Skip to main content

Doa yang meredakan keluhan

Dari Bentara Ilmupengetahuan Kristen - 1 Juni 2012

Diterjemahkan dari Christian Science Sentinel, edisi 10 Mei 2010


Ada yang mengatakan bahwa masalah-masalah yang kita hadapi terasa begitu berat karena kita mengeluhkannya. Bisa dikatakan kita semua pernah mengeluh. Namun, dapatkah kita menyelesaikan masalah hanya dengan mengeluh?

Mengeluh bisa merupakan suatu cara mengekspresikan kesedihan, rasa sakit, atau ketidakpuasan. Berbeda dengan masukan yang sah, ramah, dan membangun, mengeluh sering kali bersifat merusak jika didasarkan pada celaan, ketakutan, atau kebencian. Tetapi mengeluh juga dapat merupakan isyarat bahwa kita memerlukan perhatian serta kasih, ingin didengar, atau isyarat akan tidak adanya kebahagiaan atau kepercayaan kepada kebaikan.  Selain itu ada juga “keluhan” yang datang dari tubuh, atau ketidaknyamanan yang terus berlangsung dan berusaha menghentikan kemajuan serta sukacita kita. 

Tetapi dalam bentuk apa pun keluhan itu menyatakan diri dalam kehidupan kita atau kehidupan orang di sekeliling kita, yang jelas, itu suatu keadaan pikiran yang menghalangi kemajuan rohaniah serta penyembuhan. Dan kita dapat mengatasinya dengan menyatakan kasih, dan dalam doa mengakui hak ilahi setiap orang untuk mendapatkan kedamaian pikiran, untuk mengetahui dan yang lebih penting, merasakan  sentuhan pemeliharaan Allah yang mesra menyelimuti diri kita semua.

Mungkin kita semua kenal dengan seseorang yang seakan memiliki banyak alasan untuk mengeluh, tetapi selalu tersenyum, riang, dan secara tulus hanya membicarakan kebaikan dalam hidupnya dan dalam apa yang dilihatnya di sekelilingnya. Mau tidak mau kita tertarik kepada orang seperti itu karena merasa diberkati oleh teladannya, sebagaimana orang itu diberkati dengan menyatakan sifat-sifat rohaniah seperti sukacita, kesabaran, pengharapan akan kebaikan.

Jika mengeluh sudah menjadi bagian hidup kita, apa yang dapat kita lakukan? Seperti kebiasaan lainnya, kebiasaan ini dapat dibuang, begitu kita sadar telah melakukannya dan ingin berhenti melakukannya. Saya mendapati, ada beberapa hal yang dapat segera kita lakukan untuk melawan sikap negatif tersebut dan mengendalikan pikiran serta tindakan kita.

Jangan menyuarakannya

Meskipun mungkin perlu upaya untuk berhenti memikirkan keluhan, sebagai langkah pertama kita dapat memilih untuk tidak menyuarakannya. Ayah saya sering berkata, “Kendalikan pikiran Anda sebelum membuka mulut.” Mungkin waktu itu saya tidak senang mendengarnya, tetapi itu adalah nasehat yang arif. Dengan kata lain, berhentilah dan pertimbangkanlah masak-masak sebelum berbicara. Misalnya, kita dapat mempertimbangkan dampak ucapan kita terhadap orang lain. Apakah kita menambah sukacita dalam hidup mereka, atau membebani mereka dengan keluhan atau perasaan negatif atau pendapat pribadi kita? 

Buku Ilmupengetahuan dan Kesehatan dengan Kunci untuk Kitab Suci, karangan Mary Baker Eddy, membawa konsep ini lebih jauh dan memberi kita bimbingan berikut: “Baik perasaan simpati, maupun pergaulan hidup, seharusnya jangan menggoda kita untuk berpegang kepada kesesatan dalam bentuk yang mana juapun, dan sekali-kali janganlah kita menjadi penganjur kesesatan” (hlm. 153–154).

