Skip to main content

“Pendirian yang lebih luhur”

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 1 September 2012

Diterjemahkan dari The Christian Science Journal, edisi Januari 1950


Manusia adalah anak Allah, gambar dan keserupaan sempurna dari penciptanya yang sempurna, dan mencerminkan kemurnian serta kepuasan mulia Asasnya yang sempurna, sekarang dan selamanya. Sungguh melegakan mengetahui, bahwa manusia yang sejati—dan tidak ada manusia selain yang sejati—tidak perlu melewati proses penderitaan atau perjuangan untuk bangkit kepada keadaannya yang sempurna ini, karena semua itu sudah tercakup di dalam warisannya sebagai anak Allah.

Menerima saran, bahwa manusia, ide Allah, harus bangkit, berarti mengakui bahwa dia dapat jatuh, hal yang sama sekali tidak mungkin, karena kesatuan Allah dan manusia menjadikan kemungkinan seperti itu mustahil. Dalam buku Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci,  Mary Baker Eddy menyatakan: “Yang sempurna dan baka adalah keserupaan abadi Khaliknya. Manusia sekali-kali bukanlah suatu kecambah kebendaan yang tumbuh dari yang tidak sempurna dan yang mencoba melampaui asalnya untuk mencapai Roh. Arus tidaklah naik lebih tinggi daripada sumbernya" (hlm. 246).

Ini bukan berarti tidak perlu ada peningkatan dan kemajuan di bidang insani. Bukan demikian. Tetapi, peningkatan dan keberhasilan harus diakui dan dibuktikan sebagai “hal-hal yang ditambahkan” yang secara wajar dan tanpa bersusah-susah mengikuti  pemahaman serta pembuktian akan keakuan manusia yang sejati. Di dalam kerajaan yang oleh Yesus dianjurkan agar kita cari, wujud manusia yang sempurna satu dengan Allah. Dan kita menerima janji Jesus yang menakjubkan bahwa jika kita mencari kerajaan Allah terlebih dahulu, “semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat 6:33).

Fakta rohaniah tentang Allah yang sempurna dan manusia yang sempurna haruslah mendasari semua penalaran jika kita ingin mengalami pengembangan yang spontan dan tanpa bersusah-payah. Jika pikiran bertolak dari pendirian yang luhur akan kesempurnaan Budi yang meliputi semuanya, hasilnya selalu bersifat spontan, seperti dijanjikan Pemimpin kita melalui kata-kata yang membesarkan hati ini (Ilmupengetahuan dan Kesehatan, hlm. 262):  "Jika kita bertolak dari suatu pendirian yang lebih luhur, maka kita naik lebih tinggi dengan sendirinya, seperti terang pun tanpa bersusah-susah menyinarkan terang." Karena pendirian kesempurnaan tidak mengenal derajad atau tahapan, bukankah istilah “lebih luhur” menunjukkan penanggapan yang mutlak akan wujud yang menggambarkan keadaan wujud sempurna yang diluhurkan?

Bertentangan dengan kesejatian ilahi, mitos yang disebut budi fana seakan terus-menerus berupaya memperbaiki pernyataannya, yang disebut manusia fana. Budi yang kedagingan ini hendak menetapkan ukurannya sendiri mengenai yang disebutnya kesempurnaan dan menyampaikan janji kosong bahwa kepatuhan kepada ukuran tersebut akan mendatangkan kepuasan. Seorang pelajar Ilmupengetahuan Kristen tidak teperdaya oleh penalaran hampa ini sebagaimana Yesus pun tidak teperdaya oleh godaan di padang belantara, ketika budi kedagingan yang sama—Iblis—menjanjikan seluruh bumi jika Yesus menyembah dan mengakuinya. Allah yang bersifat baka, tidak tahu sedikit pun tentang kefanaan, yang menyebut dirinya baik ataupun buruk. Pemikiran kebendaan yang buruk tidak pernah berubah menjadi pemikiran kebendaan yang baik.

Sebaliknya, Ilmupengetahuan Kristen menunjukkan bahwa semua pemikiran kebendaan merupakan mitos  dan mengakui bahwa pikiran Budi ilahi adalah satu-satunya pemikiran yang sesungguhnya.

