Skip to main content

Firman yang menyembuhkan pada kebaktian gereja kita

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 1 September 2012

Bentara Ilmupengetahuan Kristen, September 2012


Firman kebenaran yang dibacakan dari Khotbah Pelajaran di kebaktian gereja-gereja Ilmupengetahuan Kristen memiliki kuasa untuk menyembuhkan semua keadaan yang tidak selaras, yang mungkin sedang dihadapi orang-orang yang mendengarkan kebaktian tersebut.  Kuasa penyembuhan yang sama juga kedapatan dalam kata-kata yang dinyanyikan bersama pada kebaktian gereja kita, dan juga dalam kata-kata nyanyian solo.

Saya percaya bahwa orang yang datang ke kebaktian gereja mempunyai keinginan yang dalam untuk disembuhkan dan untuk menjadi lebih baik.  Mary Baker Eddy, Penemu dan Pendiri Ilmupengetahuan Kristen, menulis dalam buku Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci: “Usaha yang terus-menerus untuk senantiasa bersifat baik adalah mendoa dengan tidak berhenti-hentinya. Alasan doa yang demikian ternyata dari berkat yang didatangkannya — berkat, yang meskipun tidak diakui dengan kata-kata yang diucapkan, menyaksikan, bahwa kita layak untuk mengambil bagian dalam Kasih”  (hlm. 4). Doa orang yang hadir pada kebaktian gereja dan keinginan mereka untuk mendengar Firman Allah  mendatangkan berkat  bila,  seperti  Pemazmur, mereka mengakui bahwa  “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku  dan terang bagi jalanku”  (Mzm 119:105).

Yang dituntut dari diri kita adalah agar kita berjaga, sehingga kita tetap berada di bawah hukum Allah dan mematuhi Firman serta perintahNya, dan tidak melanggar atau mengabaikannya. Meskipun terkadang seakan kita memiliki alasan yang kuat dan  merasa dapat dibenarkan untuk mengambil sikap yang keliru, sekali-kali kita tidak boleh mengabaikan atau melanggar Firman Allah. Seorang teman dekat telah menyakiti perasaan saya  dengan memfitnah dan menyebarluaskan kabar tentang diri saya yang sama sekali tidak benar. Awalnya saya marah sekali dan sangat membenci teman saya tersebut, meskipun saat itu saya juga sadar bahwa membenci seseorang adalah melanggar hukum Allah, yang mengajarkan kepada kita untuk mengasihi sesama, bahkan musuh kita sekalipun.  Tetapi saat itu, saya merasa berhak membenci teman saya itu, karena telah menyebarkan rumor yang sangat keji mengenai diri saya.

Kemudian, saat menghadiri pertemuan kesaksian Rabu sore, saya tersentak mendengar  Pembaca Pertama mengumumkan bahwa tema pertemuan malam itu adalah “Kasihilah musuh-musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Seluruh pembacaan dari mimbar malam itu menyentuh hati saya dengan sangat lembut dan penuh kasih, dan saya merasa dikelilingi terang dan curahan air sejuk telah menghilangkan rasa haus saya.  Bacaan malam itu antara lain dipetik dari  Kolose: “Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian” (3:12, 13). Semua pesan yang indah tersebut seakan khusus dipersiapkan untuk saya, dan membisikan kata-kata ini kepada saya, “Berhentilah membencinya!.”  Saya merasa yakin benar telah mengalami kesembuhan; watak saya telah diperbaharui. Saya merasa terlepas  dan terbebas dari kesesatan yang telah membelenggu selama beberapa hari terakhir.  Saya sangat bersyukur  telah diingatkan akan hukum-hukum Allah yang harus saya patuhi, hukum-hukum ilahi yang mendatangkan keselamatan dan kemerdekaan pada saat kita memerlukannya.

Pernah, pada suatu kebaktian hari Minggu saya sembuh dengan serta-merta dari sakit kepala yang berat ketika saya mendengarkan dengan tekun dan memberi perhatian penuh kepada kata-kata yang dibacakan. Pada  kebaktian yang lain, saya sembuh dari perasaan tertekan saat lagu pertama dinyanyikan oleh segenap jemaat. Sementara itu pada peristiwa lain, kekhawatiran yang besar karena harus mempersiapkan pernikahan anak laki-laki saya, hilang lenyap, digantikan oleh kehangatan kasih Allah yang menyelimuti diri saya,  ketika mendengarkan kata-kata nyanyian solo pada suatu kebaktian hari Minggu.

Semua Firman Allah yang diucapkan atau dinyanyikan dalam kebaktian gereja kita memiliki kuasa penyembuhan. Kesempatan untuk sembuh senantiasa terbuka bagi para pendengarnya, apa pun masalah yang mereka hadapi saat itu, baik itu kekurangan kesehatan, kekurangan uang, kekurangan rasa damai, sukacita, pertemanan, atau masalah yang lain. Dalam Kitab Ulangan Allah berfirman: “Maka tidak akan ada orang miskin di antaramu, sebab sungguh TUHAN akan memberkati engkau di negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk menjadi milik pusaka, asal saja engkau mendengarkan baik-baik suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini” (15:4, 5).

Dalam  Ilmupengetahuan Kristen kita belajar mengetahui,  bahwa kita hidup di dalam Allah.  Mendengarkan serta mematuhi FirmanNya  akan mendatangkan berkat bagi kita, menjadikan kita sehat, dan kita akan dikelilingi oleh damai dan sukacita abadi.


Djoni Darmadi tinggal di Jakarta, Indonesia.

The Mission of the Herald

In 1903, Mary Baker Eddy established The Herald of Christian Science. Its purpose: "to proclaim the universal activity and availability of Truth." The definition of "herald" as given in a dictionary, "forerunner—a messenger sent before to give notice of the approach of what is to follow," gives a special significance to the name Herald and moreover points to our obligation, the obligation of each one of us, to see that our Heralds fulfill their trust, a trust inseparable from the Christ and first announced by Jesus (Mark 16:15), "Go ye into all the world, and preach the gospel to every creature."

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, July 7, 1956

Learn more about the Herald and its Mission.