Bahkan jika dalam kehidupan sehari-hari, seakan keluhan dapat dibenarkan, kita tidak diuntungkan dengan mengulang-ulang keluhan kita sendiri atau orang lain. Mengingat-ingat masalah tidak menyebabkan masalah itu teratasi. Jika kita membawa masalah kita kepada Allah, kita mendapatkan jawaban yang kita perlukan. Alkitab menjanjikan, “TUHAN akan menyelesaikannya bagiku!” (Mzm 138:8). Allah, Kasih ilahi, selalu hadir di sini bersama kita untuk menguatkan serta mendukung keinginan kita agar menjadi lebih baik dan melakukan yang lebih baik.

Bagaimana jika seseorang selalu mengeluh kepada kita? Doa kita setiap hari untuk berbuat baik kepada orang lain mulai dengan Allah dan kebaikan serta kasihNya yang tidak berhingga bagi setiap anakNya. Mungkin di saat-saat seperti itu kita merasa akan bermanfaat untuk mengatakan sesuatu yang positif atau membesarkan hati, atau mungkin kita merasa lebih baik diam. Apa pun yang kita lakukan, saya mendapati bahwa kita dapat memberikan dukungan yang terbesar jika tidak menghakimi atau memberikan cap pada seseorang, tidak masuk ke dalam masalahnya, tetapi tetap memusatkan pikiran kepada kebenaran bahwa tidak seorang pun dapat dipisahkan dari kebaikan serta kasih Allah.

Bersyukur

Rasa syukur membantu kita untuk tidak lagi memikirkan keluhan. Suatu nyanyian dalam Buku Nyanyian Ilmupengetahuan Kristen berbunyi, “Kayalah yang bersyukur, / Miskin yang mengeluh”  (Vivian Burnett, No. 249). Mengeluh menunjukkan adanya kekurangan dalam pikiran kita dan menyebabkan hidup kita terus kekurangan. Tetapi rasa syukur membantu kita untuk mulai merubah keadaan. Rasa syukur seringkali membantu menyembuhkan kesedihan, rasa kasihan pada diri sendiri, kebiasaan merasa perlu diperhatikan, atau perasaan bahwa kita mengalami terlalu banyak hantaman dalam hidup ini.

Pada awalnya mungkin kita merasa sulit untuk bersyukur. Dan dalam proses ini, sah-sah saja untuk berlaku lemah lembut terhadap diri sendiri. Semakin kita mempraktekkan rasa syukur, semakin kita akan melihat contoh-contoh kebaikan di sekeliling kita. Dan kita akan mendapati bahwa keluhan berkurang dengan sendirinya karena fokus pemikiran kita berubah. Kita harus selalu ingat kepada siapa kita bersyukur, dan untuk apa kita bersyukur. Kita bersyukur kepada Allah, untuk fakta rohaniah bahwa Kasih ilahi adalah sebab dari semua kebaikan, sumber dari setiap kebaikan di dalam hidup kita. Dan Kasih ini akan terus merupakan sumber segala kebaikan.

Bersyukur bisa dilakukan dengan memelihara daftar rasa syukur setiap hari. (Tahukah Anda bahwa kita bahkan dapat mengunduh aplikasi untuk mencatat rasa syukur ke peralatan seperti ponsel?). Hal ini merupakan bukti bahwa kita menghargai yang dilakukan Allah dan berharap untuk memperoleh lebih banyak kebaikan.  Mary Baker Eddy meminta kepada para pembaca Ilmupengetahuan dan Kesehatan untuk merenungkan pertanyaan yang penting ini: “Sungguh-sungguh bersyukurkah kita untuk kebaikan yang sudah kita terima?” (Ilmupengetahuaan dan Kesehatan, hlm. 3). Apakah kita bersukacita untuk kebaikan ini? Alkitab, dalam Kitab Mazmur,  menganjurkan lebih dari 50 kali agar kita “bersukaria,” yang berarti bergembira, bersikap riang, penuh sukacita. Adakah cara yang paling baik untuk menolak keluhan?