Seharusnya tidak mengherankan bahwa penanggapan fana tidak pernah merasa benar-benar puas, karena tidak ada kebenaran dalam budi fana atau apa pun yang dikatakan atau dilakukannya. Pencarian sia-sia untuk mendapatkan kebahagiaan dengan cara menghimpun harta kebendaan memicu orang bijak di zaman Alkitab untuk menumpahkan ratapan yang penuh kekecewaan dan mengenaskan ini: “Semua sungai mengalir ke laut, tetapi laut tidak juga menjadi penuh. . . mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar" (Pengkhotbah 1:7, 8).

Upaya yang tidak henti-hentinya untuk meningkatkan hal-hal yang kebendaan mengandung keinginan dan tujuan untuk melestarikan kepercayaan bahwa manusia bersifat kebendaan. Rasul Paulus memberitahu bahwa kita seharusnya tidak berusaha memelihara penanggapan kebendaan tentang kehidupan, melainkan menanggalkannya. Dan dia menganjurkan kita agar “mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” (Efs 4:24). Kepercayaan palsu adalah satu-satunya yang dapat ditanggalkan, karena yang disebut sebagai manusia fana hanyalah suatu kepercayaan bahwa manusia adalah pribadi yang bersifat kebendaan.

Ilmupengetahuan Kristen bukanlah falsafah manusia yang dengan optimis kita manfaatkan untuk mencapai keberhasilan duniawi dan menghimpun kelimpahan zat. Sesungguhnya, upaya untuk memanfaatkan Ilmupengetahuan Kristen dari pendirian seperti ini menyiratkan bahwa tujuannya adalah menghimpun zat yang lebih banyak dan lebih baik, dan bahwa kita boleh menggunakan sarana kebendaan maupun rohaniah untuk mencapai tujuan tersebut. Hal ini tidak sesuai dengan ajaran Pakar Metafisika yang Agung, yang bersabda, “Walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu” (Luk 12:15). Yesus tahu bahwa zat, baik tidak tersedia atau tersedia secara melimpah, buruk atau baik, tidak membuktikan ketidakhadiran atau kehadiran Allah, dan Yesus tidak mau mengakui kesejatian keterbatasan, baik mental atau kebendaan.  Yesus mencari dan memanfaatkan setiap kesempatan untuk menunjukkan “kerajaan Allah,” alih-alih bekerja secara kebendaan untuk mendapatkan “hal-hal yang ditambahkan,” dan hal ini menjelaskan pembuktiannya yang spontan dan pasti akan ketidaksejatian segala bentuk kekurangan dan ketidakselarasan.

Penanggapan perseorangan mengusung kepercayaan bahwa pembuktian menyangkut proses penambahan, bahwa manusia tidaklah lengkap, tidak puas dan bersifat fana, dan pengalamannya sebagian besar mencakup upaya yang khayal untuk mendapatkan sesuatu di luar dirinya sendiri. Ilmupengetahuan Kristen menolak penalaran kebendaan yang membuat hati kecut ini, dan menggantikannya dengan keinsafan yang sadar dan pembuktian, bahwa manusia mencakup—melalui pencerminan—kelimpahruahan rohaniah Allah. Kasih yang adalah Allah, kebaikan, adalah hukum wujudnya, dan tidak ada daya tarik atau keperluan yang lain. Di dalam tempat tinggal Jiwa yang luhur dan suci, manusia, sebagai anak Allah yang terkasih, tinggal dengan nyaman dalam kesadaran mengenai kelimpahan yang tidak berubah dari sumbernya yang tidak berhingga dan tidak pernah gagal.  

