Skip to main content

Orang banyak yang sama-sama berdoa

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 1 November 2012

Diterjemahkan dari Christian Science Sentinel, edisi 18 Oktober 1993


Anak itu, Duane, tidak pernah mengira kejadiannya akan berkembang seperti ini. Semua itu diawali dengan hal-hal kecil, seperti ikut dengan teman-temannya melakukan beberapa hal yang buruk. Misalnya, mengganggu pelajar asal Asia di bis sekolah dan tidak memberi mereka tempat duduk. Kekerasan tidak pernah terjadi—hanya menyakiti perasaan orang dengan cara menghina dan memperlakukan seakan orang itu berasal dari kelas yang lebih rendah.

Tentu saja, sebetulnya anak itu tidak pernah merasa nyaman memperlakukan anak-anak Asia dengan cara demikian. Yang pasti, dia tahu itu tidak sesuai dengan apa yang dipelajarinya di Sekolah Minggu, bahwa sebenarnya semua orang adalah anak-anak Allah—di mana pun di dunia ini mereka tinggal dan bahasa apa pun yang mereka gunakan dalam berkomunikasi. Allah, yang  kasih sayangNya kepada putera dan puteriNya tidak pernah berhenti dan tidak berawal serta tidak berakhir, mengasihi tanpa pernah bertanya, tanpa syarat. Tidak peduli mereka itu tinggi atau pendek, merk sepatu tennis yang mereka pakai, “keren” atau tidak—Allah mengasihi mereka.

Dengan perkataan lain, di hati kecilnya Duane tahu bahwa Allah mengasihi anak-anak yang diganggunya beserta teman-temannya. Dan jika Allah mengasihi anak-anak itu, benar-benar tidak wajar baginya untuk merasakan sesuatu yang berlawanan dengan sifatnya yang sebenarnya—untuk merasakan sesuatu selain kasih sayang serta kepedulian kepada mereka. Mereka itu bukan sekadar teman sekelas yang baru, yang tanpa kehendak mereka diterjunkan ke dalam gaya hidup remaja Kalifornia; mereka jauh lebih berharga dari itu semua. Dalam pandangan Allah, mereka adalah saudara laki-laki dan saudara perempuannya. Semua ini Duane tahu. Tetapi, rasanya sulit untuk melawan teman-temannya. Sulit untuk menjadi seorang pemberani.

Tetapi hari itu, Duane dipaksa untuk membuat suatu keputusan. Sehari sebelumnya, suatu geng membunuh seorang pelajar SMU, di kota. Dan ini dilakukan oleh satu geng remaja Asia. Oleh karena itu, hari itu teman-teman Duane bertekad untuk membalas dendam. Sekitar dua puluh  remaja membawa berbagai senjata ke sekolah dengan rencana khusus. Mereka ingin menyerang seorang remaja Asia. Dan mereka ingin Duane membantu mereka.

Ketika mereka turun dari bis sekolah sore itu, teman-teman Duane mulai meneriaki dan mengayunkan tongkat kepada remaja Asia tersebut. Saat itulah Duane sadar bahwa dia tidak bisa turut serta lagi dengan teman-temannya. Dia memisahkan diri dari teman-temannya, pergi sejauh mungkin, dan menggapai kepada satu-satunya kuasa yang dia tahu dapat membantu—Allah. Tidak ada waktu untuk bersikap takut atau ragu, atau memilih kata-kata untuk  berdoa. Tetapi, tiba-tiba Duane sadar sekali akan kehadiran Allah yang penuh kuasa tepat di situ untuk menyelamatkan semua remaja itu dari tragedi.

Sulit untuk menjelaskan apa yang terjadi sesudah itu. Tepat ketika teman-teman Duane siap menyerang, tiba-tiba mereka pergi begitu saja. Tidak ada yang mengatakan sesuatu, tetapi jelas bahwa keadaan yang gawat itu telah berlalu. Dan semuanya aman.

Semenjak peristiwa itu Duane sering merenungkan kejadan hari itu. Secara berangsur dia sadar bahwa, pertama, hatinya telah berubah. Ketidakpeduliannya terhadap perasaan para pelajar Asia dan ketakutannya akan kehilangan persahabatan dengan teman-teman sekelompoknya telah berubah menjadi kasih—kasih yang membuatnya berpaling kepada Allah. Duane sadar bahwa kasih yang dirasakannya bagi remaja Asia itu sebenarnya adalah suatu bentuk doa yang dinamis. Dan doa itu dengan segera meredakan situasi yang dapat menyulut konfrontasi yang penuh kekerasan.  

Jika kita renungkan, tekanan kelompok sebaya seperti yang dialami Duane sebetulnya merupakan sejenis penularan mental. Pikiran yang penuh kebencian atau ketakutan terkadang seakan menyebar di antara banyak orang seperti kepanikan yang kadang terjadi di kandang kuda yang penuh. Mary Baker Eddy menjelaskan tentang penularan mental ini di bukunya yang berjudul Miscellaneous Writings: “Hanyut dalam aliran pikiran fana yang populer tanpa mempertanyakan keandalan kesimpulan yang disajikan, kita melakukan apa yang dilakukan orang lain, percaya apa yang dipercayai orang lain, dan mengatakan apa yang dikatakan orang lain” (hlm. 228). Meskipun demikian, satu doa yang tulus dan penuh kasih sudah cukup untuk menghentikan wabah tersebut dengan segera.

