Skip to main content

Keheningan Natal yang sesungguhnya

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 1 Desember 2012

Diterjemahkan dari Christian Science Sentinel, edisi 13 Desember 1999


Natal yang sesungguhnya adalah sesuatu yang hening. Kita tidak selalu mendengarnya dalam lagu-lagu yang dikumandangkan di berbagai pertokoan. Atau dalam kata-kata “Selamat Natal!” yang saling kita ucapkan di tengah kesibukan musim liburan. Itu disebabkan karena kita tidak mendengar Natal yang sesungguhnya dengan telinga kita. Kita mendengar nyanyian Natal yang hening di dalam hati kita.

Lebih dari seratus tahun yang lalu, Phillips Brooks—pendeta gereja Episcopal dari Gereja Trinity di Boston—mendengar nyanyian Natal di dalam hatinya. Dan dia menuliskannya sebagai sebuah puisi yang kemudian menjadi nyanyian Natal yang sangat terkenal: “O little town of Bethlehem—Ya Betlehem, kota kecil."

Puisi tersebut berawal dengan malam yang “hening” dan diterangi bintang saat Yesus lahir. Kemudian, Brooks menyampaikan suatu rahasia yang menakjubkan: bahwa Natal yang sesungguhnya—kedatangan Kristus—jauh melampaui apa yang terjadi malam itu di Betlehem. Natal datang berulang-ulang kepada hati yang menjadi hangat oleh kasih, iman, kerendahan hati. Natal datang dengan cara yang sama seperti kedatangan Kristus. Hening, tanpa suara.

"Sungguh tent’ram, sungguh tenang / RahmatNya diberi,” demikian tulis Brooks. Kemudian ia melanjutkan, bahwa Allah mencurahkan KristusNya tanpa suara dan penuh rahasia, kepada hati yang lemah lembut dan menanti penuh pengharapan:

Di mana lembut hati,
Menyambut datangnya,
Sang Kristus ‘kan memasuki
Kalbu manusia.
(Buku Nyanyian Ilmupengetahuan Kristen, No. 222)

Tidak jauh dari Gereja Trinity, Mary Baker Eddy juga mulai mendapatkan pemahaman yang baru dan lugas mengenai Natal. Dia menyadari bahwa Natal sesungguhnya bersifat rohaniah—kedatangan Kristus yang tdak bersuara. Dan Ny. Eddy memberitakannya kepada dunia dalam sebuah puisi yang berjudul "Christ and Christmas—Kristus dan Natal," dan diilustrasikan melalui lukisan karya seniman James F. Gilman.

Puisi tersebut memberitakan kedatangan Kristus kepada zaman ini dalam bentuk yang baru dan revolusioner—penyembuhan Kristen. Penyembuhan yang mengulang kembali pekerjaan penyembuhan yang dilakukan Yesus. Penyembuhan yang merupakan Ilmupengetahuan. Penyembuhan yang didasarkan kepada hukum-hukum yang terdapat di dalam Alkitab.

Inti dari pesan yang disampaikan Mary Baker Eddy melalui "Christ and Christmas" adalah sebagai berikut: setiap orang dapat menjadi  penyembuh Kristen. Setiap orang dapat mempraktekkan “penyembuhan Kristus yang hening.” Setiap orang dapat menghapuskan penderitaan melalui “doa penyembuhan bagi orang sakit,” seperti yang dilakukan seorang wanita muda di salah satu ilustrasi dalam buku itu.

Dengan pengertian ini, merayakan Natal berarti merayakan “penyembuhan Kristus yang hening.” Merayakannya dengan cara mempraktekannya. Dan mempraktekannya dengan terus-menerus, karena kedatangan Kristus tidak pernah berhenti. Kristus datang terus kepada setiap insan. Dan Kristus menyembuhkan dengan terus-menerus, di mana saja.

Beginilah kemudian Ny. Eddy menggambarkan caranya merayakan Natal: “Saya senang merayakan Natal dalam keheningan, kerendahan hati, kebaikan, kasih kepada sesama, membiarkan kebaikan kepada sesama, keheningan yang sarat makna, doa, dan pujian menyatakan pandangan saya mengenai kedatangan Kebenaran” (The First Church of Christ, Scientist, and Miscellany, hlm. 262).

Kalau kita renungkan, Natal memiliki kuasa untuk merubah diri kita seperti halnya penyembuhan rohaniah—tanpa bersuara, dengan serta merta. Natal merubah diri kita. Natal mencurahkan damai, kasih, kerendahan hati yang baru, ke dalam hati kita. Dan keheningan yang baru.

Saya ingat beberapa waktu yang lalu, saat kami merasakan Natal yang sesungguhnya di malam Natal ketika kami berkumpul bersama keluarga. Natal datang dalam keheningan—di tengah hiruk pikuk di mana kami, sekitar lima belas orang (termasuk lima anak kecil dan bayi yang sangat aktif dan lincah), berkumpul  sambil menikmati makanan penutup di ruang keluarga.

Tiba-tiba bel berbunyi. Ternyata seseorang yang tidak pernah kami harapkan—seorang kerabat lama dari masa lalu. Terakhir kami berpisah dalam suasana yang sangat menyakitkan. Pada kenyataannya, dia sekarang sedang berdiri di pintu, ingin mengucapkan selamat Natal kepada kami.

Pada mulanya, kami semua terdiam, tidak tahu apa yang harus kami katakan. Tetapi kemudian, satu persatu kami menyapa tamu itu. Ada yang memeluknya—bahkan yang pernah berjanji tidak akan berbicara lagi dengannya. Dan tamu itu mengatakan kepada kami masing-masing betapa berharga kami baginya.

Ketika tamu itu pergi kira-kira satu jam kemudian, kami semua tahu bahwa sesuatu yang manakjubkan telah terjadi. Dalam keheningan, dengan tenang, Kristus telah menyembuhkan luka lama. Dan Natal yang sesungguhnya telah tiba.

The Mission of the Herald

In 1903, Mary Baker Eddy established The Herald of Christian Science. Its purpose: "to proclaim the universal activity and availability of Truth." The definition of "herald" as given in a dictionary, "forerunner—a messenger sent before to give notice of the approach of what is to follow," gives a special significance to the name Herald and moreover points to our obligation, the obligation of each one of us, to see that our Heralds fulfill their trust, a trust inseparable from the Christ and first announced by Jesus (Mark 16:15), "Go ye into all the world, and preach the gospel to every creature."

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, July 7, 1956

Learn more about the Herald and its Mission.