Skip to main content

Lima pelajaran rohaniah tentang pekerjaan

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 1 September 2012

Diterjemahkan dari Christian Science Sentinel, edisi 4 April 2012


Saya kehilangan pekerjaan sekitar lima tahun yang lalu, tepat sebelum Natal. Waktu itu, seakan itulah hal paling buruk yang dapat terjadi. Tabungan keluarga sangat minim, harapan saya ke depan terlihat suram, ditambah lagi rumah yang kami tinggali adalah fasilitas dari perusahaan tempat saya bekerja.

Mula-mula saya tergoda untuk mengambil langkah-langkah yang biasa dilakukan orang, yakni mengirim lamaran kerja ke mana-mana, bahkan secara acak, dan berharap mendapat tanggapan. Tetapi, ketika memikirkan hal tersebut, saya sadar bahwa itu adalah tindakan yang didorong oleh ketakutan dan ketidakpercayaan, dan didasarkan pada kekhawatiran bahwa Allah tidak akan menjaga saya. Oleh karena itu saya berpaling dari cara pandang duniawi dan berdoa agar dibimbing dalam mencari pekerjaan baru.

Di buku ajar Ilmupengetahuan Kristen, Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci, Mary Baker Eddy menulis bahwa manusia adalah “paduan ide akan Allah, yang meliputi sekalian ide yang benar” (hlm. 475), dan ciptaan terjadi dari “pengembangan ide-ide rohaniah serta identitasnya, yang dirangkum dalam Budi yang tidak berhingga dan dicerminkan untuk selama-lamanya” (hlm. 502).  Pada bab sebelumnya, Ny. Eddy juga menulis tentang kehadiran serta bimbingan Allah: “Kecelakaan tidak ada bagi Allah, atau Budi baka, dan kita harus meninggalkan dasar fana kepercayaan kita dan bersatu dengan Budi yang esa, untuk mengganti pendapat tentang nasib dengan paham yang benar tentang bimbingan Allah yang tidak dapat salah, dan dengan demikian menjadikan nyata keselarasan” (hlm.424).

Dalam mengaplikasikan kebenaran-kebenaran rohaniah ini  untuk mengatasi masalah yang saya hadapi, saya menyadari beberapa hal. Pertama, saya melihat bawa saya tidak dapat digeser dari tempat yang merupakan hak saya—tempat di mana saya dapat memberkati dan diberkati—kecuali kalau pergeseran tersebut direncanakan dan ditetapkan Allah, Kasih ilahi. Jika memang demikian, saya sangat bersemangat untuk mengetahui kesempatan apa yang terbuka bagi saya.

Saya juga menyadari lima hal penting tentang Allah dan wujud rohaniah saya sebagai cerminanNya:

1. Saya mencakup “sekalian ide yang benar.” Sudah pasti ini mencakup pekerjaan, suatu pekerjaan yang wajar di mana saya dapat memanfaatkan keterampilan saya demi kebaikan masyarakat. Saya melihat bahwa saya sudah dipekerjakan sebagai cerminan Allah, tidak peduli pandangan duniawi yang mengatakan lain, dan sudah pasti Allah memberi upah untuk apa yang saya kerjakan. 

2. Sebagai ide rohaniah Allah, Budi, yang terus berkembang, saya berkembang sejalan dengan Budi itu. Setiap langkah berkembang secara wajar, dibimbing Budi itu.

3. Bimbingan Allah tidak pernah salah. Jadi saya tidak perlu melamar kesana-kemari, tetapi percaya bahwa saya akan dibimbing ke tempat yang benar.

4. Tidak ada kecelakaan ataupun kebetulan, saya sudah berada di tempat saya yang benar dengan pekerjaan yang menguntungkan.