Membela kebaikan, kebahagiaan, kesehatan

Mengeluh berarti membela masalah yang dihadapi, membela pendapat bahwa tidak ada penyelesaian. Dapat dikatakan, hal itu merupakan pengakuan secara terbuka bahwa kita tidak percaya akan ada penyelesaian, bahwa kita tidak berpikir keadaan itu dapat berubah atau disembuhkan, atau kita tidak percaya bahwa Allah hadir. Tetapi hal ini sama sekali tidak benar.

Allah, yang adalah Kasih ilahi, senantiasa mengaruniai kita kebaikan, dan hal ini menjadi nyata dalam pemenuhan keperluan insani kita, kalau kita bersedia melepaskan kepercayaan serta pendapat perorangan dan ketakutan kita, dan mulai berdoa untuk mengetahui bahwa Allah,—Budi, Roh, Kasih—adalah pertolongan yang senantiasa hadir. Budi, kecerdasan, bekerja untuk kepentingan kita, menyebabkan terjadinya hal-hal yang cerdas. Roh senantiasa mengilhami kita dengan pengetahuan mengenai hal ini dan mendorong kita untuk terus mengakuinya.  

Salah satu hal yang sangat membantu saat saya menghadapi depresi ketika masih remaja adalah terus-menerus berusaha lebih sering mengidentifikasi diri dengan benar, secara rohaniah, dengan mengakui bahwa saya adalah anak Allah, sempurna dan dikasihi secara tidak berhingga oleh Pencipta ilahi kita yang arif dan peduli. Saya bukan manusia fana yang bingung dan tidak berbahagia. Dan hal tersebut mendatangkan kesembuhan.  Salah satu petikan dari karya tulis Ny. Eddy, yang saya gunakan berulang kali dalam berbagai keadaan dan menghasilkan penyembuhan, adalah: “Jika Anda ingin bahagia, adakanlah pembelaan di pihak kebahagiaan; belalah pihak yang Anda inginkan, dan berhati-hatilah untuk tidak berbicara bagi kedua belah pihak, atau lebih membela kesedihan daripada sukacita. Anda adalah pembela untuk kasus itu dan akan menang atau kalah sesuai pembelaan Anda” (Christian Healing, hlm. 10). Yang menakjubkan dari petikan ini adalah kita dapat menggantikan kata kebahagiaan dengan apa yang kelihatannya kita perlukan. Kita dapat mengadakan pembelaan di pihak “kesehatan,” di pihak “kedamaian,” di pihak “kelimpahan,”  dsb.

Apakah arti “mengadakan pembelaan di pihak kebahagiaan?” Bagi saya ini berarti mengatakan tidak kepada pikiran-pikiran yang mendatangkan keluhan (atau depresi) yang berusaha mendapatkan pengakuan kita, dan alih-alih demikian mengakui kehadiran dari apa pun yang kelihatannya kita perlukan. Untuk mengatakan tidak kepada pikiran-pikiran yang membawa keluhan, kita harus waspada terhadap apa yang terjadi di dalam pikiran kita. Yesus berkata kepada para muridnya, “Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang: berjaga-jagalah!” (Mrk 13:37). Saya kira maksud Yesus bukan berjaga-jaga terhadap apa yang dilakukan atau tidak dilakukan sesama kita atau rekan kita, yang seringkali merupakan pokok yang dikeluhkan orang! Perintah Yesus selalu berlaku kepada pikiran—baik saat berkata kepada seseorang yang perlu disembuhkan agar tidak takut, atau mengajar orang banyak di lereng bukit. Kita perlu menjaga pikiran kita, dan tidak terus tenggelam di dalam masalah kita. 

