” (hlm. 506).

Mengetahui bahwa manusia tidak pernah terpisah dari kesempatan untuk menyatakankan Allah, suami saya terbimbing untuk pergi ke kantor penempatan tenaga kerja di universitasnya. Di kantor tersebut, dia melihat iklan lowongan kerja yang sesuai dengan pengalaman dan kemampuannya. Dalam hitungan hari, dia sudah bekerja di tempat baru.

Sewaktu saya mengingat pengalaman itu, saya bertanya pada diri sendiri, “Bukankah hukum persediaan dan permintaan berlaku juga untuk saya sekarang? Kalau kebutuhannya sekarang, maka pemenuhannya juga sekarang; demikianlah sifat Kasih ilahi.”

Saya melihat bahwa semua kemampuan dan sifat yang dapat saya nyatakan  adalah bukti akan persediaan ilahi. Persediaan ini adalah kelimpahan kasih Allah yang spontan, yang dengan tangan terbuka mencurahkan kebaikan dengan penuh rakhmat. Kelimpahan Kasih  berlangsung terus seperti sungai yang mengalir. Sudah menjadi sifat Kasih ilahi untuk menyediakan semua yang di perlukan bagi kesejahteraan hidup kita dan ini mencakup produktifitas yang berguna.

Saya memahami bahwa pemenuhan kebutuhan tidak menghabiskan, melainkan merupakan suatu bukti bahwa kebaikan yang tidak berkesudahan yang dicurahkan  Kasih ilahi memiliki tujuan, dan di hargai serta digunakan. Oleh karena itu semua sifat yang dikaruniakan Allah untuk saya nyatakan, diperlukan dan berguna.

Karena persediaan dan permintaan berasal dari Allah, Asas, maka keduanya haruslah seimbang secara sempurna. Tidak dapat ada persediaan tanpa permintaan dan begitu pula sebaliknya.

Alkitab mengungkapkannya dengan baik: “Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan. Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan” (2Kor 8:13, 14).

Betapa  indahnya hukum Allah menyeimbangkan persediaan dengan permintaan! Ketika saya melanjutkan berdoa, saya menyadari bahwa mencari pekerjaan yang tepat tidak perlu berbelit-belit. Tidak perlu membuang-buang tenaga  ke sana-kemari mencari pekerjaan.

Ketika Yesus membutuhkan uang untuk membayar pajak, ia mengutus muridnya, Petrus, ke laut dan berkata “…pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kaupancing, Tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang” (Mat 17:27).  Boleh dikatakan, Petrus tidak perlu “memancing ke sana ke mari” untuk mendapatkan uang yang diperlukan. Dia dibimbing  langsung untuk mendapatkannya.  Bimbingan  Kebenaran selalu tepat dan  pemenuhan Budi selalu tersedia.

Berbekal rasa syukur yang penuh sukacita   bahwa saya  akan dibimbing Allah dengan tepat dan bahwa persediaan  dan permintaan berasal dari Allah dan seimbang dengan sempurna dalam hidup saya, saya merasa siap untuk melangkah maju mencari pekerjaan.

Saya hanya menelepon satu kali, ke sebuah perusahaan penerbitan. Mereka mengatakan tidak membutuhkan seseorang  dengan ketrampilan  yang saya miliki, tetapi berminat melihat riwayat kerja saya, jika saya bersedia datang ke kantor keesokan harinya. 

Dalam doa, saya merasa terbimbing untuk menelepon perusahaan itu saja—dan ternyata mereka sedang tidak memerlukan pegawai baru. Saya tergoda untuk meragukan bimbingan yang saya dapatkan melalui doa, akan tetapi saya menjawab, “Ya, saya akan datang besok.” Saya cukup percaya kepada Allah untuk menindaklanjuti bimbinganNya.

Ketika saya datang keesokkan harinya, perusahaan tersebut baru saja selesai mengadakan rapat yang menyangkut seluruh perusahaan dan mengumumkan adanya restrukturisasi secara besar-besaran. Ketika melihat riwayat pekerjaan saya dan bahwa saya memiliki pengalaman di berbagai bidang, mereka berpendapat bahwa  saya adalah orang yang tepat untuk posisi yang baru saja mereka ciptakan. Mereka bahkan membutuhkan keahlian saya segera.

Mereka bertanya apakah saya bisa langsung bekerja dan menjadikan hari itu sebagai hari kerja saya yang pertama. Dan saya menjawab, “Ya!”

Ini adalah suatu bukti yang indah bahwa ada Budi ilahi yang mahatahu, yang mengawasi, menyatukan dan menyelaraskan setiap aspek kehidupan  dalam suatu kesatuan yang selaras dan memberkati semuanya. Saya maju dalam pekerjaan itu dan pada akhirnya bekerja sama dengan salah satu pemiliknya, merancang dan memproduksi majalah mereka.

Jam kerja dan tugas saya sesuai benar dengan jadwal sekolah dan liburan anak-anak. Saya bekerja di perusahaan tersebut sampai Allah membimbing saya menekuni karir baru sebagai penyembuh Ilmupengetahuan Kristen. Dan sementara itu, semua tagihan terbayar dan anggaran keuangan seimbang!

Fakta-fakta rohaniah yang membimbing saya ke posisi tersebut sama relevannya untuk Anda dan orang-orang yang Anda kasihi. Sekarang dan selamanya, kuasa dan  kekuatan Kasih ilahi menyeimbangkan persediaan dan permintaan dengan cara yang  mencakup semuanya, sehingga setiap orang—Anda, saya, semuanya— produktif, berkecukupan dan diberkati dengan tidak berhingga.


Janet Clements adalah seorang guru dan penyembuh Ilmupengetahuan  Kristen di Evanston, Illinois, Amerika Serikat.

The Mission of the Herald

In 1903, Mary Baker Eddy established The Herald of Christian Science. Its purpose: "to proclaim the universal activity and availability of Truth." The definition of "herald" as given in a dictionary, "forerunner—a messenger sent before to give notice of the approach of what is to follow," gives a special significance to the name Herald and moreover points to our obligation, the obligation of each one of us, to see that our Heralds fulfill their trust, a trust inseparable from the Christ and first announced by Jesus (Mark 16:15), "Go ye into all the world, and preach the gospel to every creature."

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, July 7, 1956

Learn more about the Herald and its Mission.