Skip to main content

Editorial

Allah di dalam hati dan komunitas kita

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 1 Juni 2012

Diterjemahkan dari Christian Science Sentinel, edisi 1 November 2010


Suatu survei mengenai agama di Amerika, yang diselenggarakan oleh Pew Forum on Religion & Public Life dan dipublikasikan secara luas, telah menimbulkan kekhawatiran di komunitas keagamaan, dan dalam beberapa hal memicu kritik.

Di antara temuannya yang banyak, survei itu menunjukkan adanya perubahan yang terus menerus dalam hal afiliasi dengan gereja dan angka kehadiran di gereja, suatu “keterbukaan terhadap berbagai pandangan keagamaan,” dan perbedaan yang nyata antar generasi dalam mengidentifikasi agama. Secara menyeluruh survei itu mengamati bahwa “perpindahan yang terus-menerus menjadi ciri pasar agama di Amerika, mengingat setiap kelompok agama yang besar pada saat yang sama mendapat pengikut baru dan kehilangan pengikut lama.” Sementara lebih dari 25% orang dewasa meninggalkan agama di mana mereka dibesarkan, jumlah orang yang mengaku tidak berafiliasi dengan salah satu agama meningkat tajam. Pada saat yang sama, kelihatannya orang tetap berminat untuk mencari kebenaran.

Bagi sementara orang, yang sangat mengusik dari survei itu berkaitan dengan kesadaran beragama. Laporan tersebut menegaskan bahwa orang di Amerika menganggap agama sesuatu yang penting—lebih dari separoh menghadiri kebaktian secara teratur dan berdoa setiap hari. Tetapi suatu jajak pendapat yang terdiri dari 32 pertanyaan “mengenai Alkitab dan agama-agama lain di dunia, tokoh-tokoh sejarah, dan asas-asas konstitusi,”  memberikan hasil yang sebaliknya. Lebih dari separuh pertanyaan itu tidak dijawab dengan benar oleh para responden—bahkan pertanyaan mengenai agama mereka sendiri. Yang lebih mengejutkan, para ateis dan orang agnostis mendapat nilai yang tertinggi. Hasil jajak pendapat ini mengundang komentar berikut dari  Stephen Prothero, seorang guru besar dari Boston University, “Kita ini bangsa yang buta agama.”

Suatu tanggapan terhadap jajak pendapat  mungkin menunjukkan adanya atau tidak adanya pengetahuan umum, tetapi belum tentu menunjukkan apa yang ada di hati kita. Dan kelihatannya mustahil jika orang tidak lagi merasakan keperluan yang mendasar untuk mengetahui jati diri mereka, bagaimana mereka diciptakan, dan apa tujuan hidup mereka. Selain itu, sangatlah jelas bahwa, lebih daripada yang pernah terjadi sebelumnya, dunia ini sedang mencari  penyembuhan atas berbagai masalah—emosional, keuangan, sosial, maupun fisik.

Kami yakin pemenuhan pencarian tersebut sebaiknya dipercayakan kepada Allah. “Ingatlah,” tulis Mary Baker Eddy, “bahwa perkataan yang tertulis serta argumen yang mental hanya merupakan alat-alat pembantu yang insani untuk menolong menyesuaikan pikiran kita dengan roh Kebenaran dan Kasih, yang menyembuhkan orang sakit dan orang berdosa” (Ilmupengetahuan dan Kesehatan, hlm. 454-455). Dalam pencariannya yang semakin maju untuk memahami Asas yang digunakan Yesus guna menyembuhkan orang banyak, Ny. Eddy terus-menerus mempelajari Alkitab selama beberapa tahun. Dan dalam menjelaskan penemuannya akan Ilmupengetahuan Kristen, Ny. Eddy menyimpulkan bahwa setiap orang sesungguhnya sudah memiliki kesadaran rohaniah yang tidak dapat dibendung mengenai kesempurnaannya yang dikaruniakan Allah—“suatu pengaruh ilahi, yang senantiasa hadir di dalam kesadaran insani, berulang-ulang menyatakan diri, dan yang kini datang sebagai telah dijanjikan dahulu kala …” (Ilmupengetahuan dan Kesehatan, hlm. xi). Pengaruh yang kudus ini adalah Kristus, suatu keyakinan  yang sama seperti yang dinyatakan Yesus dengan sepenuhnya,  mengenai hubungan kita dengan Allah. Ini merupakan kuasa penyembuhan yang bukan berasal dari diri kita. Ini merupakan pemberian kasih karunia Allah. Suatu kesadaran akan kebaikan yang tidak berubah, kebenaran tentang ciptaan.