Menangani keluhan tubuh

Bagaimana jika sumber keluhan itu  tubuh kita? Dalam doa, kita dapat segera mengadakan pembelaan, atau menegaskan, bahwa karena Allah sepenuhnya baik, adalah Kasih, adalah sumber serta kondisi wujud kita, maka tidak ada kekurangan akan hal yang benar dan baik; bahwa tepat di sini, sekarang ini juga, hadir kesempurnaan rohaniah, fungsi yang sehat, tenaga dan kekuatan yang diperlukan, dan hak untuk menggunakan sepenuhnya kemampuan rohaniah seperti penglihatan dan pendengaran.

Adalah lebih membantu untuk membela kesehatan alih-alih melawan penyakit, membela rasa percaya serta keyakinan alih-alih melawan ketakutan, membela kelimpahan alih-alih menyangkal kekurangan. Hal ini  membuat kita tetap berfokus kepada Allah, kebaikan, dan meredam godaan untuk mengeluh.

Apa yang sesungguhnya menyembuhkan pikiran-pikiran negatif serta akibatnya pada tubuh adalah kebenaran, bahwa hanya ada satu Budi, bahwa Budi adalah Allah, dan bahwa Budi ini adalah Budi kita. Alkitab menjanjikan bahwa kita  “memiliki pikiran Kristus” (1Kor 2:16). Tidak ada keluhan. Tidak ada pikiran negatif yang penuh ketakutan dalam Budi ilahi—tidak ada yang dikhawatirkan atau dikeluhkan di dalam kerajaan surga, kesadaran sempurna yang adalah tempat tinggal kita. Apa yang dikemukakan sebagai suatu tantangan bagi kesehatan kita tidak pernah merupakan keadaan yang tidak dapat diatasi, meskipun keadaan itu kelihatannya sangat sejati atau tidak dapat disembuhkan. Pada dasarnya, hal itu hanyalah saran yang dikemukakan kepada pikiran kita. Memiliki “pikiran Kristus” berarti kita terus-menerus menerima konsep yang bersifat rohaniah, pikiran yang murni dan penuh kedamaian. Pikiran-pikiran ini adalah pesan-pesan malaikat Allah serta janji-janji akan kebaikan. Malaikat-malaikat ini merupakan pesan-Kristus. Dalam Ilmupengetahuan Kristen, Kristus didefinisikan sebagai “ide yang benar yang memaklumkan kebaikan, amanat ilahi dari Allah kepada manusia, yang berbicara kepada kesadaran insani.” (Ilmupengetahuan dan Kesehatan, hlm. 332). Komunikasi yang murni dengan kita ini, selalu menghapuskan ketakutan serta kepercayaan yang seakan menyebabkan keluhan.

Saat kita mulai memahami hal ini, bahkan sedikit saja, dan menerimanya serta membelanya, maka keadaaan dapat mulai berubah, dan dengan cepat keluhan reda. Dan kita akan makin sering merasakan roh yang dibicarakan dalam surat Paulus yang kedua kepada Timotius (1:7) ketika penulisnya  menyatakan bahwa Allah memberi kita “roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.”


Barbara Fife adalah seorang penyembuh dan guru Ilmupengetahuan Kristen dari Vancouver, British Columbia, Kanada.

The Mission of the Herald

In 1903, Mary Baker Eddy established The Herald of Christian Science. Its purpose: "to proclaim the universal activity and availability of Truth." The definition of "herald" as given in a dictionary, "forerunner—a messenger sent before to give notice of the approach of what is to follow," gives a special significance to the name Herald and moreover points to our obligation, the obligation of each one of us, to see that our Heralds fulfill their trust, a trust inseparable from the Christ and first announced by Jesus (Mark 16:15), "Go ye into all the world, and preach the gospel to every creature."

Mary Sands Lee, Christian Science Sentinel, July 7, 1956

Learn more about the Herald and its Mission.