Hanya yang sejati dan benar-benar ada yang dapat dibuktikan. Yesus membuktikan wujudnya yang sejati dan tidak terbelenggu, Kristus. Demikian pula kita harus membuktikan wujud kita yang sejati, kedudukan kita yang ilahi sebagai puteraNya yang selalu puas.  Pembuktian adalah menunjukkan  apa yang benar-benar ada, menjadikan nyata manusia yang sejati, ide yang ilahi, yang tidak memerlukan penyembuhan. Bagi orang di sekitarnya, Yesus menyampaikan konsep tentang kebaikan yang terluhur yang pernah diketahui dunia, tetapi dengan tegas dia menegur kecenderungan untuk merancukan penanggapan perseorangan tentang kebaikan dengan kebaikan rohaniah keakuannya yang sejati, Kristus, yang berasal dari Allah. Dengan penuh kerendahan hati Yesus berkata kepada seorang penguasa (Luk 18:19): "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja." Jika kita merasa enggan untuk mempelajari dengan penuh sukacita buku Ilmupengetahuan dan Kesehatanatau mempraktekkan aturan-aturan yang ditetapkan Ilmupengetahuan Kristen, atau jika kita merasakannya sebagai suatu  tugas yang tidak menyenangkan, sangatlah membantu untuk memeriksa pikiran kita guna menentukan apakah pekerjaan itu kita lakukan dari pendirian bahwa manusia memiliki budi fana yang memerlukan pencerahan dan tubuh kebendaan yang memerlukan penyembuhan. Dalam Ilmupengetahuan tidak ada budi fana atau manusia fana, baik yang sudah dicerahkan maupun yang memerlukan pencerahan, sehat atau sakit, baik atau jahat.   

Dengan menyadari keakuan kita yang hakiki sebagai ide ilahi yang diciptakan Allah, kita melihat bahwa kesesatan yang menganggap diri kita fana adalah tidak sejati. Budi, Allah, meliputi semua terang, kecerdasan, kesehatan, dan kemurnian, dan manusia yang sejati yang adalah satu-satunya manusia, mencerminkan terang, kecerdasan, kesehatan, dan kemurnian tersebut dalam kecemerlangan wujud yang sejati.

Jika kita mencari kebenaran akan kesempurnaan Allah dan manusia karena kesadaran akan wujud yang mendatangkan sukacita serta kepuasan yang tidak terkira dan dengan kesadaran yang jelas bahwa kebenaran wujud yang diilhami secara ilahi yang kita pikirkan adalah fakta mengenai diri kita yang sejati, maka pencarian itu akan sangat mengilhami dan memberi kepuasan, sehingga semua rasa berat dan tegang hilang. Betapapun banyaknya kita belajar dan membaca tidak dapat menjadikan fakta-fakta akan wujud menjadi lebih sejati; tetapi belajar dengan pendirian bahwa manusia sempurna sekarang juga, dan mengidentifikasi diri dengan kesejatian rohaniah, kita mendapati bahwa pengalaman kita saat ini semakin menyatakan wujud kita yg sejati sebagai ide Allah, tidak dibatasi dan terus-menerus menyadari kelengkap-sempurnaan serta keselarasan yang sudah selalu menyatu di dalam diri kita.

Ny. Eddy menulis di buku The First Church of Christ, Scientist, and Miscellany (hlm.242): "Ilmupengetahuan Kristen bersifat mutlak; tidak berada di belakang titik kesempurnaan ataupun menuju kepadanya; Ilmupengetahuan Kristen ada di titik kesempurnaan dan harus dipraktekkan dari situ. Kecuali kalau kita menyadari bahwa kita adalah anak Allah, oleh karena itu sempurna, kita tidak memiliki Asas untuk dibuktikan dan tidak mempunyai aturan untuk membuktikannya.” Dan selanjutnya Ny. Eddy menambahkan, “dalam memperaktekkan Ilmupengetahuan Kristen kita harus menyatakan Asasnya dengan benar, kalau tidak kita kehilangan kemampuan untuk membuktikannya.”

Pada kenyataannya, hanya dapat ada satu pendirian, yakni pendirian yang sempurna secara rohaniah, karena Allah yang sempurna, Roh, termasuk ciptaan sempurna Roh, adalah Satu dan Semua.

The Mission of the Herald

In 1903, Mary Baker Eddy established The Herald of Christian Science. Its purpose: "to proclaim the universal activity and availability of Truth." The definition of "herald" as given in a dictionary, "forerunner—a messenger sent before to give notice of the approach of what is to follow," gives a special significance to the name Herald and moreover points to our obligation, the obligation of each one of us, to see that our Heralds fulfill their trust, a trust inseparable from the Christ and first announced by Jesus (Mark 16:15), "Go ye into all the world, and preach the gospel to every creature."

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, July 7, 1956

Learn more about the Herald and its Mission.