Sebenarnya, tekanan kelompok tersebut mirip suatu perangkap. Tetapi kita tidak perlu jatuh ke dalam perangkap tersebut. Kita dapat mengenalinya sebagai suatu perangkap lalu segera menjauhinya. Alkitab membantu kita melihat bahwa manusia itu aman kalau mereka menyadari bahwa perangkap adalah umpan kejahatan yang mematikan. “Hai anakku,” salah seorang penulis mengatakan, “jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut. ... Sebab percumalah jaring dibentangkan di depan mata segala yang bersayap" (Ams 1:10, 17).

Sayangnya, kebanyakan perangkap mental tidak memiliki tanda khusus. Sangatlah membantu jika ada tanda yang berbunyi, “saya perangkap,” atau “saya tekanan kelompok sebaya,” atau ”saya kejahatan, saya akan membawa kesulitan bagimu jika engkau mengikutiku.”  Kalau demikian akan lebih mudah mengenali dan melawan tantangan untuk mencoba obat-obatan terlarang atau seks di luar nikah atau kekerasan geng, “demi menikmati ketegangan yang ditimbulkannya.”

Jadi bagaimana kita dapat mengetahui bahwa sesuatu itu perangkap atau bukan? Bagaimana kita tahu bahwa sesuatu itu baik atau buruk bagi kita? Mungkin kita hanya perlu menggunakan tolok ukur yang diajarkan Kristus Yesus dalam Khotbahnya di Bukit, ketika bersabda, “Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. ... Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (Mat 7:17, 20).

Dengan lain perkataan, kita dapat bertanya kepada diri sendiri secara jujur, apakah suatu rencana atau tindakan tertentu akan membuat kita—dan semua orang yang terlibat—bahagia atau tidak bahagia, lebih kuat atau lebih lemah secara rohaniah, bergerak maju atau mundur dalam hidup kita. Kemudian jawaban apa pun yang kita terima, kita yakini berasal dari Allah, sebagai ucapan Kristus.

Kalau Kristus dengan tegas menganjurkan agar kita menghindari—atau mengikuti—suatu tindakan tertentu, maka kita akan merasakan semacam tekanan yang terasa nyaman. Itulah tekanan untuk melakukan kehendak Allah, untuk bangkit mengatasi tekanan fana seperti ketakutan atau sensualitas atau suatu keinginan yang membabi buta agar disukai orang. Itulah suatu tekanan untuk membiarkan Allah menunjukkan identitas kita yang sejati dan tidak pernah berubah sebagai anak-anakNya. Ny. Eddy menggambarkan tekanan seperti ini di buku Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci: "Para Ahli Ilmupengetahuan Kristen harus dengan terus-menerus hidup di bawah tekanan perintah rasul untuk keluar dari dunia kebendaan dan memisahkan diri. Mereka harus menahan dirinya dari perbuatan agresi, penindasan, dan tinggi hati karena kekuasaan. Kekristenan, dengan mahkota Kasih di atas kepalanya, harus menjadi ratu hidup mereka" (hlm. 451).

Tekanan untuk memisahkan diri dari orang banyak, melepaskan diri dari pemikiran yang kebendaan dan membiarkan Kasih ilahi memimpin hidup kita, adalah satu-satunya tekanan yang perlu kita rasakan, karena hal itu didorong oleh hukum Allah. Jika Anda dan saya menyerah kepada tekanan yang tidak mementingkan diri ini, maka kita sedang benar-benar berdoa. Seperti yang tertulis di surat Duane kepada saya baru-baru ini, “Dengan kebaikan yang dicapai oleh doa yang dipanjatkan satu orang saja untuk mengatasi keadaan yang saya hadapi saat itu, sungguh  mengilhami untuk memikirkan tentang kemungkinan yang dapat dicapai oleh orang banyak yang sama-sama berdoa untuk mengatasi kebencian serta ketakutan dengan kasih.”

Bergabung dengan orang banyak yang memanjatkan doa adalah kebalikan dari menyerah kepada tekanan kelompok sebaya. Hal itu adalah bergabung dalam perang suci melawan persekutuan dengan norma  kebendaan. Dan ini adalah satu-satunya jenis peperangan yang akan membawa damai abadi kepada umat manusia.

The Mission of the Herald

In 1903, Mary Baker Eddy established The Herald of Christian Science. Its purpose: "to proclaim the universal activity and availability of Truth." The definition of "herald" as given in a dictionary, "forerunner—a messenger sent before to give notice of the approach of what is to follow," gives a special significance to the name Herald and moreover points to our obligation, the obligation of each one of us, to see that our Heralds fulfill their trust, a trust inseparable from the Christ and first announced by Jesus (Mark 16:15), "Go ye into all the world, and preach the gospel to every creature."

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, July 7, 1956

Learn more about the Herald and its Mission.