Skip to main content

Waktu Yang Tepat

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 1 September 2010

Diterjemahkan dari Christian Science Sentinel,  edisi 8 Maret 2010  


Saya baru bercerai, tidak bekerja, dan harus menghidupi 3 orang anak. Saat itu mungkin kelihatannya bukan waktu yang tepat untuk mengambil 12 hari cuti dari kegiatan saya mencari pekerjaan—tapi sebenarnya itu adalah waktu yang tepat.

Inilah latar belakang saya. Semasa kanak-kanak, dari waktu ke waktu saya menghadiri Sekolah Minggu Ilmupengetahuan Kristen. Sebagai ibu muda, saya ingin anak-anak saya mengetahui bahwa Allah adalah Kasih yang mahakuasa, satu hal yang sangat berkesan dalam ingatan saya mengenai pengalaman saya di Sekolah Minggu. Sementara anak-anak saya mendalami pendidikan rohaniah mereka, saya mulai menghadiri kebaktian gereja.

Suatu hari, saya pergi untuk berbicara dengan seorang penyembuh dan guru Ilmupengetahuan Kristen. Dalam pembicaraan itu saya mengetahui bahwa beliau akan memberikan pelajaran kursus Ilmupengetahuan Kristen dalam waktu dekat. Saya belum merasa siap secara mental, tapi semakin saya berbicara dengan beliau dan menceritakan tentang kesembuhan yang saya alami semenjak saya mendalami Ilmupengetahuan Kristen, menjadi jelas bagi saya bahwa sudah saatnya saya mengikuti pelajaran kursus—walaupun saya belum tahu banyak mengenai hal itu.

Jadi saya memutuskan untuk mendaftar dan saya diterima. Kendati kesulitan keuangan yang saya hadapi, keputusan untuk menjalankan rencana ini terasa tepat. Kebutuhan saya mulai terpenuhi, ketika saudara perempuan saya dengan sukarela menawarkan untuk menjaga anak-anak. Pada saat itu saya bahkan tidak memiliki kendaraan untuk pergi ke pelajaran kursus. Tetapi hal itupun berhasil diatasi karena ada seorang teman sekelas yang mengajak saya pergi bersamanya.

Selama mengikuti pelajaran kursus, saya belajar lebih banyak tentang cara berdoa dengan menggunakan kebenaran rohaniah dari cerita-cerita Alkitab, buku Ilmupengetahuan dan Kesehatan dan juga karang-karangan Mary Baker Eddy yang lain. Saya sangat bersyukur dapat belajar dan memperkaya iman saya waktu mengikuti pelajaran itu, dan merasa bahwa ide-ide dasar yang saya peroleh akan sangat membantu dalam mengatasi kesulitan yang mungkin akan saya hadapi di masa depan. 

Waktu saya kembali ke rumah, usaha untuk mencari pekerjaan gagal. Perekonomian di komunitas saya yang kecil bergerak lambat. Saya hanya mendapatkan perkerjaan untuk membersihkan rumah dan halaman. Saya tetap mengambil pekerjaan tersebut walau penghasilannya tidak mencukupi keperluan saya. Setelah beberapa bulan, persediaan makanan saya mulai menipis dan saya menerima surat penyitaan atas rumah saya. Tetapi selama pelajaran kursus, saya mendapati sesuatu yang menyelamatkan: Saya dapat mempercayai Allah untuk memenuhi kebutuhan saya. Saya ingat suatu kali berteriak, “Saya akan membuang kekhawatiran ini”—yang berarti saya dapat melepaskan masalah saya dan melihat Allah bekerja. Setelah itu saya mengucapkan kalimat favorit saya dari buku Ilmupengetahuan dan Kesehatan: “Kasih ilahi senantiasa telah memenuhi dan selalu akan memenuhi segala keperluan manusia” (hlm. 494). Saya mulai mempercayai Allah untuk membimbing setiap langkah saya dan tidak terlalu merasa cemas mengenai apa yang  terlihat di permukaan. Saya juga meletakkan kutipan tersebut di atas perapian agar dapat membacanya setiap hari.

Saat saya mendoa, keadaan mulai berubah bagi saya dan anak-anak. Seorang teman baik dari gereja membawakan jagung dan tomat dari perkebunan orang tuanya. Saya mengalengkan jagung dan tomat tersebut serta membuat saus dari apel yang diberikan oleh tetangga. Tetangga ibu saya mempunyai banyak sekali wortel sehingga mereka memberi saya sekeranjang penuh. Saya menaruh semuanya ke dalam kaleng sampai tidak ada  lagi kaleng yang kosong. Kami mempunyai banyak sekali kaleng buah dan sayuran tidak hanya untuk makan anak-anak tetapi juga dapat berbagi kelebihannya dengan teman-teman dan tetangga.

Kemudian saya terilhami untuk berbicara kepada mantan suami saya. Saya mengusulkan agar dia mengambil kembali rumah kami dan membayar cicilannya agar rumah itu tidak disita. Saya dan anak-anak akan mencari tempat lain untuk tinggal. Sangat berat untuk mengambil langkah tersebut namun saya pikir jika rumah tersebut disita kami berdua akan rugi. Bukan saja menyetujui usul saya, mantan suami saya malah membayar lunas semua tunggakan! Saya dan anak-anak pun tinggal di sana sampai 20 tahun kemudian.

Pada waktu yang hampir bersamaan, seorang teman gereja menelepon saya tentang lowongan di perusahaan tempatnya bekerja. Saya segera melamar, diterima, dan bekerja di perusahaan itu selama hampir 20 tahun. Walaupun kondisi keuangan saya pada masa tersebut terasa ketat, saya dapat mengambil pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilan. Saya selalu dapat memenuhi segala pengeluaran ekstra yang diperlukan untuk membesarkan ketiga anak saya.

Waktu yang saya gunakan untuk membentengi diri secara rohaniah melalui pelajaran kursus Ilmupengetahuan Kristen tidaklah sia-sia. Kelas itu telah membuka jalan bagi saya untuk belajar mendoa, dan membuktikan suplai yang cukup, kesehatan yang baik, dan menemukan pemecahan untuk banyak masalah yang lain. Sungguh suatu berkat bahwa saya telah mendengarkan bimbingan Allah.

Saat ini, saya telah mendekati usia pensiun, dan ide-ide rohaniah yang saya dapatkan dalam pelajaran kursus itu terus menyegarkan doa saya.  Saya menikah lagi dan hidup bahagia dan mempunyai dua putri tiri yang cantik di samping kedua putra saya dan seorang putri yang sangat mendukung saya. Tujuh orang cucu juga menambah kebahagiaan kami. Hidup saya sangatlah kaya, dan saya bersyukur mempelajari Ilmupengetahuan Kristen karena selalu menunjukkan kepada saya sumber suplai saya yang sesungguhnya—yakni Allah, Ibu-Bapa kita,  yang selalu memenuhi setiap keperluan. Saya masih terus belajar lebih banyak mengenai hal ini.

The Mission of the Herald

In 1903, Mary Baker Eddy established The Herald of Christian Science. Its purpose: "to proclaim the universal activity and availability of Truth." The definition of "herald" as given in a dictionary, "forerunner—a messenger sent before to give notice of the approach of what is to follow," gives a special significance to the name Herald and moreover points to our obligation, the obligation of each one of us, to see that our Heralds fulfill their trust, a trust inseparable from the Christ and first announced by Jesus (Mark 16:15), "Go ye into all the world, and preach the gospel to every creature."

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, July 7, 1956

Learn more about the Herald and its Mission.