Kadang-kadang pemahaman tentang Kristus ini seakan sama sekali tersembunyi bagi kita atau orang lain. Kesaksian mengenai penyakit, perang, kebencian, ketakutan, kejahatan, kemiskinan, penderitaan, siksaan, berteriak bahwa Kristus tidak ada, tidak dapat ada, tidak pernah ada. Di situlah mungkin banyak orang mendapati diri mereka—dibanjiri dengan berbagai campuran kesaksian pancaindera yang mengatakan bahwa tradisi keagamaan dan kitab suci mungkin tidak lagi mempunyai  jawaban untuk “masalah-masalah yang sulit.”

Jika demikian, di situ jugalah orang-orang yang mengaku mengasihi Allah dan sesama, dan yang memahami bahkan sedikit saja kebenaran yang menyembuhkan, memiliki hak istimewa untuk hidup sebagai teladan. Alih-alih meratapi hilangnya iman dalam masyarakat, atau mengkritisi orang-orang yang kurang pengetahuannya, kita dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaaan ini kepada diri sendiri: Apakah sebetulnya yang diinginkan orang, yang dicari orang? Apa yang dapat saya tawarkan? Apakah ketidaktahuan masyarakat  tentang Allah serta ketidakpedulian masyarakat kepada Allah mencerminkan ketidaksadaran dan ketidakpastian di dalam hidup saya sendiri? Sesungguhnya, melalui kepercayaan kita sendiri kepada Kebenaran, kita memiliki kesempatan untuk membangkitkan harapan serta keyakinan pada orang lain juga.

Bahkan waktu masih kecil Yesus sudah memiliki pengetahuan yang dalam mengenai hukum serta nubuat bangsa Ibrani, yang dapat menandingi para ahli di rumah ibadat, dan dalam Alkitab tertulis bahwa ajarannya bukan untuk menonjolkan diri melainkan penuh kuasa. Meskipun demikian pengetahuan faktual bukanlah yang sesungguhnya diharapkan Yesus dari para pengikutnya. Yesus mengajarkan Aturan Kencana dan berkhotbah tentang pelajaran yang sederhana tetapi berkuasa agar kita berbuat alih-alih hanya berbicara, agar kita mengasihi tanpa syarat, dan agar kita menumbuhkan kemampuan untuk menyembuhkan seperti yang dilakukannya.

“Kata-kata Ilmupengetahuan yang tertulis mencapai umat manusia dengan berlimpah-limpah pada masa ini, tetapi roh Ilmupengetahuan hanya berangsur-angsur diresapnya,” tulis Mary Baker Eddy.  “Intisari, yakni hati dan jiwa Ilmupengetahuan Kristen, adalah Kasih” (Ilmupengetahuan dan Kesehatan, hlm. 113). Menumbuhkan pemahaman yang menyembuhkan ini, seperti yang dilakukan Yesus, merupakan cara yang andal untuk mencari dan menemukan jawaban atas masalah-masalah hidup yang paling sulit, demi kebaikan semua orang. Kegiatan ini tidak akan pernah menjadi usang. Dan hal itu akan membuahkan hasil yang memberi bukti akan kebenarannya.

The Mission of the Herald

In 1903, Mary Baker Eddy established The Herald of Christian Science. Its purpose: "to proclaim the universal activity and availability of Truth." The definition of "herald" as given in a dictionary, "forerunner—a messenger sent before to give notice of the approach of what is to follow," gives a special significance to the name Herald and moreover points to our obligation, the obligation of each one of us, to see that our Heralds fulfill their trust, a trust inseparable from the Christ and first announced by Jesus (Mark 16:15), "Go ye into all the world, and preach the gospel to every creature."

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, July 7, 1956

Learn more about the Herald and its Mission.