5. Sesungguhnya tidak ada bursa pekerjaan. Pekerjaan bukanlah lotere. Allah sudah menempatkan saya di tempat yang disediakanNya bagi saya, dan tempat itu tidak dapat diisi oleh orang lain. Allah telah membuat semua keputusan yang menyangkut diri saya saat menciptakan saya, dan saya melihat bahwa saya sudah mencakup semua yang saya perlukan, termasuk pekerjaan yang tepat. Tidak ada panitia, atau manager SDM, atau perekrut yang membuat keputusan mengenai saya—Allah telah melakukan semua itu.

Sedang saya berdoa, saya semakin merasa damai dan yakin. Saya mendapat pesangon sebesar tiga bulan gaji, dan karena isteri saya bekerja di perusahaan yang sama, kami diperbolehkan terus tinggal di rumah yang kami tempati. Kemudian saya terbimbing untuk melamar pekerjaan tertentu yang kelihatannya sesuai dengan ketrampilan saya. Setelah itu saya mengetahui bahwa ternyata sudah ada 120 orang lain yang mengajukan lamaran yang sama, tetapi saat itu saya tahu bahwa Allah telah memberikan arahan yang jelas bagi saya untuk melamar pekerjaan tersebut. Saya menjalani wawancara dan merasa telah melakukannya dengan baik, saya juga merasa tidak perlu khawatir dan ingin mengesankan, karena saya sudah mendapat persetujuan Allah. 

Seminggu kemudian manajer perekrutan menelpon dengan kabar buruk. Ada dua orang yang dipertimbangkan, dan ketrampilan kami setara. Manajer itu terpaksa mengikuti nalurinya dan memutuskan bukan saya yang dipilihnya. Saya tergoda untuk merasa sedih, tetapi saya tahu bahwa saya masih dapat dengan yakin mengikuti bimbingan Allah, dan saya merasa bahwa pekerjaan itu sangat sesuai bagi saya. Allah tidak berdusta. 

Saya semakin tekun berdoa dengan ide tentang tempat, dan semakin menyadari bahwa saya tidak dapat berada di tempat yang salah, dan juga tidak menginginkannya, dan ini berlaku juga bagi orang lain. Kita semua ditempatkan oleh Allah sesuai “bimbingan Allah yang tidak dapat salah,” setiap orang mengisi tempatnya masing-masing dan berkembang sebagai identitas Allah yang dicerminkan. 

Kira-kira dua minggu kemudian, manajer perekrutan menelpon kembali dan memberitahukan bahwa calon yang dipilihnya tidak datang dan bertanya apakah saya masih menginginkan pekerjaan itu. Seperti dinyatakan dalam buku Nyanyian Ilmupengetahuan Kristen, “Pagi datang sorak-sorai” (no 425).  Setelah beberapa waktu, saya mengetahui bahwa calon yang dipilih sebelumnya mendapat pekerjaan lain dengan gaji dua kali lipat, jadi dia juga diberkati di tempatnya yang sesuai. Apakah hal itu membuat saya iri? Tidak, saya mengisi tempat saya yang tepat, dan pekerjaan saya—manager pelayanan di kampus sebuah perguruan tinggi—adalah pekerjaan terbaik yang pernah saya dapatkan, dan tetap demikian sampai saat ini. 

Kita benar-benar harus menyatakan rasa syukur yang besar kepada Yesus dan Mary Baker Eddy yang telah membuktikan ajaran Ilmupengetahuan yang praktis ini dan memberikannya kepada dunia.

The Mission of the Herald

In 1903, Mary Baker Eddy established The Herald of Christian Science. Its purpose: "to proclaim the universal activity and availability of Truth." The definition of "herald" as given in a dictionary, "forerunner—a messenger sent before to give notice of the approach of what is to follow," gives a special significance to the name Herald and moreover points to our obligation, the obligation of each one of us, to see that our Heralds fulfill their trust, a trust inseparable from the Christ and first announced by Jesus (Mark 16:15), "Go ye into all the world, and preach the gospel to every creature."

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, July 7, 1956

Learn more about the Herald and its Mission.